NovelToon NovelToon
Warisan Saudara Kembar

Warisan Saudara Kembar

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / CEO / Janda
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Hero dan Awan adalah dua sisi mata uang yang berbeda. Hero begitu hangat dan penuh kasih, sementara Awan sedingin es dan tak tersentuh. Namun, maut merenggut Hero terlalu cepat, meninggalkan Jasmine yang sedang hamil muda dalam kehancuran.
Sebelum napas terakhirnya, Hero menitipkan "warisan" yang paling berharga kepada Awan: istri dan calon anaknya.
Kini, Jasmine harus terjebak satu atap dengan pria yang paling ia hindari. Awan yang ketus, kaku, dan sudah memiliki kekasih matre bernama Celine. Bagi Awan, menjaga Jasmine adalah beban wasiat yang menyebalkan. Bagi Jasmine, melihat wajah Awan adalah luka yang terus terbuka.
Di tengah duka dan tuntutan harta, mampukah Awan menjalankan wasiat kembarannya? Ataukah kebencian di antara mereka justru berubah menjadi benih cinta yang tak seharusnya ada?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17

Pagi itu, langit Jakarta tampak mendung, seolah turut merasakan kegelisahan yang menyelimuti hati Jasmine. Di depan cermin ruang tamu, Awan sedang merapikan dasinya. Setelan jas abu-abu gelapnya terlihat sangat pas, memberikan kesan pria berkuasa yang tak tersentuh. Namun, pergerakan tangannya terhenti saat ia melihat pantulan Jasmine di cermin—wanita itu berdiri mematung di dekat tangga, tangannya meremas ujung kardigannya dengan kuat.

"Kak... perasaan aku nggak enak banget. Mending Kakak di rumah aja deh hari ini," ucap Jasmine. Suaranya kecil, bergetar, dan penuh dengan permohonan yang tulus.

Awan berbalik, menatap Jasmine dengan dahi berkerut. "Kenapa lagi lo? Perut lo sakit? Kontraksi lagi?" tanya Awan, nada judesnya tetap ada namun sorot matanya menunjukkan kekhawatiran yang nyata.

"Enggak, Kak. Perut aku baik-baik saja. Tapi... hati aku rasanya sesak. Rasanya seperti ada sesuatu yang buruk bakal terjadi kalau Kakak pergi," sahut Jasmine. Ia melangkah mendekat, seolah ingin menahan langkah Awan.

Awan terdiam sejenak. Ia teringat laporan semalam tentang kaburnya Celine. Sebenarnya, ia pun merasa tidak tenang, namun ada rapat umum pemegang saham pagi ini yang akan menentukan nasib perusahaan mendiang Hero juga.

"Jangan lebay, Jasmine. Gue cuma ke kantor beberapa jam. Penjagaan di sini udah gue tambah dua kali lipat. Di depan ada empat orang, di belakang ada tiga," ucap Awan mencoba menenangkan, meskipun rahangnya mengeras. Ia melangkah maju, lalu secara tidak sadar tangannya terangkat mengusap kepala Jasmine sebentar. "Minum vitamin lo, kunci semua pintu. Gue balik sebelum makan siang."

Jasmine hanya bisa mengangguk pasrah, meskipun badai di dadanya tidak kunjung reda. Ia memperhatikan punggung tegap Awan yang menghilang di balik pintu depan, disusul suara deru mesin mobil yang menjauh.

Di saat yang sama, di sela-sela semak belukar yang berbatasan langsung dengan tembok samping rumah, sesosok bayangan meringkuk diam. Itu Celine. Rambutnya berantakan, matanya cekung dengan lingkaran hitam yang dalam, memancarkan kegilaan yang sudah mendarah daging. Ia mengenakan jaket hoodie gelap dan celana kargo kumal—sangat jauh dari citranya sebagai sosialita dulu.

Celine memegang sebuah pemotong kawat dan sebuah botol kecil berisi cairan kimia pembersih lantai yang pekat. Sejak semalam, ia sudah mengamati celah keamanan rumah itu. Ia tahu para penjaga terfokus pada gerbang depan dan belakang, namun ada satu titik lemah: jalur pipa pembuangan air di samping yang tertutup rimbunnya pohon kamboja.

