NovelToon NovelToon
The Monster'S Debt

The Monster'S Debt

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Single Mom / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Mafia / Nikah Kontrak / Berbaikan
Popularitas:41
Nilai: 5
Nama Author: ALNA SELVIATA

Dante Valerius tidak mengenal ampun. Sebagai pemimpin sindikat paling ditakuti, tangannya telah terlalu banyak menumpahkan darah. Namun, sebuah pengkhianatan fatal membuatnya sekarat di gang sempit—hingga sepasang tangan lembut membawanya pulang.
​Aruna hanya seorang janda yang mencoba bertahan hidup demi putra kecilnya. Ia tahu pria yang ia selamatkan adalah maut yang menyamar, namun nuraninya tak bisa membiarkan nyawa hilang di depan matanya.
​Kini, Dante terjebak dalam hutang nyawa yang tidak bisa ia bayar dengan uang. Ia bersumpah akan melindungi Aruna dari bayang-bayang masa lalunya. Namun, mampukah seekor monster mencintai tanpa menghancurkan satu-satunya cahaya yang ia miliki?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ALNA SELVIATA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4 Tamu dari Kegelapan

Pagi kedua sejak kedatangan Dante Valerius tidak terasa seperti pagi biasanya di Jalan Kenanga. Biasanya, Aruna akan terbangun oleh suara penjual sayur yang berteriak di depan pagar atau suara tawa anak-anak tetangga yang berangkat sekolah. Namun hari ini, sunyi senyap. Jalanan di depan rumahnya seolah-olah telah mati. Saat Aruna mengintip dari balik gorden, ia melihat dua pria berjas hitam berdiri tegak di ujung gang, memutar balik setiap kendaraan yang mencoba masuk.

​Dante telah mengisolasi hidupnya.

​Aruna menghela napas panjang. Ia berjalan ke ruang tengah dan menemukan Dante sedang duduk di sofa tuanya yang sedikit ambles. Pria itu tidak lagi bertelanjang dada; ia mengenakan kemeja hitam satin yang tampak sangat kontras dengan latar belakang rumah Aruna yang didominasi warna kayu pudar dan taplak meja rajutan tangan yang murah. Di pangkuan Dante terdapat sebuah laptop tipis, dan telinganya tersumbat oleh earpiece kecil.

​"Aku butuh kopi," ucap Dante tanpa mengalihkan pandangan dari layar. Suaranya datar, namun nadanya tetap merupakan sebuah perintah yang tak terbantahkan.

​Aruna mengepalkan tangannya di samping daster. "Di rumah ini, ada kata 'tolong' yang biasanya digunakan sebelum meminta sesuatu, Tuan Valerius."

​Jari-jari Dante yang sedang mengetik tiba-tiba berhenti. Ia mengangkat kepalanya perlahan. Mata gelapnya menatap Aruna dengan intensitas yang mampu membuat orang biasa gemetar ketakutan. "Tolong?" Dante mengulang kata itu seolah-olah itu adalah bahasa asing yang belum pernah ia dengar. "Aku membayar keberadaanku di sini dengan keamananmu, Aruna. Itu lebih dari cukup daripada sekadar kata 'tolong'."

​"Keamanan?" Aruna tertawa getir, meski suaranya pelan agar tidak membangunkan Bumi yang masih tidur. "Anda membawa pasukan bersenjata ke lingkungan yang damai. Anda membuat tetangga saya ketakutan. Jika itu yang Anda sebut keamanan, maka definisi kita sangat berbeda."

​Dante menutup laptopnya dengan satu tangan. Ia berdiri, meski gerakannya masih sedikit kaku karena luka di perutnya. Ia melangkah mendekati Aruna. Setiap langkahnya terasa seperti intimidasi yang tenang. Saat ia berhenti tepat di depan Aruna, pria itu menunduk sehingga wajah mereka hanya berjarak beberapa inci.

​"Kau lebih berani dari yang kukira, Janda," desis Dante. "Kebanyakan orang akan sujud syukur jika aku menjanjikan perlindungan. Tapi kau... kau justru meributkan etiket."

