NovelToon NovelToon
Gema Yang Tertinggal

Gema Yang Tertinggal

Status: tamat
Genre:Ketos / Pengganti / Tamat
Popularitas:13.6k
Nilai: 5
Nama Author: byyyycaaaa

Selama dua tahun, aku membiarkan dia mencintaiku sendirian. Bagiku, dia hanyalah pengisi waktu luang, sosok yang kehadirannya tak pernah sanggup menggetarkan jantungku. Aku membalas ketulusannya dengan pengabaian, pesan-pesan yang tak pernah kubalas, dan penolakan yang tak terhitung jumlahnya. Puncaknya, aku mengkhianatinya tepat di depan matanya hanya untuk sebuah rasa penasaran sesaat.

Aku pergi saat melihatnya bersama wanita lain, mengira satu tahun menghilang bisa menghapus semua dosa. Namun, takdir memiliki cara kejam untuk mengingatkanku. Di sebuah gedung pencakar langit Jakarta, gema masa lalu itu kembali. Pria yang dulu kusia-siakan kini berdiri tepat di hadapanku sebagai rekan kerja. Sialnya, dia bukan lagi pria hangat yang kukenal; dia adalah orang asing yang menatapku tanpa rasa sedikit pun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17

Mentari pagi mulai menerobos masuk melalui celah gorden ruang observasi IGD, membawa realitas yang harus kuhadapi. Danesha sedang sibuk merapikan tasnya, wajahnya tampak kuyu karena kurang tidur, namun ia masih sempat mengecek botol infusku.

"Aku sudah izin ke kantorku, Na. Aku akan menemanimu di sini sampai kamu boleh pulang," ucap Danesha tegas sembari mengeluarkan laptop dari tasnya.

Aku menggeleng pelan, meski kepalaku masih terasa sedikit pening. "Enggak, Dan. Kamu berangkat kerja saja. Kamu sudah begadang semalaman, jangan sampai kerjaanmu berantakan karena aku."

"Tapi suhu badanmu belum benar-benar normal, Aruna! Bagaimana kalau kamu butuh sesuatu?"

"Ada suster, Dan. Aku juga cuma akan tidur seharian. Kamu pergi saja, ya?" pintaku, suaraku masih serak namun penuh penekanan.

Aku sebenarnya butuh kesendirian. Aku butuh ruang untuk mencerna gema kehadiran Baskara tadi subuh tanpa ada mata yang menyelidiki. Jika Danesha di sini, ia pasti akan terus bertanya-tanya dan membuat rasa bersalahku semakin bising.

Danesha menghela napas panjang, tanda ia kalah berdebat. "Oke, aku berangkat. Tapi janji, kalau ada apa-apa langsung telepon. Aku akan minta izin pulang lebih cepat sore nanti. Aku akan ke sini lagi jam empat untuk jemput kamu kalau dokter sudah kasih izin pulang."

"Iya, Dan. Hati-hati di jalan. Terima kasih ya," lirihku.

Setelah Danesha melangkah keluar dari ruangan, sunyi kembali menyelimutiku. Aku menatap layar ponselku yang mati. Aku ragu untuk menyalakannya. Aku takut melihat notifikasi dari kantor, takut melihat nama Baskara atau Rasya di sana.

Aku memejamkan mata, mencoba mengikuti instruksi dokter untuk istirahat total. Namun, setiap kali aku terlelap, bayangan tangan hangat Baskara yang menyentuh keningku tadi subuh kembali hadir. Mengapa di saat aku sudah memutuskan untuk menganggapnya asing, ia justru hadir dengan cara yang paling meruntuhkan pertahananku?

Aku hanyalah rekan kerja yang menyebalkan, begitulah ia menyebutku di lobi kemarin. Namun, tindakannya di IGD tadi menceritakan gema yang berbeda—gema tentang luka yang belum sepenuhnya kering, dan kepedulian yang ia coba bunuh namun tetap hidup di sela-sela kebenciannya

Pintu geser terbuka pelan, memutus lamunanku tentang subuh tadi. Seorang suster masuk membawa nampan berisi semangkuk bubur hangat dan segelas air mineral yang masih tersegel. Aroma gurih kaldu ayam seketika mengisi ruangan yang semula hanya berbau obat-obatan.

