Dibenci atasan dan rekannya, itulah Rangga. Dia memang seorang polisi yang jujur dan baik, Rangga semakin disukai masyarakat karena paras tampannya.
Inilah kisah Rangga yang siap dan bekerja keras menyelesaikan berbagai kasus kejahatan. Suatu hari sebuah kasus menuntunnya pada titik terang menghilangnya kakak iparnya. Kasus itu juga membawanya kembali bertemu dengan kakak kandungnya. Maka saat itulah Rangga menyusun rencana balas dendam. Ia tak akan peduli dengan siapapun, bahkan atasannya yang bobrok dirinya hancurkan kalau perlu. Bagaimana ceritanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 4 - Tentang Pak Alun
"Halo... Temannya Rangga ya? Aku Astrid, teman SMA-nya Rangga," ujar Astrid sambil tersenyum. Dia dan Beben bersalaman.
"Iya, aku Beben, Mbak. Wah... Nggak nyangka Rangga ternyata punya teman secantik kamu, Mbak!" sahut Beben, full senyum.
"Emang dia nggak pernah cerita ya?" tanya Astrid.
"Mana ada. Orangnya fokus kerja terus. Mana ada mikirin cewek!" jawab Beben.
"Hush! Udah ah kalian. Ini Astrid lagi punya masalah loh. Sebaiknya kita selidiki. Ayo kita ke apartemennya buat cek rekaman CCTV," sergah Rangga.
"Emangnya apartemennya kenapa, Mbak Astrid?" Beben yang tak tahu, lantas bertanya.
"Ada kemungkinan orang yang menguntit Astrid. Puncaknya tadi sore sepertinya penguntit itu masuk ke apartemennya. Tunggu dulu, aku belum sempat tanya, apa ada barang yang hilang setelah kejadian apartemenmu berantakan itu?" tukas Rangga.
"Aku belum memeriksanya. Setelah tahu, aku langsung ke sini karena takut," balas Astrid.
"Tapi kau tidak terlihat takut sama sekali," komentar Rangga dengan dahi yang berkerut samar.
"Itu karena aku bertemu kau!" sahut Astrid.
"Ya sudah, aku akan memeriksa apartemenmu. Ben! Kau jaga kantor ya!" suruh Rangga.
"Biar aku saja yang bantuin Mbak Astrid. Kau yang jaga kantor ya." Beben menolak dengan ekspresi cengengesan.
"Dasar kau! Kalau lihat cewek cantik, baru semangat kerja. Ya udah, pergi sana!" Rangga memilih mengalah.
"Tapi aku..." Astrid maunya Rangga yang membantunya, tapi cowok itu langsung menatap tajam dan mengatakan kalau dia bisa mempercayai Beben.
Dengan berat hati, Astrid pergi bersama Beben. Kala itu Astrid mengajak Beben untuk naik mobilnya saja, karena kebetulan Astrid punya mobil pribadi.
Sementara itu, Rangga berjaga di kantor sendirian. Ia menghabiskan waktunya dengan menyelesaikan beberapa laporan sambil menyeduh kopi.
Saat sibuk bekerja, Rangga teringat dengan pulpen yang ditemukannya. Dia tiba-tiba teringat kalau dirinya pernah melihat pulpen tersebut sebelumnya.
"Dimana ya?" gumamnya berusaha mengingat-ngingat. Sampai nama seseorang terlintas dalam ingatannya. Yaitu Pak Alun. Seniornya yang sudah lama tidak dirinya temui.
Pak Alun adalah orang yang pernah membantu Rangga masuk ke kepolisian. Dia membantu dengan memberi saran positif agar bisa lolos tanpa harus menempuh jalan curang seperti kebanyakan orang.
Namun anehnya sikap Pak Alun berubah saat terakhir kali bertemu Rangga dalam keadaan mengenakan seragam polisi. Pak Alun bersikap seolah marah pada Rangga.
"Ternyata kau sama saja ya seperti yang lain. Aku kecewa."
Itulah kalimat yang dilontarkan Pak Alun terakhir kali. Sedangkan Rangga sama sekali tak mengerti dengan maksudnya. Rangga sendiri merasa tak ada melakukan kesalahan apapun. Sementara kelulusannya saat jadi polisi normal saja dan dirinya ketahui tidak menggunakan uang suap atau jalur orang dalam.
Saat pertemuan terakhir itu, Pak Alun tak sengaja menjatuhkan pulpennya. Rangga yang tahu, sigap mengambilkan. Namun Pak Alun tidak berterima kasih selain memasang wajah cemberut dan berucap, "Pulpen ini terlalu sering jatuh."
Bertepatan dengan itu, ponsel Rangga berdering. Dia mendapat telepon dari Usay. Nampaknya sidik jari di pulpen yang Rangga temukan sudah teridentifikasi.
"Bagaimana?" tanya Rangga
"Aneh. Aku menemukan sidik jari aparat polisi di pulpen itu!" jawab Usay dari seberang telepon.
"Jangan bilang itu sidik jari Pak Alun?" Rangga menebak.
"Loh, bagaimana kau tahu? Ya! Itu sidik jarinya!" seru Usay membenarkan.
"Kalau begitu aku akan mencoba bicara dengannya nanti. Meskipun rasanya tidak mungkin Pak Alun pelakunya," ungkap Rangga. Entah kenapa dia merasakan firasat buruk.
"Tapi masalahnya, Ga. Aku baru dengar dari temanku kalau Pak Alun udah nggak masuk kerja selama beberapa hari."
"Apa?!" Rangga kaget.
"Setelah dipikir-pikir, umur dan perawakannya hampir mirip dengan mayat yang kita--"
"Nggak! Nggak mungkin! Aku nggak akan menyimpulkan sebelum mayat itu benar-benar sudah teridentifikasi!" potong Rangga.
"Aku tahu. Aku hanya menduga. Aku harap tidak seperti yang aku pikirkan. Nanti aku kabari lagi," pamit Usay. Dia mematikan telepon lebih dulu.
..._____...
*Btw guys, aku mau curhat, kalau aku dari kecil tinggal dekat lingkungan kantor polisi. Jadi aku tahu banget gimana mereka. Mereka tuh ada yang baik dan ada yang licik. Dan nama Alun sendiri terinspirasi dari polisi yang aku kenal. Beliau udah meninggal saat bertugas di desa pegunungan karena dibacok warga. Ini hal tak terduga yang pernah aku alami dalam hidupku sih. Apalagi Pak Alun ini rumahnya persis di sebelahku. Beliau baik banget, salah satu polisi yang baik menurutku. Semoga beliau sudah tenang di sisinya. Amin...
udahlah gk mau aku jodoh"in lg,kumaha km we lah rangga rek dua" na ge teu nanaon,kesel
Untuk Dita & Astrid harus nyadar diri bahwa cinta tak harus memiliki & harus merelakan bahwa mereka berdua adalah masa lalu bukan masa depan Rangga & mereka berdua harus nyadar diri mereka gak bersih kelakuanya = Rangga 😄