Pernikahan kontrak atau karena tekanan keluarga. Mereka tinggal serumah tapi seperti orang asing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kaka's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18 Menanam Doa di Tanah Kering
Keheningan yang mengikuti badai di ruang pengadilan ternyata jauh lebih menyesakkan daripada badai itu sendiri. Sore itu, Jakarta seolah ikut berduka, langitnya berwarna abu-abu pekat, memberikan kesan muram pada setiap sudut kota. Fikar dan Kiki kembali ke apartemen sempit mereka dengan perasaan hampa yang aneh. Tidak ada sorak-sorai kemenangan meski gugatan telah ditarik, tidak ada pesta perayaan. Yang ada hanya rasa lelah yang menghunjam hingga ke sumsum tulang, jenis kelelahan yang membuat kata-kata terasa terlalu berat untuk diucapkan.
Fikar melepaskan sepatunya yang kini solnya sudah mulai menipis karena terlalu banyak berjalan kaki menuju stasiun. Ia duduk selonjoran di lantai ruang tengah yang hanya beralaskan karpet tipis pemberian tetangga sebelah, seorang ibu paruh baya yang kasihan melihat mereka pindah tanpa membawa apa pun. Fikar menyandarkan kepalanya ke dinding yang catnya mulai menggelembung karena lembap.
"Semuanya sudah benar-benar selesai, kan, Mas?" Kiki bertanya pelan. Ia sedang berjongkok di dekat dispenser kecil, menyeduh dua gelas mi instan, satu-satunya "kemewahan" yang mereka sanggup beli malam itu setelah menyisihkan uang untuk biaya obat ayahnya. Uap panas dari cup mi itu membumbung, menyamarkan wajah Kiki yang tampak kuyu.
Fikar menatap telapak tangannya. Tangan yang dulunya hanya memegang pena mahal dan kemudi mobil mewah, kini tampak sedikit kasar. Jam tangan Rolex yang dulu selalu melingkar di sana sudah lama berpindah tangan ke pemilik toko barang bekas demi menyambung hidup.
"Secara hukum, iya. Ibu sudah mencabut gugatannya sore tadi. Pak Hermawan mengirim pesan singkat, katanya Ibu tidak ingin urusan ini memanjang dan menjadi konsumsi publik setelah aku mengancamnya dengan dokumen Ayah," Fikar menghela napas panjang, sebuah napas yang terdengar seperti beban berton-ton. "Tapi secara batin... aku tidak tahu, Kiki. Aku merasa seperti anak durhaka. Aku menghancurkan satu-satunya keluarga yang aku punya dengan membuka luka lama yang seharusnya terkubur."
Kiki berjalan mendekat, lalu duduk bersimpuh di samping Fikar. Ia menyodorkan satu cup mi hangat ke tangan suaminya. "Kamu tidak menghancurkan keluarga, Mas. Kamu hanya merobek selubung kebohongan yang selama ini mencekik kalian berdua. Mungkin ini adalah cara semesta agar suatu saat nanti, jika Tuhan mengizinkan, kalian bisa membangun kembali hubungan yang lebih jujur. Tanpa topeng, tanpa manipulasi."
Minggu-minggu berikutnya adalah ujian nyata bagi ketahanan mental dan ego seorang Fikar. Dunia tidak lagi berputar di sekelilingnya. Ia bukan lagi sang pewaris yang langkah kakinya membuat seisi kantor gemetar. Kini, ia hanyalah Fikar, seorang pria tiga puluh tahun yang harus berdesakan di kereta komuter pukul enam pagi, berdiri di antara aroma keringat dan desakan penumpang lain, demi menuju sebuah kantor konsultan kecil di pinggiran Bekasi.
Ia bekerja sebagai analis data junior. Pekerjaan yang sepuluh tahun lalu mungkin ia anggap sebagai pekerjaan remeh untuk mahasiswa magang. Ia duduk di bilik kerja yang sempit, menghadap layar komputer tua yang seringkali lag. Namun ajaibnya, setiap lembar rupiah yang masuk ke rekeningnya di akhir bulan terasa seribu kali lebih berharga daripada dividen miliaran rupiah yang dulu ia terima secara otomatis.
Kiki pun tidak tinggal diam. Ia perubahan yang sangat besar menjadi pejuang di balik layar laptopnya. Ia mengambil proyek terjemahan sebanyak yang ia mampu, terkadang hingga melampaui batas kemampuannya. Matanya seringkali sembap karena kurang tidur, dan jari-jarinya seringkali terasa kaku serta kram karena terus mengetik hingga fajar menyingsing di ufuk timur.
Namun, di tengah kepayahan itu, ada sebuah kebahagiaan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Sebuah momen berharga saat mereka duduk bersama di akhir bulan, menghitung recehan dan lembaran uang di atas meja kayu reyot untuk membagi anggaran listrik, air, dan makan.
