"Di balik presisi pisau bedah, ada rahasia yang tidak boleh terucap."
Sheril tidak pernah menyangka bahwa kariernya sebagai ahli forensik akan membawanya ke dalam lingkaran berbahaya antara cinta dan kebenaran. ia mempercayai sekaligus mencurigai kekasihnya Jungkook.
Beberapa rahasia memang lebih baik tetap membisu. Tapi, apakah detak jantung bisa berbohong di bawah tajamnya skalpel?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabana01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14: Flashback: Janji Berdarah
Malam itu di Seoul lima tahun yang lalu tidak seindah sekarang. Tidak ada apartemen mewah dengan pemandangan kota, tidak ada koleksi pisau titanium, dan tidak ada Sheril. Yang ada hanyalah aroma minyak goreng bekas, keringat yang mengering di balik seragam pelayan murahan, dan rasa putus asa yang mencekik tenggorokan.
Jungkook muda adalah seorang pemimpi yang naif. Ia hanyalah seorang yatim piatu yang bekerja di sebuah kedai tteokbokki kumuh di pinggiran Gangnam, berjuang membiayai pengobatan adiknya, satu-satunya keluarga yang ia miliki, yang menderita penyakit gagal ginjal stadium akhir.
"Kau butuh uang itu besok, atau adikmu akan dikeluarkan dari daftar tunggu transplantasi. Begitu kan, Jungkook-ah?"
Suara itu muncul dari sudut kedai yang gelap, sesaat setelah Jungkook menutup gerbang besi. Di sana, duduk di atas kursi plastik yang reyot, adalah Park Jimin. Saat itu Jimin belum mengenakan jas mahal; ia hanya mengenakan jaket bomber satin, namun tatapannya sudah memiliki otoritas yang tidak bisa dibantah.
Jungkook menatapnya dengan tangan gemetar yang memegang sapu. "Siapa kau? Kedai sudah tutup."
Jimin tertawa, sebuah tawa yang terdengar seperti gesekan kaca. Ia meletakkan sebuah tas olahraga hitam di atas meja berminyak itu. Saat ritsletingnya dibuka, tumpukan uang tunai dalam pecahan seratus ribu won menyilaukan mata Jungkook.
"Aku adalah jawaban dari doa-doamu," bisik Jimin. "Ambil uang ini. Bayar rumah sakit adikmu. Pastikan dia mendapatkan ginjal terbaik malam ini juga."
Jungkook terpaku. Matanya beralih dari tumpukan uang itu ke wajah Jimin. "Apa... apa imbalannya? Aku tidak punya apa-apa untuk membayarmu."
Jimin bangkit, berjalan mendekati Jungkook, dan menepuk bahunya dengan akrab. "Kau punya sesuatu yang lebih berharga dari uang, Jungkook. Kau punya tangan yang stabil. Aku sudah memperhatikanmu memotong sayuran dengan kecepatan yang tidak masuk akal. Kau punya bakat untuk presisi. Dan yang terpenting... kau punya mata orang yang rela melakukan apa saja demi orang yang dicintainya."
Malam itu, Jungkook mengambil uang itu. Ia menyelamatkan adiknya. Namun, ia tidak tahu bahwa ia baru saja menandatangani kontrak dengan iblis menggunakan tinta darahnya sendiri.
Satu tahun setelahnya, adiknya meninggal karena komplikasi pasca-operasi. Jungkook hancur. Namun, Jimin tidak membiarkannya pergi. Hutang budi itu tidak mati bersama adiknya.
"Hutangmu belum lunas, Jungkook-ah," ujar Jimin saat mereka berdiri di pemakaman yang diguyur hujan. Di sampingnya berdiri J-Hope, yang saat itu hanya tersenyum sambil memainkan pisau lipat. "Uang itu sudah habis, tapi investasi kami padamu baru dimulai. Kami butuh tempat untuk 'mengolah' bisnis kami. Dan kami butuh seseorang yang bisa membersihkan kekacauan tanpa banyak tanya."
