NovelToon NovelToon
Mantan Suamiku Ternyata Sang Pewaris

Mantan Suamiku Ternyata Sang Pewaris

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Identitas Tersembunyi / Cerai
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: DityaR

Hanya karena perbedaan gaya hidup yang kini tak lagi sejalan, Tiffany menceraikan suaminya demi menjaga citra sebagai seorang konglomerat.

Ia bahkan melupakan siapa yang telah berjuang bersamanya dari nol hingga mencapai posisi tersebut.

Hans Rinaldi tidak menyimpan dendam. Ia menerima keputusan itu dengan lapang dada.

Namun, setelah perpisahan mereka, Tiffany tetap menyeretnya ke dalam berbagai masalah. Hingga akhirnya, terungkaplah siapa sebenarnya sosok pria sabar yang selama ini telah ia buang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kemarahan Bimbo

Aula langsung ricuh setelah tindakan Hans.

Para tamu yang penakut sudah lebih dulu kabur karena takut ikut terseret masalah.

Sementara itu, Donio yang tak sadarkan diri dan terluka parah segera dibawa ke rumah sakit oleh para pengawalnya.

“Ini gawat .…” Tiffany mengerutkan kening, wajahnya dipenuhi kekhawatiran.

Tuan Langodai terkenal kejam dan tanpa ampun. Mustahil dia akan diam saja setelah anaknya dipukuli sampai seperti itu.

Hans mungkin benar-benar tidak punya banyak waktu lagi.

“Rachel, cari tahu apa ada cara buat nyelesain ini secara damai,” kata Tiffany tiba-tiba.

Rachel tampak bingung. “Apa hubungannya tindakan Hans sama kita, Nona Rasheed? Kenapa kita harus repot-repot bantu dia?”

Ekspresi Tiffany membeku. “Dia tadi nyelametin nyawa aku. Masa aku cuma diam lihat dia mati?”

“Bukan begitu maksudku. Aku cuma merasa ini bukan langkah yang bijak. Melawan Tuan Langodai sekarang itu sama saja cari mati. Lagipula, gak ada orang yang mau terlibat dalam kekacauan ini,” jelas Rachel.

“Nggak peduli. Kita tetap harus coba.” Tatapan Tiffany tegas.

“Baiklah.” Rachel tak punya pilihan selain menurut. Ia langsung menghubungi semua relasi yang mereka punya.

Namun begitu tahu masalahnya melibatkan Tuan Langodai, para petinggi itu langsung menutup telepon karena takut. Tak satu pun berani ikut campur.

“Lihat, Nona Rasheed? Bukan karena kita gak mau bantu, tapi memang gak bisa,” kata Rachel sambil mengangkat kedua tangan.

“Coba lagi,” perintah Tiffany dengan nada tak sabar.

“Nggak ada gunanya .…” Rachel menggeleng, lalu tiba-tiba melirik ke arah Othan. “Eh, mungkin Pak Karimi bisa bantu.”

“Aku?” Othan menunjuk dirinya sendiri, kaget.

“Iya! Bukannya tadi bilang Papanya kenal sama Tuan Langodai? Mungkin Papa pak Karimi bisa bantu meredakan situasi ini?” tanya Rachel penuh harap.

“Err .…” Othan terdiam.

Ayahnya memang mengenal Tuan Langodai, tapi hubungan mereka murni bisnis. Kalau cuma masalah kecil mungkin masih bisa dibicarakan. Tapi Donio sekarang terluka parah. Bagaimana mungkin Tuan Langodai mau menahan diri?

“Kalau kamu bisa bantu, aku bakal sangat berterima kasih, Pak Karimi!” ujar Tiffany tulus.

Melihat ekspresi penuh harap itu, Othan dilema. Ini kesempatan terbaiknya untuk mendekati Tiffany. Tentu dia tak ingin melewatkannya.

“Aku bisa coba, tapi gak bisa janji apa-apa. Bagaimanapun juga, ini Tuan Langodai,” katanya akhirnya setelah berpikir sejenak.

Tiffany terlihat sedikit lega. “Aku ngerti. Asal Hans gak kehilangan nyawanya, aku udah bersyukur banget.”

“Oke, aku usahain,” jawab Othan santai sambil mengangguk.

Kalau berhasil, bagus. Kalau gagal pun tak ada ruginya. Setidaknya sekarang Tiffany berutang budi padanya.

***

Sementara itu, di sebuah lounge di Colosseum.

Maureen tersenyum samar sambil menatap layar monitor yang menampilkan kejadian tadi.

