Linggar adalah seorang sekretaris cerdas dan berhati emas, namun ia selalu merasa rendah diri karena tubuhnya yang gemuk. Karena desakan adiknya, Nadya, Linggar akhirnya mencoba peruntungan di aplikasi kencan. Takut ditolak karena fisiknya, ia nekat menggunakan foto cantik adiknya sebagai profil.
Di dunia maya, ia bertemu dengan Rangga, pria tampan dan karismatik yang jatuh cinta pada kepribadian Linggar. Namun, Rangga mengira ia sedang jatuh cinta pada wanita di foto tersebut.
Dunia Linggar runtuh saat ia menyadari bahwa Rangga adalah CEO baru di kantornya—bos besarnya sendiri. Kini, Linggar terjebak dalam dilema besar: tetap bersembunyi di balik identitas palsu atau mempertaruhkan segalanya untuk menunjukkan bahwa yang patut dicintai adalah hatinya, bukan sekadar wajah di foto itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Nadya berlari menyusuri koridor rumah sakit yang beraroma antiseptik tajam.
Napasnya tersengal, namun tangannya mendekap erat buku harian cokelat itu seolah benda tersebut adalah nyawa kakaknya sendiri.
Dari kejauhan, ia melihat Rangga yang masih mematung di depan pintu ruang operasi, sosok yang biasanya angkuh itu kini tampak hancur dan kuyu.
"Mas Rangga!" panggil Nadya dengan suara serak.
Rangga menoleh perlahan, tatapannya kosong. Begitu Nadya sampai di hadapannya, tanpa sepatah kata pun, Nadya menyodorkan buku harian itu.
"Ini Mas! Baca ini," ucap Nadya sambil terisak.
"Mbak Linggar membohongimu bukan karena dia jahat, tapi karena dia terlalu takut dunia akan melukainya lagi seperti yang Mas lakukan malam ini. Di dalam sini, ada alasan kenapa dia lebih memilih menjadi 'Nadya' daripada menjadi dirinya sendiri."
Rangga menerima buku itu dengan tangan gemetar.
Belum sempat ia membuka halaman pertama, suara langkah kaki cepat terdengar dari arah pintu masuk rumah sakit.
"Nadya!"
Edwin tidak memedulikan keberadaan Rangga dan langsung menarik Nadya ke dalam pelukannya.
"Edwin, Mbak Linggar, Win. Mbak Linggar di dalam," tangis Nadya pecah di dada Edwin.
Edwin memeluk Nadya dengan sangat erat, mengusap punggungnya untuk memberikan kekuatan, meski matanya sendiri tampak berkaca-kaca menatap lampu ruang operasi yang masih menyala merah.
"Sshhh, tenang Nad. Linggar wanita yang kuat. Dia tidak akan menyerah semudah itu. Aku di sini, aku tidak akan membiarkan kalian sendirian."
Rangga hanya bisa terpaku melihat kemesraan dan kedekatan Edwin dengan keluarga Linggar.
Ada rasa sesak yang aneh di dadanya antara rasa cemburu yang bercampur dengan penyesalan mendalam.
Ia menyadari bahwa di saat ia sibuk menghina dan menyiksa Linggar secara mental.
Ada orang lain yang benar-benar mengenal dan menyayangi wanita itu apa adanya.
Dengan tangan gemetar, Rangga duduk menjauh di kursi pojok.
Ia membuka halaman pertama buku harian Linggar.
Di sana, tertulis kalimat pertama yang langsung menghujam jantungnya.
Hari ini ada orang yang paling aku cintai dengan memanggilku babi di depan umum. Aku ingin menangis, tapi aku harus tersenyum karena aku adalah sekretaris yang profesional. Tuhan, bolehkah sekali saja aku merasa cantik di mata seseorang?
Rangga menutup mulutnya dengan tangan, air matanya jatuh membasahi kertas usang itu.
Halaman demi halaman buku harian itu dibalik oleh Rangga dengan tangan yang kaku.
Setiap kalimat yang ditulis Linggar terasa seperti tamparan keras yang mendarat di wajahnya.
Suara bising di lorong rumah sakit seolah menghilang, menyisakan suara hati Linggar yang merintih di atas kertas.
Rangga membaca bagian di mana semuanya dimulai:
14 Januari
Hari ini akhirnya aku menginstal aplikasi jodoh atas keinginan Nadya yang ingin aku mempunyai kekasih.
Dia bilang aku terlalu menutup diri. Tapi aku tahu duniaku tidak ramah pada wanita seperti aku. Aku tidak percaya diri dan akhirnya aku melakukan hal terbodoh.
Aaku memakai foto Nadya. Aku hanya ingin tahu, apakah ada pria yang mau menyapa jika wajahku cantik?
Lalu aku berkenalan dengan pria bernama Rangga. Dia terlihat sangat berkelas dan baik hati.
15 Januari
Aku mulai joging pagi ini, mencoba mencintai tubuhku sendiri. Tiba-tiba ponselku bergetar. Rangga mengirim pesan menyapa, bertanya sedang apa.
