Di malam ketika hujan mengguyur tanpa ampun, Raya diusir dari rumah yang dulu ia sebut surga. Suaminya menolak kehadirannya hanya karena ia tak mampu memenuhi harapan keluarga—seorang anak laki-laki. Dengan hati hancur dan tubuh gemetar, Raya berjalan tanpa tujuan hingga akhirnya tersungkur di trotoar. Di ambang putus asa, sebuah mobil berhenti di depannya. Pria asing bernama Arya menawarkan sesuatu yang terdengar tak masuk akal: sebuah pernikahan pura-pura sebagai solusi bagi masalah mereka masing-masing.
Arya membutuhkan seorang istri untuk meredam tekanan keluarganya, sementara Raya membutuhkan tempat berlindung dari dunia yang telah menolaknya. Tanpa cinta, tanpa janji manis, hanya sebuah kesepakatan dingin yang mengikat dua jiwa terluka. Namun di balik perjanjian tanpa perasaan itu, perlahan mereka mulai menemukan kehangatan yang tak direncanakan. Dari hubungan yang semula sekadar sandiwara, tumbuh benih perasaan yang menguji batas antara kewajiban dan cinta sejati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29
Setelah Daffa pergi meninggalkan ruangan dengan wajah penuh kekecewaan dan pikiran yang berkecamuk, suasana kamar rawat Laras mendadak sunyi. Suster yang tadi masuk membawa bayi pun cepat-cepat pamit keluar, menyisakan Laras yang masih duduk lemah di ranjang, Bu Rina yang berdiri canggung, dan Lestari yang bersandar di dinding dengan tangan terlipat dan senyum sinis di wajahnya.
Laras mengelus pelan kepala bayinya yang terlelap di pelukannya. Matanya mulai basah, bukan karena lelah melahirkan, tapi karena perih yang tak bisa diungkapkan oleh kata-kata. Ia mendongak menatap Bu Rina yang sejak tadi diam.
"Mama... percaya sama aku, kan? Ini... ini benar-benar anak Daffa. Aku nggak pernah macam-macam, Ma. Aku jaga kehormatan aku. Aku jaga Daffa..." Ucap Laras dengan suara bergetar.
Bu Rina hanya menatap lelah ke arah Laras, tidak menjawab langsung. Ada keraguan di sorot matanya, meskipun ia mencoba menahan wajahnya tetap netral.
Lestari yang sejak tadi menyimak hanya tersenyum miring. Ia melangkah pelan mendekat ke sisi ranjang, lalu bersuara dengan nada mencibir:
"Hah. Dari awal juga aku udah bilang, keluarga ini tuh nggak pernah bisa milih perempuan yang benar. Yang satu bekas, yang satu berpura-pura. Mau ditaruh di mana muka keluarga Hartawan kalau sampai ketahuan?"
Laras menatap tajam, "Maksud kamu apa, Les?! Apa kamu bilang barusan?!"
Lestari menatap tajam balik, nada suara meninggi, "Maksud aku, kamu itu sama aja kayak si Raya. Sama-sama perempuan yang cuma bisa cari kesempatan. Yang satu buang batu, eh dapatnya sampah. Yang satu merasa bisa main akting kayak bidadari, padahal isinya... ah, semua juga tahu!"
Nafas Laras memburu, matanya berkaca-kaca, "Aku tahan semua hinaan kamu, Les. Tapi jangan kamu samakan aku dengan orang yang bahkan kamu sendiri udah singkirkan dari keluarga ini! Kamu bukan suci, dan kamu bukan siapa-siapa buat nilai hidup orang lain!"
Lestari mendekat, membisik tajam,
"Bilang aja, kamu panik, kan? Panik karena Daffa udah mulai mikir. Kamu pikir kami ini bisa dibodohin? Salah besar. Keluarga Hartawan itu bukan orang bodoh. Kamu boleh menipu Mama, tapi kamu nggak bisa menipu semuanya."
Laras bergetar, "Aku nggak menipu siapa pun! Aku setia! Aku cinta Daffa! Anakku ini... anak Daffa, darahnya! Jangan seenaknya nuduh!"
