MARVA RAVARA adalah seorang pemuda miskin yang hidup di dunia yang memuja status dan kekayaan. Berkat jalur beasiswa, ia dapat bersekolah di sebuah sekolah elit berskala internasional—tempat yang seharusnya membuka jalan untuk masa depannya, justru berubah menjadi neraka baginya.
Di sana, Marva dipandang sebagai noda: dihina, dikucilkan, dan menjadi sasaran perundungan oleh mereka yang merasa lebih “Layak”.
Segalanya berubah ketika Portal Misterius muncul dan menyeret semuanya ke dunia lain. Di hadapan mereka berdiri sebuah Menara Tinggi dan sebuah suara misterius menggema: Siapa pun yang mencapai puncak menara ini akan memperoleh kekuasaan serta keabadian.
Di dalam menara, para siswa dipaksa memilih peran—menjadi Seorang Player yang bertarung demi naik ke puncak, atau menjadi Seorang Guardian yang terikat pada sistem. Demi meraih kebebasan, Marva memilih jalan paling berisiko: Menjadi Seorang Player.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rein.Unknown, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lantai 4, Part 1 [RING OF AQUARIUS]
Setelah berjalan beberapa jam ke arah tenggara, pemandangan mulai berubah. Gua yang tertutup berangsur-angsur terbuka menjadi lembah yang dikelilingi tebing curam. Udara menjadi lebih sejuk, dan suara aliran sungai mulai terdengar sayup-sayup.
“Sepertinya kita sudah dekat dengan Lembah Derus,” gumam Marva sambil melihat peta yang ada dilayar sistem.
Di tengah lembah, sebuah gubuk kayu sederhana terlihat, di depannya terdapat sumur batu yang sudah tua. Seorang kakek berjanggut putih sedang duduk di bangku sambil memandangi gayungnya yang rusak dengan wajah murung.
Red mengernyit. “Itu… NPC yang dimaksud Julian Sensei, kan?”
Kaela mengangguk. “Sepertinya iya. Tapi… dia tidak terlihat seperti NPC. Rasanya seperti manusia saja.”
Marva menghampiri NPC itu. “Permisi Kek, apakah ini Lembah Derus,” sapa Marva sekaligus bertanya.
Kakek itu menoleh. Matanya berbinar meski tubuhnya terlihat rentan. “Oh, Pengunjung. Sudah lama tidak ada yang datang ke sini. Pasti seorang GOT (Guardian of Tower) yang menyuruh kalian kesini kan.”
“Kamu tahu ya Kek?” jawab Marva.
“Kalian bisa memanggilku kakek Dorobo. Aku satu-satunya penghuni di lembah ini. Oh ya, boleh tahu nama kalian?” lanjut Kakek Dorobo.
Mereka lalu memperkenalkan diri masing-masing.
“Aku Red Calder, Role Tank Breaker, lv. 31”
“Aku Kaela Naradis, Assassin/Support, lv. 34”
“Dan Aku Marva Ravara, Warrior/Assassin, lv. 44”
Lalu notifikasi sistem muncul : DOROBO’S QUEST IS ACTIVE
“Terimas kasih sudah berpartisipasi dalam misi ini. Aku tahu, kalian kesini karena ingin mengetahui cara memperbaiki portal menuju lantai 4 bukan,” ucap Kakek Dorobo.
Dengan menyebut nama player, maka Quest otomatis akan aktif. Itulah mengapa, Kakek Dorobo menanyakan nama mereka. Kakek Dorobo juga tahu, kalau Marva adalah SEED OF GOR.
Kakek Dorobo melanjutkan perkataannya: “Gayungku rusak dan sudah bertahun-tahun aku tidak bisa mengambil air dari dalam sumur ini.” Dia menunjuk gayung yang retak di beberapa bagian. “Aku sudah coba perbaiki, tapi butuh bahan khusus. Bahan yang hanya bisa didapat dari monster-monster yang di sekitar lembah ini.”
“Apa saja yang dibutuhkan?” tanya Kaela.
Dorobo mengeluarkan daftar dari saku bajunya:
Adhesive Saliva (10 pcs)
→ Dari Mermaid River di sungai bawah tebing barat.
→ Bisa didapat dengan mengalahkan Fish Flower yang menjaga mata air terjun.
Metal Skin (30 pcs)
→ Dari Crush-di Crab si kepiting raksasa di rawa-rawa sebelah timur.