Aku malu mengakuinya, tapi aku membalas pesannya sambil makan nasi pecel di pinggir jalan. Dia sangat manis, bahkan melalui layar ponsel.
Senin
Duniaku runtuh hari ini. Pak Richard pindah ke Yogyakarta, dan saat pintu ruangan terbuka, penggantinya ternyata adalah pria itu. Rangga. Pria yang semalam mengucapkanku selamat tidur di aplikasi.
Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan? Dia ada di depanku, menatapku sebagai sekretarisnya yang tidak menarik, tanpa tahu bahwa aku adalah wanita yang dia puji setiap malam. Aku terjebak dalam kebohonganku sendiri.
Rangga menutup buku itu dengan kasar, napasnya tersengal.
Ia menyandarkan punggungnya ke dinding rumah sakit yang dingin, membiarkan buku itu jatuh ke pangkuannya.
Ia teringat bagaimana ia memuji kecantikan foto Nadya di depan Linggar, tanpa menyadari bahwa ia sedang menghancurkan hati wanita yang berdiri tepat di hadapannya.
"Aku yang membunuhnya. Aku yang membuat dia merasa harus bersembunyi."
Edwin, yang sejak tadi mendekap Nadya, melirik ke arah Rangga dengan tatapan yang sulit diartikan.
Ia melepaskan pelukannya pada Nadya dan melangkah perlahan mendekati kursi Rangga.
"Sudah membacanya, Pak Rangga?" tanya Edwin dengan nada rendah namun tajam.
"Mbak Linggar mencintai Anda dengan seluruh rasa tidak percaya dirinya. Dia bertahan di kantor itu meski setiap hari harus mendengar Anda memuja wanita lain yang sebenarnya adalah dirinya sendiri. Anda menyebutnya pembohong, tapi Anda tidak pernah memberinya ruang untuk merasa cukup cantik sebagai dirinya sendiri."
Rangga hanya bisa menunduk dalam, air matanya menetes membasahi lantai rumah sakit.
Penyesalan itu datang terlambat, tepat saat Linggar sedang berjuang antara hidup dan mati di balik pintu besi itu.
Lampu merah di atas pintu ruang operasi akhirnya padam.
Pintu terbuka perlahan, menampakkan sosok dokter yang melangkah keluar dengan bahu merosot dan wajah yang sangat murung.
Rangga, Nadya, dan Edwin serentak berdiri, menanti kalimat yang akan menentukan hidup mereka.
"Dokter, bagaimana kakak saya?" tanya Nadya dengan suara yang nyaris hilang.
Dokter menghela napas panjang, melepaskan maskernya.
"Operasi berjalan lancar untuk menghentikan pendarahan internalnya. Namun, benturan keras di kepala dan trauma fisik yang dialaminya terlalu hebat. Dan kemungkinan pasien mengalami koma karena kejadian ini,"
Dunia seolah runtuh seketika bagi Nadya. Ia menoleh ke arah Rangga yang berdiri mematung.
Segala emosi yang dipendamnya sejak tadi akhirnya meledak menjadi amarah yang luar biasa.
Nadya melangkah maju, memukul dada Rangga dengan kedua tangannya yang gemetar.
"Jahat kamu, Mas!! Ternyata kamu sama saja seperti Riko!" teriak Nadya histeris sampai suaranya menggema di koridor rumah sakit yang sepi.
Rangga tidak melawan saat Nadya marah kepadanya.
Ia membiarkan pukulan lemah Nadya mendarat di dadanya, karena hatinya jauh lebih hancur.
"Asal Mas tahu, Kemarin malam Mbak Linggar pulang jalan kaki di bawah hujan deras! Dia kedinginan, dia menggigil, hatinya hancur karena Mas meninggalkannya di kafe begitu saja!" Nadya berteriak lagi, wajahnya merah padam karena tangis dan amarah.
"Dia mencintai kamu Mas Rangga dengan tulus, dia berkorban setiap hari di kantor, tapi Mas malah memperlakukannya seperti sampah!"
"Nad, tenang..." Edwin mencoba menarik Nadya, namun gadis itu masih ingin menumpahkan segalanya.
"Mas Rangga tahu kenapa dia sangat mencintai kamu, Mas?" Nadya menunjuk buku harian di tangan Rangga.
"Karena dia pikir Mas adalah pria baik yang akan melindunginya dari orang-orang seperti Riko. Tapi ternyata? Mas justru yang memberikan luka paling dalam buat dia! JAHAT KAMU, MAS!!"
Rangga hanya bisa terdiam, air matanya jatuh tanpa suara.
Setiap kalimat Nadya adalah kebenaran yang menyiksa batinnya.
Ia teringat bagaimana ia melajukan mobil dengan angkuh semalam, meninggalkan Linggar yang menangis di tepi jalan.
Ia teringat betapa dinginnya ia saat Linggar mencoba meminta maaf dan malah memintanya untuk membuatkan kopi sepuluh kali.
Kini, wanita yang paling ia cintai terbaring diam di dalam sana, terjebak dalam kegelapan koma, dan mungkin tidak akan pernah mendengar kata maaf yang sangat ingin ia sampaikan.