NovelToon NovelToon
Royal Route To Bukit Lawang

Royal Route To Bukit Lawang

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Crazy Rich/Konglomerat / TimeTravel / Komedi / Cinta Murni / Mengubah Takdir
Popularitas:7.9k
Nilai: 5
Nama Author: Ranu Kallanie Jingga

Enam tahun pengabdian dan cinta jarak jauh (LDR) berakhir sia-sia bagi Aurora. Ia didepak begitu saja lewat pesan singkat, diblokir dari seluruh aspek kehidupan sang mantan, dan digantikan oleh sosok "penjual kesedihan" yang ahli memanipulasi simpati. Luka itu dibawa pulang ke Medan, terkubur di balik kesuksesan yang ia bangun dalam diam.
​Tiga tahun berlalu, ego sang mantan akhirnya runtuh. Di bawah tekanan kebutuhan penelitian S3 ibunya di pedalaman Bukit Lawang yang keras dan rawan, ia terpaksa menelan ludah sendiri (mengubungi kembali nomor yg dulu ia blokir). Ia mengharapkan bantuan, mungkin sedikit rasa iba.
​Namun, yg ia temukan bukanlah mantan kekasih yg meratapi nasib.
​Aurora menerima permintaan itu dengan senyum paling tenang. Bukan dengan amarah, ia menyambut mereka dengan kemewahan yg tak pernah mereka bayangkan. Sebuah Hiace VVIP dengan kursi pijat elektrik menanti di bandara, dikawal oleh sahabat2 loyal dan seorang fotografer yg siap mengabadikan penyesalan sang mantan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ranu Kallanie Jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kopi Gayo

"Duduk dulu, Dri. Biar aku buatkan sesuatu. Kamu masih suka kopi hitam, kan?" tanya Aurora sambil berjalan perlahan menuju area dapur terbuka yang menghadap langsung ke taman.

Adrian langsung sumringah. Wajahnya yang tadi tegang kini tampak cerah luar biasa.

 "Kamu masih ingat? Padahal sudah bertahun-tahun, Ra. Aku pikir kamu sudah sengaja menghapus semua detail kecil tentang aku."

"Ingatan itu bukan untuk dihapus, tapi untuk diletakkan di tempatnya masing-masing," jawab Aurora pelan sambil mulai menyeduh bubuk kopi hitam khas Aceh yang aromanya sangat kuat dan autentik.

Adrian memperhatikan punggung Aurora dari tempat duduknya.

Aroma pekat kopi yang mulai menguar di udara sore itu tiba-tiba memicu memori nakal di benak Adrian.

Ingatannya melayang pada malam-malam panas yang dulu pernah mereka lalui di Jakarta. Setiap kali mereka hendak berhubungan badan, Adrian punya ritual khusus: meminum segelas besar kopi hitam pahit untuk meningkatkan stamina dan gairahnya.

Ia teringat betapa seringnya Aurora memprotes hal itu.

Adrian terkekeh kecil sendirian saat bayangan wajah Aurora yang cemberut muncul di kepalanya—wajah Aurora yang dulu selalu mengeluh karena harus mencium aroma kopi yang tajam saat mereka sedang bercumbu intim.

"Kenapa ketawa sendiri? Ada yang lucu?" tanya Aurora yang kembali membawa dua cangkir kopi, meletakkannya di atas meja kecil di antara mereka.

Adrian tersentak dari lamunannya, wajahnya sedikit memerah.

 "Eh, enggak. Enggak ada apa-apa. Cuma... aroma kopinya benar-benar mengingatkanku pada banyak hal saja."

"Banyak hal seperti apa?" pancing Aurora sambil menyesap minumannya sendiri, matanya menatap Adrian dengan selidik namun tetap lembut.

"Ya, pokoknya banyak. Kamu dulu sering banget protes kalau aku minum kopi malam-malam, kan? Katanya baunya menempel di mana-mana," ucap Adrian sambil berusaha menutupi pikiran nakalnya dengan tawa canggung.

