“Aku perintahkan kau untuk menjaga Lea dalam kondisi apapun.” — Martin De Gaulle
Begitulah awal mula semuanya.
Sebuah perintah yang mengikat Elios Leopold—tangan kanan sang Godfather. Pria dingin, berbahaya, dan setia tanpa syarat.
Elios selalu ada di sisi Lea—Eleanore Moreau. Menjaga, melindungi, dan memastikan gadis itu tak pernah sendirian. Dari kedekatan yang terus terjalin, perasaan pun tumbuh seiring berjalannya waktu.
Lea menyadari perasaannya lebih dulu. Tapi Elios… tidak.
“Aku akan menjadi apapun yang kau mau. Mama, Papa, saudara dan sahabat. Asal kau yang meminta, aku akan mewujudkannya.” — Elios Leopold
Ucapan itu membuat Lea berharap. Namun, di saat Lea mengucapkan permintaannya, akankah Elios mampu menepatinya?
Dari perlindungan lahir ketergantungan.
Dari kedekatan tumbuh hasrat yang terlarang.
Jika Elios mengabulkan permintaan itu, akankah Lea sanggup menghadapi kegilaan pria berbahaya yang telah menjadikannya satu-satunya tujuan hidup?
Terjerat Hasrat Monsieur Leopold
Yuk baca novel ini guys!
Seperti apa kisah protektif, posesif dan obsesi Monsieur Leopold terhadap bidikannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sheninna Shen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berita Duka
...“Monsieur De Geulle... Mademoiselle Elena dan suaminya, kecelakaan.” — Andrew Huston...
11 tahun kemudian.
Di salah satu ruang VVIP yang ada di sebuah kelab malam yang terkenal di kota Paris, seorang pria bertubuh tegap terlihat sedang memegang sebuah pistol di tangan kanannya. Mata elang berwarna coklat itu menatap tajam ke depan—ke arah target yang sedang ia bidik.
“Monsieur, tolong beri aku satu kesempatan lagi. Aku tidak akan berkhianat,” ucap seorang pria berambut cepak sedang bersujud di depan pria bermata elang itu.
Elios Leopold. Setelah 11 tahun sejak kejadian di pelabuhan itu, kini ia menjadi seorang pria matang penuh wibawa dan sangat ditakuti di kota Prancis. Semua yang mengenal Monsieur De Geulle, pasti juga sangat mengenal Monsier Leopold. Ia adalah bayangan yang diciptakan oleh Martin.
Bayangan kelam, penuh darah dan mematikan tanpa belas kasih. Namun semua itu tertutupi oleh ketampanannya yang memiliki anugerah oleh dewa. Ketampanan yang membuat siapapun terpesona saat melihatnya.
Elios tak berkutik. Namun tangan kirinya mulai ia selipkan ke dalam saku celana. Sementara tangan kanan masih membidik mangsa di depannya. Semua anak buahnya yang sedang berdiri menjaganya di belakang sudah paham dengan situasi saat itu.
“Kesempatan?” suara bariton Elios terdengar menggelegar di dalam ruangan kedap suara itu.
“Kumohon, Monsier Leopold. Aku bersungguh-sungguh dengan ucapanku.”
“Tapi...” Elios menaikkan alisnya sebelah. “Kau sudah mencoreng nama baik Monsier De Geulle.”
“Aku bersumpah akan setia,” pintanya sambil menangkupkan kedua tangannya ke atas, dengan kepala yang masih bersujud.
“Baiklah. Sekarang kau bisa berdiri.”
Mendengarkan belas kasih Elios, pria berambut cepak itu mengangkat kepalanya dengan sebuah senyuman yang penuh lega.
Dor!
Sebuah tembakan mendarat tepat di dahi pria berambut cepak itu. Dan tubuhnya jatuh tersungkur ke lantai dengan darah yang mengalir tanpa henti.
Usai menembak pengkhianat tersebut, Elios tak menampakkan ekspresi apapun. Sebaliknya, ia berbalik badan dan keluar dari ruangan tersebut. Lalu, beberapa anak buah membersihkan mayat pengkhianat. Sementara beberapa lagi mengikuti Elios.
Saat melewati lorong yang bersebelahan dengan lantai dansa, ada beberapa wanita yang datang mendekat menggoda Elios. Namun seperti biasa, ia tak pernah sekalipun tertarik. Karena di otaknya hanya ada satu. Menyerahkan seluruh hidupnya untuk setia pada Martin De Geulle. Tak ada yang lebih penting dari itu.
Waktu kosongnya hanya di isi dengan menambah ilmu, menambah pengetahuan berbahasa. Karena ia sangat terobsesi dengan ilmu, di mana dulu saat di panti asuhan ia sedikitpun tak pernah bisa menyentuh yang namanya pendidikan.
...****************...
Setibanya sedan hitam itu di depan teras dengan hiasan air mancur yang megah dan besar, ajudannya turun dan membukakan pintu untuknya.
Ia keluar dan disambut dengan hangat oleh Martin di pintu utama yang besar dan berkilau. Semua anak buah sedang berdiri berjejeran menyambut kepulangannya.
Martin melebarkan kedua tangannya ke arah Elios. Senyum lebar tampak di wajah keriputnya.
