NovelToon NovelToon
After Love

After Love

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Nikahmuda / Ketos
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Aliya sofya Putri

"Ini rumah, bukan sekolah. Tugas lo sekarang sebagai istri, bukan sekretaris lagi." Galvin menyudutkan Khaira di balik pintu kamar mereka.

"Aku juga udah ngelakuin tugas aku sebagai istri, kan? Kecuali—"

"Kecuali apa, hm?"

Khaira langsung menunduk, menggigit bibir bawahnya di balik cadar. Dia juga meremas sebuah proposal yang sejak tadi dia pegang. Jantungnya berdebar, saat Galvin semakin mendekat dan mengikis jarak di antara mereka.

✧✧✧

Khaira Mafaza Lavsha—Sekretaris Glory High School, tiba-tiba dijodohkan dengan Galvin Shaka Athariz—Ketua Osis yang terkenal tampan, dingin dan penuh kharisma.

Perjodohan itu membuat mereka harus menjalani pernikahan rahasia di masa SMA.

Bagaimanakah kehidupan mereka yang semula hanya sebatas Sekretaris dan Ketua Osis, kini berubah menjadi sepasang suami istri? Mampukah mereka menjalaniinya?

*** WARNING ! STOP PLAGIAT !!! ***

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aliya sofya Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22

Beberapa saat yang lalu, Galvin terbangun dengan perasaan tidak nyaman setelah merasakan sesuatu yang lembut menyapu di telinganya.

Rasa tidak nyaman itu ternyata berasal dari Khaira yang tengah berbisik pelan dan lembut di telinganya.

Dari pengakuan Khaira, bisikkan itu dia lakukan untuk membangunkan Galvin dari tidurnya.

"Kenapa lo bangunin gue dengan cara kaya gitu, hm?" tanya Galvin, kembali menaikkan salah satu alisnya.

Khaira tidak langsung menjawab. Dia masih terkejut karena Galvin tiba-tiba terbangun dengan menggenggam pergelangan tangannya.

"Jawab, Khaira." Galvin kembali berbicara, karena Khaira tidak kunjung menjawab pertanyaannya.

"Karena kamu tidur lelap banget, Gal. Aku sampai harus beberapa kali bangunin kamu," jawab Khaira, sambil menundukkan kepalanya.

Entah kenapa dia merasa malu saat ini. Seharusnya dia tidak perlu malu seperti itu. Mau bagaimana pun saat ini Galvin adalah suaminya, sudah sah saja jika dia membangunkan Galvin dengan jarak sedekat itu. Apalagi dia hanya berbisik di telinga Galvin.

"Tapi ga harus berbisik di telinga gue juga, Khaira." Galvin kembali mengatakan argumennya tentang itu.

Khaira langsung melihat ke arah Galvin. "Kenapa?" tanyanya, menatap Galvin dengan tatapan polos.

Galvin menggelengkan kepalanya pelan. Dia dibuat pusing oleh tingkah Khaira yang tidak kunjung paham dengan maksud dari ucapannya.

Dia tidak paham mengapa Khaira sampai memiliki ide untuk membangunkannya dengan cara berisik seperti itu.

Padahal ada cara lain yang bisa Khaira lakukan untuk membangunkannya, selain dengan kelembutan, lebih tepatnya dengan bisikkan.

Namun, dia juga paham, jika Khaira tidak akan membangunkannya dengan cara kasar, karena Khaira bukanlah orang yang seperti itu.

"Memangnya kenapa kalau aku ngelakuin itu? Salah, ya? Atau kamu ga suka?" tanya Khaira, dengan hati-hati.

Dia merasa tidak enak hati, karena Galvin terus membahas itu. Kata-kata Galvin seolah menyudutkannya, bahwa apa yang dia lakukan adalah sebuah kesalahan dan melanggar aturan.

"Bukan tentang salah atau engga, ataupun tentang suka atau ga suka," jawab Galvin, sambil membenarkan posisinya, yang semula masih berbaring di atas tempat tidurnya, kini punggungnya bersandar pada kepala ranjang.

