"Di bawah getah nangka yang lengket dan semut hitam yang merayap, aku tidak hanya mengikat janji pada Mama, tapi juga pada takdir yang sedang mengujiku."
Bagi Raymond, pindah dari Gang Serayu ke Perumnas Mandala adalah sebuah harapan akan kemerdekaan. Di sana, ia melihat Bapaknya—seorang PNS yang resik—berusaha membangun dunia baru melalui kandang-kandang ayam yang ditandai dengan cat di kakinya. Sebuah simbol kepemilikan dan harga diri yang coba dijaga di tengah tanah perantauan.
Namun, udara Mandala yang asri pelan-pelan berubah menjadi pekat oleh asap rokok dan tumpukan kertas nomor togel. Bapak yang dulu dipuja sebagai pahlawan, kini berubah menjadi "Si Teleng"—seorang penjudi yang mempertaruhkan segalanya: gaji bulanan, perabotan rumah, hingga keselamatan keluarganya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raymond Siahaan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18 Ketika Waktu Menguji, Cinta Memilih Bertahan
Usia tidak datang dengan suara. Ia tidak mengetuk pintu atau memberi tanda khusus. Ia hanya berjalan perlahan, meninggalkan garis-garis tipis di wajah dan kebijaksanaan yang kadang terasa datang terlambat.
Aku menyadari itu suatu pagi ketika bercermin lebih lama dari biasanya. Rambut putih di pelipis tidak lagi bisa disebut “beberapa helai.” Ia mulai menjadi bagian dari diriku.
Maria berdiri di belakangku, menyandarkan dagunya di bahuku.
“Kamu terlihat gagah,” katanya ringan.
“Gagah atau tua?” tanyaku sambil tertawa kecil.
“Dewasa,” jawabnya mantap.
Kata itu terdengar sederhana, tetapi mengandung perjalanan panjang di dalamnya.
Naomi kini semester akhir di universitas. Ia semakin matang, semakin berani menyuarakan pendapatnya. Daniel sudah hampir menyelesaikan sekolah menengah atas, sibuk dengan proyek robotik dan impian melanjutkan kuliah teknik di luar kota.
Rumah kami tak lagi dipenuhi suara mainan yang berantakan, tetapi diskusi-diskusi serius tentang masa depan.
Suatu malam, Naomi pulang dengan wajah gelisah.
“Papa, aku dapat tawaran residensi seni di luar negeri.”
Aku terdiam sejenak. “Itu kabar besar.”
“Iya… tapi jauh. Setahun penuh.”
Maria yang duduk di ruang makan ikut mendekat.
“Kamu ingin pergi?” tanyanya lembut.
Naomi mengangguk pelan. “Aku takut meninggalkan rumah.”
Aku tersenyum. Rasa itu tidak asing.
“Dulu Papa juga pernah takut melangkah,” kataku. “Tapi hidup tidak selalu meminta kita tinggal. Kadang ia meminta kita bertumbuh.”
“Kalau aku gagal?” tanyanya lagi.
“Kamu akan pulang dengan pengalaman. Itu bukan kegagalan.”
Ia menatapku lama, lalu memelukku erat.
Di pelukan itu, aku merasakan lingkaran kehidupan berputar. Dulu aku yang meminta restu untuk melangkah. Kini aku yang memberi restu.
Beberapa minggu kemudian, Naomi benar-benar berangkat. Bandara terasa berbeda dari yang biasa. Ada bangga, ada haru, ada sunyi yang mulai terasa bahkan sebelum pesawat lepas landas.
Maria menggenggam tanganku saat kami melihat Naomi menghilang di balik pintu keberangkatan.
“Anak kita sudah besar,” bisiknya.
“Iya,” jawabku pelan.
Daniel yang berdiri di sampingku terlihat lebih diam dari biasanya.
“Kamu baik-baik saja?” tanyaku padanya.
“Iya, Pa. Cuma… rumah bakal sepi.”
Aku tersenyum. “Sepi bukan berarti kosong. Kadang sepi memberi ruang untuk mengerti.”
Beberapa bulan setelah Naomi pergi, Daniel datang dengan kabar yang tak kalah besar.
“Aku diterima di universitas teknik di kota lain,” katanya dengan wajah campuran bangga dan ragu.