“Kau terlalu kejam, Elios,” kekeh Martin saat Elios memeluk tubuhnya sesaat. “Aku sudah mendengar semuanya dari Andrew.”
“Dia sudah mencoreng nama baik Monsieur.”
Martin menepuk pelan pundak Elios. “Sampai kapan kau akan terus memanggilku Monsieur?”
Keduanya berjalan memasuki istana megah itu. Berjalan melewati lampu gantung mahal, menuju ke arah meja makan.
“Panggilan Papa terlalu mewah untukku, Monsieur.”
Martin menghela nafas pelan. Ia sedikit tertunduk dengan wajah yang penuh kegundahan dan kesedihan. “Aku merindukan anakku memanggil sebutan itu.”
“Tapi dia tak pernah menghubungiku sejak kejadian itu,” imbuhnya penuh sesal.
“Haruskah aku mendatangi Madame Elena—”
“Jangan. Yang ada, dia hanya akan semakin membenciku,” sanggah Martin.
Di saat Martin dan Elios baru saja ingin duduk di meja makan untuk menyantap makan malam yang sudah larut, tiba-tiba ada suara gaduh dari luar. Suara derap langkah Andrew yang berlari ke arah ruang makan.
Nafasnya terengah-engah dengan wajah yang pucat. Keringat dingin bermunculan.
“Monsieur De Geulle...,” Andrew panik setengah mati. “Madame Elena dan suaminya, kecelakaan.”
“Di dalam mobil itu ada putri mereka. Dan... kecelakaan itu sangat parah.”
Martin terduduk bersandar di kursi. Ia terdiam mematung sambil memegang dadanya dengan penuh kebingungan. Dadanya mendadak sakit sesaat. Di saat yang sama, Elios menghampiri Martin dan memegang kedua bahu Martin.
“Monsieur!” Elios panik.
“Ambilkan obat! Cepat!” perintahnya pada anak buah.
“El....” Martin memegang lengan Elios. Kedua mata mereka bertatapan dan sama-sama panik. “Aku ingin bertemu Elena.”
“Baik.” Elios langsung memapah tubuh Martin untuk duduk di kursi roda yang baru saja disediakan oleh anak buahnya. Karena di saat seperti ini, Martin tak akan bisa berjalan dengan cepat. Mengingat kondisi kesehatannya yang kian memburuk karena usia.
Elios mendorong kursi roda menuju ke pintu utama, di mana di depannya mobil sudah bersiap untuk membawa mereka ke rumah sakit.
...****************...
“Maaf, Tuan. Nyonya De Geulle dan Tuan Moreau tidak bisa kami selamatkan. Mereka meninggal saat dalam perjalanan menuju ke rumah sakit.”
Begitu ucapan itu keluar dari petugas medis, Martin terdiam seribu bahasa. Tak ada satupun ekspresi yang dapat ia keluarkan saat ini. Karena semuanya bercampur aduk menjadi satu kata.
Penyesalan.
“Bagaimana dengan putri mereka?” tanya Elios khawatir.
“Putri mereka selamat. Hanya saja... ia sedikit trauma. Saat ini ia sedang di IGD.”
Elios menoleh ke arah Martin—menunggu aba-aba. Namun Martin masih tak bergeming.
“Kami ingin bertemu dengan Nyonya De Geulle dan Tuan Moreau.”
Permintaan Elios membuat petugas medis membiarkan kedua orang tersebut memasuki ruangan. Saat kain putih yang menutup tubuh kaku itu di angkat, Martin berdiri dari kursi rodanya.
Dan... tangis pria tangguh itu akhirnya pecah tepat di tubuh kaku anak kesayangannya.
Elios menunduk membisu. Ia tahu, seperti apa rasa sakit kehilangan yang sedang Martin rasakan. Ia tahu, sehancur apa hati Martin saat ini. Dan yang bisa ia lakukan, hanyalah menemani pria tua itu menikmati sisa waktu bersama putri kesayangannya yang sudah tak bernyawa.
Usai perpisahan penuh duka itu berlalu, keduanya menghampiri cucu berharga keturunan De Geulle.
Saat memasuki ruang IGD dengan hamparan kasur putih dingin yang kosong, hanya satu kasur yang sedang di tempati oleh pasien. Tepat di pojok ruangan. Dan pasiennya adalah seorang gadis muda yang sedang duduk meringkuk memeluk lutut.
Eleanore Moreau.
Tatapannya nelangsa dan tak bertumpu. Semua trauma dan putus asa tergambarkan di wajah cantik yang teduh itu.
Dan... untuk kedua kalinya, Elios merasakan iba dan simpati kepada seseorang selain Martin De Geulle.
Ia mendorong kursi roda Martin sambil melangkah mendekat ke arah ranjang rumah sakit yang berwarna putih. Lalu... matanya menatap dalam ke arah wajah perempuan yang sampai saat ini ia tak tahu siapa namanya.
“Lea....” Martin memanggil nama cucunya untuk pertama kali. Hatinya penuh, hangat, suka namun tetap diselimuti duka. “Eleanore Moreau....”
“Ini aku... kakekmu.”
...****************...
Bersambung...
EL jika kamu bicara. baik2 dg Martin pastinya Martin akan mempertimbangkan niat baik kamu. jangan berpikir pendek dulu ok