"Duduk sini," pintanya, menepuk tempat kosong di tempat tidur itu.

Dia menepuk tempat kosong, tepat di samping posisinya saat ini.

Khaira langsung menuruti saja, apa yang Galvin katakan. Dia tidak keberatan jika hanya sekadar duduk di tempat tidur itu bersama Galvin.

Lagi pula hal itu akan lebih memudahkan mereka untuk berbicara, karena tidak ada lagi dari mereka yang akan merasa pegal akibat posisi berbicara yang salah.

"Kenapa, Gal? Kalau kamu ga suka, ga papa bilang aja. Lain kali aku ga akan bangunin kamu dengan cara itu," ucap Khaira, kembali menundukkan kepalanya.

"Bukan gue ga suka, Khaira," timpal Galvin, gemas sendiri dengan pikiran Khaira yang bertolak belakang dengan maksud yang ingin dia sampaikan.

"Jadi kamu suka?" sahut Khaira dengan cepat, seraya mengangkat kembali pandangannya, menatap kedua mata tajam Galvin.

"Khaira," tegur Galvin, pelan.

Khaira tertawa kecil di balik cadar. "Maaf, Gal. Aku becanda," ucapnya, sambil menahan tawa.

Kalimat yang baru saja dia katakan memanglah sebuah candaan, supaya situasi di antara mereka tidak terlalu canggung dan kaku.

"Becanda?" Galvin menaikkan salah satu alisnya.

Kemudian Khaira langsung menganggukkan kepalanya dengan mantap. "Situasi yang terlalu serius buat aku merasa canggung dan kaku," ucapnya, mengatakan dengan jujur tentang apa yang dia rasakan.

"Sejak kapan lo becanda? Apa sebenarnya lo juga paham maksud ucapan gue tadi, tapi lo pura-pura ga paham, karena lo becanda?" tanya Galvin kembali, dengan tatapan menyelidik.

Khaira langsung mengerutkan keningnya. "Memangnya tadi kamu bilang apa?" tanyanya, bingung.

Entah karena dia lupa dengan apa yang Galvin katakan tadi, atau karena dia memang benar-benar tidak paham?

"Gue ga mau lo berbisik di telinga gue, karena bisikkan lo bukan cuma berhasil bangunin gue, tapi juga berhasil bangunin yang lain," ucap Galvin, dengan suara pelan tetapi penuh penekanan.

Entah sudah ke berapa kali Khaira mengerutkan keningnya, karena lagi dan lagi dia dibuat tidak paham oleh pertanyaan yang Galvin utarakan.

"Siapa yang bangun selain kamu, Gal? Di sini cuma kamu yang tidur dan aku juga cuma bangunin kamu."

Khaira langsung mengedarkan pandangannya ke segala penjuru kamar. Dia benar-benar takut jika di kamar itu bukan hanya ada dirinya dan Galvin saja, tetapi ada orang lain juga.

Melihat tingkah Khaira yang mendadak terlihat khawatir seperti itu, membuat Galvin menggelengkan kepalanya, sambil berdecak pelan.

"Ck! Lo udah besar, tapi pikiran lo masih kecil," ejeknya kepada Khaira.

Galvin tidak menyangka jika Khaira benar-benar sepolos itu. Apakah dia harus mengajarkan Khaira supaya berpikir dewasa?

Dewasa bukan dalam artian berpikir bijak atau sejenisnya, tetapi dewasa dalam suatu hal yang berhubungan dengan orang dewasa.

"Di sini ga ada orang lain selain kita, kan? Kenapa kamu bilang ada yang lain yang ikut bangun selain kamu? Apa maksud kamu, orang itu adalah aku?" tanya Khaira, menunjuk dirinya sendiri.

"Seharusnya aku ga termasuk hitungan, kan? Karena aku sudah bangun lebih awal," sambungnya kembali, menuntut jawaban dan penjelasan.

