Ranu Wara lahir di tengah kemiskinan Kerajaan Durja sebagai reinkarnasi Dewa Tertinggi, ditandai dengan mata putih perak dan tanda lahir rasi bintang di punggungnya. Sejak bayi, ia telah menunjukkan kekuatan luar biasa dengan memukul mundur gerombolan bandit kejam hanya melalui tekanan aura.
Menginjak usia tujuh tahun, Ranu mulai menyadari jati dirinya dan menggunakan kekuatan batinnya untuk melindungi orang tuanya dari penindasan pendekar asing. Pertemuannya dengan Ki Sastro, seorang pendekar tua misterius, mengungkap nubuat bahwa Kerajaan Durja berada di ambang kehancuran akibat konspirasi racun dan ancaman invasi. Kini, Ranu harus memilih: tetap hidup tenang sebagai anak saudagar miskin atau bangkit memimpin perjuangan demi melindungi keluarga dan tanah kelahirannya dari lautan api peperangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JUNG KARYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18: Tarian Kacang Tanah dan Benih Kehampaan
Sari sang Penenun Mimpi berdiri terpaku di atas air Danau Cermin yang tenang. Sebagai utusan dari Langit Kesepuluh yang agung, ia telah menghancurkan banyak pendekar jenius dari berbagai benua. Namun, baru kali ini ia menghadapi serangan yang begitu... menghina martabatnya.
Ranu Wara, sang Dewa yang terjebak dalam tubuh remaja, baru saja melemparkan segenggam kacang tanah kering tepat ke arah wajahnya.
"Kau menghinaku, Wira Candra!" jerit Sari. Suaranya melengking tinggi, memecah kesunyian danau. Harpa yang terbuat dari tulang manusia di tangannya berdenting liar. Setiap dentingan mengeluarkan gelombang sonik berwarna hitam yang sanggup merobek gendang telinga dan menghancurkan akal sehat manusia biasa.
Ranu melakukan salto di udara dengan kelincahan yang mustahil bagi manusia. Ia mendarat di atas permukaan air—bukan dengan ilmu meringankan tubuh biasa, melainkan dengan memanipulasi kepadatan molekul air di bawah kakinya.
"Menghina? Tidak, tidak. Nona Sari, kau harus belajar bahwa dalam pertempuran, fokus adalah segalanya," sahut Ranu santai. "Teknik ini aku namakan Hujan Camilan Penyesat Fokus. Kau tahu betapa sulitnya menjaga akurasi serangan saat ada kacang tanah yang hampir masuk ke lubang hidungmu?"
Sambil bercanda, mata perak Ranu sebenarnya bekerja dengan kecepatan ribuan kali lipat dari mata manusia. Ia sedang memetakan struktur ruang di sekeliling Sari. Setiap kali Sari memetik senar harpanya, Ranu melihat adanya retakan mikroskopis di udara, itu sebuah anomali dimensi tempat teknik Pembalik Ruang itu aktif.
"Nara, sekarang!" teriak Ranu. "Bidik titik tiga inci di bawah ketiak kirinya. Di sana adalah simpul saraf dimensinya. Jika kau mengenainya, seluruh ilusi ini akan runtuh seperti rumah kartu!"
Nara, yang sejak tadi berdiri diam seperti patung di tepi danau, bergerak dalam sekejap. Sebagai keturunan terakhir Suku Penjaga Hening, gerakannya tidak memiliki massa. Ia menarik tali busur kayu hitamnya hingga melengkung sempurna. Tidak ada anak panah fisik; yang muncul adalah sebilah cahaya hijau zamrud yang berasal dari esensi jiwanya sendiri.
"Hamba mengerti," bisik Nara.
ZING!
Anak panah itu melesat. Di tengah jalan, ia tiba-tiba menghilang ke dalam udara kosong dan masuk ke alam bayangan untuk menghindari teknik pembalik ruang milik Sari dan muncul kembali tepat satu inci di belakang punggung sang iblis.
"Apa?! Bagaimana mungkin seorang fana bisa menyentuh jalur bayangan?!" Sari panik. Ia mencoba memutar harpanya untuk menciptakan perisai ruang, tapi Ranu sudah lebih dulu berada di depannya.
Ranu muncul bukan untuk memberikan pukulan penghancur, melainkan hanya untuk menyentuh pergelangan tangan Sari dengan jari telunjuknya. Sebuah aliran energi Bintang Keenam yang sangat murni mengalir masuk, membekukan seluruh sirkulasi energi gelap di tubuh Sari.
"Maaf, Nona. Konsertmu sudah berakhir," ucap Ranu datar.
BOOM!
Anak panah Nara menembus bahu Sari dari belakang, tepat di titik yang diarahkan Ranu. Tubuh Sari meledak dalam cahaya hijau dan hitam, lalu perlahan mencair menjadi genangan air yang tidak lagi memantulkan bayangan. Di dasar danau yang dangkal, tertinggal sebuah bola kristal biru bening yang berdenyut dengan irama yang tenang.
