di Benua Roh Azure, kekuatan adalah segalanya. Ye Yuan, seorang murid luar dari Sekte Pedang Surgawi, ditakdirkan menjadi sampah seumur hidup karena Dantian-nya yang direbut kembali. Saat ia didorong ke dalam keputusasaan dan dibuang ke Lembah Kuburan Senjata, ia mendengar panggilan. Bukan dari pedang suci yang berkilauan, melainkan dari sebilah pedang besi hitam yang patah dan berkarat. Pedang itu bukan sekedar rongsokan; ia adalah pecahan dari "Penyegel Langit" yang dulu digunakan oleh Dewa Perang kuno untuk memenggal bintang. Dengan pedang patah di tangan, Ye Yuan bersumpah:"Jika Langit menindasku, akan kubelah Langit itu. Jika Dewa menghalangiku, akan kupatahkan leher Dewa itu!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hakim2501, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32: Sungai Tulang dan Bayangan Putih
Suasana di dalam "Mulut Naga"—gua raksasa di dasar jurang Ngarai Tulang Menangis—jauh berbeda dari dunia luar.
Tidak ada kegelapan total di sini. Dinding-dinding gua dilapisi oleh lumut fosfor yang memancarkan cahaya hijau pucat, memberikan kesan dunia bawah tanah yang angker.
Ye Yuan melangkah hati-hati di sepanjang tepian sungai hitam yang mengalir tenang. Air sungai itu tidak memantulkan bayangannya. Airnya pekat, berminyak, dan memancarkan hawa dingin yang menusuk tulang.
"Sungai Mata Air Kuning (Yellow Springs)?" gumam Ye Yuan, mengingat legenda tentang sungai dunia orang mati.
Setiap langkah kakinya di atas tanah yang terbuat dari serbuk tulang padat menimbulkan suara krek pelan.
Xiao Jin, musang harta karun di bahu Ye Yuan, mencicit gelisah. Bulu kuduknya berdiri. Hidung kecilnya kembang kempis mencium bahaya.
ZING!
Tiba-tiba, permukaan sungai hitam di sebelah kiri Ye Yuan bergolak.
Bukan ikan yang muncul, melainkan tangan-tangan tulang.
Puluhan kerangka manusia—atau setidaknya humanoid—merangkak naik dari dalam sungai. Tulang mereka berwarna hitam legam karena terendam air sungai terkutuk itu selama ribuan tahun. Di rongga mata mereka, menyala api biru pucat.
[Prajurit Tulang Sungai Hitam]
Tingkat: Setara Pembentukan Fondasi Tingkat 2-3
Jumlah: 50+
"Selamat datang di neraka," Ye Yuan menyeringai tipis.
Dia tidak mencabut pedang besarnya dari punggung. Dia ingin menghemat tenaga. Sebagai gantinya, dia memadatkan Qi di tinjunya.
[Tinju Asura: Hantaman Besi!]
Ye Yuan meninju kerangka pertama yang melompat ke arahnya.
KRAK!
Tengkorak makhluk itu hancur berkeping-keping. Api biru di matanya padam. Tulang-belulangnya jatuh berserakan menjadi debu.
"Lemah," komentar Ye Yuan.
Namun, detik berikutnya, debu tulang itu bergerak sendiri, menyatu kembali, dan kerangka itu berdiri lagi dalam hitungan detik!
"Apa?" Ye Yuan mengerutkan kening. "Abadi?"
Xiao Jin mencicit keras, menunjuk ke arah api biru di rongga dada kerangka itu, bukan kepalanya.
"Oh, intinya di sana."
Kali ini, lima kerangka menyerang serentak, memegang pedang tulang yang tajam dan berkarat.
Ye Yuan mencabut Pedang Penakluk Langit.
"Kalau begitu, hancurkan sampai ke intinya!"
Ye Yuan mengayunkan pedang seberat satu ton itu secara horizontal.
WUUUSH!
Tidak ada teknik rumit. Hanya berat murni dan kecepatan.
BLARR!
Lima kerangka itu hancur lebur menjadi serbuk halus. Pedang Ye Yuan yang dialiri Api Bintang Dingin membekukan api jiwa di dada mereka sebelum sempat menyatu kembali.
Serbuk tulang yang membeku itu tidak bangkit lagi.
"Efektif," Ye Yuan mengangguk puas.
Dia terus bergerak maju, membabat habis setiap gelombang Prajurit Tulang yang muncul dari sungai. Slash! Bam! Krak! Lorong gua itu dipenuhi suara kehancuran.
Setelah membantai sekitar seratus kerangka dan berjalan satu kilometer ke dalam, Ye Yuan tiba di sebuah aula gua yang sangat luas.