Tanpa dia sadari, dia berbicara panjang lebar seperti itu kepada Galvin, hingga Galvin tidak memiliki kesempatan untuk berbicara, sebelum Khaira benar-benar menyelesaikan ucapannya.

"Udah selesai ngomongnya?" tanya Galvin, tenang dan santai, dengan kedua tangan kekarnya dia lipatkan di depan dada.

Khaira tidak menjawab dengan ucapan. Dia hanya menjawab dengan sebuah anggukkan.

Tanpa sadar, dia mengulum bibirnya di balik cadar. Dia sama sekali tidak bermaksud memberikan pertanyaan kepada Galvin dengan kalimat sebanyak itu.

"Di kamar ini memang ga ada orang lain selain kita," ucap Galvin, meluruskan pikiran Khaira yang sudah sangat tersesat tentang isi kamarnya.

"Jadi maksud ucapan kamu tadi itu apa? Jangan buat aku bingung, Gal."

Khaira menghembuskan napasnya dengan pelan. Dia mulai lelah memahami maksud Galvin yang sulit sekali untuk dia pahami.

Menurutnya, memahami seluruh materi sekolah jauh lebih mudah dibandingkan dengan memahami kata-kata Galvin yang sangat sulit untuk dia tafsirkan.

"Intinya gue minta sama lo, lain kali jangan bangunin gue dengan cara berbisik kaya gitu," ucap Galvin dengan serius kepada Khaira.

Khaira mengangkat kedua alisnya. "Terus kalau kamu ga bangun juga. Aku harus bangunin kamu dengan cara apa?" tanyanya, dengan wajahnya yang masih terlihat polos dan bingung.

"Terserah lo. Yang jelas, jangan berbisik di telinga gue," jawab Galvin.

Dia mulai lelah memberikan pemahaman itu kepada Khaira, dan sepertinya dia akan menyerah jika Khaira tidak kunjung mengerti.

Untuk saat ini, dia tidak akan membuat Khaira memahami hal-hal dewasa, karena menurutnya, pikiran Khaira terlalu kecil untuk memahami itu semua.

'Nanti akan ada saatnya lo paham dengan hal-hal yang sekarang buat lo bingung,' batin Galvin.

Dia yakin jika saat itu akan terjadi. Di mana Khaira akan memahami semua hal yang tidak Khaira pahami saat ini.

"Gal...," sahut Khaira, setelah terjadi keheningan beberapa saat di antara mereka.

"Hm?" gumam Galvin pelan.

Pikirannya kembali ditarik, setelah berkelana bebas dalam lamunannya yang memikirkan Khaira.

"Aku masih penasaran, kenapa kamu larang aku buat berbisik kaya tadi? Padahal dengan cara itu, aku bisa langsung bangunin kamu," ucap Khaira.

Di saat dirinya sudah memiliki cara ampuh untuk membangunkan Galvin, tetapi Galvin malah melarangnya melakukan itu.

Bukankah itu hanya sekadar bisikkan saja, lalu apa masalahnya?

Begitulah pikirnya.

"Kamu ga mau ngasih tau alasannya? Supaya aku paham, Gal."

Galvin langsung menggelengkan kepalanya dengan tegas. "Percuma kalau gue jelasin alasannya sekarang, karena lo ga akan paham," ucapnya.

Jangankan Khaira, dia sendiri tidak paham dengan apa yang terjadi terhadap respon tubuhnya.

Tiba-tiba saja dia terbangun dan langsung merasa lemah karena bisikkan lembut Khaira di telinganya.

Tidak hanya merasa lemah, bahkan hatinya juga berdebar tidak karuan. Dan untung saja Khaira tidak menyadari itu.

Perasaan apa yang dia rasakan? Kenapa begitu bangun tadi, hatinya langsung berdebar seperti itu?

Akh, sial! Kenapa dia bisa selemah itu?

Galvin mengumpat dalam hati.

Memikirkan itu semua, membuatnya semakin tidak paham pada dirinya sendiri.

