Gendis, mantan analis bank BUMN yang cemerlang, kini terjebak dalam hambarnya kehidupan rumah tangga demi menuruti keinginan suaminya, Indra. Lima tahun dedikasinya sebagai ibu rumah tangga justru dibalas dengan sikap dingin dan tekanan terkait ketidakhadiran buah hati.
Keharmonisan palsu itu runtuh saat Indra pulang membawa aroma alkohol dan parfum vanilla murah. Insting tajam Gendis terpicu ketika menemukan sehelai rambut pirang di kerah kemeja suaminya. Meski Indra mengelak dengan kasar, Gendis berhasil membongkar rahasia di ponsel suaminya: Indra berselingkuh dengan seorang pemandu lagu bernama Cindy.
Melihat foto mesra dan panggilan "Daddy" di layar ponsel tersebut, hancurlah harga diri Gendis. Namun, di atas kepedihan itu, muncul amarah yang terkontrol. Gendis bersumpah untuk berhenti menjadi istri yang tertindas. Malam itu, ia mulai menyusun rencana besar untuk merebut kembali jati dirinya dan membalas pengkhianatan Indra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ruby Jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Puncak Obsesi dan Tamparan Realitas
Rasa cemburu adalah racun yang paling lambat bekerja, namun paling mematikan saat sudah mencapai jantung. Bagi Indra, rasa cemburu itu kini telah bermutasi menjadi obsesi yang tidak sehat. Pria yang dulunya merasa sangat aman dengan"kepemilikannya" atas Gendis, kini merasa seperti pencuri di rumahnya sendiri.
Ia merasa kehilangan kendali, dan bagi pria dengan ego setinggi Indra, kehilangan kendali adalah penghinaan terbesar. Pagi itu, alih-alih pergi ke kantor untuk rapat mingguan, Indra memutuskan untuk mengambil risiko. Ia meminjam mobil salah satu staf juniornya, sebuah mobil sejuta umat yang pasaran agar tidak mencolok dan membuntuti mobil Gendis dari jarak yang aman.
Ia melihat istrinya memasuki sebuah gedung kebugaran elit di kawasan SCBD. Indra memarkirkan mobilnya di sudut yang gelap, lalu mengenakan topi baseball dan kacamata hitam. Ia masuk ke area gym, berpura-pura menjadi calon anggota yang sedang melakukan tur fasilitas. Matanya menyisir ruangan yang luas dan berbau aromaterapi mahal itu, hingga ia menemukannya.
Gendis sedang berada di area free weights. Ia mengenakan legging hitam yang membentuk kakinya dan bokongnya dengan sempurna dan atasan tanpa lengan yang memamerkan bahunya yang kini lebih kencang dan berdefinisi. Indra terpaku. Ia jarang melihat Gendis dalam kondisi seperti ini berkeringat namun terlihat sangat segar dan berenergi.
Namun, bukan hanya fisik Gendis yang membuat darah Indra mendidih. Ia melihat bagaimana lingkungan di sekitar istrinya bereaksi. Seorang instruktur pria berbadan atletis mendekati Gendis, memberikan koreksi pada gerakan deadlift-nya dengan sentuhan ringan di punggung bawah yang terlihat sangat profesional namun intim di mata Indra.
Di sudut lain, dua pria bersetelan mahal yang tampak baru saja selesai berlatih, tidak berhenti mencuri pandang ke arah Gendis sambil berbisik-bisik dan tersenyum kagum. Bahkan seorang pria paruh baya yang terlihat seperti konglomerat mapan sengaja memperlambat langkahnya saat melewati Gendis, memberikan anggukan hormat yang dijawab Gendis dengan senyum tipis yang sopan.
"Gila... dia benar-benar menjadi pusat perhatian," gumam Indra di balik maskernya.
Indra tidak menangkap kecurigaan bahwa Gendis sedang berselingkuh.
Ia melihat Gendis tetap menjaga jarak, tidak meladeni godaan secara berlebihan. Namun, justru itulah yang membuatnya semakin ketar-ketir. Gendis terlihat "mahal". Gendis terlihat seperti wanita yang bisa mendapatkan siapa saja yang ia inginkan jika ia mau.
Perubahan fisik yang signifikan ini membuat Indra merasa bahwa ia sedang memegang sebutir permata yang mulai licin dari genggamannya.
Malam harinya, rumah terasa lebih panas dari biasanya. Indra pulang dengan kepala yang penuh dengan bayangan Gendis di gym. Hasratnya yang selama beberapa bulan terakhir ia tumpahkan kepada Cindy, tiba-tiba berbelok arah secara drastis. Ia merindukan istrinya. Ia merindukan otoritasnya atas tubuh Gendis.
Gendis baru saja keluar dari kamar mandi, mengenakan jubah mandi sutra berwarna sampanye. Rambutnya yang basah menebarkan aroma melati yang menenangkan. Saat ia duduk di depan meja rias, Indra mendekat dari belakang. Ia melingkarkan lengannya di bahu Gendis, menciumi leher istrinya dengan kasar.
"Kamu cantik sekali hari ini, Dis," bisik Indra, suaranya parau oleh nafsu yang tertahan.
Gendis memejamkan mata. Untuk sesaat, memori lima tahun pernikahan mereka menyeruak. Sentuhan Indra dulu adalah rumah baginya. Kehangatan tubuh suaminya dulu adalah tempatnya berlindung dari dunia.
Ia sempat terlena, membiarkan jemari Indra membelai wajahnya. Tubuhnya secara biologis merespons sentuhan pria yang telah menemaninya selama setengah dekade.
Namun, saat bibir Indra menyentuh kulitnya, sebuah aroma samar menyerang indra penciumannya.
