NovelToon NovelToon
My People

My People

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Transmigrasi / Tamat
Popularitas:547
Nilai: 5
Nama Author: Mooi Xyujin

Hu Li’an merasa kepalanya seperti akan pecah. Cahaya putih yang menyilaukan dari lampu plafon membuatnya mengerutkan kening.

Lantai yang keras di bawah tubuhnya bukan tempat tidur hotel yang lembut seperti yang dia ingat sebelum pingsan di bak mandi. Udara berbau alkohol dan obat-obatan yang khas rumah sakit membuatnya semakin pusing.

Dia ingat Saat itu dia merasa tenggorokan kering dan tubuhnya tidak berdaya, air mulai memenuhi bak mandi.

"Harusnya aku tenggelam... tapi kenapa aku ada di sini?"

Tiba-tiba pintu ruang inap terbuka perlahan dari luar. Seorang pria tinggi dengan wajah tajam dan mata hitam yang dalam masuk bersama seorang dokter dan perawat.

Pria itu mengenakan jas hitam yang rapi, rambutnya tertata rapi, dan ekspresinya tampak terkejut." Kamu bangun!"

Dokter segera mengarahkan perawat untuk menyiapkan alat pemeriksaan.Pria itu berjalan mendekati ranjang dengan langkah yang mantap, lalu menekan ujung ranjang dengan lembut.

"Kamu bangun..."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooi Xyujin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12. Cemburu

Keempat orang muda itu duduk bersebelahan di meja makan, sambil mengobrol dengan sangat riang dan ringan tentang berbagai hal—mulai dari cerita kuliah hingga rencana kegiatan akhir semester mereka.

Bai Xuning yang tidak terbiasa berbicara saat makan lebih banyak memilih berdiam diri, hanya fokus pada makanan di depannya dan sesekali melihat ke arah Hu Lian.

Tanpa disadari oleh tamu-tamu yang sedang asik berbicara, Bai Xuning sesekali akan mengambil makanan kesukaan Hu Lian dan menaruhnya di mangkuk nasinya dengan hati-hati.

Gadis itu hanya bisa mengerutkan dahi sedikit namun tak berkata apa-apa—dia tidak ingin bertengkar atau membuat suasana tidak nyaman di depan tamunya, jadi membiarkan tindakan pria itu.

Suasana makan semakin meriah ketika mereka mulai bercerita tentang kejadian lucu di kampus. Sampai akhirnya Wen Yang, salah satu teman Qin Cheng, membuka topik baru dengan nada yang penuh semangat.

"Kakak tahu? Ada gadis dari jurusan sastra yang baru saja menyatakan cintanya secara langsung pada Qin Cheng kemarin sore!"ucapnya sambil menunjuk pada Qin Cheng yang langsung menjadi malu dan memukul pundaknya.

"kamu ngomong apa! Cuma sekedar bilang kalau aku baik saja......." kata Qin Cheng dengan wajah memerah, membuat teman-temannya langsung tertawa riang.

Hu Lian juga ikut tertawa dan melihat ke arah Qin Cheng dengan senyum hangat. "Wah sungguh? Kamu pasti merasa bingung kan?"

Bai Xuning yang sebelumnya hanya diam tiba-tiba menepuk meja dengan lembut dan berdiri.

"Aku akan mengambil air untuk semua orang," ucapnya dengan suara yang sedikit lebih keras dari biasanya, lalu berjalan ke arah kulkas dengan langkah yang cepat.

Hu Lian melihatnya pergi dengan ekspresi sedikit bingung. Sedangkan tamu-tamu yang sedang asik berbicara hanya mengangguk dan menerimanya dengan senyum.

Bai Xuning menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Dia melihat tawa Hu Lian yang keluar lebih banyak hari ini dibandingkan beberapa bulan terakhir yang dia ingat.

Hal itu membuat hatinya semakin merasa sesak dan tidak nyaman—dia hanya ingin melihat senyum dan tawa itu hanya untuk dirinya sendiri.Saat ini dia benar-benar menyadari, betapa dalamnya keinginannya untuk memiliki Hu Lian kembali di hidupnya.