Maka dari itu, dia memilih untuk segera bangkit dari tempat tidur, meninggalkan Khaira yang menatapnya dengan tatapan bingung.

"Mau ke mana?" tanya Khaira.

Kemudian detik berikutnya dia langsung menyesali apa yang baru saja dia tanyakan kepada Galvin.

Untuk apa dia bertanya seperti itu? Bahkan dia sudah melihat dengan jelas, jika Galvin berjalan ke arah kamar mandi. Dan seharusnya tidak perlu dipertanyakan lagi.

"Mau ikut?" tanya Galvin, menatap Khaira dengan tatapan penuh arti.

Khaira langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat. Tentu saja dia menolak ajakan itu. Untuk apa dia ikut?

"Kamu ga malu bilang kaya gitu?" tanya Khaira, heran. Dia saja merasa malu mendengarnya.

"Kenapa harus malu? Lo istri gue!" jawab Galvin, dengan santainya.

Kemudian dia masuk ke dalam kamar mandi, dan menutup pintu kamar mandi itu rapat-rapat.

"Istri? Sejak kapan dia mau mengakui aku sebagai istri?" gumam Khaira pelan, di mana pertanyaan itu dia tujukan untuk dirinya sendiri.

Begitu Galvin sudah masuk ke dalam kamar mandi, Khaira mulai berjalan kecil di sepanjang sudut kamar itu, mencari-cari pakaian dan sejada untuk Galvin.

Dia merasa canggung dan tidak tahu di mana Galvin biasanya menyimpannya, karena mereka memang pisah kamar, sehingga tidak mengetahui letak barang masing-masing.

"Rapih juga kamarnya," gumam Khaira, tanpa sadar mengagumi Galvin.

"Dia suka lukisan?"

Khaira menghentikan gerakan matanya, begitu kedua mata indah itu menangkap sebuah lukisan yang terpajang di sudut kamar Galvin.

Sebuah lukisan bintang malam yang begitu indah dipandang.

"Di mana dia membeli lukisan ini?" tanyanya, pada dirinya sendiri.

Dia mengagumi lukisan itu, sampai ingin mengetahui siapa pelukisnya. Bahkan dia juga ingin memiliki lukisan yang serupa, karena dia begitu mencintai keindahan di malam hari.

Lukisan itu benar-benar sudah menyita seluruh waktu dan fokusnya, hingga dia lupa dengan tujuan awalnya menyusuri kamar Galvin adalah untuk menyiapkan perlengkapan Galvin untuk shalat, bukan untuk menikmati indahnya lukisan yang terpajang di sana.

"Astaghfirullah, Khaira. Bisa-bisanya kamu melupakan tujuan awal kamu."

Khaira menggelengkan kepalanya beberapa kali, begitu menyadari tingkahnya sendiri.

Setelah beberapa saat mencari, akhirnya dia menemukan sarung, baju koko, dan sejadah yang akan digunakan Galvin untuk sholat.

Dengan hati-hati, Khaira meletakkan pakaian dan sejadah itu di atas tempat tidur Galvin. Dia juga merapikannya sedemikian rupa agar terlihat rapi dan nyaman untuk digunakan.

Tidak hanya sampai di sana, Khaira juga mengecek lagi apakah semua sudah lengkap sebelum memutuskan untuk keluar.

"Sekarang semuanya sudah siap," gumamnya, menghembuskan napas dengan lega.

Setelah dirasa semuanya sudah siap, barulah dia memutuskan untuk keluar dari kamar itu, sebelum Galvin selesai membersihkan diri di kamar mandi.

Tidak lama kemudian, Galvin keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit di pinggangnya.

Begitu melangkah ke kamar, matanya langsung tertuju pada pakaian dan sejadah yang sudah rapi di atas tempat tidur.

Dia langsung tersenyum tipis. Entah mengapa dia merasa senang dengan perhatian kecil yang diberikan Khaira padanya.

Tok! Tok! Tok!

