Di mata dunia, Shaneen von Asturia hanyalah putri bangsawan lulusan Oxford yang cantik dan tenang. Namun di balik layar, dia adalah "Nin", penulis lagu jenius yang menguasai industri musik global. Sebagai seorang Virgo yang perfeksionis dan mandiri, Shaneen tidak butuh pangeran, apalagi sebuah pernikahan kaku.
Namun, ketenangannya terusik saat Duke Matthias von Falkenhayn, sang Jenderal berdarah dingin yang terobsesi pada aturan, mulai mengejarnya. Matthias menginginkan Shaneen yang tangguh dan bermulut tajam, sementara Shaneen hanya ingin bebas.
Bagi Matthias, ini adalah misi penaklukan. Bagi Shaneen, ini adalah gangguan yang harus disingkirkan dengan cara elegan. Ketika si Jenderal kolot bertemu si Dewi Modern yang bermulut pedas, siapa yang akhirnya akan bertekuk lutut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keheningan Sang Pemilik Takhta
Suasana di aula istana saat Raja Valerius melontarkan cemoohan tentang "darah pemberontak" dan "monster cantik" benar-benar terasa ganjil. Biasanya, jika sebuah keluarga bangsawan dihina secara terang-terangan di depan publik, akan ada pembelaan diri, teriakan kemarahan, atau setidaknya raut wajah yang tersinggung.
Namun, di barisan depan keluarga Asturia, suasananya justru seperti danau yang membeku. Sangat tenang. Sangat sunyi.
Para tamu undangan saling berbisik, mata mereka melirik ke arah Marquess Asturia (Ayah Shaneen) dan kedua putranya yang perkasa. Mereka heran, kenapa pria-pria yang dikenal memiliki pengaruh besar itu hanya berdiri diam seperti patung?
Marquess Asturia hanya berdiri dengan tangan terlipat di belakang punggung. Wajahnya tidak menunjukkan amarah sedikit pun. Ia menatap Raja Valerius bukan dengan sorot mata musuh, melainkan dengan tatapan seorang dewasa yang sedang melihat balita sedang mengamuk. Baginya, kata-kata Valerius hanyalah angin lalu yang tidak berharga untuk ditanggapi. Ia sudah melepaskan takhta itu sejak lama; baginya, orang yang duduk di sana sekarang hanyalah "penjaga kursi" yang malang.
Di sampingnya, Stellan dan Samuel—si kembar yang biasanya meledak-ledak—justru menunjukkan reaksi yang lebih mengerikan. Mereka tidak marah. Mereka malah saling melirik dengan senyum tipis yang merendahkan. Stellan sibuk merapikan manset kemejanya, sementara Samuel hanya menatap ujung sepatunya yang mengkilap.
"Kenapa mereka diam saja?" bisik Clarissa pada ibunya. "Apa mereka takut pada Raja?"
Tentu saja tidak. Mereka diam karena bagi keluarga Asturia, memberikan jawaban kepada Raja Valerius adalah sebuah bentuk "penurunan martabat". Mereka merasa tidak perlu mengklarifikasi apa pun kepada seseorang yang bahkan tidak mereka anggap sebagai setara.
Eomma Han-seol, ibu Shaneen, adalah yang paling tenang. Dengan keanggunan wanita Asia yang misterius, ia hanya menggenggam kipas sutranya. Ia tahu betul siapa suaminya, siapa anak-anaknya, dan siapa ayah mertuanya (Maximillian) yang saat itu sudah berada di ambang pintu masuk.
Han-seol sempat melirik Shaneen yang baru saja menyelesaikan permainan Geomungo-nya. Di mata Han-seol, Shaneen tidak butuh dibela oleh kakak-kakaknya. Shaneen sudah cukup kuat untuk menghancurkan harga diri Raja sendirian.
"Biarkan dia bicara, Ninin-ah," bisik Han-seol sangat pelan, hampir tak terdengar. "Semakin banyak dia bicara, semakin dalam dia menggali kuburannya sendiri."
Para bangsawan lain mulai merasa tidak nyaman. Keheningan keluarga Asturia justru terasa lebih mengintimidasi daripada teriakan kemarahan. Itu adalah keheningan yang berarti: "Silakan bicara sepuasmu, karena sebentar lagi kau akan kehilangan segalanya."
Bahkan Matthias, yang berdiri beberapa langkah dari mereka, sempat merasa heran. Namun, saat ia melihat mata Ayah Shaneen yang begitu dingin dan tenang, Matthias menyadari satu hal: Keluarga ini tidak sedang kalah. Mereka sedang menunggu "eksekutor" utama mereka datang.
Dan benar saja. Di tengah cemoohan Raja yang semakin menjadi-jadi karena merasa "menang" atas diamnya keluarga Asturia, pintu aula itu terbuka.
Keheningan keluarga Asturia adalah karpet merah bagi kedatangan Lord Maximillian. Mereka diam bukan karena takut, tapi karena mereka tahu bahwa Sang Legenda telah tiba untuk membereskan "sampah" istana ini.
"BERANINYA KAU MENGHAKIMI CUCU KESAYANGANKU DI DEPANKU SENDIRI!"
Sebuah suara bariton yang berat, berwibawa, dan penuh tenaga menggelegar dari pintu masuk aula utama.
Seluruh hadirin serentak menoleh. Napas mereka seolah terhenti. Di sana, berdiri seorang pria tua dengan setelan jas hitam custom-made yang sangat elegan, menggenggam tongkat perak dengan kepala elang. Meskipun rambutnya sudah memutih, sorot matanya lebih tajam daripada mata Matthias.