Tagline:
"Ketika Pahlawan jatuh ke Neraka, dia tidak berdoa untuk diselamatkan. Dia bersiap untuk mengambil alih Tahta."
Sinopsis Cerita:
Ye Chen, sang penyelamat Alam Roh Sejati, telah membayar harga termahal demi menyelamatkan dunia dari kehancuran. Akibat memaksakan kekuatan Lima Kunci dan menahan jatuhnya Pulau Langit,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hakim2501, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3: Cincin yang Terbuka dan Algojo Berlengan Empat
Kembali ke sel isolasi yang lembap, Ye Chen duduk di sudut gelap, menjauh dari budak-budak lain yang menatapnya dengan campuran rasa takut dan hormat.
Bulla si Minotaur duduk di dekatnya, bertindak sebagai penjaga agar tidak ada yang mengganggu istirahat Ye Chen.
"Saudara Ye," bisik Bulla. "Kau membunuh tiga Harimau Tulang. Penjaga pasti akan menaikkan tingkat kesulitanmu besok. Kau butuh senjata."
Ye Chen tidak menjawab. Dia memejamkan mata, memusatkan sedikit Qi Iblis yang baru saja dia dapatkan (Tingkat 3 Pemadatan Qi) ke jari telunjuk kirinya.
Di sana, melingkar sebuah cincin besi polos yang terlihat berkarat—penyamaran dari Cincin Awan Putih.
"Buka..."
Ye Chen mengirimkan gelombang Qi.
Ziiiing!
Cincin itu bergetar pelan. Segel ruang dimensinya terbuka.
Ye Chen menghela napas lega. Harta bendanya masih aman.
Dia memeriksa isinya dengan Kesadaran Spiritual yang masih lemah.
Pedang Naga Langit tergeletak diam di dalam ruang dimensi. Bilahnya yang dulu bersinar kini redup dan berwarna abu-abu kusam. Retakan halus terlihat di permukaannya akibat menahan jatuhnya Pulau Langit dulu.
"Tidur nyenyak, Kawan," batin Ye Chen. "Aku belum punya cukup Qi untuk membangunkanmu. Istirahatlah sampai aku menemukan darah yang layak untukmu."
Ye Chen mengalihkan perhatiannya ke tumpukan obat-obatan. Dia mengambil segenggam Pil Pemulih Darah dan Pil Energi Murni tingkat tinggi yang dia bawa dari Benua Tengah.
Dia memunculkan pil-pil itu di tangannya secara diam-diam, lalu menelannya sekaligus.
Glek.
Energi obat yang murni meledak di perutnya. Berbeda dengan Qi Iblis yang kasar, energi pil ini lembut dan menyegarkan.
Luka-luka dalam di tubuh Ye Chen mulai sembuh dengan cepat. Meridiannya yang kering mulai dialiri arus sungai kecil.
Pemadatan Qi Tingkat 3... Puncak.
Tingkat 4... Awal.
Ye Chen berhenti. Dia tidak mau naik terlalu cepat dan membuat fondasinya tidak stabil di lingkungan baru ini. Lagipula, menyerap Qi di penjara akan menarik perhatian Raja Iblis jika berlebihan.
"Cukup untuk sekarang."
Ye Chen kemudian mengeluarkan sebilah Belati Hitam dari cincinnya. Belati biasa, tapi terbuat dari baja berkualitas tinggi. Dia menyembunyikannya di balik ikat pinggang celana lusuhnya.
Keesokan Harinya. Arena Colosseum.
Suasana hari ini jauh lebih meriah. Ribuan Iblis bersorak, memukul-mukul gendang kulit manusia.
Di tribun VIP, Raja Iblis Zagan terlihat bosan. Di sampingnya, duduk tamu kehormatan: Putri Succubus, Lilith. Wanita iblis dengan sayap kelelawar kecil dan pakaian yang sangat minim, memancarkan aura pesona yang membuat para penjaga meneteskan air liur.
"Raja Zagan," suara Lilith mendayu-dayu. "Kudengar kau punya mainan baru? Seorang manusia yang membunuh Harimau Tulang dengan tangan kosong?"
"Benar, Putri. Namanya... Budak 9527," jawab Zagan malas. "Hari ini aku menyiapkan lawan khusus untuknya. Aku ingin lihat apakah dia benar-benar kuat, atau hanya beruntung."
Gerbang arena terbuka.
Ye Chen berjalan masuk. Kali ini dia sendirian. Bulla dan budak lain tidak diikutkan. Ini adalah duel solo.
Di tangan kanannya, Ye Chen memegang pedang besi berkarat yang dilemparkan penjaga padanya sebelum masuk. Pedang sampah.
"Hadirin sekalian!" teriak penyiar. "Sambutlah mimpi buruk bagi para pemula! Sang Pencabut Nyawa... GORGON!"
DUM! DUM! DUM!
Tanah bergetar.
Dari gerbang lawan, muncul sesosok makhluk setinggi empat meter.
Dia adalah Troll Berlengan Empat. Kulitnya hijau lumut, tebal dan berbonggol-bonggol. Dan di keempat tangannya, dia memegang empat senjata berbeda: Kapak, Gada, Parang, dan Rantai.
Aura Gorgon: Pemadatan Qi Tingkat 9 Puncak (Setengah Langkah Nascent Soul).
Perbedaan lima tingkat kultivasi. Ditambah keunggulan fisik ras Troll dan empat senjata.