Suara ketukan pintu kembali terdengar di luar pintu kamar Galvin. Galvin yang baru saja ingin memakai pakaiannya, tiba-tiba mengurungkan aktivitasnya. Perhatiannya langsung dialihkan oleh suara itu.

Belum sempat dia menjawab, tiba-tiba Khaira masuk begitu saja ke dalam kamarnya.

"Astaghfirullah!" teriak Khaira sedikit keras, karena rasa terkejutnya.

Dia langsung menutup kedua matanya, kemudian memutar tubuhnya hingga membelakangi Galvin yang berdiri di belakangnya.

"Maaf, Gal. Aku ga sengaja. Aku kira kamu masih di kamar mandi," ucapnya, dengan suaranya yang gemetar takut.

Dia sama sekali tidak menduga, jika begitu membuka pintu kamar itu dia akan langsung melihat Galvin yang hanya menggunakan handuk sebatas perut sampai lutut.

Sesalnya, dia harus melihat pemandangan itu, walaupun dia tidak jelas melihatnya, karena dia dengan cepat menutup mata.

"Maaf, Gal. Aku ga sengaja."

Khaira terus menerus meminta maaf, karena dia takut Galvin akan marah padanya.

Padahal sebenarnya, tanggapan Galvin sangat jauh berbeda dengan dugaan Khaira.

Galvin sama sekali tidak marah begitu Khaira tiba-tiba masuk ke dalam kamarnya. Justru tanpa sadar, dia malah menarik kedua sudut bibirnya dengan samar, saat mendengar Khaira meminta maaf kepadanya dengan suara bergetar ketakutan.

"Mau apa lo masuk lagi ke sini? Nyaman ada di kamar gue?" tanya Galvin, sambil tersenyum samar.

Khaira langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Aku cuma mau ambil tasbih. Sepertinya tasbih aku ketinggalan di sini," jawabanya, dengan posisinya yang masih menutup mata, dan membelakangi Galvin.

Galvin melirik ke arah tempat tidurnya, dan benar saja di atas tempat tidur itu ada sebuah tasbih berwarna cokelat.

Tasbih itu sudah jelas milik Khaira yang mungkin tidak sengaja terjatuh, saat Khaira membangunkannya.

Galvin melangkah perlahan ke arah tempat tidurnya, kemudian dia mengambil tasbih itu, hingga saat ini tasbih itu ada di tangannya.

"Emm... tasbihnya kamu simpan dulu aja. Nanti kamu kasih ke aku pas kita mau berangkat sekolah," ucap Khaira, berniat untuk langsung keluar dari kamar itu.

"Tunggu!" ucap Galvin kepada Khaira.

Khaira yang baru saja menggerakkan kakinya satu langkah untuk meninggalkan kamar Galvin, tetapi Galvin langsung menghentikannya begitu saja.

"Mau ke mana? Bukannya lo mau ambil tasbih ini," tanya Galvin, sambilan mengangkat tasbih itu, kemudian melihatnya dengan saksama.

"Iya. T-tapi-" ucap Khaira, tidak tuntas, karena Galvin lebih dulu memotong ucapannya.

"Kenapa ga lo bawa sekarang? Terlanjur juga lo udah masuk ke kamar gue," tanya Galvin kembali.

Perlahan namun pasti, Galvin melangkah perlahan ke arah Khaira, dengan sebuah tasbih di dalam genggamannya.

"Nanti aja. M-maaf, aku udah ganggu kamu."

Nanti juga mereka akan bertemu di meja makan, begitu mereka akan berangkat ke sekolah.

Awalnya Khaira hanya ingin memastikan jika tasbih itu tertinggal di kamar Galvin, bukan di sembarangan tempat yang membuatnya kesulitan untuk menemukan itu.

"Ambil sekarang, atau tasbih ini jadi milik gue?" tanya Galvin, terdekat sedikit memberikan ancaman kepada Khaira.

Dengan kedua kelopak matanya yang masih ditutupi oleh kedua telapak tangannya, Khaira langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat.

Dia sama sekali tidak setuju dan menolak keras apa yang Galvin katakan.