Jungkook tidak punya pilihan. Ia tidak punya siapa-siapa lagi. Di bawah bimbingan Jimin yang manipulatif dan kegilaan J-Hope, Jungkook dilatih bukan hanya menjadi koki kelas dunia, tetapi juga menjadi "pembersih" kelas satu.
Mereka mendanai sekolah kulinernya di Prancis. Mereka membangunkan restoran Le Lapin untuknya. Restoran itu adalah monumen keberhasilan Jungkook, sekaligus penjara emasnya. Dapur mewah itu memiliki fungsi ganda: tempat menyajikan hidangan untuk kaum elit di siang hari, dan tempat menghapus jejak kejahatan sindikat Jimin di malam hari.
Janji itu sederhana: Selama kau bekerja untuk kami, kau akan mendapatkan segalanya. Tapi sekali kau mencoba lari, semua orang yang kau sentuh akan merasakan tajamnya pisaumu sendiri.
Kembali ke Masa Kini.
Jungkook terbangun di tengah malam dengan napas memburu dan keringat dingin yang membasahi keningnya. Memori itu selalu datang kembali, seperti hantu yang menolak untuk dikubur. Ia menoleh ke samping dan melihat Sheril yang sedang tertidur lelap. Wajah wanita itu begitu tenang, kontras dengan badai yang berkecamuk di dalam dada Jungkook.
Ia mengulurkan tangannya, membelai pipi Sheril dengan sangat lembut. Hanya karena dia, batin Jungkook. Hanya demi melindunginya, aku rela tetap menjadi anjing peliharaan Jimin.
Jungkook bangun dari tempat tidur dengan sangat hati-hati agar tidak membangunkan Sheril. Ia berjalan menuju balkon, menyalakan sebatang rokok, dan menatap kegelapan Seoul. Kenangan tentang J-Hope yang memberikan bunga pada Sheril tadi siang membuat darahnya mendidih.
Jimin dan J-Hope mulai melanggar batas. Mereka mulai menyentuh "bunganya".
Tiba-tiba, ponselnya yang tergeletak di meja balkon bergetar. Sebuah pesan dari Jimin.
"Gudang 13. Sekarang. Kami punya 'bahan' baru yang butuh penanganan ahlinya. Jangan terlambat, Koki kesayanganku."
Jungkook mematikan rokoknya di asbak kaca dengan tekanan yang kuat hingga batang rokok itu hancur. Ia masuk kembali ke dalam, mengenakan jaket hitamnya, dan menatap Sheril sekali lagi.
"Aku tidak akan membiarkan mereka menyentuhmu, Sheril," bisiknya pada keheningan kamar. "Meskipun aku harus membunuh mereka semua, atau mati di tangan mereka."
Jungkook keluar dari apartemen, menutup pintu dengan bunyi klik yang halus. Namun, tepat setelah pintu itu tertutup, mata Sheril terbuka di dalam kegelapan. Ia tidak benar-benar tidur. Ia mendengar semuanya. Ia mendengar napas berat Jungkook dan ia mendengar suara pintu yang terkunci.
Sheril bangun, duduk di tepi tempat tidur sambil memeluk lututnya. Air mata jatuh ke seprainya. Ia tahu Jungkook pergi ke tempat yang gelap itu lagi. Ia tahu kekasihnya sedang menuju neraka demi dirinya, dan yang paling menyakitkan adalah ia merasa tidak berdaya untuk menghentikannya.
Di tempat lain, di sebuah lorong gelap menuju tempat parkir, Suga sedang menunggu di dalam mobilnya. Ia melihat mobil Jungkook keluar dari gedung apartemen.
"Janji berdarah, ya?" gumam Suga sambil memasang earpiece detektifnya. "Mari kita lihat seberapa dalam kau akan tenggelam malam ini, Jungkook."
Suga menginjak gas, mengikuti lampu belakang mobil Jungkook dari jarak aman. Malam ini, bukan hanya masa lalu yang akan terungkap, tapi masa depan yang penuh darah mulai menampakkan wajahnya.