NovelToon NovelToon
SILENT PROTOCOL: GHOST IN THE GRID

SILENT PROTOCOL: GHOST IN THE GRID

Status: sedang berlangsung
Genre:Agen Wanita / Identitas Tersembunyi / Action / Fantasi / Cintamanis / Romansa
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: risn_16

Raka adalah seorang "Hantu". Mantan operator elit dari unit rahasia yang keberadaannya tidak pernah diakui oleh negara. Setelah memalsukan kematiannya, ia hidup dalam bayang-bayang sebagai konsultan keamanan independen, memastikan rahasia-rahasia gelap korporasi tetap terkunci rapat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon risn_16, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

OKSIGEN TERAKHIR

08:45 PM. Jantung The Grid, Kedalaman Samudra Hindia.

Monitor merah itu berkedip seperti detak jantung yang sekarat. "PHASE 2 GLOBAL ASCENSION INITIALIZED."

Kalimat itu bukan sekadar peringatan; itu adalah nisan bagi dunia digital yang kita kenal. Yudha tidak pernah berencana untuk tetap tinggal di dalam tubuh ringkihnya yang terendam cairan biru itu.

Dia sudah bermigrasi. Dia sekarang adalah hantu di dalam mesin, menyebar melalui kabel bawah laut seperti virus yang menemukan inangnya.

"Raka... bangun, kumohon..." suara Liana bergetar, lebih tajam dari suara alarm self destruct yang mulai menderu di latar belakang.

Raka tersedak, paru parunya terasa seperti terbakar oleh sisa arus listrik yang baru saja menghantam sarafnya. Ia membuka mata perlahan, menemukan wajah Liana yang basah oleh air mata hanya beberapa sentimeter dari wajahnya. Bau hangus dari panel kontrol bercampur dengan aroma manis kulit Liana yang masih tersisa dari villa tadi.

"Aku... aku belum mati, Li," bisik Raka, suaranya parau dan lemah. "Jangan menangis dulu. Itu merusak protokol kecantikanmu."

Liana tertawa terisak, memukul pelan bahu Raka yang sehat sebelum membantunya duduk. "Sialan kau, Raka. Dalam keadaan hangus begini pun kau masih sempat bicara nakal."

Raka mencoba menggerakkan lengannya. Sakitnya luar biasa, seolah otot ototnya ditarik paksa keluar dari tulangnya. Namun, saat ia melihat lampu darurat pangkalan yang mulai berkedip kuning tanda bahwa tekanan air mulai menghancurkan struktur bangunan adrenalinnya kembali menyuntikkan kekuatan paksa.

"Kita harus pergi. Tempat ini akan runtuh dalam lima menit," kata Raka, mencoba berdiri dengan tumpuan pada bahu Liana.

Mereka tertatih menyusuri lorong kaca yang kini mulai retak. Air laut mulai merembes masuk dari celah celah kecil, menciptakan semprotan air dingin yang menusuk. Di belakang mereka, ledakan demi ledakan kecil mulai menghancurkan deretan server raksasa.

"Raka, lihat!" Liana menunjuk ke arah terminal darurat di ujung lorong. "Jika Yudha sudah mengunggah dirinya ke satelit, kita tidak bisa menghentikannya dari sini. Tapi kita bisa mencuri kunci enkripsi terakhirnya. Jika kita punya itu, kita bisa memburunya di mana pun dia bersembunyi di internet."

"Lakukan," perintah Raka. Ia menyandarkan tubuhnya di dinding, memegang senjatanya dengan satu tangan yang gemetar sementara tangan lainnya terkulai lemas.

Liana memasangkan pemindai portabelnya. "Satu menit! Aku butuh satu menit!"

Di tengah gemuruh air dan ledakan, Raka menarik Liana mendekat, melindunginya dengan tubuhnya saat sebuah plafon logam jatuh beberapa meter di samping mereka.

"Li," panggil Raka di tengah kebisingan.

"Jangan sekarang, Raka! Aku sedang meretas tuhan!" seru Liana.

