Rose Moore, seorang desainer perhiasan elit di Boston yang sukses dan cantik, mendapati dunianya hancur tepat di malam perayaan ulang tahun pernikahannya yang ke-2. Suaminya, Asher Hudson, seorang Direktur Pemasaran terpandang, ternyata telah menikah siri selama tiga bulan dengan wanita bernama Mia Ruller atas paksaan orang tuanya. Alasan keji di baliknya: Rose dianggap "tidak suci" karena masa lalunya yang yatim piatu dan tidak perawan, sementara keluarga Hudson menuntut ahli waris dari darah yang mereka anggap "murni".
Alih-alih menangis dan meminta cerai, Rose yang terluka memilih jalan yang lebih dingin, ia menerima pernikahan tersebut hanya demi mempertahankan status hukumnya. Ia bertekad menyiksa Asher secara mental, menguasai hartanya, dan menghancurkan reputasi keluarga Hudson yang sombong dari dalam.
Namun, rencana balas dendam Rose tergoncang saat ia secara tak sengaja bertemu kembali dengan Nikolai Volkov, kekasih masa SMA-nya dari Texas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#3
Udara pagi di Boston terasa garing dan dingin saat Rose melangkah masuk ke sebuah swalayan kelas atas di kawasan Seaport. Rose mencoba menenggelamkan diri dalam rutinitas normal—memilih sayuran organik, memegang botol selai, dan membandingkan jenis pasta. Ia butuh sesuatu untuk mengalihkan pikirannya dari pemandangan Mia Ruller yang sarapan di meja makannya pagi tadi.
Rose Moore, nama yang ia bangun dengan darah dan air mata—kini sedang berdiri di lorong bumbu dapur saat sebuah suara memecah keheningan batinnya.
"Rosemary?"
Suara itu berat, serak, dan memiliki intonasi yang sudah ribuan malam coba ia kubur dalam ingatan bawah sadarnya. Rose membeku. Jantungnya berhenti berdetak selama satu detik yang terasa seperti selamanya. Hanya satu orang di dunia ini yang memanggilnya dengan nama lengkap itu. Hanya satu orang yang tahu bahwa sebelum ia menjadi "Rose Moore" yang elegan, ia hanyalah "Rosemary", seorang gadis yatim piatu tanpa nama belakang yang hanya memiliki cinta untuk diberikan.
Ia berbalik perlahan.
Di sana, berdiri seorang pria dengan mantel wol panjang berwarna hitam. Rambutnya yang gelap sedikit berantakan tertiup angin Boston, dan mata abu-abunya menatap Rose dengan intensitas yang sanggup meruntuhkan pertahanan apa pun.
Nikolai Volkov.
Kekasih masa SMA-nya di Texas. Pria yang ia tinggalkan lima tahun lalu tanpa penjelasan yang jujur. Pria yang keluarganya memiliki kekuasaan begitu besar hingga Rose merasa dirinya hanyalah debu yang akan dihancurkan jika terus bertahan di sisi Nik.
Nikolai tidak bergerak. Ia tampak seperti baru saja melihat hantu, atau mungkin keajaiban. Lima tahun telah berlalu sejak percakapan telepon terakhir yang menghancurkan hatinya—saat Rosemary memutuskannya dengan alasan dingin bahwa hubungan jarak jauh itu membosankan.
Nikolai tidak pernah tahu bahwa saat itu Rosemary sedang menangis sesenggukan di sebuah halte bus, melarikan diri dari ancaman orang tua Nikolai yang menjanjikan kehancuran bagi karir dan masa depan Rosemary jika ia tidak pergi.
"Nik?" bisik Rose. Suaranya nyaris tak keluar.
"Jadi benar... itu kau," Nikolai melangkah maju, jarak di antara mereka menyempit, membawa aroma parfum maskulin yang familiar—campuran kayu cendana dan hujan. "Aku sudah mencarimu ke mana-mana, Rosemary. Ke setiap sudut Texas, ke New York... dan ternyata kau di sini. Di Boston."
Kecanggungan menyelimuti mereka seperti kabut tebal di pelabuhan. Rose meremas pegangan keranjang belanjaannya hingga buku jarinya memutih. Ia melihat Nikolai yang sekarang—pria dewasa yang tampak lebih matang, lebih tangguh. Ia tahu Nik melanjutkan kuliah di Harvard University, mengejar gelar hukum atau bisnis yang selalu direncanakan keluarganya.
"Bagaimana kabarmu, Rosemary?" tanya Nik pelan. Matanya menelusuri wajah Rose, mencari sisa-sisa gadis yang dulu sering tertidur di bahunya saat mereka melihat bintang di Texas. "Kau tinggal di Boston sekarang?"
"Ya," jawab Rose singkat, mencoba mengontrol napasnya. "Aku mengganti namaku. Aku kuliah di sini dengan beasiswa... aku desainer sekarang."
"Aku tahu kau pintar. Kau selalu menjadi yang terbaik," Nik tersenyum tipis, sebuah senyuman yang masih membawa binar cinta yang sama seperti lima tahun lalu. Binar yang belum pernah padam, meski Rose telah menghancurkan hatinya lewat telepon.