Aurora hanya tersenyum tipis, seolah bisa membaca arah pikiran mantan kekasihnya itu namun memilih untuk tidak membahasnya lebih jauh.

"Dulu kan aku belum terbiasa. Sekarang, hampir setiap hari aku mencium aroma ini di kantor. Jadi sudah biasa."

"Tapi kopi buatanmu tetap yang terbaik, Ra. Rasanya tetap sama, tidak berubah sedikit pun," puji Adrian setelah menyesap kopinya. Ia menatap Aurora dalam-dalam.

 "Sama seperti perasaan ini, sebenarnya banyak yang ingin aku sampaikan, tapi aku takut merusak suasana tenang ini."

"Minum saja dulu kopinya, Dri. Sore ini kita cuma bicara sebagai teman lama, tidak perlu ada beban," potong Aurora dengan nada bicara yang tetap menjaga jarak namun tidak menyakiti hati.

Adrian meletakkan cangkir kopinya perlahan, matanya kini tertuju pada lengan Aurora yang terbalut kain tipis, namun masih memperlihatkan guratan merah dari sisa darah yang mengering.

 Luka itu didapat Aurora saat ia terjatuh pada perjalanan penelitian hari kedua mereka di hutan kala itu.

"Lenganmu masih sakit, Ra? Sepertinya lukanya cukup dalam," tanya Adrian dengan nada suara yang merendah, penuh kekhawatiran yang tulus.

Aurora yang selama ini selalu memasang topeng dingin dan elegan, entah mengapa merasa pertahanannya luruh.

Mungkin karena aroma kopi, atau mungkin karena suasana sore yang begitu tenang. Ia menatap lengannya sendiri lalu mengerucutkan bibirnya sedikit, sebuah ekspresi manja yang sudah bertahun-tahun tidak pernah ia tunjukkan pada siapa pun.

"Masih, Dri. Sebenarnya perih sekali kalau kena gesekan baju," jawab Aurora dengan nada bicara yang sedikit merengek.

Mendengar suara manja itu, jantung Adrian berdegup kencang. Ia merasa seperti ditarik kembali ke masa lalu.

 Perlahan, Adrian meraih lengan Aurora, menyentuhnya dengan ujung jari yang sangat hati-hati agar tidak menambah rasa sakit. Ia kemudian melakukan ritual manis yang dulu selalu menjadi "obat" andalan mereka.

Adrian mengelus pelan area di sekitar luka tersebut, menundukkan kepalanya, lalu memejamkan mata seolah sedang merapalkan doa-doa serius.

"Tunggu sebentar, biar aku obati dengan cara lama," bisik Adrian.

Setelah berpura-pura meniup luka itu, Adrian memberikan kecupan yang sangat lembut tepat di atas permukaan kulit yang terluka.

 "Nah, sebentar lagi pasti sembuh. Anak pintar tidak boleh nangis," ucap Adrian sambil menatap mata Aurora.

Seketika, tawa kecil pecah di antara mereka. Aurora tertawa sampai matanya menyipit, teringat betapa konyolnya mereka dulu saat masih bersama.

"Kamu ini, sudah tua masih saja pakai cara seperti itu. Memangnya aku anak kecil?"

"Tapi terbukti manjur, kan? Lihat, wajahmu langsung tidak cemberut lagi," goda Adrian yang ikut tertawa.

Setelah tawa mereka mereda, suasana kembali menjadi tenang.

Aurora menghela napas panjang, menatap lurus ke arah tanaman di depannya.

 "Dri, mungkin ini juga waktu yang tepat untuk memberi tahu kamu. Beberapa bulan lagi, aku akan kembali menetap di Singapura. Bisnis di Medan ini akan aku percayakan sepenuhnya kepada Sarah dan Bram."