Bukan aroma vanilla sintetis, namun bayangan tentang apartemen Cindy, tentang tawa murahan wanita itu, dan tentang pengkhianatan yang terjadi hanya beberapa malam lalu langsung menghantam kesadaran Gendis seperti petir.
Jijik.
Satu kata itu bergema di kepalanya. Rasa mual yang hebat muncul dari perutnya. Ia membayangkan bibir yang sekarang menciumnya ini, beberapa jam lalu mungkin sedang menciumi wanita lain.
Ia membayangkan tangan yang sekarang merabanya ini, adalah tangan yang sama yang membiayai kemewahan seorang pelacur dengan uang masa depan mereka. Gendis memberontak. Ia menyentak tangan Indra dengan kekuatan yang mengejutkan.
"Jangan, Mas! Aku sedang tidak ingin!" ujar Gendis dengan nada tinggi, napasnya memburu.
Indra tersentak. Penolakan itu terasa seperti tamparan bagi egonya yang sedang melambung.
"Kenapa, Dis? Biasanya kamu tidak pernah menolak. Apa karena pria-pria di gym itu? Apa karena kamu merasa sudah terlalu cantik untuk suamimu sendiri?"
"Jangan konyol, Mas! Aku cuma lelah!" Gendis berdiri, mencoba menjauh.
"Lelah atau jijik?!" teriak Indra, emosinya meledak. Ia meraih lengan Gendis, mencengkeramnya kuat. "Aku suamimu! Aku punya hak atas dirimu! Kamu berubah sejak mulai ke gym itu. Kamu jadi sombong!"
"Lepaskan, Indra! Kamu menyakitiku!"
Dalam puncak kemarahan dan rasa rendah diri yang menyatu menjadi ledakan impulsif, tangan Indra melayang.
PLAK!
Suara tamparan itu menggema di kamar yang sunyi. Pipi Gendis tertoleh ke samping. Rasa panas menjalar di wajahnya, namun yang lebih panas adalah amarah yang membakar matanya.
Gendis tidak menangis. Ia tidak menjerit histeris seperti wanita yang patah hati. Ia perlahan menoleh kembali ke arah Indra. Tatapannya begitu dingin, begitu tajam, hingga Indra secara naluriah mundur satu langkah. Gendis menatap suaminya seolah-olah pria itu adalah serangga menjijikkan yang baru saja keluar dari selokan.
Tanpa sepatah kata pun, Gendis mengambil bantal dan selimutnya, lalu berjalan keluar kamar dengan langkah yang sangat tenang—ketenangan yang jauh lebih menakutkan daripada badai.
Gendis mengunci diri di kamar tamu. Ia duduk di lantai, menyandarkan punggungnya pada pintu. Tangannya memang sedikit gemetar, namun kali ini bukan karena takut. Ini adalah getaran adrenalin. Ponselnya bergetar di saku jubah mandinya. Pesan dari Baskara.
“Gendis, aku tahu kamu sedang memantau mereka. Jangan lakukan ini sendirian. Aku sudah menyiapkan dokumen yang kamu minta. Balas pesanku, Dis.”
Gendis mengabaikannya. Pikirannya terlalu rumit untuk melibatkan Baskara saat ini. Ia butuh ruang untuk mencerna rasa sakit di pipinya. Rasa sakit yang justru menjadi medali kehormatannya. Dengan tamparan ini, Indra telah memberikan Gendis alasan hukum dan moral paling kuat untuk menghancurkannya tanpa ampun.
Di kamar utama, Indra terduduk di tepi tempat tidur, menatap tangannya sendiri dengan gemetar. Ia menyesal, namun egonya masih mencoba mencari pembenaran. Ponselnya berdering berkali-kali. Nama "Cindy" muncul di layar.
“Sayang, kok nggak bales chat-ku? Aku kangen, aku udah beli baju baru nih buat kamu.”
Indra menyapu notifikasi itu dengan kasar. Untuk pertama kalinya, pesan Cindy terasa hambar. Ia tidak peduli pada wanita itu sekarang. Fokusnya sepenuhnya tercurah pada pintu kamar yang tertutup rapat, pada istrinya yang baru saja ia lukai secara fisik.
Indra mulai menyadari bahwa ia telah melakukan kesalahan fatal, namun ia tidak tahu bagaimana cara memperbaikinya.
Gendis, di balik pintu kamar tamu, menyunggingkan senyum tipis di tengah kegelapan. Ia menikmati posisi ini. Ia menikmati melihat Indra yang mulai kehilangan akal sehatnya, mulai mengabaikan selingkuhannya, dan mulai bertekuk lutut memohon perhatiannya kembali.
"Kamu pikir dengan mencintaiku kembali, semuanya akan selesai, Mas?" bisik Gendis pada sunyi.
Rencana di otaknya sudah matang. Ia tidak akan pergi saat Indra sedang berjaya di pelukan Cindy. Itu terlalu mudah bagi Indra. Ia akan menunggu sampai Indra benar-benar memutuskan hubungan dengan Cindy, sampai Indra menyerahkan seluruh hatinya kembali pada Gendis, sampai Indra merasa bahwa Gendis adalah satu-satunya oksigen dalam hidupnya.
Dan saat itulah, di puncak harapan Indra, Gendis akan menjatuhkannya. Ia akan pergi dengan ketegasan yang akan membekukan darah Indra. Ia akan meninggalkan Indra dengan kehampaan yang sempurna, tanpa istri, tanpa selingkuhan, tanpa harta, dan tanpa harga diri.
Gendis memejamkan mata, membiarkan rasa panas di pipinya menjadi pengingat bahwa masa depannya dimulai malam ini. Ia adalah sang analis, dan ia baru saja menghitung bahwa kehancuran Indra adalah variabel yang pasti terjadi.