NovelToon NovelToon
PEMBASKET GANTENG DAN JANDA SEXY

PEMBASKET GANTENG DAN JANDA SEXY

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / One Night Stand
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: Nina Sani

Anela adalah janda muda beranak satu yang telah belajar bangkit setelah pernikahan pertamanya hancur karena pengkhianatan. Hidup mandirinya membawanya menjadi wanita dewasa yang kuat, anggun, dan memikat—dengan aura sensual alami yang membuatnya mudah menarik perhatian pria.

Rico adalah pembasket terkenal, tampan, kaya, dan dominan dalam cara yang tenang namun penuh karisma. Pertemuan mereka dimulai dari satu malam yang penuh ketegangan hasrat dan rasa penasaran yang sulit dijelaskan.

Apa yang awalnya hanya percikan gairah berubah menjadi hubungan yang semakin dalam—dipenuhi tarikan emosional, ketegangan hasrat, dan keinginan untuk memiliki satu sama lain di tengah dunia mereka yang berbeda. Namun cinta mereka harus menghadapi masa lalu, tekanan karir, dan kenyataan bahwa cinta panas tidak selalu mudah untuk dipertahankan.

Semakin mereka mendekat, semakin kuat pula rasa ingin memiliki… dan semakin berbahaya cinta yang mereka sembunyikan dari dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nina Sani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BADAI MULAI MENGHADANG

Ketenangan villa tidak bertahan lama setelah mereka kembali ke kota.

Berita muncul tanpa peringatan.

Foto Rico dan Anela yang sedang berada di kolam villa tersebar di beberapa portal gosip olahraga dan hiburan. Tidak ada adegan sensasional di foto itu—hanya mereka berdua di tepi kolam, terlalu dekat, terlalu nyaman satu sama lain.

Namun media selalu tahu cara membuat cerita.

Headline berbunyi:

“Bintang Basket Nasional Dikabarkan Dekat dengan Janda Muda — Siapa Wanita di Hidup Rico?”

Anela membaca artikel itu dengan wajah tenang… tapi tangannya sedikit gemetar saat memegang ponsel.

Rico melihatnya dari sofa.

“Kamu nggak perlu baca semua itu,” katanya pelan.

Anela tersenyum tipis.

“Aku tahu.”

Namun Rico tahu Anela tidak benar-benar baik-baik saja.

Ia berdiri dan langsung berjalan mendekat, duduk di samping Anela, lalu mengambil ponselnya dan meletakkannya di meja.

“Dunia luar selalu punya pendapat,” kata Rico. “Tapi aku yang memilih kamu. Bukan mereka.”

Kata-kata itu membuat dada Anela terasa hangat… sekaligus takut.

Karena ia tahu, drama besar jarang datang hanya dari satu arah.

----------------

Malam itu, ponsel Rico berdering.

Nama yang muncul membuat Rico mengerutkan kening.

Ia menjawab panggilan itu di balkon apartemen.

Anela memperhatikan dari dalam, melihat cara tubuh Rico menegang sedikit saat berbicara.

Suara Rico rendah… tapi tegas.

Beberapa menit kemudian ia masuk kembali ke dalam.

“Kamu baik-baik saja?” tanya Anela.

Rico menghela napas.

“Mantan aku.”

Anela diam.

“Kamu tahu dia masih… ingin kembali,” lanjut Rico jujur.

Anela tidak terlihat marah. Hanya… diam.

“Aku sudah bilang aku memilih kamu,” tambah Rico cepat, seolah takut Anela menarik diri.

Anela tersenyum kecil.

“Aku bukan takut dia,” katanya. “Aku cuma takut kamu belum benar-benar menutup pintu masa lalu.”

Rico tidak menjawab langsung.

Ia hanya memeluk Anela lebih erat dari biasanya.

Pelukan yang terasa seperti janji diam-diam.

--------------------

Beberapa hari kemudian, tekanan datang dari arah lain.

Ibu Anela datang tanpa pemberitahuan.

Suasana rumah berubah dingin.

“Anela,” kata ibunya pelan, “kamu tahu orang seperti Rico… dunia mereka berbeda dari kita.”

Anela menegang.

“Aku bukan memilih dia karena statusnya,” jawab Anela.

“Tapi kamu punya Ziyo,” kata ibunya. “Kamu tidak boleh membawa anakmu masuk ke hubungan yang belum pasti.”

Kata-kata itu menancap dalam.

Malam itu Anela dan Rico duduk lama di ruang tamu setelah ibunya pergi.

Tidak ada ciuman.