Senyum di wajah Adrian perlahan memudar, digantikan oleh ekspresi terkejut yang nyata. "Singapura? Kamu akan pindah lagi?"

"Iya. Di sana ada beberapa proyek besar yang menungguku. Medan bagiku hanyalah tempat persinggahan untuk menyembuhkan luka lama. Dan kurasa, tugasku di sini sudah hampir selesai," jelas Aurora tenang.

Adrian terdiam, namun otaknya mulai bekerja dengan cepat. Informasi ini memang mengejutkan, tapi di sisi lain, ini justru menjadi peluang baru baginya.

 Jika Aurora akan pindah ke Singapura, itu berarti jaraknya dengan Firan yang berada di Medan akan semakin jauh.

Adrian mulai menyusun strategi di dalam kepalanya; ia bisa saja mengajukan mutasi ke kantor cabang di Singapura atau sering melakukan perjalanan bisnis ke sana.

Rencana-rencana baru mulai terbentuk demi mendapatkan kembali cinta abadinya.

Adrian baru saja ingin menyusun kepingan rencana di kepalanya—membayangkan dirinya bolak-balik Jakarta-Singapura demi mengejar cinta lamanya—ketika Aurora kembali membuka suara dengan nada bicara yang sangat santai, seolah tanpa beban.

"Aku nggak sendirian ke sana, Dri. Rencananya Firan dan Rico juga akan ikut pindah bersamaku. Kami sudah menyiapkan kantor baru di sana agar koordinasi bisnis lebih mudah," lanjut Aurora dengan wajah polos.

"UHUK! UHUK!"

Adrian tersedak seketika. Cairan kopi hitam yang baru saja mendarat di kerongkongannya menyembur keluar, membasahi ujung meja.

Ia terbatuk-batuk hebat dengan wajah memerah, bukan hanya karena rasa perih di tenggorokan, tapi juga karena rasa terkejut yang luar biasa.

"Eh! Hati-hati, Dri! Pelan-pelan dong minumnya," seru Aurora sambil dengan sigap mengambil beberapa lembar tisu dan memberikannya kepada Adrian.

Adrian tidak menghiraukan rasa perih itu. Tanpa basa-basi, ia meraih gelasnya lagi dan langsung meneguk habis sisa kopi hitam yang sudah mendingin itu dalam satu tarikan napas, seolah ingin menelan kenyataan pahit yang baru saja didengarnya.

Melihat tingkah laku Adrian yang mendadak kalang kabut seperti itu, Aurora tidak bisa menahan tawanya. Ia terkekeh kecil sampai bahunya terguncang.

"Kamu kenapa sih? Seperti habis melihat hantu saja. Sampai habis begitu kopinya, seleramu memang nggak berubah ya kalau lagi panik?"

Adrian mengusap bibirnya dengan tisu, matanya menatap Aurora dengan tatapan nanar.

 "Firan... ikut juga? Memangnya dia tidak punya pekerjaan di sini? Dan Rico? Kalian... kalian akan tinggal bersama?"

Aurora menaikkan satu alisnya, masih dengan sisa tawa di bibirnya.

 "Kenapa wajahmu jadi horor begitu? Firan punya bisnis yang bisa dikendalikan dari mana saja, dan Rico itu asistenku yang paling andal, tentu saja dia ikut. Kami akan punya unit apartemen di gedung yang sama supaya kalau ada meeting mendadak tidak repot."

Dada Adrian terasa semakin sesak. Strategi yang baru saja ia bangun di kepalanya runtuh seketika sebelum sempat matang.

 Jika Firan dan Rico ikut, itu artinya benteng di sekitar Aurora akan semakin tebal dan sulit ditembus.

"Kenapa, Dri? Kok tiba-tiba diam? Masih perih tenggorokannya?" tanya Aurora lagi, kali ini dengan nada sedikit menggoda karena ia tahu persis apa yang membuat mantan kekasihnya itu mendadak kehilangan kata-kata.

