Kisah ini mengikuti perjalanan Karin, seorang gadis yang harus belajar memahami kehilangan, sebelum akhirnya menemukan cara untuk menyembuhkan hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Running On, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab : 4
Waktu terasa berjalan begitu cepat.
Awalnya konser itu masih terasa asing bagi Karin. Musiknya keras, sorak-sorainya riuh, dan dunia K-Pop bukanlah dunianya. Namun entah sejak kapan, ia mulai menikmatinya—bukan karena lagu-lagu itu, melainkan karena ada seorang pemuda asing yang berdiri di dekatnya, tertawa bersamanya, dan membuat malam itu terasa lebih ringan.
Tanpa terasa, konser pun berakhir.
Satu per satu para penggemar mulai keluar dari gedung. Begitu juga dengan Karin. Ia berjalan keluar bersama pemuda itu, karena pemuda tersebut mengajaknya.
“Can we go out together? I want to get to know you.”
(Boleh kita keluar bersama? Aku ingin berkenalan denganmu.)
Karin mengangguk. Ia menerima ajakan itu. Dalam hatinya, ia berpikir—barangkali dengan pemuda ini, ia bisa berteman. Atau setidaknya, memiliki seseorang yang ia kenal di kota asing bernama Seoul.
Kini mereka sudah berada di luar gedung konser.
Di bawah sebuah pohon yang tidak terlalu tinggi, namun rindang dan sejuk. Bangku taman terletak tak jauh dari gedung. Malam itu, bulan bersinar terang di langit, udara terasa segar, dan angin sepoi-sepoi berhembus pelan.
Karin yang hanya mengenakan mantel tipis mulai merasa dingin.
Mereka duduk berdampingan di bangku itu.
Pemuda itu membuka percakapan lebih dulu, menggunakan bahasa Inggris.
“You’re not Korean, right?”
(Kamu bukan orang Korea, kan?)
Karin tersenyum kecil.
“Iya, kelihatan ya?”
“I’m not Korean. I wish I could be as pretty as Korean girls.”
(Aku bukan orang Korea. Padahal aku ingin secantik perempuan Korea.)
katanya sambil bercanda.
Pemuda itu langsung tertawa.
“Even if you’re not Korean, you’re still beautiful.”
(Kalaupun kamu bukan orang Korea, kamu tetap cantik.)
Karin terdiam sepersekian detik. Wajahnya terasa hangat. Ia sedikit salting.
“Terima kasih,” katanya pelan.
Lalu dengan ragu ia bertanya,
“What about you? Where are you from?”
(Kalau kamu? Kamu orang mana?)
Ia ragu karena wajah pemuda itu terlihat blasteran—seperti orang Korea, Cina, dan Inggris bercampur menjadi satu.
Pemuda itu seolah mengerti keraguannya. Ia tersenyum sopan.
“I’m Korean and British.”
(Aku orang Korea dan Inggris.)
“My father is Korean, my mother is British.”
(Ayahku orang Korea, ibuku orang Inggris.)
Karin mengangguk paham.
“Oh… pantes,” katanya sambil tersenyum.
“Makanya kamu tampan.”
Ia tidak bercanda. Ia memang melihat pemuda itu tampan.
Pemuda itu tertawa kecil.
“Thank you.”
(Terima kasih.)
“How about you?”
(Kalau kamu?)
“Aku dari Indonesia,” jawab Karin.
“I’m Indonesian.”
(Aku orang Indonesia.)
Pemuda itu tampak tertarik.
“Ah, Indonesia.”
(Oh, Indonesia.)
“It’s a very beautiful country.”
(Itu negara yang sangat indah.)
“I went there once when I was eight, with my mom.”
(Aku pernah ke sana sekali saat aku berusia delapan tahun, bersama ibuku.)
Karin langsung tertarik.
“Wah, serius?”
“Which part of Indonesia did you visit?”
(Kamu ke Indonesia bagian mana?)
“I think it was Bali.”
(Sepertinya Bali.)
“But I don’t really remember. I was too young.”
(Tapi aku sudah lupa seperti apa Bali, karena saat itu aku masih kecil.)
“All I know is Indonesia is very beautiful.”
(Yang aku tahu, Indonesia itu sangat indah.)
Karin tersenyum tulus.
“Terima kasih,” katanya.
“Korea juga indah. Inggris juga indah,” lanjutnya sambil tertawa kecil.
“Even though I’ve never been to England.”
(Walaupun aku belum pernah ke Inggris.)
Pemuda itu tertawa.
“You should visit someday.”
(Kamu harus ke sana suatu hari nanti.)
Mereka tertawa bersama.
Obrolan mengalir begitu saja—ringan, hangat, tanpa beban. Terlalu asyik, sampai mereka bahkan lupa menanyakan nama satu sama lain. Hingga malam semakin larut.
Tiba-tiba ponsel pemuda itu bergetar. Ia melihat layar, lalu berdiri.
“My mom is calling. I have to go.”
(Ibuku menelepon. Aku harus pulang.)
“How will you get back?”
(Kamu pulang naik apa?)
“Aku naik taksi,” jawab Karin.
“My hotel is near. It’s okay.”
(Hotelku dekat, tidak apa-apa.)
Pemuda itu mengangguk.
“Alright then. Bye-bye.”
(Baiklah. Dadah.)
Ia tersenyum, lalu berjalan cepat menuju taksi. Tak lama, mobil itu melaju pergi.
Karin berdiri diam, tersenyum kecil sambil memandangi taksi itu menghilang.
Lalu ia menoleh ke langit.
Menatap bulan yang masih bersinar terang.
Dan entah kenapa, setelah pemuda itu pergi, rasa sedih kembali datang—pelan, tanpa suara. Namun kali ini berbeda.
Tidak seberat sebelumnya.
Karena malam itu,
Karin belajar satu hal kecil:
bahwa di dunia yang luas ini,
orang asing pun bisa datang sebentar
dan membuat hati yang luka
merasa tidak sendirian.