Maria langsung memeluknya.
Aku menepuk bahunya.
“Kamu siap merantau?”
Daniel menarik napas panjang. “Aku takut, tapi aku mau coba.”
Kalimat itu membuatku teringat pada diriku sendiri bertahun-tahun lalu—lelaki muda yang penuh ragu namun tetap melangkah.
Hari Daniel berangkat terasa lebih berat dari yang kubayangkan. Rumah yang dulu penuh suara kini benar-benar berubah sunyi.
Malam pertama setelah mereka pergi, aku dan Maria duduk di teras seperti kebiasaan lama kami.
“Sekarang tinggal kita,” katanya sambil tersenyum kecil.
Aku mengangguk.
“Apakah kita siap menghadapi fase ini?”
Maria menatap langit yang gelap.
“Kita sudah melewati banyak hal. Ini hanya bab baru.”
Bab baru.
Aku menyadari bahwa hidup tidak pernah benar-benar berhenti pada satu peran. Ketika peran sebagai orang tua yang sibuk mereda, peran sebagai pasangan kembali mendapat ruang lebih luas.
Namun hidup tidak hanya menguji melalui perpisahan.
Suatu sore di kantor, aku merasakan nyeri aneh di dada. Tidak terlalu tajam, tetapi cukup membuatku berhenti bekerja sejenak.
Aku mengabaikannya.
Namun malamnya, rasa itu kembali.
Maria yang melihat wajahku pucat langsung memaksaku ke rumah sakit.
Dokter melakukan beberapa pemeriksaan. Hasilnya membuatku terdiam.
“Ada penyempitan ringan pada pembuluh darah,” kata dokter dengan tenang. “Belum kritis, tetapi harus dijaga serius.”
Aku duduk lama setelah dokter keluar.
Aku selalu merasa kuat. Selalu merasa masih punya banyak waktu.
Maria menggenggam tanganku.
“Kita akan hadapi ini seperti biasa,” katanya.
“Bagaimana kalau aku tidak sekuat dulu?” tanyaku pelan.
Maria menatapku lurus.
“Aku tidak menikah dengan kekuatanmu. Aku menikah dengan hatimu.”
Air mataku hampir jatuh.
Penyakit itu menjadi pengingat—bahwa waktu bukan milik siapa pun.
Aku mulai mengubah gaya hidup. Mengurangi pekerjaan berlebihan. Lebih sering berjalan pagi bersama Maria. Lebih disiplin menjaga makan.
Setiap langkah kecil terasa seperti bentuk syukur.
Naomi sering menelepon dari luar negeri. Ia bercerita tentang galeri seni, tentang teman-teman baru, tentang rasa rindu yang kadang datang tiba-tiba.
“Papa, aku bertemu seseorang,” katanya suatu malam melalui panggilan video.
Aku tersenyum. “Oh ya?”
“Dia baik. Tapi berbeda budaya.”
Aku tertawa kecil dalam hati. Sejarah seperti berulang, tetapi dalam versi yang berbeda.
“Apakah kamu merasa dihargai?” tanyaku.
“Iya.”
“Apakah kamu merasa bisa tetap menjadi dirimu sendiri?”
Naomi terdiam sejenak. “Iya.”
“Kalau begitu, jalani dengan bijak. Jangan takut pada perbedaan, tapi juga jangan abaikan nilai yang kamu pegang.”
Maria menatapku bangga setelah panggilan itu selesai.
“Kamu tidak lagi berbicara dengan ketakutan,” katanya.
“Aku belajar dari kesalahan masa lalu,” jawabku.
Daniel pun mengalami pergumulannya sendiri di kota rantau. Tekanan akademik membuatnya sempat ingin menyerah.
“Pa, mungkin aku salah jurusan,” katanya lewat telepon suatu malam.
“Kamu lelah atau kamu tidak suka?” tanyaku.
“Lelah.”
“Kalau begitu istirahat, bukan menyerah.”
Ia terdiam, lalu tertawa kecil.
“Papa selalu punya kalimat sederhana ya.”
Aku tersenyum. Kadang yang dibutuhkan anak bukan solusi besar, tetapi ketenangan.