"Dengarkan aku," Raka memutar wajah Liana agar menatapnya. Di tengah kekacauan itu, mata Raka tampak sangat tenang ketenangan seorang pria yang sudah menerima takdirnya. "Jika sesuatu terjadi... jika aku tidak bisa melewati pintu keluar itu..."

"Jangan berani berani bicara begitu!" potong Liana dengan mata menyala. "Kau sudah berjanji soal toko buku itu! Kau sudah berjanji soal lobster! Dan kau berutang padaku ciuman yang lebih lama dari yang di villa tadi!"

Raka tersenyum tipis, sebuah senyuman yang benar benar sampai ke matanya. "Aku hanya ingin bilang... terima kasih karena sudah tidak benar-benar mati sepuluh tahun lalu. Kau adalah satu satunya bagian dari sistemku yang tidak pernah bisa aku hapus."

Liana tertegun sejenak, jemarinya membeku di atas layar. Ia menatap Raka, dan untuk sesaat, dunia di sekitar mereka yang sedang runtuh terasa sunyi. "Aku juga mencintaimu, Robot Bodoh. Sekarang diam dan biarkan aku menyelamatkan nyawamu."

BEEP.

"Dapat! Kunci enkripsinya ada di tanganku!" Liana menyambar perangkatnya. "Ayo! Pintu keluar darurat ada di sebelah sana!"

Mereka mencapai palka penyelamatan sebuah kapsul kecil yang dirancang untuk pelarian bawah air. Namun, saat Raka menekan tombol operasional, layar kecil di sana menunjukkan pesan error.

"OXYGEN TANK DAMAGED CAPACITY 50%."

Hanya cukup untuk satu orang sampai ke permukaan.

Liana melihat layar itu dan langsung menatap Raka.

"Tidak. Jangan pikirkan itu."

"Li, kau yang membawa kunci datanya. Kau yang bisa menghentikan Yudha. Kau harus pergi," kata Raka tegas. Ia mulai mendorong Liana masuk ke dalam kapsul.

"Kita bisa berbagi! Kita bisa bernapas bergantian! Raka, jangan lakukan ini!" Liana meronta, namun Raka menggunakan sisa kekuatannya untuk mengunci Liana di dalam kursi kapsul.

Raka berlutut di depan Liana, memegang kedua tangannya yang gemetar. "Aku adalah hantu, Li. Ingat? Hantu tidak butuh banyak oksigen. Aku akan menyusul lewat jalur evakuasi manual dengan setelan Liquid Shadow ku. Masih ada sisa udara di tangki mikroku."

"Kau bohong," bisik Liana, air matanya jatuh kembali. "Tangki mikromu sudah rusak saat kau memegang panel listrik tadi. Aku melihatnya, Raka."

Raka terdiam. Kebohongannya terbongkar oleh wanita yang terlalu mengenalnya. Ia menangkup wajah Liana, ibu jarinya mengusap air mata itu untuk terakhir kalinya.

"Kalau begitu, doakan aku punya keberuntungan lumba lumba," kata Raka dengan suara yang sangat lembut. Ia mendekatkan wajahnya, mencium bibir Liana bukan ciuman adrenalin, tapi ciuman yang penuh dengan perpisahan, janji, dan cinta yang putus asa.

Liana membalasnya dengan isakan, memegang erat kerah jaket Raka seolah olah ia bisa menahan pria itu selamanya. "Kau harus kembali. Jika kau tidak muncul di permukaan dalam sepuluh menit, aku akan menyelam kembali tanpa alat apa pun untuk mencarimu. Kau dengar aku?!"

"Dengar, Li," bisik Raka.

Ia menekan tombol peluncuran dari luar.

"RAKAAA!" teriak Liana saat pintu kapsul tertutup rapat.

Kapsul itu meluncur keluar ke dalam kegelapan laut, meninggalkan Raka sendirian di dalam lorong yang kini sudah terendam air setinggi pinggang.