“Dengan dua bahan itu, aku bisa memperbaiki gayung sekaligus membuat ramuan sihir untuk altar rusak yang ada di safe zone,” jelas Dorobo.
“Berhati-hatilah. Monster-monster itu cukup kuat, tapi dengan lv. kalian saat ini, tentu akan mudah mengalahkan nya.”
“Hehehehehe, itu tahu Kek,” Red tertawa kecil.
Mereka pergi ke sungai tempat Mermaid River berada, sungai itu sangat jernih. Tapi dari dalam air, sosok wanita dengan ekor ikan muncul—Mermaid River, level 18.
Monster itu mulai bernyanyi. Suaranya adalah skill utama mereka, membuat mereka terhipnotis. Walaupun lv. monster itu rendah tapi skill nya sangat ampuh untuk menghipnotis mereka.
- 26
- 25
- 32 (HIT)
Monster mermaid river itu sangat banyak dan terus menyerang mereka, walaupun daya serang sangat kecil, hanya 2-3%. Tapi secara akumulatif itu bisa membuat mereka, sedikit demi sedikit akan semakin dekat dengan kematian.
Setiap menyerang, pergerakan mereka selalu dibatasi. Bertarung dengan kondisi seperti itu membuat Kaela kewalahan.
“Aku tidak bisa bergerak dengan leluasa,” ucap Kaela tertekan.
“Maaf guys, kalau selama ini aku banyak salah dan selalu menjadi beban buat kalian,” Red mulai menangis.
Baru kali ini Marva merasa putus asah, ternyata menghadapi monster berlevel rendah dengan Crowd Control kuat, jauh lebih sulit ketimbang monster dengan level tinggi yang hanya mengandalkan serangan fisik.
Hp mereka mulai berkedip-kedip setelah 2 jam dibombardir oleh Mermaid River.
“Apakah ini akhirnya? Hahahahahaha..... kalah dengan monster seperti ini?” ucap Marva yang tidak percaya dengan situasi mereka saat ini.
Saat Hp Red tersisa 2%. Ia hanya bisa menangis, meratapi detik-detik terakhir hidupnya. “Tolong aku Ma! Aku tidak ingin mati mudah!”
Leo pun tidak berbicara apa-apa, bahkan untuk saat genting seperti ini. Sepertinya Leo dibungkam oleh Debuff parah dari lantai ini.
Memang lantai 3 adalah petaka bagi Leo dan juga buat mereka.
Detik-detik, saat Red akan menjadi korban pertama dan Marva juga tidak bisa berbuat apa-apa. Tiba-tiba sosok misterius yang dari tadi mengikuti mereka muncul.
“Sound Of Barrier!”
Seketika, Marva, Kaela dan Red terbebas dari control para Mermaid River.
“Bagus! Cepat isi darah kalian!” Perintah Marva.
Red dan Kaela langsung mengisi penuh Hp mereka, ternyata sosok itu adalah Meriel.
“Hehehehe..... Sorry lambat guys, kalian terlalu cepat jalannya,” Ucap Meriel.
Marva dan Kaela saling pandang. “Hah, Meriel? Kamu ngapain disini?” tanya mereka kompak.
“Kalian sangat kuat, dan… jujur. Aku lelah jadi solo player. Aku lihat bagaimana kalian bertarung melawan Elrian. Itu bukan sekadar kekuatan, tapi juga kerjasama tim, dari awal akn ingin bergabung dengan guild RRX,” jawab Meriel.
“Hiks, hiks, hiks. Sebagai Wakil Kapten, aku akan menyetujuinya. Kamu penyelamatku Meriel.....!!!” teriak Red yang dari tadi masih menangis.
“Sejak kapan kau jadi Wakil Kapten??!!!” Bantah Kaela.
“Sudah, ini bukan waktu yang tepat berdebat,” potong Marva. “Sekarang kita fokus dulu menghabisi monster sialan ini.”
Mermaid River kembali mengeluarkan nyanyian nya. “Meriel lindungi aku dengan skill mu!” Perintah Marva.
“Oke Cap! Sound of Barrier!”
Marva memanfaatkan momentum. Dengan Sky of Fire yang dikendalikan lebih presisi kali ini, dia menguapkan sebagian sungai dan membuat membuat para mermaid river kelimpungan.
“Red, stun monster-monster itu!” perintah Marva.
Kaela langsung menghilang, muncul di belakang para monster—Shadow Kill.