Bisnis yang kubangun bertahun-tahun mulai stabil tanpa harus bergantung sepenuhnya padaku. Aku mulai mendelegasikan lebih banyak tanggung jawab.
Suatu hari, partnerku berkata,
“Kamu berubah. Dulu kamu ingin mengontrol semuanya.”
Aku tertawa.
“Sekarang aku ingin menikmati proses.”
Mungkin inilah kedewasaan yang sesungguhnya—melepaskan tanpa merasa kehilangan kendali.
Beberapa tahun berlalu lagi.
Naomi kembali ke tanah air dengan banyak cerita dan pengalaman. Ia tidak membawa cincin pertunangan, tetapi membawa kedewasaan yang jelas terlihat.
Daniel menyelesaikan studinya dengan hasil memuaskan.
Suatu malam, kami berkumpul lengkap di meja makan—sesuatu yang jarang terjadi sejak mereka dewasa.
“Aku bersyukur,” kata Maria tiba-tiba.
“Kenyang?” Daniel bercanda.
Maria tertawa. “Bukan. Bersyukur karena kita sampai di titik ini tanpa kehilangan satu sama lain.”
Aku memandang mereka satu per satu.
Dulu aku takut kehilangan cinta.
Lalu aku takut kehilangan pekerjaan.
Lalu aku takut kehilangan orang tua.
Kini aku mengerti—kehilangan adalah bagian dari hidup, tetapi cinta yang dirawat dengan benar tidak mudah hilang.
Beberapa waktu kemudian, Naomi memperkenalkan seseorang kepada kami. Seorang pria sederhana, tenang, dengan tatapan hormat.
Aku mengamati tanpa menginterogasi.
Setelah makan malam selesai, Naomi mendekatiku.
“Papa, kamu setuju?”
Aku tersenyum.
“Aku tidak lagi mencari kesempurnaan. Aku hanya melihat apakah kamu diperlakukan dengan baik.”
“Dan?”
“Sejauh ini, iya.”
Ia memelukku erat.
Lingkaran kehidupan kembali berputar.
Suatu malam yang tenang, setelah semua orang tertidur, aku duduk sendirian di teras.
Udara malam terasa sejuk.
Aku memikirkan perjalanan panjang hidupku.
Dari seorang lelaki muda yang kebingungan memilih antara cinta dan restu…
Menjadi suami yang belajar bertanggung jawab…
Menjadi ayah yang belajar melepaskan…
Menjadi anak yang akhirnya memahami ibunya…
Dan kini menjadi lelaki yang belajar menerima batas tubuhnya sendiri.
Maria keluar membawa dua cangkir teh hangat.
“Melamun lagi?” tanyanya.
“Bukan. Menghitung berkat,” jawabku.
Ia duduk di sampingku.
“Kamu takut?” tanyanya pelan.
“Aku tidak takut mati,” jawabku jujur. “Aku hanya takut tidak sempat menyampaikan semua yang ingin kusampaikan.”
Maria menggenggam tanganku.
“Kalau begitu, sampaikan sekarang. Setiap hari.”
Aku tersenyum.
Mungkin itulah inti dari semua perjalanan ini—tidak menunda cinta, tidak menunda maaf, tidak menunda restu.
Waktu akan terus menguji.
Tubuh akan terus menua.
Anak-anak akan terus melangkah.
Namun selama hati memilih bertahan dalam cinta yang sehat, keluarga akan tetap utuh.
Aku menatap langit malam yang luas.
Tidak ada lagi ambisi besar yang ingin kukejar.
Tidak ada lagi pembuktian yang perlu kulakukan.
Yang ada hanyalah keinginan sederhana:
Menjadi lelaki yang ketika waktunya tiba nanti, bisa berkata dengan tenang—
Aku sudah mencintai dengan sungguh.
Dan ketika aku menggenggam tangan Maria malam itu, aku tahu satu hal pasti:
Selama cinta tetap dipilih, setiap ujian hanya akan menguatkan.
Perjalanan belum selesai.
Namun kini aku tidak lagi berjalan dengan rasa takut.
Aku berjalan dengan kesadaran bahwa hidup bukan tentang menghindari badai—
Melainkan tentang belajar berdiri bersama orang-orang yang kita pilih untuk tetap kita cintai.