Di tengah aula itu, terdapat sebuah jembatan yang terbuat dari tulang rusuk naga raksasa yang melengkung menyeberangi sungai hitam yang melebar menjadi danau.
Namun, Ye Yuan tidak langsung menyeberang.
Dia berhenti, lalu berbalik badan dengan cepat, mengarahkan pedang besarnya ke kegelapan di belakangnya.
"Keluar," kata Ye Yuan dingin. "Atau aku tebas."
Dari balik bayangan pilar batu kapur, sesosok wanita berjubah putih melangkah keluar dengan anggun. Tidak ada debu atau kotoran sedikit pun di pakaiannya, seolah dia berjalan di taman bunga, bukan di gua mayat.
Itu Mu Bingyun.
Wajah cantiknya datar, namun matanya menatap pedang besar di tangan Ye Yuan dengan kilatan ketertarikan.
"Indra spiritualmu tajam juga untuk ukuran Tingkat Empat," kata Mu Bingyun tenang.
Ye Yuan tidak menurunkan pedangnya. "Guru Mu. Apakah Anda di sini untuk menangkap murid murtad ini dan menyerahkannya pada Gu Tian?"
"Jika aku ingin menangkapmu," Mu Bingyun menjentikkan jarinya, dan suhu di sekitar Ye Yuan turun drastis hingga alis Ye Yuan memutih karena es, "kau sudah menjadi patung es sejak di bibir jurang tadi."
Ye Yuan merasakan tekanan Pembentukan Fondasi Tingkat Sembilan Puncak yang menyesakkan dada. Dia tahu dia tidak bisa menang.
Dia menurunkan pedangnya perlahan, tapi otot-ototnya tetap tegang, siap meledakkan Langkah Hantu kapan saja.
"Lalu apa mau Anda?"
"Kerja sama," jawab Mu Bingyun singkat.
"Kerja sama?" Ye Yuan mengangkat alis. "Seorang Ketua Puncak butuh bantuan buronan?"
Mu Bingyun berjalan mendekat, melewati Ye Yuan, dan menatap jembatan tulang naga di depan mereka.
"Kau memegang Peta Kunci. Tanpa itu, kita akan tersesat di labirin ilusi di dalam sana. Tapi kau... kau terlalu lemah untuk menghadapi Penjaga Inti sendirian."
Mu Bingyun menoleh, menatap mata Ye Yuan.
"Gu Tian dan Yan Lie sedang berusaha mendobrak gerbang utama. Mereka akan masuk dalam waktu kurang dari enam jam. Jika kau ingin mendapatkan Darah Naga Asli sebelum mereka, kau butuh aku untuk membersihkan jalan."
Ye Yuan menimbang tawaran itu. Mu Bingyun benar. Dia kuat, tapi melawan Boss tingkat tinggi di dungeon ini sendirian akan memakan waktu lama. Dan waktu adalah kemewahan yang tidak dia miliki.
"Bagaimana pembagiannya?" tanya Ye Yuan to the point.
"Darah Naga Asli dibagi dua. Sisanya—harta, senjata, teknik—milik siapa yang menemukannya."
"Adil," Ye Yuan mengangguk. "Tapi jika terjadi bahaya yang mengancam nyawa, jangan harap aku akan menolongmu."
"Aku tidak butuh pertolongan anak kecil," balas Mu Bingyun dingin.
Tiba-tiba, danau hitam di bawah jembatan tulang itu bergejolak hebat.
ROAAAARRR!
Seekor makhluk raksasa melompat keluar dari air, menghalangi jalan di jembatan.
Itu adalah Naga Buaya Tulang (Bone Crocodile Dragon).
Panjangnya dua puluh meter, tubuhnya perpaduan antara buaya purba dan kerangka naga. Kulitnya sekeras baja hitam, dan mulutnya penuh taring setajam pedang.
Aura makhluk ini... Pembentukan Fondasi Tingkat Delapan!
"Penjaga Jembatan," kata Ye Yuan, menggenggam pedangnya.
"Biar aku yang urus," kata Mu Bingyun, melangkah maju. Dia mencabut pedang rampingnya, Bilah Beku.
"Tidak perlu," Ye Yuan menahan bahu Mu Bingyun.
Mu Bingyun terkejut. Belum pernah ada murid laki-laki yang berani menyentuhnya, apalagi menahannya.
Ye Yuan menyeringai di balik topengnya (yang kini sudah dia lepas karena rusak saat jatuh).
"Guru Mu bilang aku terlalu lemah? Biarkan murid ini menunjukkan sedikit hasil belajarnya."
Ye Yuan tidak menggunakan teknik pedang. Dia menyimpan pedang besarnya kembali ke punggung.