Mermaid river tumbang satu persatu. Item yang dicari, Adhesive Saliva mulai berjatuhan. Mereka akhirnya mengalahkan semua mermaid river dan mengumpulkan banyak item adhesive saliva.
“Terima kasih, Meriel,” kata Marva. “Kamu betul-betul menyelematkan kami.”
Meriel tersenyum lega.
“Tunggu! Bukan berarti kamu langsung diterima kedalam guild ini, dan buat kamu Red! Selama belum ada kesepakatan dalam Guild maka tidak ada yang boleh mengaku sebagai Wakil Kapten!” tegas Kaela, setengah marah, juga setengah lega.
“Tapikan Marva Ketuanya” bantah Meriel.
Dengan tatapan berkobar-kobar, Kaela melihat Marva dengan penuh intimidasi. Seketika paham maksud nya.
“Eh, maksudnya Nyonya Kaela. Setiap member baru, harus ada tes nya dulu sebelum diterima menjadi anggota guild,” jawab Marva, cari aman.
“Oh gitu, kalau Ketua Guild udah ngomong gitu. Aku sih siap aja,” tanggap Meriel.
Sementara mereka sibuk ngobrol. Mermaid river mulai respawn lagi satu persatu. Red yang masih tersedu-sedu dan merasa trauma dengan monster itu. Lalu lari tanpa aba-aba meninggalkan mereka.
“Kampret si penakut itu, meninggalkan kita begitu saja. Begitu mau jadi wakil kapten?” sindir Kaela.
“Sudahlah Key, Red hampir mati tadi. Item yang kita cari, sudah kita dapatkan. Sebaiknya kita ke lokasi selanjutnya” ucap Marva.
Mereka lalu pergi ke lokasi kedua. Rawa berlumpur, tempat kepiting raksasa berkulit metal berkeliaran—Crush-di Crab, level 21.
Kaela langsung mengambil inisiatif menyerang. “Shadow Kill.”
TING!
Ternyata serangan nya mental. “Seperti mereka punya defense tinggi! Hati-hati!” Kaela memperingatkan.
Meriel kembali membantu mereka. Dia mengaktifkan skillnya Land Prison, menjebak monster itu dalam penjara tanah. Marva tidak menyia-nyiakan kesempatan dan langsung menyerang, Flame Strike terkonsentrasi pada setiap Crush-di Crab, dia membakar semua kepiting itu.
Kepiting itu mengeras, lalu kulitnya pecah. Dari kulitnya, keluar Metal Skin —kulit biru yang bersinar terang.
“Kita dapat!” seru Red yang sudah bahagia kembali.
Kali ini mengalahkan monster Crush-di Crab jauh lebih mudah, tentu itu, berkat bantuan Meriel juga. Mereka lalu kembali pada Kakek Dorobo dan memberikan semua item yang dibutuhkan. Saat mereka telah kembali, Dorobo tersenyum lebar.
“Aku tidak menyangka, kalian akan kembali semua,” ucap Kakek Dorobo.
“Maksudnya Kek?” tanya Kaela.
“Ya kalian tahu, para mermaid itu lebih menyusahkan daripada kepiting yang ada di rawa. Sudah banyak player yang tidak kembali setelah menerima misi ini,” jawab Kakek Dorobo.
“Jadi kau sudah tahu dari awal soal kekuatan para duyung sialan itu?” ucap Red kesal.
“Ya tentu saja,” ucap Kakek Dorobo santai.
Red langsung membanting palunya, tersulut esmosis.“Aku hampir mati gara-gara duyung sialan itu. Kenapa tidak memberikan petunjuk pada kami!”
“Aku hanya mengikuti perintah sistem anak muda,” jawab Kakek Dorobo sambil tersenyum kecil.
Red betul-betul kesal dengan situasi itu tapi Marva melerainya. “Sudahlah Red, setidaknya kita masih selamat dan misi kita sukses.” Lalu Marva memberikan item yang dibutuhkan Sang Kakek. Dengan cepat, dia memperbaiki gayungnya menggunakan Adhesive Saliva sebagai perekat dan Metal Skin sebagai tambalannya.
Setelah gayung siap, ia lalu menimba air dari sumur. Saat gayung diangkat, betapa kagetnya mereka ternyata gayung itu kosong, sumur itu ternyata tidak memiliki air sama sekali. Disini Red semakin mengamuk.