"Selamat pagi, Mbak Aruna. Waktunya sarapan dulu ya sebelum minum obat," ujar suster itu ramah sembari meletakkan nampan di atas meja dorong.

Aku mengerutkan kening. Setahuku, menu sarapan rumah sakit biasanya hambar dan diletakkan dalam wadah plastik standar, namun bubur ini berada dalam wadah stainless steel yang rapi dengan taburan emping dan bawang goreng yang melimpah—persis seperti seleraku.

"Sus, ini dari kantin rumah sakit?" tanyaku ragu.

Suster itu tersenyum kecil sambil merapikan selimutku. "Bukan, Mbak. Tadi ada seorang pria, pakai hoodie hitam, yang menitipkannya di meja perawat. Katanya ini menu favorit Mbak kalau lagi sakit, jadi dia minta kami menyajikannya selagi hangat."

Duniaku serasa berhenti berputar sejenak. Baskara.

Dia tidak benar-benar pergi saat subuh tadi. Atau mungkin, dia kembali lagi setelah Danesha berangkat kerja. Gema masa lalu kembali menghantamku tanpa ampun; dulu, setiap kali aku sakit, dia akan berkeliling Jakarta hanya untuk mencari bubur ayam langgananku karena aku sering mogok makan jika menu rumah sakit tidak enak.

"Pria itu... apa dia bilang sesuatu lagi, Sus?" tanyaku dengan suara yang bergetar.

"Hanya pesan singkat, Mbak. Dia bilang, 'Tolong pastikan dia menghabiskannya, karena dia sering keras kepala kalau soal makan'. Begitu katanya," jawab suster itu sebelum pamit keluar ruangan.

Aku menatap mangkuk bubur itu dengan pandangan yang mengabur. Uap hangatnya menerpa wajahku, namun hatiku justru merasa perih luar biasa. Di saat aku menyangkal keberadaannya di depan Rasya, di saat aku memintanya untuk menganggapku tidak pernah ada, dia justru masih mengingat detail terkecil tentang betapa sulitnya aku jika sedang sakit.

Aku menyuap bubur itu dengan tangan yang gemetar. Rasanya masih sama seperti dulu—hangat dan penuh perhatian. Namun kini, setiap suapannya terasa seperti hukuman. Bagaimana bisa ia masih bersikap sebaik ini pada wanita yang telah membuang ketulusannya selama dua tahun?

Kebaikannya yang tanpa nama ini jauh lebih menyakitkan daripada bentakannya di kantor. Ia tidak butuh pengakuan, ia hanya ingin aku sembuh. Dan itulah yang membuat gema rasa bersalahku semakin bising di tengah keheningan IGD ini.

1
byyyycaaaa
mampir juga di kembali bertemu bukan bersatu yuk 🙏
falea sezi
ada yg baru kah thor
falea sezi
q ksih hadiah
falea sezi
wahh kok end berasa kurang hehe
falea sezi
jangan ada badai lagi y
falea sezi
banyak up berasa kurang nthor suka deh novel mu q ksih hadiah karena novel mu bagus
falea sezi
klo baskara main gila. cerai nah laki. tolol
falea sezi
ulet bulu ini gatel amat ya
falea sezi
ada baby. mocy ya di perut hehe
falea sezi
moga cpet ada bayi thor
falea sezi
rasya mau jd ulet bulu ya jalang
falea sezi
lanjuttt
falea sezi
lanjut donkk mau tau endingnya gimana
falea sezi
resain Aruna klo g bokek resain pergi aja bodoh amat
falea sezi
bas lu jd serakah ya skg aneh biarin Aruna move on lu jg uda punya pcr. egois bgt sih lu
falea sezi
wes bas urus aja pcrmu np ngurusin Aruna behh ne cowo gk bs move on ya lu
falea sezi
resain pergi jauh Aruna jangan nyari sakit sendiri
falea sezi
abis kerjain proyek resain aja runa cari krja lain dan cari cogan lain
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!