​"Karena saya punya harga diri," balas Aruna, menatap langsung ke mata pria itu. "Anda boleh menguasai kota ini, tapi di rumah ini, saya yang mengatur. Jika Anda ingin kopi, katakan 'tolong'. Jika tidak, air keran ada di dapur."

​Dante terdiam. Ketegangan di antara mereka begitu kental hingga rasanya bisa dipotong dengan pisau. Para anak buah Dante yang berjaga di luar pintu mungkin akan pingsan jika tahu ada seorang wanita yang berani menantang bos mereka demi secangkir kopi.

​Setelah beberapa detik yang terasa seperti selamanya, sudut bibir Dante berkedut. Bukan senyum, tapi lebih seperti ekspresi takjub yang sinis. "...Tolong buatkan kopinya. Hitam. Tanpa gula."

​Aruna sedikit terkejut, namun ia tidak menunjukkannya. Ia berbalik menuju dapur tanpa sepatah kata pun. Di dalam hati, ia merasa menang kecil.

​Saat ia sedang menyeduh kopi, Bumi muncul dari kamar sambil menggosok matanya. Bocah itu masih mengenakan piyama bergambar dinosaurus. Melihat Dante yang sedang berdiri di tengah ruangan, mata Bumi langsung berbinar.

​"Paman Robot!" seru Bumi. Ia berlari kecil ke arah Dante dan tanpa ragu memeluk kaki panjang pria itu.

​Dante membeku. Tubuhnya menegang seperti papan kayu. Ia menatap ke bawah, ke arah bocah yang kini sedang menyandarkan kepalanya di paha Dante yang terbungkus celana kain mahal. Enzo, yang baru saja masuk untuk memberikan laporan, hampir menjatuhkan berkas di tangannya saat melihat pemandangan itu.

​"Tuan... apakah Anda perlu saya... memindahkan anak itu?" tanya Enzo ragu-ragu.

​Dante melirik Enzo dengan tatapan mematikan, membuat pria itu segera mundur tiga langkah. Dante kembali menatap Bumi. "Kenapa kau memanggilku Paman Robot?"

​"Karena Paman kuat!" jawab Bumi dengan semangat. "Ibu bilang Paman punya mesin di perutnya karena luka semalam. Dan Paman punya plester robot di kening!"

​Dante baru ingat plester itu masih menempel di sana. Ia merasa konyol, namun ia tidak tega melepasnya di depan mata Bumi yang penuh harapan. Ia berdeham, mencoba mengembalikan kewibawaannya yang hancur berantakan.

​"Pergilah bermain, Bocah. Aku sedang bekerja," ucap Dante, suaranya melembut—sesuatu yang bahkan ia sendiri tidak sadari.

​"Bumi mau lihat robotnya Paman!" Bumi tetap bersikeras. Ia menunjuk ke arah laptop Dante. "Apakah itu komputer untuk mengendalikan robot?"

​Dante menghela napas. Entah sihir apa yang dimiliki bocah ini, Dante mendapati dirinya duduk kembali di sofa dan membiarkan Bumi duduk di sampingnya. Ia membuka laptopnya kembali, namun bukannya menampilkan grafik transaksi gelap atau peta pelabuhan, ia sengaja membuka folder dokumen yang membosankan agar Bumi tidak melihat hal-hal yang tidak seharusnya.

​Aruna datang membawa kopi dan melihat pemandangan itu. Ia terpaku di ambang pintu dapur. Dante, pria yang semalam memerintahkan pembunuhan dengan suara dingin, kini sedang menjelaskan sesuatu yang teknis tentang laptop kepada seorang anak kecil yang bahkan belum bisa membaca dengan lancar.

​"Ini kopinya," ucap Aruna lembut, meletakkan cangkir di meja.

​Dante mengambil cangkir itu, menyesapnya, dan sedikit mengernyit. "Kopi ini terlalu kuat."

​"Itu kopi pasar, bukan kopi dari kedai mewah," balas Aruna sambil duduk di kursi seberang, mulai melipat baju-baju jahitan yang menumpuk. "Jika tidak suka, jangan diminum."