"Jangan, Gal. Itu tasbih pemberian almarhumah ibu aku. Kalau kamu mau tasbih, aku bisa kasih kamu tasbih lain, tapi jangan yang itu." Khaira berbalik memberikan penawaran.

Dia memiliki beberapa tasbih di kamarnya, sehingga dia bisa memilihkannya kemudian memberikan tasbihnya kepada Galvin.

"Kalau gitu ambil sekarang. Sebelum tasbih ini benar-benar menjadi milik gue," ucap Galvin, yang kini sudah berada tepat di hadapan Khaira.

"Gal," sahut Khaira, pelan, dengan perasaannya yang begitu tertekan.

"Hm?" gumam Galvin dengan tenang dan santai, berbeda sekali dengan yang Khaira rasakan.

"Jangan deket-deket," ucap Khaira, begitu dia bisa merasakan, jika Galvin melangkah pelan ke arahnya, dengan posisi Galvin yang sudah berdiri tepat di hadapannya.

"Kenapa lo tau? Ngintip?" tanya Galvin, sengaja menggoda Khaira.

"Astaghfirullah. Ngga, Gal. Aku bisa tau karena aku bisa ngerasin, bukan karena aku lihat kamu," jelas Khaira.

Dia tidak menerima tuduhan Galvin tentang itu. Mana berani dia melihat tubuh polos Galvin yang hanya tertutupi oleh sebuah handuk kecil saja.

"Aku sama sekali ga ada niatan buat liat kamu." Khaira kembali mempertegas itu. Dia melakukan itu untuk mempertahankan harga dirinya. Jangan sampai Galvin memikirkan hal lain-lain tentangnya.

"Mau liat juga ga masalah," sahut Galvin, yang dengan santainya dia berkata seperti itu.

"Gal!" tegur Khaira, dengan kedua kelopak matanya yang masih terpejam.

Bisa-bisanya Galvin memberikan respon sesantai itu, di tengah-tengah perasaan dirinya yang khawatir jika Galvin akan marah.

Namun nyatanya, Galvin sama sekali tidak marah.

"Kamu kenapa kaya gini?" tanya Khaira.

Jujur, dia merasakan adanya perubahan terhadap sikap Galvin.

Selama ini dia mengenal Galvin sebagai sosok yang dingin dan datar. Lalu kenapa saat ini Galvin malah bersikap sebaliknya?

"Jangan halangi jalan aku dan cepat pakai baju kamu," perintah Khaira, tidak tahan lagi dengan sikap Galvin yang semakin berubah.

"Kenapa buru-buru? Lo ga mau liat dulu?" tanya Galvin, menggoda Khaira, hingga kedua pipi Khaira mendadak bersemu memerah di balik cadar.

"Liat apa?" tanya Khaira, dengan pikirannya yang mulai blank.

"Liat sesuatu yang sebelumnya sempat lo liat. Maksud gue, lo bisa liat lebih lama. Tadi lo baru liat sebentar, kan?" tanya Galvin, sambil menaikkan salah satu alisnya, seraya tersenyum penuh arti.

Untung saja Khaira masih memejamkan kedua kelopak matanya, sehingga dia tidak melihat ekspresi wajah Galvin yang seperti itu.

"Gimana, mau?" tanya Galvin kembali, karena Khaira tidak juga menjawab.

"Stop, Gal! Jangan bicara kaya gitu lagi, aku malu." Akhirnya Khaira bersuara.

Kedua pipinya tiada henti terus-terusan bersemu merah. Dia sungguh malu mendengarnya. Dan Galvin malah sengaja terus membahas hal yang membuatnya malu.

"Aku udah bilang, kalau aku beneran ga sengaja liat kamu," jelas Khaira kembali, dengan tegas.

Dia ingin, untuk kali ini saja Galvin percaya kepadanya.

Dia tidak tahu apakah Galvin benar-benar berpikir seperti itu tentang dirinya, ataukah Galvin hanya menggodanya.