Ia menyaksikan Donio dipukuli dengan jelas, bahkan hampir bertepuk tangan karena puas.

Sejak lama ia menganggap beberapa anggota keluarga Langodai menyebalkan seperti lalat. Hanya saja, karena alasan tertentu, ia tak bisa bertindak langsung.

Untungnya Hans tidak mengecewakannya. Penampilannya hari ini benar-benar memuaskan.

“Nona Wiraningrat, sepertinya pengaruh Tuan Rinaldi belum cukup untuk melindungi dirinya dari amarah Bimbo. Perlu kita bantu?” tanya Pramm Samantha, kepala pelayan yang berdiri di sampingnya.

“Jangan terburu-buru. Suruh orang awasi dia. Masih terlalu cepat buat bilang ke Bimbo,” jawab Maureen sambil menyipitkan mata, menatap sosok Hans yang berdiri tegap di layar.

“Oh? Anda menilai dia setinggi itu?” Pramm tampak heran.

Maureen tersenyum tipis. “Bukan menilai. Lebih ke penasaran. Aku punya firasat … dia masih nyimpen banyak kejutan.”

“Kamu beneran ada perasaan sama dia, ya, Nona Wiraningrat? Jangan lupa, kamu udah punya tunangan .…”

“Hm?” Maureen melirik Pramm dengan tatapan dingin. Seketika itu juga pria tua itu terdiam ketakutan.

“Ingat satu hal. Kamu gak punya hak buat ngatur urusan pribadi aku. Fokus aja sama tugas kamu.”

“Baik, Nona Wiraningrat.” Pramm tak berani berkata apa-apa lagi. Punggungnya terasa dingin oleh keringat.

***

Tengah malam di rumah sakit.

Begitu pintu ruang operasi darurat terbuka, Donio didorong keluar di atas ranjang pasien. Bagian bawah tubuhnya penuh balutan perban. Seketika ia dikerumuni banyak orang.

Di barisan paling depan berdiri seorang pria tinggi besar dengan janggut dan kumis tebal.

Dialah Bimbo Langodai, penguasa dunia bawah Pantai Timur.

“Dokter! Gimana kondisi anakku?” tanya Bimbo tanpa basa-basi.

Dokter itu menghela napas. “Nyawanya sudah tertolong. Tapi kerusakan di bagian vitalnya sangat parah. Saya khawatir fungsinya tidak akan bisa kembali normal.”

“Apa?” Wajah Bimbo berubah drastis.

Tidak bisa kembali normal?

Itu berarti putranya akan impoten.

“Kalian semua gak bisa kerja, ya? Luka kayak gitu aja gak bisa ditangani?” bentak Bimbo sambil mencengkeram kerah jas dokter itu.

“Kami sudah berusaha semaksimal mungkin, Tuan. Tapi lukanya terlalu parah. Bahkan menyelamatkan nyawanya saja sudah sangat sulit,” jawab dokter itu dengan nada tertekan.

Sepanjang kariernya, ia belum pernah melihat kondisi seburuk itu. Bagian vital pasien hampir hancur total. Kalau saja sedikit terlambat dibawa ke rumah sakit, nyawanya mungkin tak tertolong.

“Nggak guna! Minggir dari depan aku!” Bimbo mendorong dokter itu dengan kasar, wajahnya murka.

Kalau dokter terbaik di rumah sakit saja tak bisa berbuat apa-apa, berarti putranya benar-benar cacat seumur hidup.

“Ngomong! Sebenarnya apa yang terjadi!” Bimbo berbalik dan membentak para pengawal yang berdiri di belakangnya. “Tadi anakku baik-baik aja. Kenapa sekarang babak belur begini!”

“Tu—tuan Langodai, tadi .…” Salah satu pengawal memberanikan diri menjelaskan singkat kejadian yang sebenarnya.

Begitu mendengarnya, amarah Bimbo langsung meledak. Ia menampar pengawal itu keras-keras.

“Sampah! Buat apa aku bayar kalian kalau satu orang aja gak bisa kalian kalahin!” raungnya.

Rasanya belum puas. Ia menampar mereka satu per satu berkali-kali.

Para pengawal hanya bisa menunduk, tak berani melawan.

“Masih berdiri aja? Kumpulin orang! Bawa bocah itu ke hadapan aku! aku gak peduli dia siapa. Berani nyakitin anak aku, aku bakal cincang dia!” teriak Bimbo penuh amarah.

Dengan satu perintahnya, pasukan Bimbo langsung bergerak.

Badai besar tampaknya akan segera pecah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!