Nikolai mengalihkan pandangannya sejenak ke jari manis Rose. Di sana, cincin berlian besar melingkar dengan angkuh, bukan lagi simbol pernikahannya dengan Asher Hudson, itu cincin design terbaru nya.
"Aku dengar... kau sudah menikah," suara Nik sedikit merendah, ada nada pahit yang tak bisa ia sembunyikan. "Seorang Direktur Pemasaran, bukan? Asher Hudson?"
Rose menelan ludah. Ia ingin tertawa histeris. Ia ingin berteriak bahwa suaminya baru saja menikahi wanita lain kemarin atas perintah orang tuanya. Bahwa pernikahannya adalah sebuah sandiwara berdarah. Namun, harga dirinya sebagai Rose Moore menahan semua itu. Ia tidak ingin Nikolai melihatnya sebagai gadis yatim piatu yang malang lagi.
"Iya, aku sudah menikah selama dua tahun," jawab Rose, berusaha tegar.
"Apa suamimu memperlakukanmu dengan baik?" tanya Nik tulus. Tidak ada sindiran di sana, hanya kekhawatiran murni. "Apakah dia mencintaimu sebesar... sebesar yang seharusnya kau dapatkan?"
Pertanyaan itu menghantam Rose lebih keras dari pengkhianatan Asher. Bagaimana ia bisa menjawabnya? Bahwa suaminya tidak menyentuhnya selama tiga bulan? Bahwa ia sedang berbagi rumah dengan madunya?
"Dia... dia memperlakukanku dengan sangat baik, Nik," bohong Rose, senyum palsunya terpasang sempurna. "Kami sangat bahagia. Hidup di Boston sangat tenang."
Nikolai menatap mata hijau Rose dalam-dalam. Sebagai seseorang yang pernah mengenal setiap inci jiwa Rosemary, ia merasa ada sesuatu yang tidak sinkron. Ada kesedihan yang tersembunyi di balik riasan wajah Rose yang sempurna. Namun, ia tidak punya hak untuk bertanya lebih jauh. Di matanya, Rose adalah wanita yang telah move on, sementara dia masih terjebak di malam perpisahan itu.
"Aku senang mendengarnya," kata Nik, meski hatinya berdenyut. "Aku di sini untuk menyelesaikan urusan bisnis keluarga. Aku tidak menyangka akan bertemu denganmu di swalayan biasa seperti ini."
Keheningan kembali melanda. Di antara rak sereal dan saus tomat, dua orang yang pernah berjanji untuk sehidup semati itu berdiri sebagai orang asing dengan ribuan rahasia.
"Aku harus pergi, Nik," ucap Rose tiba-tiba. Ia tidak tahan lagi. Kehadiran Nikolai membangkitkan semua perasaan yang seharusnya tidak boleh ada. Perasaan aman, perasaan dicintai tanpa syarat—hal-hal yang tidak ia dapatkan dari Asher Hudson.
"Tunggu, Rosemary," Nik menahan lengan Rose dengan lembut, sebuah sentuhan yang mengirimkan sengatan listrik ke seluruh tubuh Rose. "Bisakah kita... setidaknya minum kopi? Sebagai teman lama?"
Rose menatap tangan Nik di lengannya, lalu menatap wajah pria itu. "Nik, aku punya kehidupan sekarang. Suamiku... dia menungguku di rumah."
Nikolai melepaskan tangannya, tampak menyesal. "Tentu. Aku mengerti. Maafkan aku. Aku hanya... aku hanya ingin memastikan kau bahagia. Itu saja yang aku butuhkan untuk bisa benar-benar merelakanmu."
Rose berpaling dengan cepat, mendorong keranjangnya menuju kasir dengan langkah terburu-buru. Ia tidak menoleh ke belakang. Ia tahu jika ia menoleh sekali saja, ia akan luruh di lantai swalayan itu dan menceritakan semuanya pada Nikolai. Tentang pengkhianatan Asher, tentang Mia Ruller, dan tentang betapa ia merindukan masa-masa mereka di Texas.
Namun Rose Moore adalah seorang pejuang. Ia tidak akan membiarkan masa lalunya yang indah merusak rencana balas dendamnya yang dingin.
Saat ia keluar dari swalayan, ia melihat Nikolai masih berdiri di sana, memperhatikannya dari jauh melalui kaca jendela besar. Tatapan pria itu masih sama, penuh cinta, kerinduan, dan rasa sakit yang belum sembuh.
Rose masuk ke mobilnya, mencengkeram kemudi, dan berbisik pada dirinya sendiri, "Maafkan aku, Nik. Kau tidak boleh terseret ke dalam neraka yang sedang kubangun untuk keluarga Hudson."
Tanpa ia sadari, pertemuan ini hanyalah awal dari kerumitan baru di kota Boston. Karena Nikolai Volkov bukan tipe pria yang akan melepaskan Rosemary untuk kedua kalinya, terutama jika ia mencium bau busuk di balik pernikahan "sempurna" Rose Moore.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