Lestari menyeringai, lalu menoleh ke Bu Rina,
"Tuh, Ma. Dengar sendiri, kan? Katanya cinta. Tapi lucunya, anaknya lahir dua bulan lebih awal dari perkiraan. Apa itu bukan tanda tanya besar?"
Bu Rina berteriak, memijit pelipis, "Diam! Dua-duanya diam! Mama capek dengar kalian berdua bertengkar kayak anak kecil! Ini rumah sakit, bukan pasar!"
Lestari masih bersuara tajam, "Aku pulang. Tapi sebelum aku pergi, aku cuma mau bilang satu hal, Laras. Jangan pernah anggap keluarga ini bisa dibohongi. Cepat atau lambat, semuanya bakal terbongkar. Kalau kamu bohong, bersiaplah buat diusir seperti sampah."
Laras menggenggam bayinya, suara gemetar tapi tegas, "Silakan keluar, Lestari. Tapi ingat satu hal, aku nggak takut sama kamu. Yang salah pasti akan terungkap, tapi yang benar juga nggak akan selamanya diinjak. Jangan kamu pikir kamu juga benar ya."
Lestari menatap tajam, lalu membalikkan badan dan berjalan keluar dengan langkah cepat. Bu Rina hanya bisa duduk di kursi dekat jendela, menghela napas panjang. Matanya sedikit redup, pikirannya campur aduk.
Sementara itu, Laras memeluk erat bayinya, berbisik lirih, "Lihat saja, aku akan balas semua penghinaanmu. Mungkin bukan aku yang menghinamu tapi aku akan buat orang lain yang akan menghinamu."
Menjelang esok, suasana pagi itu begitu hangat di ruang keluarga keluarga Harun Atmajaya. Sinar matahari menelusup dari sela jendela, menerangi meja makan tempat Bu Atika dan Pak Harun duduk santai menikmati teh hangat. Raya duduk di sofa, mengenakan dress longgar berwarna pastel, tangannya mengelus perut yang semakin membesar. Arya duduk di sampingnya, matanya sesekali mencuri pandang ke arah Raya dengan senyum kecil.
"Pa, Ma" ujar Arya membuka percakapan dengan nada penuh pertimbangan. "Aku ada rencana... mungkin sedikit spontan."
Pak Harun mengangkat alis, menoleh ke arah putranya. "Rencana apa lagi, Arya?"
Arya menoleh ke Raya sejenak, lalu kembali memandang orang tuanya. "Aku ingin mengajak Raya liburan. Sebelum hari persalinan tiba. Mungkin sekadar liburan singkat, ke tempat yang tenang. Biar pikirannya lebih rileks."
Raya sontak menoleh ke Arya, lalu ke arah mertuanya. Pipinya merona. "Tapi... saya hanya mau ikut kalau Bapak dan Ibu juga ikut. Saya dan Arya belum muhrim, tidak baik kalau pergi berdua..."
Bu Atika dan Pak Harun saling pandang, lalu sama-sama tersenyum lebar. Bu Atika tertawa kecil, lalu bangkit dari kursinya.
"Ya Allah, anak zaman sekarang masih menjaga hal begini. Ibu senang dengarnya," ucap Bu Atika sambil menghampiri Raya dan menepuk pelan lututnya. "Kalau begitu, kita ikut. Liburan kecil, kenapa tidak? gimana Mas?" Tanya Bu Atika pada suaminya.
Pak Harun mengangguk mantap. "Iya, setuju. Lagipula, Mama kalian ini juga butuh angin segar, biar nggak nonton sinetron terus di rumah."
Raya tertawa pelan mendengarnya, wajahnya sumringah. Ia menoleh ke Arya yang tersenyum lebar, tampak puas karena idenya diterima semua orang. Tiba-tiba perut Raya bergerak pelan, membuatnya sedikit tersentak.
"Eh..." Raya terkekeh. "Sepertinya anak ini juga ikut senang. Dia... dia bergerak. Kayak lagi bersorak girang."
Bu Atika langsung refleks membungkuk dan mengelus perut Raya dengan penuh kelembutan. Sentuhannya penuh kasih, matanya berbinar.