“Dasar kakek sialan! Kami mengerjakan sesuatu yang tidak berguna dan misi itu hampir membunuh kami semua! Biar ku hajar kakek ini sekarang!!!!,” ucap Red yang sudah mengangkat palunya.
Tapi Marva dan Meriel langsung mencegah nya. “Apa kamu gilak! Membunuh NPC menara akan membuat kita berhadapan dengan GOT, tenanglah Red. Pasti ada alasan dibalik semua ini.”
“Betul yang dikatakan Leader,” ucap Meriel yang ikut menenangkan Red.
“Hohohohoho, Cerdas juga kamu Marva. Misi ini memang bukan Single Quest tapi Double Quest,” lanjut Kakek Dorobo. “Banyak player yang terhenti disini karena tidak sabar, kalian butuh hati yang murni serta kebijaksanaan.”
“Kebijaksanaan katamu!” Red terus ngedumel.
“Hohohohoho, aku suka semangatmu anak muda. Mari ikut kedalam rumah,” Kakek Dorobo lalu mengajak masuk kedalam rumah.
Dia lalu membawah mereka menuju kesebuah pintu tua tapi penuh dengan motif-motif misterius ditepinya.
“Pintu ini langsung menuju ke safe zone di lantai 4, naiki lah tangganya untuk segera mencapai lantai 5 agar bisa menghadapi Guardian of Floor (GOF). Setelah mengalahkan nya, kalian akan mendapatkan beberapa item, salah satu dari item itu bisa kugunakan untuk memunculkan lagi air disumur ini,” tutup Kakek Dorobo.
“Apa! Langsung mengarah ke lantai 4?” Kaela memastikan.
“Betul sekali,” jawab Kakek Dorobo.
“Lalu bagaimana kalau kami tidak kembali lagi?” tanya Marva.
“Ah, aku sudah menduganya! Sudah ada yang pernah melakukan itu, kalian akan tahu sendiri jawabannya,” jawab Kakek Dorobo.
Pintu tadi lalu terbuka dan cahaya menghilaukan terpancar dari dalam.
“Oh ya satu lagi, hampir saja aku lupa. Dasar kakek tua, hehehehehe,” kakek Dorobo memberikan sebuah item pada Marva.
“Fragment of AQUARIUS”
[UNKNOWN ITEM]
Cincin Leo lalu bergetar, untuk pertama kalinya, Leo kembali berbicara.
“Sepertinya kita akan memiliki sekutu baru Bos. Tapi dia sangat cerewet”
“Darimana saja kau Leo,” bentak Marva.
Semua orang disekitar Marva kaget. “Ada apa Va,” tanya Kaela.
“Oh nggak Key, aku hanya terlalu bersemangat karena akan menghadapi GOF pertama kali. Hehehehe,” jawab Marva mencari alasan.
Dia lupa kalau mereka bisa berkomunikasi lewat pikiran nya saja.
“Kau tahu kami hampir saja mati!” ucap Marva kesal.
“Kamu tahu Bos, kekuatan ku ditekan habis-habisan disini. Bahkan utnuk berbicara saja akan menguras tenaga dan mana ku.”
Saat mereka sibuk ngobrol. Red yang jaraknya paling dekat dengan pintu tadi langsung tersedot dan berteleportasi ke lantai 4.
“Eh kemana Red,” tanya Marva.
“Dia sudah diteleportasi ke lantai 4,” jawab Kakek Dorobo.
“Apa tanpa aba-aba?” ucap Kaela yang juga tersedot kedalam pintu.
“Anjir, Kaela juga!” Marva Panik. “Kalau gitu kamu deluan Meriel,” perintah Marva.
“Aku boleh ikut?” tanya Meriel.
“Kami butuh kekuatan lebih untuk menghadapi Boss Lantai 5. Sebagai Leader Guild RRX, aku nyatakan kamu menjadi anggota ke-4,” jawab Marva mengkonfirmasi.
“Yahoo......” Meriel kegirangan dan langsung melompat ke dalam pintu itu.
“Marva sisa kamu?” sindir Kakek Dorobo.
“Hehehehehe, sabar Kek. Kamu tahu, banyak yang kami lewati 1 hari ini dann...... tidakkk....!!!! memang kakek sialan.....!!!!!” ternyata Marva ditendang oleh Kakek Dorobo agar masuk kedalam pintu.
Kakek Dorobo hanya tertawa. “Sampai ketemu lagi Sang Pewaris Cincin Dewa.”
[TELEPORTASI KE LANTAI 4]
[BERSAMBUNG]