Adrian hanya bisa menghela napas panjang, berusaha menenangkan detak jantungnya yang kacau.

 "Nggak apa-apa, Ra. Cuma... kaget saja. Ternyata rencana kalian sudah sangat matang ya."

"Maaf mengganggu waktunya sebentar, Ra," suara Sarah tiba-tiba memecah keheningan di antara mereka.

Sarah melangkah mendekat dengan sebuah tablet di tangannya, wajahnya tampak profesional meski senyum tipis menghiasi bibirnya saat melihat Adrian ada di sana.

"Semua koper rombongan sudah selesai dicek dan dipindahkan ke dalam mobil. Untuk barang-barang tambahan seperti perlengkapan medis dan camilan di perjalanan juga sudah masuk ke bagasi Hiace."

"Terima kasih ya, Sar. Semuanya sudah aman?" tanya Aurora, kembali ke mode bos yang sigap.

"Aman, Ra. Pak Arga dan Rian juga sudah saya minta untuk istirahat lebih awal supaya besok pagi kondisi mereka fit untuk menyetir ke Danau Toba. Kita berangkat jam tujuh pagi, kan?"

Aurora mengangguk pasti.

"Iya, jangan sampai telat. Perjalanan ke sana cukup memakan waktu, dan aku ingin orang tua Adrian bisa menikmati pemandangan sepanjang jalan tanpa harus terburu-buru."

Sarah mencatat sesuatu di tabletnya lalu beralih menatap Adrian.

"Oh, Pak Adrian, koper Bapak dan Ibu juga sudah saya pastikan aman. Kalau ada barang pribadi yang tertinggal di kamar, tolong segera beri tahu saya sebelum malam ini ya."

Adrian hanya bisa mengangguk kaku.

 "Ah, iya, terima kasih, Sarah. Sepertinya semua sudah beres."

"Baik kalau begitu. Saya permisi dulu ya, masih ada beberapa hal yang harus saya koordinasikan dengan biro perjalanan di Parapat," pamit Sarah sebelum akhirnya berbalik meninggalkan taman.

Kepergian Sarah meninggalkan keheningan yang berbeda di antara Aurora dan Adrian.

Suasana hangat penuh nostalgia tadi seolah tersapu oleh kenyataan bahwa besok adalah babak baru dalam perjalanan mereka.

 Aurora berdiri dari kursinya, merapikan sedikit gamis yang ia kenakan.

"Sepertinya kita juga harus istirahat, Dri. Perjalanan besok akan cukup melelahkan," ucap Aurora sambil menatap langit yang kini sudah sepenuhnya gelap.

Adrian ikut berdiri, ia menatap Aurora dengan tatapan yang sulit diartikan.

 "Ra, soal yang tadi... soal kepindahanmu ke Singapura. Bisakah kita bicara lagi nanti? Maksudku, di Danau Toba?"

Aurora terdiam sejenak di depan pintu geser menuju ruang tengah.

Ia menoleh sedikit, memberikan senyum misterius yang selalu berhasil membuat jantung Adrian berdegup kencang.

"Kita lihat saja nanti, Dri. Untuk sekarang, fokuslah pada keluargamu. Mereka terlihat sangat senang dengan perjalanan ini."

Langkah Aurora terhenti tepat di ambang pintu geser. Sebelum ia benar-benar masuk, Adrian melemparkan satu pertanyaan terakhir yang sejak tadi mengusik benaknya.

"Ra, satu hal lagi. Besok di Danau Toba... apa Firan atau Bram akan ikut bersama kita?" tanya Adrian dengan nada yang berusaha terdengar biasa saja, meski kecemasan terpancar jelas dari matanya.

Aurora berbalik perlahan. Alih-alih memberikan jawaban tegas, ia justru menunjukkan senyum manjanya—senyuman yang sangat identik dengan sisi jahilnya dulu setiap kali ia ingin menggoda Adrian.

Ia tidak menggeleng ataupun mengangguk.