Dia kembali ke meja dengan beberapa botol bir dingin yang sempat dia beli di pasar tadi pagi. Tanpa berkata apa-apa, dia membukanya dan mulai meminumnya satu per satu tanpa henti.

Hu Lian melihatnya dengan ekspresi sedikit heran, namun memilih untuk tidak mengganggunya karena tamu masih ada di sana.

Qin Cheng dan teman-temannya pamit pergi pada pukul 7 malam setelah merasa cukup lama mengganggu.

Hu Lian mengantar mereka sampai di pintu dan mengucapkan terima kasih atas kunjungan serta cemilan yang mereka berikan.Setelah itu, dia dan Bai Xuning bekerja sama untuk membersihkan meja makan dan membersihkan peralatan makan yang digunakan.

Saat Hu Lian sedang mencuci tangan di wastafel dapur, tubuh hangat tiba-tiba menempel erat dari belakangnya.

Kemudian kepalanya terasa sedikit berat karena Bai Xuning menaruh dagunya di atas kepalanya dengan lembut.

Tangannya besar juga perlahan-lahan menyentuh tangannya yang masih basah, ikut membantu mencuci tangan mereka berdua dengan air yang mengalir.Hu Lian sedikit terkejut dan mengerutkan keningnya, suara tubuhnya sedikit menggigil karena kedekatan itu.

"Bai Xuning... jangan terlalu jauh..." ucapnya dengan suara pelan namun jelas, penuh dengan rasa ragu dan kebingungan akan apa yang sedang terjadi.

Gerakan Bai Xuning langsung berhenti.

Tangannya yang sedang membantu mencuci tangannya pun berhenti dan tetap berada di sana, sementara napas hangatnya masih menyentuh leher Hu Lian yang membuatnya merasa geli.

Bai Xuning perlahan menarik tangannya kembali dengan hati-hati, lalu menoleh sedikit dengan wajah yang mulai memerah.

"Maaf... aku tidak sengaja melampaui batas,"ucapnya dengan suara yang sedikit terengah dan tidak terlalu jelas.

Hu Lian berbalik menghadapnya tepat saat pria itu sudah menjaga jarak. Dia melihat wajahnya yang kemerahan dan mata yang sedikit mengantuk, membuat alisnya langsung mengerut ke atas.

"..Kamu mabuk?" tanyanya dengan nada yang ragu.Bai Xuning mencoba menyentuh keningnya dengan jempolnya, namun tangannya sedikit goyah. Dia mengangguk perlahan dengan ekspresi yang sedikit canggung.

"Sepertinya ya... aku memang minum terlalu banyak tadi," jawabnya dengan suara yang lebih pelan dari biasanya.

Tanpa berkata apa-apa, Hu Lian mengambil handuk bersih dari rak dekat wastafel dan mengusap tangannya yang masih basah.

Lalu dia mendekat sedikit dan berjinjit untuk menyentuh dahi Bai Xuning dengan telapak tangannya yang dingin."Kamu panas juga...."

Pria itu hanya bisa menatapnya dengan mata yang sudah mulai berat. Saat melihat perhatian yang diberikan Hu Lian padanya, dia tidak bisa menahan diri untuk tidak berkata apa yang ada di dalam hatinya.

"Aku hanya ingin kamu tersenyum seperti itu untukku saja..." bisiknya dengan suara yang hampir tak terdengar, mata matanya tetap terpaku pada wajah gadis itu.

Hu Lian sedikit terkejut mendengarnya, bibirnya sedikit terbuka namun tidak bisa berkata apa-apa.

Dia hanya bisa melihat Bai Xuning yang mulai tampak semakin lembut karena efek alkohol.

Hu Lian mengantar Bai Xuning yang sudah mulai goyah berjalan kembali ke apartemen 022 yang baru dia sewa.

Saat mereka masuk, dia terkejut mendapati kondisi dan tata letak ruangannya sama persis dengan apartemennya sendiri—mulai dari warna cat dinding, letak sofa, hingga susunan peralatan dapur yang mirip.

"Kenapa sama saja kayak apartemen ku?"tanya Hu Lian dengan sedikit bingung sambil membantu pria itu duduk di sofa.