"Kamu pikir kamu bisa bahagia, Jasmine?" desis Celine dengan suara parau yang mengerikan. "Kalau aku nggak bisa miliki Awan, kamu juga nggak boleh miliki apa pun dari dia... termasuk bayi sialan itu."

Dengan gerakan yang sangat pelan dan terlatih karena dendam yang membara, Celine mulai memotong kawat pelindung di atas tembok samping. Ia berhasil melompat masuk ke dalam area taman samping tanpa menimbulkan suara berarti. Ia merayap di antara tanaman, menuju pintu geser dapur yang sempat ia sabotase kuncinya beberapa hari lalu lewat orang dalam yang sudah ia suap.

Di dalam rumah, Jasmine mencoba menyibukkan diri. Ia duduk di meja makan, mencoba memotong beberapa buah apel, namun tangannya terus gemetar. Suster Lastri sedang di lantai atas menyiapkan perlengkapan bayi yang baru dibeli kemarin.

Kriet...

Jasmine membeku. Suara gesekan pintu kaca terdengar sangat halus, namun di rumah sesunyi ini, suara itu bagaikan dentuman keras di telinga Jasmine.

"Suster Lastri? Itu Suster?" panggil Jasmine.

Tidak ada jawaban.

Jasmine segera teringat pada senjata andalannya. Ia merogoh saku dasternya. Botol semprotan cabai pekat itu selalu ada di sana. Ia berdiri perlahan, memegang perutnya yang terasa sedikit kencang karena stres. Ia berjalan menuju arah dapur dengan langkah tanpa suara.

Begitu sampai di ambang pintu dapur, Jasmine melihat sosok itu. Celine sedang berdiri di sana, memegang sebuah pisau dapur yang diambilnya dari rak, wajahnya tampak seperti iblis yang haus darah.

"Mati kamu, Jasmine!" teriak Celine sambil berlari ke arah Jasmine.

"Mbak Celine! Berhenti!" teriak Jasmine. Ia tidak punya pilihan lain. Begitu Celine berada dalam jarak dekat, Jasmine mengarahkan semprotan itu dan menekan tuasnya sekuat tenaga.

CROT! CROT!

"AARRGGHHH!" Celine menjerit saat cairan cabai itu mengenai matanya. Namun, kali ini kegilaan membuatnya tetap bertahan. Sambil memejamkan mata dan merintih, Celine mengayunkan pisaunya secara membabi buta ke depan.

Jasmine menghindar, namun ia tersandung kaki kursi dan jatuh terduduk di lantai. "Sakit!" pekik Jasmine. Ia merasakan nyeri yang hebat di perutnya karena posisi jatuhnya yang tidak pas.

Celine, dengan mata merah dan wajah terbakar, merangkak mendekati Jasmine berdasarkan arah suara. "Aku bakal hancurin kamu... aku bakal hancurin warisan Hero!"

Di tengah jalan menuju kantor, Awan tiba-tiba menginjak rem mobilnya dengan sangat keras hingga ban mobilnya mencit memilukan. Perasaan tidak enak Jasmine tadi seolah berpindah ke dadanya. Ia tidak bisa berkonsentrasi.

"Persetan sama rapat!" umpat Awan. Ia langsung memutar balik mobilnya, melaju dengan kecepatan gila-gilaan kembali ke rumah. Firasatnya mengatakan bahwa Jasmine sedang dalam bahaya besar.

Begitu mobilnya memasuki gerbang, ia melihat pintu depan terbuka sedikit. Ia tidak menunggu pengawalnya, ia berlari masuk ke dalam rumah.

"JASMINE!!" raung Awan.

Suara teriakan Celine dari arah dapur membuatnya langsung berlari ke sana. Pemandangan yang dilihatnya membuat jantungnya hampir berhenti. Jasmine sedang meringkuk di lantai memegangi perutnya, sementara Celine sudah mengangkat pisau siap menusuk ke arah bawah.

"TANGAN LO JANGAN SENTUH DIA!!" Awan meluncur dengan tendangan keras yang tepat mengenai tangan Celine, membuat pisau itu terlempar ke sudut ruangan.