​Dante menatap kopi itu, lalu menatap Aruna yang sedang bekerja dengan tekun. Ada keheningan yang aneh namun tidak sepenuhnya tidak nyaman. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, Dante tidak dikelilingi oleh kebisingan bar, desing peluru, atau teriakan ketakutan. Ia hanya mendengar suara mesin jahit yang sesekali berdenging dan celoteh Bumi.

​"Suamimu," ucap Dante tiba-tiba, membuat Aruna berhenti melipat baju. "Enzo bilang dia meninggal dua tahun lalu. Kecelakaan tabrak lari?"

​Ekspresi Aruna berubah redup. "Iya. Pelakunya tidak pernah tertangkap. Polisi bilang itu jalanan yang gelap tanpa CCTV. Dia sedang dalam perjalanan pulang membawa kue ulang tahun untuk Bumi."

​Dante memperhatikan jari-jari Aruna yang bergetar sedikit saat menceritakan hal itu. Ia tahu tentang "jalan gelap tanpa CCTV". Itu adalah tempat favorit anak buahnya atau musuhnya untuk melakukan eksekusi. Ada kemungkinan besar suami Aruna bukanlah korban tabrak lari biasa, melainkan korban sampingan dari konflik dunia bawah.

​"Siapa nama suamimu?" tanya Dante lagi.

​"Satria. Satria Kirana," jawab Aruna singkat, seolah nama itu terlalu berat untuk diucapkan.

​Dante mencatat nama itu dalam ingatannya. Ia akan menyuruh Enzo menyelidiki kembali kasus tersebut. Bukan karena ia peduli—begitulah ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri—tapi karena ia benci berhutang pada seseorang yang memiliki sejarah gelap dengan dunianya.

​"Paman, Paman punya rumah besar?" tanya Bumi, memecah kesunyian.

​"Punya," jawab Dante pendek.

​"Apakah di sana banyak mainan?"

​"Tidak ada mainan. Hanya ada senjata dan orang-orang yang tidak suka tersenyum."

​Aruna melempar pandangan tajam pada Dante. "Jangan bicara soal senjata pada anak saya."

​Dante hanya mengangkat bahu. "Dia harus tahu dunia ini keras, Aruna. Menutupinya dengan dongeng tidak akan membuatnya selamat."

​"Dia masih lima tahun!"

​"Dulu saat aku lima tahun, aku sudah tahu cara membedakan suara pistol kaliber sembilan milimeter dan empat puluh lima," balas Dante dingin.

​Aruna terdiam. Ia melihat luka di wajah Dante, bekas luka lama yang melintang di sudut matanya, dan ia menyadari bahwa pria ini tidak pernah memiliki masa kanak-kanak. Dante adalah produk dari kekejaman yang tidak pernah ia bayangkan. Rasa benci Aruna sedikit memudar, digantikan oleh rasa iba yang asing.

​Tiba-tiba, suara keras terdengar dari luar. Suara benturan mobil dan teriakan orang-orang.

​Dante segera berdiri, tangannya secara refleks meraih pistol tersembunyi di balik kemejanya. Enzo masuk dengan tergesa-gesa. "Tuan, ada mobil asing mencoba menerobos barikade di ujung jalan. Mereka menabrak kendaraan kita. Sepertinya anak buah Marco menemukan tempat ini."

​Wajah Aruna menjadi pucat pasi. Ia langsung merengkuh Bumi ke pelukannya. "Apa yang terjadi?"

​Dante menatap Aruna, matanya kembali menjadi mata predator yang haus darah. Kehangatan singkat tadi menghilang seketika. "Tetap di dapur. Masuk ke bawah meja dan jangan keluar sampai aku mengatakannya."

​"Dante, tolong..." suara Aruna bergetar, kali ini benar-benar memohon.

​Dante berhenti di depan pintu, membelakangi Aruna. Ia mengokang senjatanya dengan bunyi klik yang dingin. "Kubilang aku akan melindungimu, Janda. Dan aku tidak pernah menarik kembali kata-kataku."

​Dante melangkah keluar, diikuti oleh deretan pria bersenjata lainnya. Aruna meringkuk di dapur, memeluk Bumi yang mulai menangis ketakutan. Di luar, suara tembakan pertama meletus, merobek ketenangan Jalan Kenanga dan menandai bahwa perang telah sampai di depan pintu rumahnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!