Bai Xuning hanya mengangguk pelan tanpa bisa menjawab dengan jelas.Hu Lian menghela napas dan mengeluarkan jaketnya dengan lembut.

"Kamu mandi dulu Aku akan bikin sesuatu untuk kamu makan," ucapnya dengan nada yang sudah tidak sekeras sebelumnya.

Pria itu mengangguk dengan patuh dan perlahan berdiri untuk masuk ke kamar tidur.

Selama dia berubah pakaian dan mandi, Hu Lian langsung memasuki dapur dan mulai membuat sup mabuk dengan bahan yang dia bawa dari apartemennya—memanfaatkan sisa bahan belanjaan tadi pagi.

Dia memasaknya dengan hati-hati, mengingat sup ini adalah resep yang selalu membuat dia merasa lebih baik saat mabuk.

Beberapa waktu kemudian sup sudah matang dan mengeluarkan aroma yang harum, namun Bai Xuning masih belum keluar dari kamar. Hu Lian mematikan kompor dengan hati-hati dan berjalan ke arah kamar tidur untuk memanggilnya.

Dia mengetuk pintu lembut, namun tak ada jawaban. Saat dia mencoba membukanya, pintu terbuka dengan mudah—tidak dikunci sama sekali.

"Bai Xuning? Sudah selesai mandi? Sup nya sudah siap....," panggilnya dengan suara lembut saat masuk ke dalam kamar.

Namun ranjangnya kosong dan tidak ada tanda-tanda pria itu berada di sana. Hu Lian mulai merasa sedikit tidak nyaman dan berjalan lebih dalam ke kamar. Dia melihat pintu kamar mandi terbuka lebar, dan suara aliran air yang deras terdengar dari dalam.

Tanpa berlama-lama, dia bergegas mendekatinya dan langsung terkejut melihat apa yang ada di dalam—Bai Xuning duduk di lantai kamar mandi di bawah keran air yang masih menyala deras, tubuhnya hanya berpakaian handuk yang sudah basah dan menutupi bahunya.

Matanya kosong dan dia duduk dengan linglung, seolah tidak menyadari apa yang sedang terjadi.

"Hai! Apa kamu lakukan?! Matikan airnya dulu!" teriak Hu Lian dengan cepat, segera memasuki kamar mandi dan mematikan keran air yang membuat lantai penuh dengan genangan air.

Saat keran air akhirnya dimatikan, suara desisan yang mengganggu pun hilang dan hanya tersisa gema basah di kamar mandi.Hu Lian hendak membujuk Bai Xuning untuk berdiri, namun tiba-tiba kaki disentuh oleh tangan yang sangat dingin.

Dia menunduk dengan cepat, hanya untuk melihat Bai Xuning masih duduk di lantai basah dengan wajah kosong. Tangannya yang dingin dan lembap erat menggenggam pergelangan kakinya, membuat Hu Lian merasa sedikit geli dan tidak nyaman.

"Bai Xuning... lepaskan," ucapnya dengan suara lembut namun tegas, mencoba menarik kakinya perlahan. Namun pria itu tidak mau melepaskannya—justru mengeratkan cengkramannya sedikit.

Matanya yang tadinya kosong mulai perlahan melihat ke arah Hu Lian. Ada sesuatu yang terlihat di dalamnya—rasa sakit yang mendalam yang tidak bisa disembunyikan lagi.

"Kenapa kamu tetap tak mau memperhatikanku?" bisiknya dengan suara yang serak dan sangat lemah. "Padahal aku sudah..."

Hu Lian terdiam sejenak, melihat wajah Bai Xuning yang penuh dengan kesedihan membuat hatinya terasa agak tak nyaman.

Dia tidak lagi mencoba menarik kaki nya pergi, melainkan dengan hati-hati jongkok di depan pria itu, meskipun lantai kamar mandi masih basah.

"Aku tidak mengerti apa yang kamu rasakan,"ucapnya dengan suara yang lembut,"tapi kamu tidak perlu menyiksa dirimu sendiri seperti ini. Sudah cukup..."

Bai Xuning masih memegang pergelangan kakinya, matanya mulai merah. "Aku tak bisa melepaskanmu,... tidak bisa..."

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!