Dia hanya ingin Galvin membiarkan dirinya keluar dari kamar itu, saat ini juga.

"Gal? Kamu dengar ucapan aku, kan? Aku benar-benar ga sengaja. Aku harap kamu percaya," ucap Khaira yang mulai lelah menjelaskan atas ketidak sengajaannya.

"Sengaja atau pun engga, tetep aja lo udah liat, kan?" Galvin tetap pada ucapannya.

"Tapi aku cuma liat sebentar dan itu juga ga jelas," timpal Khaira dengan cepat.

"Mau liat lebih lama supaya jelas?" tanya Galvin, dan pertanyaan itu berhasil membuat jantung Khaira kembali berdetak cepat.

Kali ini Khaira langsung memejamkan kedua kelopak matanya lebih kuat dari sebelumnya.

Dia tidak bisa membiarkan dirinya terus-terusan berada dalam situasi itu.

"Aku mau keluar sekarang. Bisa kamu pergi dari hadapan aku?" tanya Khaira, mencoba berbicara dengan tenang, walaupun jantungnya masih berdetak tidak karuan.

"Kalau gue ga mau?" tanya Galvin, dengan santai.

Pertanyaan itu lebih terdengar seperti sebuah tantangan untuk Khaira.

"Kamu udah punya wudhu, kan? Nanti wudhu kamu batal kalau kita sampai ga sengaja bersentuhan," jelas Khaira, tetap berusaha bersikap tenang.

"Tinggal wudhu lagi," jawab Galvin dengan cepat.

Khaira langsung menghembuskan napasnya, sedikit lebih kuat dari biasanya.

"Jangan becanda, Gal. Kamu harus shalat subuh sekarang, sebelum waktunya terlewat," tegas Khaira.

Mereka tidak bisa terus-terusan becanda seperti itu, hingga melalaikan kewajiban.

Galvin memahami ucapan Khaira, bahwa Khaira benar-benar serius dengan ucapannya kali ini.

"Ulurin tangan lo," ucap Galvin, kepada Khaira yang masih enggan membuka mata.

Khaira masih berpikir bahwa dia belum menggunakan pakaian, padahal dia sudah selesai memakai baju koko, sekaligus sudah lengkap menggunakan sarungnya.

Khaira langsung saja mengulurkan salah satu tangannya, kemudian membuka telapak tangan mungil itu di hadapan Galvin.

Dia langsung menuruti perintah Galvin, tanpa menanyakan alasannya, karena dia sudah tahu apa yang Galvin maksudkan.

Setelah telapak tangan mungil itu terbuka sempurna, barulah Galvin meletakkan tasbih Khaira di atas sana. Dia mengembalikan tasbih itu kepada pemiliknya.

"Makasih, Gal."

Khaira langsung mengatupkan kembali telapak tangannya, begitu tasbih itu sudah kembali berada di tangannya.

Galvin melangkah pergi dari hadapan Khaira, kemudian dia menghentikan langkahnya, begitu posisinya berdiri sudah sejajar vertikal dengan posisi berdiri Khaira. Hanya saja arah pandangan mereka saling berlawanan.

"Lain kali, jaga baik-baik hal apa pun yang berharga bagi lo. Jangan ceroboh," bisik Galvin, tepat di samping telinga Khaira.

"I-iya, Gal. In sya Allah, kedepannya aku akan lebih berhati-hati," jawab Khaira, sambil membuka kedua kelopak matanya yang sudah tertutup lama.

Dia memutuskan untuk membuka mata, begitu dia sudah memastikan, jika Galvin tidak ada lagi di hadapannya.

"Assalamu'alaikum," ucap salam Khaira, sebelum dia keluar dari kamar Galvin.

"Wa'alaikumsalam."

Setelah mendapat jawaban salam dari Galvin, barulah Khaira melangkah pergi dari kamar itu, tanpa sedikit pun menoleh ke arah Galvin, karena dia masih berpikir, jika Galvin belum menggunakan pakaian.

'Lo buat gue gemas, Khaira!'

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!