SEKUEL DARI CINTA LAMA BELUM KELAR
Dalam kisah ini didominasi perjalanan cinta antara Sasa dan Sakti, restu orang tua dari Sakti yang belum juga turun, meski pernikahan mereka sudah berjalan kurang lebih 5 tahun, bahkan kedua anak Iswa sudah sekolah, namun hubungan mertua dan menantu ini tak kunjung membaik.
Kedekatan Sakti dan kedua anak mendiang adiknya, Kaisar, Queena dan Athar membuat Sasa overthinking dan menuduh Sakti ada fair dengan Iswa. Setiap hari mereka selalu bertengkar, dan tuduhan selingkuh membuat Sakti capek.
Keduanya memutuskan untuk konsultasi pernikahan pada seorang psikolog yakni teman SMA Sakti, Mutiara,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DRAMA KESEKIAN KALI
Setelah konsultasi dengan Mutiara, mereka diajak untuk membuat komitmen dalam hal memperbaiki komunikasi. Selama seminggu, baik Sasa dan Sakti diminta menjalankan komitmen untuk saling terbuka dan belajar mendengar pendapat masing-masing. Mutiara juga menjadwalkan kapan mereka harus datang untuk follow up.
Di dalam mobil baik Sasa dan Sakti hanya diam saja. Saran yang diberikan oleh Mutiara belum bisa mengetuk diri mereka untuk segera menurunkan ego masing-masing, dan mengingat tujuan pernikahan mereka.
Sasa makin diam dan dia tak mau mengajak Sakti ngobrol, keduanya memang masih seranjang tapi gengsi untuk tegur sapa terlalu tinggi. Hingga telepon dari mama membuat Sasa makin ciut saja.
"Weekend besok bisa, Ma? Ke mana memang?" tanya Sakti sembari mengulik tabletnya, di sisi ranjang ada Sasa yang sibuk bermain ponsel juga. Tapi ikut mendengar obrolan mama dan Sakti.
"Queena kan baru sembuh. Papa mau mengajak dia piknik, sekalian refreshing juga," ujar mama dan disanggupi oleh Sakti, bahkan mama pun memberi tahu dress code untuk piknik, celana jeans dan kaos putih. Sakti menyanggupi, hanya saja saat obrolan tadi mama tidak menyinggung sama sekali. Tak ada pesan untuk mengajak Sakti, nah bagi mama namanya suami istri pasti ke mana pun ikut kan? Jadi kalau mengajak Sakti harusnya juga mengajak Sasa juga.
Tapi Sakti tidak, kurang peka atau gak mau mengajak Sasa karena keseringan ditolak, setelah panggilan telepon berakhir, Sakti tidak cerita obrolan dengan mama malah lanjut mengurus pekerjaan. Sasa menatapnya serius, sembari membatin Yakin dia gak cerita? Atau gak ajak aku weekend ini? Sasa juga gak mau kepo lah, apalagi ini menyangkut urusan keluarga Sakti. Alhasil sampai keesokan harinya Sasa tak diberi tahu Sakti. Ya sudah, bagi Sasa biarkan saja. Toh hubungan dengan kedua orang tua Sakti juga gak bagus, mereka niat piknik mencari bahagia, nanti kedatangan Sasa malah merusak suasana.
Sasa sendiri pun menyanggupi ajakan teman kantornya untuk pergi ke salon langganan, karena ada promo, gas lah. Ngapain repot dengan kehidupan Sakti.
Begitu weekend, drama muncul. Sasa tiba-tiba diajak Sakti untuk piknik bersama mama dan papa serta keluarga Iswa. "Aku sudah ada janji dengan anak kantor mau nyalon," ucap Sasa dengan suara malas, khas orang mau molor.
"Gimana kamu ada janji, sedangkan saat aku ditelepon sama mama kamu ada di sampingku," ujar Sakti lagi, dengan nada kesal pastinya.
"Kamu memang cerita obrolan itu? Atau kamu ajak aku? Enggak ada, ya jangan salahkan aku dong punya janji dengan teman-temanku!" ujar Sasa tak kalah sewot, Sakti yang sudah rapi dengan dress code, hanya menggelengkan kepala. Ia menarik nafas dalam, mencoba sabar dan berbicara pelan pada sang istri.
"Sa, aku pikir kamu dengar pembicaraanku dengan mama. Kita sebagai suami istri tak perlu lah ada mama bilang ajak istrimu, yang pasti-pasti saja. Kalau mama mengajak aku pasti ajak kamu juga," ujar Sakti dengan merendahkan intonasi suaranya.