Dia melangkah maju dengan tangan kosong.
Naga Buaya itu meraung dan menerjang, membuka mulut raksasanya untuk menelan Ye Yuan bulat-bulat.
Mu Bingyun mengerutkan kening. "Dia cari mati?"
Ye Yuan menatap mulut raksasa itu.
[Tubuh Pedang Perunggu: Aktivasi Penuh!]
Kulit Ye Yuan berubah menjadi warna perunggu gelap metalik. Urat-uratnya menonjol seperti cacing baja.
Saat mulut buaya itu hendak menutup, Ye Yuan melompat masuk ke dalam mulutnya!
Dia menahan rahang atas dan rahang bawah buaya itu dengan kedua tangannya!
BAM!
Rahang buaya itu tertahan. Gigi-giginya bergemeretak melawan telapak tangan Ye Yuan, tapi tidak bisa menembus kulit perunggu itu.
"Hanya segini kekuatan Tingkat Delapan?" Ye Yuan berteriak dari dalam mulut buaya.
Otot lengan dan punggung Ye Yuan membesar.
"BUKA!"
KRAAAK!
Dengan kekuatan fisik murni 10.000 Jin (5 ton), Ye Yuan merobek rahang buaya itu secara paksa!
Buaya itu menjerit, tapi suaranya teredam karena rahangnya patah total.
Ye Yuan belum selesai. Dia melepaskan tangan kanannya, mengepal, dan memukul langit-langit mulut buaya itu—langsung ke arah otak.
[Tinju Asura: Hancurkan Langit!]
BLAAAARRR!
Kepala buaya itu meledak dari dalam. Darah hitam dan potongan otak muncrat ke segala arah.
Tubuh raksasa itu jatuh berdebum ke jembatan, mati seketika.
Ye Yuan berdiri di tengah bangkai itu, berlumuran darah hitam, lalu mengibaskan tangannya seolah hanya membuang debu.
Dia menoleh ke arah Mu Bingyun yang berdiri terpaku. Mata indah Ketua Puncak itu sedikit melebar karena kaget. Kekuatan fisik murni seperti itu... jarang dimiliki bahkan oleh kultivator pria yang fokus pada tubuh (Body Refiner).
"Bagaimana, Guru?" tanya Ye Yuan sambil tersenyum tipis. "Apakah aku masih terlalu lemah?"
Mu Bingyun dengan cepat mengembalikan ekspresi dinginnya.
"Kasar. Tidak elegan sama sekali," komentarnya pedas, meski dalam hati dia mengakui kekuatan Ye Yuan. "Tapi efektif. Ayo jalan."
Ye Yuan tertawa kecil. Dia membelah perut buaya itu, mengambil Inti Monster (Monster Core) berwarna hitam, melemparkannya ke Xiao Jin, lalu mengikuti langkah Mu Bingyun menyeberangi jembatan.
Di depan mereka, sebuah gerbang cahaya berputar-putar.
Itu adalah pintu masuk ke Labirin Ilusi Naga.
"Pegang peta itu erat-erat," perintah Mu Bingyun. "Di dalam sana, matamu akan menipumu. Hanya peta itu yang jujur."
Ye Yuan mengangguk. Dia mengeluarkan Peta Naga Tulang. Peta itu bersinar, memproyeksikan jalur emas di lantai.
Mereka berdua melangkah masuk ke dalam gerbang cahaya, meninggalkan dunia nyata menuju dunia mimpi buruk.
Sementara itu, di luar ngarai...
BOOM!
Gerbang utama Ngarai Tulang Menangis akhirnya hancur lebur di bawah serangan gabungan Gu Tian dan Yan Lie.
"Pintunya terbuka!" teriak Yan Lie.
"MASUK! TEMUKAN YE YUAN! BUNUH SIAPA SAJA YANG MENGHALANGI!" raung Gu Tian.
Ribuan kultivator membanjiri ngarai seperti air bah.
Perlombaan menuju harta karun naga telah memasuki babak kedua.
[Bersambung ke Bab 33]
Poin Ringkas Bab 32:
Dungeon Crawl: Ye Yuan melawan Prajurit Tulang yang bisa bangkit kembali, menggunakan elemen Es untuk mematikan mereka.
Alliance: Mu Bingyun menyusul dan menawarkan kerja sama. Ye Yuan setuju dengan syarat bagi hasil 50:50.
Show of Strength: Ye Yuan membunuh Naga Buaya Tulang (Lv 8) dengan tangan kosong (kekuatan fisik murni), membuktikan diri di depan Mu Bingyun.
Next Stage: Mereka masuk ke Labirin Ilusi.
Pursuit: Pintu utama hancur, ribuan musuh mulai masuk mengejar mereka.