Awan segera menangkap tubuh Celine, memiting kedua tangannya ke belakang dengan sangat kuat hingga terdengar bunyi tulang yang bergeser. "Lo bener-bener mau mati di tangan gue, hah?!" bentak Awan. Suaranya sudah tidak seperti manusia, melainkan seperti monster yang murka.

Dua pengawal masuk dan langsung mengambil alih Celine yang terus meronta dan berteriak gila.

Awan mengabaikan Celine. Ia segera berlutut di samping Jasmine. "Jas! Jasmine! Liat gue!"

Jasmine bernapas tersengal-sengal, wajahnya basah oleh keringat dan air mata. "Kak... sakit banget... bawah aku... basah..."

Awan melihat ke bawah. Cairan bening bercampur sedikit darah mulai mengalir di lantai. Ketuban Jasmine pecah.

"Sialan! Belum waktunya!" Awan panik, namun ia segera menggendong Jasmine. "Suster Lastri! Ambil tas perlengkapan! Kita ke rumah sakit SEKARANG!"

Di dalam mobil, Jasmine terus meremas tangan Awan. Kontraksi kali ini nyata, sangat kuat, dan sangat cepat. "Kak... aku takut... bayinya..."

Awan mencium tangan Jasmine berkali-kali—sebuah tindakan yang belum pernah ia lakukan. "Jangan takut. Gue di sini. Gue nggak bakal biarin lo atau anak Hero kenapa-kenapa. Lo denger gue? Lo harus kuat demi anak lo!"

Sesampainya di rumah sakit, Jasmine langsung dilarikan ke ruang operasi karena kondisi darurat. Awan berdiri di depan pintu ruang operasi yang tertutup rapat. Ia menatap tangannya yang gemetar. Bajunya ternoda darah dan cairan ketuban Jasmine.

Ia bersandar di dinding, perlahan tubuhnya merosot hingga ia terduduk di lantai rumah sakit yang dingin. Ia menangkup wajahnya.

"Hero... tolong gue. Jangan bawa mereka dulu. Gue belum siap kehilangan lagi," bisik Awan dalam hati.

Dua jam kemudian, pintu ruang operasi terbuka. Dokter Arini keluar dengan wajah yang letih namun tersenyum tipis.

"Pak Awan?"

Awan langsung berdiri tegak. "Bagaimana? Mereka... mereka selamat?"

"Selamat, Pak. Bayinya lahir prematur, tapi kondisinya stabil dan sudah di dalam inkubator. Ibunya juga sedang dalam masa pemulihan," jelas Dokter Arini. "Selamat, Pak. Keponakan Anda... dia pejuang yang hebat. Wajahnya sangat mirip dengan Anda dan almarhum Pak Hero."

Awan tidak bisa lagi menahan air matanya. Pria kaku itu menangis sesenggukan di lorong rumah sakit. Rasa syukur dan lega meluap begitu hebat. Ia berjalan menuju ruang bayi, berdiri di depan kaca besar. Di sana, di dalam inkubator nomor tiga, seorang bayi laki-laki mungil sedang tertidur dengan tangan yang mengepal kecil.

Awan menempelkan tangannya di kaca. "Halo, jagoan..." bisiknya parau. "Selamat datang di dunia. Jangan takut... Om Awan bakal jadi benteng paling kuat buat kamu dan Bunda kamu. Om janji."

Malam itu, di tengah duka yang perlahan berganti menjadi harapan, Awan menyadari bahwa warisan Hero bukan hanya sekadar harta atau nama besar. Warisan sejati adalah cinta yang kini ia rasakan untuk keponakan dan wanita yang telah ia selamatkan dari maut.

1
pdm
semangat lanjutkan💪
Reni Anjarwani
lanjutt thorrr
Reni Anjarwani
lanjut thor doubel up
Reni Anjarwani
lanjut trs thor makin seru ceritanya
Reni Anjarwani
lanjut thorr
Reni Anjarwani
lanjut thor doubel up
Reni Anjarwani
lanjut thor semanggat doubel up thor
Siti Dede
Ungkapin aja atuh Waaan...daripada senewen nggak keruan
pdm
aduh ini potongan bwg merahny bikin mata berair/Cry//Cry/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!