"Hmm, menurutmu bagaimana? Coba tebak sendiri, Dri," jawab Aurora dengan nada bicara yang menggantung, membuat Adrian semakin gemas.

Rasa gemas yang memuncak itu membuat Adrian kehilangan kendali atas logikanya.

Secara refleks, ia menarik lembut lengan Aurora, membawa tubuh mungil gadis itu masuk ke dalam dekapannya.

Kali ini Aurora tidak menghindar.

Adrian memeluknya dengan sangat erat, seolah takut jika ia melepaskannya sedikit saja, Aurora akan menghilang menuju Singapura.

"Aku merindukanmu, Ra... Sangat merindukanmu," bisik Adrian tepat di telinga Aurora.

 "Aku ingin kamu tahu, aku sudah memutuskan hubunganku dengan Sherly. Aku tidak mencintainya. Kalaupun dia masih ada di sini, itu hanya karena janjiku pada orang tuanya. Tapi hatiku tetap milikmu."

Aurora terdiam dalam dekapan itu. Ia tidak membalas dengan kata-kata cinta yang diharapkan Adrian.

 Ia justru mendongak sedikit, menatap Adrian dengan sorot mata yang kembali mendingin.

"Aku tidak peduli, Dri. Mau kamu putus, mau kamu menikah dengannya, itu bukan lagi urusanku," jawab Aurora datar.

 Namun, meski kalimatnya terdengar ketus, kedua tangan Aurora perlahan terangkat.

 Ia membalas pelukan Adrian dengan sangat hati-hati, memastikan telapak tangannya tidak menekan bagian punggung Adrian yang masih terluka akibat insiden sebelumnya.

Adrian memejamkan mata, membiarkan dirinya tenggelam dalam momen langka tersebut.

 Ia mengelus rambut panjang Aurora yang halus, menghirup dalam-dalam aroma tubuh yang sangat ia kenali—aroma yang selama bertahun-tahun ini hanya bisa ia jumpai dalam mimpi.

Pelukan itu terasa begitu hangat di tengah semilir angin malam di taman rumah Aurora, sebuah momen pelepasan kerinduan yang selama ini mereka simpan rapat-rapat di balik ego masing-masing.

Beberapa saat mereka hanya terdiam dalam posisi itu, seolah waktu berhenti berputar hanya untuk memberikan mereka kesempatan menjadi "Adrian dan Aurora" yang dulu, sebelum akhirnya kenyataan esok hari kembali memisahkan peran mereka.

...

Begitu pintu kamar tertutup rapat, Aurora menyandarkan tubuhnya di balik daun pintu.

Napasnya masih terasa berat, dan aroma kopi yang bercampur dengan parfum Adrian seolah masih tertinggal di pakaiannya.

Rasa bersalah tiba-tiba menghimpit dadanya.

Tanpa membuang waktu, ia meraih ponsel dan mencari nama Firan di daftar kontak.

Dering pertama belum terjawab, namun pada dering kedua, suara bariton Firan yang tenang menyapa dari seberang sana.

"Belum tidur, Sayang?" tanya Firan lembut.

Aurora menghela napas panjang, mencoba menata kalimatnya.

"Firan, aku ingin jujur. Tadi aku di taman bersama Adrian."

Keheningan sempat menyapa selama beberapa detik.

Aurora pun menceritakan semuanya tanpa ada yang ditutupi—mulai dari percakapan tentang kopi, pemberian kalung emas itu, hingga momen pelukan yang baru saja terjadi.

Ia merasa perlu melakukan "pengakuan dosa" ini karena ia tidak ingin ada rahasia yang menjadi duri dalam hubungannya dengan Firan.

Di seberang telepon, Firan terdiam.

Ada sedikit jeda napas yang terdengar lebih berat dari biasanya, menandakan ada rasa sesak yang sempat singgah di dadanya.