Raka berdiri di tengah air yang dingin, menatap kapsul Liana yang menjauh melalui jendela kaca. Ia merasa sangat lelah. Arus listrik tadi benar benar telah menghancurkan sebagian besar fungsi motoriknya.

Namun, bayangan Liana di permukaan, menunggu dengan kunci data itu, memberinya satu alasan terakhir untuk tidak menyerah.

Ia menarik masker selamnya yang retak.

"Oksigen... 2 menit," bisik sistem di telinganya.

Ia tidak punya jalan keluar yang mudah. Ia harus berenang melewati turbin pendingin yang sedang meledak.

Raka terjun ke dalam air yang memenuhi lorong. Ia berenang dengan sisa tenaganya, melawan arus deras yang mencoba menyeretnya kembali ke jantung ledakan. Setiap gerakannya adalah rasa sakit yang murni, namun di dalam pikirannya, ia terus mengulang satu memori Liana yang sedang tertawa di toko buku pinggir pantai, dengan cahaya matahari menyinari wajahnya.

Satu ayunan lagi... satu meter lagi...

Oksigennya habis. Paru parunya mulai terasa seperti diperas oleh tangan raksasa. Pandangannya mulai memudar menjadi hitam.

Maaf, Li... sepertinya lobsternya harus menunggu sedikit lebih lama...

Tepat saat kesadarannya hampir hilang, sebuah tangan menarik kerah jaketnya. Bukan tangan Liana, melainkan sebuah pengait logam dari robot penyelamat otomatis yang dikendalikan dari jarak jauh.

"Raka! Jangan berani berani memejamkan mata!" suara Bimo menggelegar di komunikator helmnya. "Liana sudah sampai di permukaan dan dia hampir gila menyuruhku mengirim setiap drone yang aku punya untuk menjemputmu!"

Raka tersenyum di balik maskernya, setetes air masuk ke matanya, dan ia membiarkan dirinya ditarik menuju cahaya di atas permukaan laut.

Sepuluh menit kemudian, di atas dek kapal logistik Bimo yang bergoyang diterjang ombak pagi, Liana duduk bersimpuh di samping tubuh Raka yang baru saja ditarik dari laut.

Raka terengah engah, menghirup udara pagi yang dingin seolah itu adalah emas murni.

Liana tidak bicara. Ia hanya memeluk Raka dengan kekuatan yang bisa mematahkan tulang, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher pria itu. Raka melingkarkan tangannya yang gemetar ke pinggang Liana, mencium rambutnya yang basah.

"Aku... aku kembali," bisik Raka.

Liana mendongak, matanya merah namun bersinar dengan kebahagiaan yang liar. "Kau terlambat dua menit, Robot. Aku hampir saja melompat tadi."

"Maaf... macet di bawah sana," goda Raka lemah.

Liana tertawa, sebuah tawa manis yang menghapus semua kengerian malam itu. Ia membantu Raka duduk, menyandarkannya di bahunya sambil mereka menatap matahari yang mulai terbit di ufuk Maladewa. Pangkalan The Grid di bawah mereka meledak untuk terakhir kalinya, mengirimkan riak besar ke permukaan.

Yudha mungkin sudah menyebar ke internet global. Perang yang sesungguhnya mungkin baru saja dimulai. Tapi saat ini, di atas dek kapal yang kecil ini, Raka tahu satu hal Ia bukan lagi hantu. Ia hidup. Dan ia punya alasan untuk tetap hidup.

"Li," panggil Raka.

"Ya?" sahut Liana.

"Warna biru laut... aku setuju. Untuk cat dinding toko bukunya." ucap Raka.

Liana tersenyum, menyandarkan kepalanya di bahu Raka saat matahari pagi mulai menghangatkan kulit mereka. "Bagus. Karena aku sudah memesan catnya di dalam pikiranku sejak tadi."

Kapal Bimo mulai bergerak menjauh, membelah ombak menuju cakrawala yang baru. Mereka telah memenangkan pertempuran ini, namun yang lebih penting, mereka telah menemukan kembali kemanusiaan mereka di antara baris baris kode yang dingin.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!