"Aduh cucuku... senang ya mau diajak jalan-jalan? Nanti kita cari tempat yang banyak udara segar ya, biar kamu nyaman di perut Mama," ucap Bu Atika pelan sambil mengelus pelan.
Raya menunduk, matanya berkaca-kaca melihat kelembutan mertuanya. Tak pernah ia sangka akan mendapat kasih sayang sebesar ini dari seorang ibu yang bukan kandungnya. Ia menggenggam tangan Bu Atika erat.
"Terima kasih, Bu..." bisiknya.
"Ah, jangan lebay kamu, Ra," Arya menyelipkan godaan kecil di tengah suasana haru, membuat semua tertawa kecil. Tapi sebelum tawa itu benar-benar reda, suara ponsel Arya mendadak berbunyi nyaring. Ia merogoh saku dan melihat layar ponselnya.
"Irsyad," gumam Arya lalu menjawab panggilan.
"Ya, Syad? Oh iya, rapat jam satu? Aduh iya, aku hampir lupa. Oke-oke, aku segera ke kantor."
Arya mematikan panggilan dan bangkit dari sofa, merenggangkan badan.
"Sepertinya aku harus siap-siap ke kantor. Tapi rencana liburan tetap jalan, ya? Nanti malam kita diskusikan mau ke mana," katanya dengan senyum semangat.
"Jangan lupa pulang cepat," sahut Bu Atika sambil menatap tajam namun hangat.
"Siap, Bu!" jawab Arya dengan gaya tentara memberi hormat, lalu melirik Raya. "Dan kamu, jangan galau-galau di rumah. Si kecil bisa ikut stres nanti."
Raya tertawa pelan. "Iya, iya. Pergi sana, kerja yang rajin."
Arya berjalan keluar sambil terus melambaikan tangan ke arah keluarganya. Suasana rumah kembali hangat, namun kini dibalut harapan akan hari-hari yang lebih membahagiakan di depan sana.
Setelah meninggalkan rumah dengan senyum yang masih tersisa di wajahnya karena kehangatan keluarga tadi, Arya tiba di kantor dengan langkah cepat. Bangunan megah itu berdiri kokoh di tengah hiruk-pikuk kota. Begitu melangkah masuk, aroma khas ruangan ber-AC dan suara ketikan cepat dari para staf langsung menyambutnya.
Arya membuka pintu ruang rapat pribadinya dan mendapati Irsyad sudah menunggunya di dalam, duduk dengan beberapa berkas di tangan.
"Pagi, Pak Bos," sapa Irsyad sambil berdiri, menyodorkan map coklat.
"Pagi. Kamu datang lebih awal," sahut Arya sembari meletakkan tas kerjanya di atas meja.
Irsyad mengangguk, lalu mencondongkan tubuhnya sedikit, menunjukkan ekspresi serius. "Siang ini ada pertemuan dengan calon pemegang proyek besar kita. Bos pasti tahu siapa saja yang akan datang..."
Arya mengernyit pelan. "Termasuk... Daffa?"
Irsyad mengangguk pelan, matanya meneliti ekspresi Arya. "Iya. Daffa akan hadir. Dia termasuk salah satu pemilik perusahaan konstruksi yang ikut tender. Dan sepertinya dia cukup ambisius untuk menang."
Arya menghela napas panjang, kemudian membalik tubuh, berjalan menuju jendela besar yang menyuguhkan pemandangan kota. Tangannya menyelip ke saku celana, matanya menatap keluar dengan dalam.
"Belum saatnya dia tahu siapa aku sebenarnya..." ucap Arya dengan nada datar namun mengandung makna dalam.
Irsyad maju satu langkah. "Tapi proyek ini milik Bapak Dan Bapak yang mengatur semua dari awal. Kalau Bapak terus sembunyi-"
Arya membalikkan badan dengan cepat, menatap Irsyad tajam namun tenang. "Irsyad..." tangan kanannya terangkat sedikit, memberi isyarat untuk berhenti bicara. "Kita sepakat. Semuanya akan berjalan sesuai rencana. Dan untuk itu, identitasku tidak boleh terbuka dulu. Biar Daffa pikir dia masih berdiri paling atas."