Nara mendekat dengan napas yang sedikit memburu. Menggunakan panah dimensi menghabiskan cukup banyak energinya. "Itu dia... Mata Air Rembulan. Pusaka yang mampu memurnikan racun dari Langit Kesepuluh."
Ranu memungut kristal itu. Namun, alih-alih gembira, wajahnya justru bertambah serius. Ia menggenggam kristal itu dan merasakan getaran di dalamnya.
"Ini baru permulaan, Nara. Sari tadi hanyalah seorang 'Penenun', kelas pelayan tingkat rendah dalam hierarki Langit Kesepuluh. Jika seorang pelayan saja sudah bisa memanipulasi ruang dengan harpa tulang, bayangkan apa yang bisa dilakukan oleh para Jenderal Kehampaan yang memimpin jutaan Manusia Kerak."
Ranu menatap ke arah cakrawala utara. Langit di sana tampak lebih gelap, seolah-olah ada tinta hitam yang sedang ditumpahkan ke atas kanvas biru.
"Dunia fana ini jauh lebih rapuh dari yang aku bayangkan selama aku tidur," gumam Ranu. "Segel-segel kuno yang dulu aku pasang sudah mulai keropos dimakan usia. Aku butuh lebih dari sekadar pusaka. Aku butuh kekuatan manusia untuk membantu menjaga dunia ini saat aku harus kembali ke atas."
Nara menatap Ranu dengan mata hijau zamrudnya yang tajam. "Lalu, apakah kita akan langsung menuju Gerbang Antar Alam?"
Ranu menggeleng, ia memasukkan kristal biru itu ke dalam saku jubahnya yang sedikit kotor. "Tidak. Pergi ke sana sekarang sama saja dengan bunuh diri. Tubuh remajaku ini belum sanggup menahan tekanan dimensi yang mentah. Kita butuh tempat untuk memulihkan energi dan... yang paling penting, kita butuh sekutu."
"Sekutu? Bukankah Anda bisa menghancurkan kerajaan hanya dengan satu jentikan jari?" tanya Nara heran.
"Memang bisa, tapi itu akan memicu retakan dimensi yang lebih besar. Aku butuh 'perisai' manusia," jawab Ranu. "Nara, kita akan pergi ke Akademi Pedang Langit di puncak Pegunungan Es Benua Utara. Itu adalah tempat di mana semua jenius dari lima benua berkumpul. Jika kita bisa menyusup ke sana, kita bisa memantau pergerakan sekte-sekte besar dan melatih beberapa dari mereka untuk menghadapi serangan yang sebenarnya."
Nara mengangguk, namun ia teringat sesuatu. "Ranu, akademi itu sangat ketat. Mereka hanya menerima orang-orang dengan garis keturunan agung atau bakat yang terlihat nyata. Kau... saat ini terlihat seperti pendekar pengembara yang kelaparan."
Ranu menyeringai lebar, menampakkan deretan gigi putihnya yang rapi. Semangat kenakalannya kembali muncul. "Itulah bagian yang paling menyenangkan, Nara. Tidak ada yang lebih memuaskan daripada melihat wajah orang-orang yang merasa 'jenius' itu saat mereka dikalahkan oleh seorang murid baru yang hobi mengunyah kacang tanah dan menyapu halaman."
"Kita akan menyamar," lanjut Ranu. "Kau akan menjadi jenius pendiam yang dingin, dan aku... aku akan menjadi murid luar yang tidak berguna. Dengan begitu, tak seorang pun dari Langit Kesepuluh akan menyadari bahwa Dewa Tertinggi sedang bersembunyi di bawah hidung mereka."
Sementara itu, di Kerajaan Durja, matahari mulai terbenam dengan warna merah yang menyeramkan. Ki Sastro berdiri di depan pintu rumah Ki Garna. Di tangannya, pedang pemberian Ranu mulai mengeluarkan hawa perak yang dingin.
Di depannya, puluhan makhluk hitam mulai keluar dari bayang-bayang pohon jati. Mereka bukan lagi Manusia Kerak biasa; ada makhluk yang lebih besar, memiliki banyak tangan yang masing-masing memegang pedang tulang.
"Kalian tidak akan masuk," bisik Sastro. "Gusti Ranu sudah mempercayakan keselamatan Bapak dan Ibu kepadaku. Jika aku harus mati hari ini, maka aku akan membawa kalian semua ke neraka bersamaku!"
Sastro merapal mantra penyegel bumi. Tanah di sekitar rumah mulai bergetar, membentuk lingkaran pelindung emas. Pertempuran di desa pun pecah, menandai dimulainya babak baru di mana Ranu harus berjuang secara politik dan kekuatan di utara, sementara orang-orang yang dicintainya berjuang untuk sekadar bertahan hidup di rumah.
......................