Tidak ada godaan.

Hanya keheningan.

“Aku takut,” kata Anela akhirnya.

Rico menoleh.

“Takut apa?”

“Takut kalau dunia kita terlalu berbeda.”

Rico menggenggam tangannya.

“Kita mungkin datang dari dunia berbeda,” katanya pelan. “Tapi kita sedang membangun dunia kita sendiri.”

Malam itu menjadi titik balik.

Karena setelah semua tekanan media, masa lalu, dan keluarga…

Hubungan mereka tidak menjadi lebih mudah.

Tapi menjadi lebih dalam.

Lebih serius.

Dan Rico semakin menunjukkan sisi posesifnya—bukan dengan menguasai, tapi dengan selalu hadir. Selalu memilih Anela. Selalu membuat Anela merasa dia bukan sekadar pilihan sementara.

-----------------

Tidak ada momen dramatis yang tiba-tiba.

Hanya kebiasaan yang terbentuk perlahan.

Ziyo mulai sering mengajak Rico bermain di sore hari. Tidak selalu basket. Kadang hanya mengejar bola plastik di halaman apartemen, atau duduk di lantai sambil menyusun lego.

Suatu sore, Ziyo tiba-tiba menarik baju Rico.

“Ko Ri… lihat!” katanya sambil menunjukkan lego yang ia susun.

Rico menoleh, tersenyum kecil.

“Bagus banget itu. Kamu bangun apa?”

“Rumah kita,” jawab Ziyo polos.

Kata “kita” membuat Anela yang duduk di dekat jendela terdiam sejenak.

Beberapa hari kemudian, Ziyo mulai memanggil Rico dengan lebih pendek.

“Ko Ri.”

Bukan panggilan romantis.

Hanya panggilan anak kecil yang merasa nyaman dengan seseorang yang sering ada di hidupnya.

Rico sendiri terlihat sedikit terkejut pertama kali mendengarnya.

“Kenapa Ko Ri?” tanyanya.

Ziyo hanya mengangkat bahu.

“Biar cepat.”

Rico tertawa kecil. Tapi setelah itu, ia lebih sering menepuk kepala Ziyo atau menepuk bahunya pelan—cara sederhana menunjukkan kedekatan tanpa berlebihan.

Bagi Anela, momen itu terasa sangat… nyata.

Tidak dramatis.

Tidak berlebihan.

Tapi menyentuh.

-------------------

Yang datang berikutnya lebih tidak nyaman.

Bukan ledakan besar.

Tapi tekanan kecil yang perlahan membuat Anela tidak tenang.

Mantan Rico mulai mengirim pesan.

Tidak langsung kasar.

Tapi cukup mengganggu.

“Rico masih sering ingat aku.”

“Kamu tahu dia tipe pria yang cepat bosan, kan?”

“Kamu hanya fase baru.”

Anela tidak langsung memberitahu Rico.

Ia mencoba mengabaikan dulu. Tapi pesan itu terus datang.

Sampai suatu malam Rico melihat Anela duduk diam terlalu lama memegang ponselnya.

“Ada apa?” tanya Rico.

Anela ragu beberapa detik… lalu menunjukkan pesan itu.

Rico membaca tanpa ekspresi berlebihan.

Tidak meledak marah.

Tidak langsung posesif berlebihan.

Hanya menghela napas panjang.

“Dia masih belum move on,” kata Rico datar.

“Aku takut dia bikin masalah,” kata Anela jujur.

Rico menatapnya lama.

Lalu berkata pelan, sangat realistis:

“Aku nggak bisa mengontrol apa yang dia lakukan. Tapi aku bisa memastikan kamu dan Ziyo tetap aman dari drama itu.”

Tidak romantis berlebihan.

Tapi terasa dewasa dan stabil.

Ia menggenggam tangan Anela, bukan dengan posesif, tapi dengan cara yang terasa menenangkan.

Malam Setelahnya

Mereka duduk di sofa.

Tidak banyak bicara.

Anela menyandarkan kepala ke bahu Rico.

“Kamu nggak perlu selalu jadi pelindungku,” kata Anela pelan.

“Aku tahu,” jawab Rico. “Tapi aku ingin.”

Tidak ada klaim kepemilikan berlebihan.

Hanya pilihan sadar untuk tetap ada.

Dan untuk pertama kalinya, hubungan mereka terasa bukan seperti api yang membakar liar…

Tapi seperti sesuatu yang perlahan tumbuh, stabil, dan nyata.

------------

1
Sartini 02
semangat kak....👍
Nina Sani: makasih kakak say 😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!