Pria mana yang tidak terluka mendengar kekasihnya dipeluk oleh masa lalu? Namun, Firan adalah pria yang matang.

Ia segera menguasai emosinya dengan luar biasa tenang.

"Terima kasih sudah jujur, Ra," ujar Firan akhirnya.

Suaranya tidak meninggi, justru terdengar sangat dewasa.

"Aku menghargai kejujuranmu lebih dari apa pun. Tapi, aku ingin kamu tahu satu hal. Aku tidak suka milikku disentuh oleh orang lain. Jadi, tolong jangan ulangi kejadian itu lagi, ya?"

Aurora memejamkan mata, merasa lega sekaligus tertampar oleh ketegasan Firan yang disampaikan dengan cara yang sangat elegan.

"Maafkan aku, Firan. Tadi aku hanya... suasananya benar-benar membawaku kembali ke masa lalu sejenak."

"Aku mengerti, Ra," jawab Firan lembut, seolah ia bisa merasakan kegelisahan Aurora.

"Melupakan kenangan enam tahun memang tidak bisa dilakukan dalam setahun. Aku tahu itu butuh waktu, dan aku bersedia menemanimu menghapusnya satu per satu. Tapi pastikan, pelukan tadi adalah yang terakhir untuknya."

Percakapan itu berakhir dengan pesan manis dari Firan agar Aurora segera beristirahat.

Firan menutup telepon dengan kedewasaan yang membuat Aurora semakin merasa bahwa pria inilah yang sebenarnya ia butuhkan.

Firan memahami bahwa masa lalu adalah bagian dari perjalanan, namun ia juga menetapkan batasan yang jelas agar masa depan mereka tidak hancur oleh nostalgia yang salah tempat.

1
Anonymous
tuhkan bener kalo authornya ranu pasti plotwisnya banyak banget😍😍
Anonymous
firaannnnn sing eling firaannn😭😭
R_Bell
atasnya wanita surgawi, bawahnya wanita binal juga 🤣🤭
Durrotun Nasihah
karyamu luar biasa kak..../Rose//Rose//Rose/
Ranu Kallanie Jingga: Waah Makasih kak🤭
Tetap pantengin kelanjutannya ya kak😍
total 1 replies
Durrotun Nasihah
luar biasa kak ......semngat....
Ranu Kallanie Jingga: Terima kasih kak🤭😍
total 1 replies
Anonymous
sherly kata gue mending lu beneran tobat deh...
aurora ni kepribadian ganda ato gimana sih kadang dingin kadang welcome😭
Anonymous
sherly jadi kalem malah bikin curiga🙄😬
Ranu Kallanie Jingga: hihi trust issue bgt ya sama sherly😄
total 1 replies
Anonymous
aurora udh jadi mantan aja masih royal ke kluarga nya adrian apalagi kalo belum jadi mantan gak kebawang semewah apa🤭
nyesel banget deh tu si adrian lebih milih ulet bulu kaya sherly
Sinta Harianto
Suka dengan alur cerita nya
Ranu Kallanie Jingga: terima kasih kak
jangan lupa pantengin terus kelanjutanya ya😍🤭
total 1 replies
Andriani
lah katanya orang beriman. dhuha gak pernah tinggal... wih drama x ni cewek🤭
Allea
jalang banget sih si serly😑
Andriani
lanjut kk... bagus ni ceritanya... anak medan kereenn😍
Ranu Kallanie Jingga: siap kakk..
pantengin terus ya kelanjutannya🤭🤭

Salam Anak Medan...
HORAASSSS😍
total 1 replies
Fita Lidya
ak suka sindiranx😄
Anonymous
ayoo buruan lanjut lagi thor😍😍
Anonymous
pasti selalu banyak plot twisnya...
semoga endingnya aurora gak usah balikan sama adrian deh...
Ranu Kallanie Jingga: balikan gak yaaa hihi🤭
total 1 replies
Allea
semoga endingnya Aurora ga balik ma andrian
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!