Sasa bangun dan berdecak sebal, menguncir rambut dan menatap Sakti tajam. "Itu kalau mertua dan menantu normal. Kamu tahukan kondisi hubunganku dengan orang tuamu itu gak normal. Mama kamu gak menyinggung aku, itu artinya gak ajak aku. Sudah sana pergi, have fun saja sama ponakan kamu, atau sama mamanya," ujar Sasa sambil lalu ke kamar mandi. Sakti hanya memejamkan mata, dengan hati yang dongkol.
Ia pun tak mau ambil pusing, sudah hampir 3 hari tak bertemu Queena, Sakti pun pergi tanpa Sasa. Begitu sampai rumah Iswa, dua ponakannya sudah tampil dengan kaos lucu, Queena sudah berkucir dua dengan menenteng topi. Athar sudah semangat membawa pancingan, keduanya heboh mau duduk bersama Opa. Iswa seperti biasa hanya mengenakan long dress dan dibalut dengan cardigan jeans. Rambutnya dikucir sedikit, tampak cantik dengan membawa topi kembar seperti sang putri.
"Sasa mana?" tanya mama saat Sakti datang, tentu saja Iswa yang sejak tadi mengatur kedua anak dan barang bawaan ikut menatap Sakti.
"Gak bisa ikut," jawab Sakti tak enak hati. Mama menghela nafas tak memperpanjang. Mereka pun naik mobil, Sakti yang menyetir dan didampingi papa di jok depan, mama, Iswa dan Queena berada di jok tengah. Athar jelas minta pangku Opanya sembari ngoceh selama perjalanan.
Iswa iseng chat Sasa.
Mbak kok gak ikut? Bukan cari gara-gara tapi siapa tahu dengan Iswa chat, Sasa berubah pikiran agar dijemput sekalian.
Gak papa, Wa. Gak enak kalau ada aku. Nanti ganggu keharmonisan keluarga kalian. Have fun ya. Balas Sasa.
Iswa menyodorkan ponselnya pada mama mertua, dan beliau menggeleng saja. Sedih, dan tak bisa berbuat apa-apa. Mungkin beliau menyadari putranya gak peka, istrinya keras kepala. Ya sudah, jalan pernikahan mereka memang begitu.
Piknik kali ini menuju ke danau buatan, tang di sekililingnya ada tenda yang disewakan. Papa sudah menyewa dua tenda. Nuansa kali ini seperti camping. Di depan tenda juga tersedia meja dan kompor kecil untuk memasak, jadi Iswa dan mama siap eksekusi untuk bakar ikan dan masak makanan lain.
Sebelum melakukan aktivitas camping, papa meminta pihak pengelola camping untuk mengabadikan momen keluarga mereka. "Pak Suami agak mendekat ke ibuk," ujar si fotografer.
"Dia kakak ipar saya," ujar Iswa langsung. Fotografer tersenyum malu, dipikir suaminya, karena Sakti begitu telaten menggendong Athar, alhasil para pria berada di belakang dan para perempuan berada di depan. Queena dan Athar langsung pose menampilkan gigi bersih mereka, Iswa tersenyum menghadap kamera. Mama dan papa tersenyum khas nenek dan kakek pada umumnya, sedangkan Sakti tertawa bahagai bersama Athar.
Foto itu langsung dikirim ke papa, dan oleh papa diteruskan ke grup keluarga. Iswa memotret suasana danau yang tenang dan gemericik air dari sungai-sungai kecil di sekitar tenda. Ia duduk sendiri, menikmati udara segar. Sempat memejamkan mata, tak sadar sebutir air mata lolos di ujung matanya.
"Kangen banget sama kamu, Sayang," ujar Iswa memejamkan mata memutar kembali memori bersama Kaisar. Sampai tahun ke lima tanpa Kaisar, rasa rindu pada sang suami masih sangat kuat, terlebih wajah Athar plek Kaisar. Mana bisa Iswa berpaling membuka hati kalau tatapan anak keduanya seolah menunjukkan kehadiran sang suami.
"Sekali dong, hadir ke mimpi aku, aku kangen banget," pinta Iswa sembari mengusap air matanya. Memang dia selalu mendoakan Kaisar, jadi tidak akan mungkin Kaisar hadir dalam mimpi Iswa, karena bagi orang yang sudah meninggal, justru doa yang membuat ketenangan dan dilapangkan kuburnya.
Sembari memotret Queena dan Athar yang beraksi dengan alat pancing bersama Sakti dan Opanya, Iswa mengunggah ke status WA dengan caption yang menyentuh hati.
Terimakasih sudah memberi dua buah hati yang begitu mirip sama kamu, jadi kalau aku kangen kamu, aku akan memeluk Queena dan Athar. Love you Kaisar, till jannah.
eh kok g enak y manggil nya