"Lihat, Mas. Kita punya sisa seratus ribu setelah semua tagihan dan biaya pengobatan Ayah lunas," ujar Kiki suatu malam. Binar matanya terasa lebih cerah dan hidup daripada saat ia mengenakan kalung berlian di pesta-pesta sosialita dulu. "Kita bisa makan sate di depan gang besok malam. Sebagai perayaan kecil."
Fikar tertawa, sebuah tawa yang lepas, renyah, dan benar-benar tanpa beban. Ia menarik Kiki ke dalam pelukannya. Di apartemen yang dindingnya mulai berjamur ini, di tengah kebisingan suara motor dari jalanan bawah, mereka justru menemukan apa yang gagal diberikan oleh rumah mewah mereka, sebuah kemitraan yang setara, rasa saling menghargai yang tumbuh dari penderitaan bersama.
Namun, kedamaian yang baru saja mereka cicipi itu terusik dengan cara yang sangat menyeramkan. Suatu sore, saat hujan gerimis mulai membasahi jendela, sebuah paket tanpa identitas pengirim tiba di depan pintu mereka. Paket itu terbungkus rapi dengan kertas kado berwarna merah darah yang mengilap, tampak sangat kontras dengan lantai koridor apartemen yang kotor.
Kiki membukanya dengan rasa penasaran, mengira mungkin itu adalah kiriman buku dari klien terjemahannya. Namun, apa yang ia temukan di dalamnya membuat seluruh sendi di tubuhnya terasa lemas. Jantung yang berdebar cepat seolah berhenti berdetak sesaat.
Di dalam kotak itu terdapat sebuah foto lama Fikar dan Clara yang sedang berpelukan mesra. Di samping foto itu, ada foto pernikahan Fikar dan Kiki yang telah disobek kasar. Wajah Kiki di foto itu dicoret-coret menggunakan tinta merah kental yang menyerupai darah, hingga wajahnya benar-benar tak terbaca. Di dasar kotak, terdapat sebuah catatan pendek dengan tulisan tangan yang miring, tajam, dan tampak berantakan karena kemarahan yang meluap,
"Kalian pikir kemiskinan akan membuatku puas dan pergi begitu saja? Fikar adalah milikku sejak awal, dan jika aku tidak bisa memilikinya dalam kemewahan, maka tidak ada seorang pun, terutama kamu, wanita murahan, yang boleh memilikinya dalam kebahagiaan. Tunggu kejutan dariku di hari ulang tahun pernikahan kalian minggu depan. Aku akan memastikan perayaan itu menjadi sesuatu yang tak terlupakan."
Kiki menjatuhkan kotak itu hingga isinya berhamburan di lantai. Ketakutan yang selama ini ia tekan di sudut terdalam hatinya kembali menyeruak dengan kekuatan yang melumpuhkan. Clara ternyata belum selesai. Wanita itu tidak menginginkan Fikar yang miskin, ia tidak peduli pada cinta yang tulus. Clara hanya menginginkan kehancuran Kiki. Ia ingin membakar habis kebahagiaan kecil yang baru saja mereka tanam di atas kokoh kemiskinan ini.
Fikar yang baru saja pulang dengan baju yang sedikit basah karena tempias hujan, menemukan Kiki terduduk lemas di lantai dengan wajah sepucat kapas. Saat ia memungut dan membaca catatan itu, rahangnya mengeras hingga otot-otot di lehernya menonjol. Matanya menyala karena amarah yang dingin.
Ia menyadari satu hal yang pahit, memutus hubungan dengan ibunya yang otoriter ternyata hanyalah pembukaan. Menghadapi obsesi gila dan gelap dari masa lalu adalah pertempuran lain yang jauh lebih berbahaya. Clara bukan lagi sekeder mantan kekasih yang patah hati, ia adalah ancaman nyata yang mengincar nyawa dari kedamaian mereka.
"Mas... apa yang harus kita lakukan?" suara Kiki bergetar hebat.
Fikar berlutut di sampingnya, membuang kertas merah itu, dan memegang kedua bahu Kiki dengan mantap. "Dia tidak akan menyentuhmu, Kiki. Aku bersumpah. Selama ini aku hanya menghindar, tapi jika dia berani melangkah sejauh ini, aku tidak akan tinggal diam."
Malam itu, di apartemen sempit yang hanya diterangi lampu belajar redup, ketenangan mereka sekali lagi dirampas. Fikar tahu, ulang tahun pernikahan mereka yang tinggal tujuh hari lagi bukan lagi sekeder peringatan tanggal, melainkan sebuah hitung mundur menuju sebuah konfrontasi yang mungkin akan menuntut pengorbanan yang jauh lebih Besar dari sekeder harta benda.
aku kok bingung bacanya...
ntar giliran kewajiban nuntut, tp hak sbagai suami ga d jalankan.
ku doain semoga arini ketemu laki laki lain yang memperlakukan dia dgn baik, biar aris ini menyesal seumur hidup
Sedih
Tapi maaf sebelum nya, apa narasi nya ke copy dua kali🙏🙏 Soal nya ada bagian yg sama pas ngebahas perjanjian pernikahan mereka.