"GRAAAH! DAGING MANUSIA!" Gorgon meraung, air liurnya menetes.
Ye Chen menatap raksasa itu. Dia memutar-mutar pedang berkarat di tangannya.
"Empat tangan? Bagus. Lebih banyak yang bisa dipotong."
"MULAI!"
Gorgon menerjang. Dia tidak punya teknik, hanya kebrutalan.
Dua tangan depannya (Kapak dan Parang) menebas secara menyilang, sementara dua tangan belakangnya (Gada dan Rantai) bersiap menghantam jika Ye Chen menghindar.
Serangan tanpa celah.
Ye Chen tidak mundur. Matanya yang tajam membaca alur serangan itu.
"Terlalu banyak gerakan sia-sia."
Ye Chen maju selangkah.
Langkah Kilat Hantu (Versi Dasar).
Dia menunduk di bawah tebasan Kapak. Parang Gorgon lewat di atas kepalanya.
Ye Chen menusukkan pedang berkaratnya ke ketiak lengan kanan bawah Gorgon (yang memegang Gada).
TING!
Pedang berkarat itu tidak menembus kulit keras Troll. Malah pedangnya yang patah jadi dua.
"Sialan, besi rongsokan," umpat Ye Chen.
Gorgon tertawa. "Senjatamu patah, Kutu!"
Gorgon mengayunkan Gadanya ke arah kepala Ye Chen.
Ye Chen membuang gagang pedang patah itu. Dia melompat mundur, menghindari hantaman gada yang menghancurkan lantai arena.
Tapi rantai di tangan kiri atas Gorgon melesat, melilit kaki Ye Chen.
"Dapat!"
Gorgon menarik rantai itu, membanting Ye Chen ke tanah, lalu mengangkat kapaknya untuk membelah tubuh Ye Chen.
"MATI!"
Di tribun, Lilith menutup mulutnya dengan kipas. "Sayang sekali. Wajahnya lumayan tampan untuk ukuran manusia."
Namun, di arena, Ye Chen menyeringai.
"Kau menangkap kakiku? Terima kasih tumpangannya."
Saat Gorgon menariknya mendekat untuk dieksekusi, Ye Chen menggunakan momentum tarikan itu.
Dia melentingkan tubuhnya di udara.
Tangan kanannya mengepal. Tulang Emas di dalam dagingnya bersinar samar.
Dia tidak memukul wajah Gorgon. Dia memukul sikut lengan Gorgon yang memegang kapak.
Tinju Guntur: Pematah Sendi!
KRAK!
Sikut Gorgon patah terbalik. Kapak besar itu terlepas dari genggamannya dan jatuh... menancap di kaki Gorgon sendiri.
"ARGHHH!" Gorgon melolong kesakitan.
Ye Chen mendarat di dada Gorgon, mencabut belati hitam yang dia sembunyikan di pinggangnya.
"Satu tangan patah. Sisa tiga."
Ye Chen bergerak seperti kilat di atas tubuh raksasa itu.
Dia mengiris urat di leher Gorgon, lalu melompat ke belakang kepala makhluk itu.
Gorgon mencoba memukul punggungnya sendiri dengan Gada, tapi Ye Chen sudah pindah. Gada itu menghantam kepala Gorgon sendiri.
BUK!
Gorgon pusing.
"Tidur selamanya."
Ye Chen menempelkan telapak tangannya ke belakang kepala Gorgon.
"Mutiara Penelan Surga... Ekstraksi Vitalitas!"
Kali ini Ye Chen tidak menahan diri. Dia menyedot energi kehidupan Troll itu secara masif.
Tubuh Gorgon yang kekar mulai menyusut dengan cepat. Otot-ototnya layu. Kulit hijaunya menjadi abu-abu.
"Tidaaak... Lemaaah..."
Gorgon jatuh berlutut, lalu ambruk ke tanah. Mati kering.
Ye Chen berdiri di atas mayat raksasa itu. Dia merasakan aliran energi yang deras.
Pemadatan Qi Tingkat 5... Tingkat 6!
Dua tingkat dalam satu pertarungan.
Ye Chen mengangkat tangannya ke arah penonton yang hening.
"Siapa selanjutnya?"
Sorakan meledak. Kali ini lebih keras, lebih gila. Iblis menghormati kekuatan. Dan Ye Chen baru saja menunjukkan dominasi mutlak.
Di tribun VIP, mata Raja Iblis Zagan berbinar.
"Luar biasa. Dia bukan manusia biasa. Dia memiliki teknik hisap darah seperti Ras Vampir Kuno."
Zagan menoleh ke bawahannya.
"Bawa dia ke Kandang Juara. Dia tidak lagi menjadi umpan. Dia adalah calon Raja Gladiator."
Lilith menjilat bibirnya, menatap Ye Chen dengan tatapan penuh minat.
"Manusia dengan teknik iblis... Aku ingin dia di kamarku malam ini, Zagan."
"Sabar, Putri. Biarkan dia matang dulu di arena."
Di bawah sana, Ye Chen berjalan keluar. Dia merasakan tatapan-tatapan itu.
"Rencana berjalan lancar," batin Ye Chen. "Semakin tinggi posisiku, semakin dekat aku dengan kebebasan... dan informasi tentang dunia ini."
Ye Chen kembali ke selnya, bukan sebagai budak rendahan, tapi sebagai predator yang sedang naik daun.
(Akhir Season 2- Bab 3)