Irsyad menatap rekannya itu lama, lalu akhirnya mengangguk pelan. "Baik... aku yang hadiri pertemuan siang ini. Aku akan bilang aku pemimpinnya. Tapi Pak Bos tahu, Daffa bukan orang bodoh. Dia bisa saja mulai curiga."
Arya kembali duduk di kursinya, jari-jarinya mengetuk-ngetuk pelan meja kaca. Senyum miring muncul di sudut bibirnya.
"Biarkan dia curiga. Rasa penasaran akan membuatnya menggali lebih dalam... dan pada waktunya, saat semua topeng terlepas, dia akan tahu siapa yang selama ini dia remehkan. Tapi saat itu, dia sudah terlambat."
Irsyad duduk di hadapannya, menyandarkan punggung ke kursi. "Bu Raya tahu tentang semua ini?"
Arya menggeleng. "Belum. Aku tidak ingin dia terlibat konflik yang belum tentu dia siap hadapi. Fokusnya sekarang hanya pada kehamilannya dan kebahagiaannya. Itu yang utama. Setelah dia melahirkan dan mulai terlibat, baru aku akan beritahu permainannya dna mengakhiri permainan itu."
Irsyad mengangguk pelan, memahami maksud Arya. "Oke. Jadi siang ini, aku yang mewakili. Dan jika Daffa tanya tentang Bapak?"
"Bilang saja aku sedang di luar kota untuk survey lahan proyek berikutnya. Jangan beri informasi lebih dari itu."
Irsyad terkekeh, walau dalam hati dia tahu permainan ini penuh risiko. "Pak Bos ini benar-benar main catur. Semua pion sudah Bapak siapkan."
Arya menatap Irsyad dengan tatapan tenang namun tajam. "Karena ini bukan sekadar bisnis, Syad. Ini tentang harga diri, keadilan... dan masa depan seseorang yang pernah dia hancurkan."
"Dan sekarang, orang itu adalah sesuatu yang sangat berarti buat Bapak, hehehe."
"Cepat kerja, nggak kebanyakan nyengir."
"Siap Pak Bos."
Irsyad lalu keluar dari ruangan Arya Dnegan senyum yang masih tersisa usai meledek bosnya itu.
Menjelang siang, sinar matahari menyelinap melalui tirai jendela kaca ruang kerja Arya. Di hadapannya, layar laptop menampilkan jalannya rapat yang sedang berlangsung di ruang konferensi utama kantor. Kamera memperlihatkan deretan para calon pemegang proyek, termasuk Daffa, yang tampak sangat aktif melempar pertanyaan-pertanyaan tajam.
Arya duduk tegak, mengenakan kemeja putih yang sedikit tergulung di lengannya. Sorot matanya tajam, memperhatikan setiap gerak-gerik Daffa yang duduk di ujung meja rapat. Arya tahu, Daffa sedang mencoba membaca arah permainan. Pertanyaan-pertanyaannya tidak sekadar formalitas bisnis, tapi seperti ingin menguliti siapa sebenarnya pemilik proyek yang katanya "baru tapi ambisius" ini.
Belum sempat ia mengalihkan perhatian dari layar, suara dering ponsel memecah konsentrasinya. Di layar tertera nama Mama.
Arya mengernyit, keningnya berkerut. "Kenapa Mama menelepon sekarang? Bukankah beliau tahu aku ada rapat siang ini?"
Dengan cepat, ia menggeser ponsel ke telinga dan menjawab, "Assalamualaikum, Ma? Ada apa?"
Di seberang, terdengar suara Bu Atika yang terdengar panik namun berusaha tetap tenang.
"Arya... Nak, kamu bisa cepat ke rumah sakit sekarang?"
Arya langsung bangkit dari duduknya, merasa hawa panas menyelimuti tubuhnya.
"Rumah sakit? Ada apa, Ma?!"
"Raya... dia terjatuh di taman belakang. Awalnya kami pikir hanya keseleo, tapi... dia mulai pendarahan. Sekarang sedang ditangani dokter."
"Astaghfirullah?!" Arya tersontak kaget, membuat salah satu staf yang lewat di luar ruangan terhenti.
"Kami sudah di rumah sakit sekarang, Nak. Tapi Mama mohon, kamu cepat ke sini. Raya butuh kamu."
Tanpa menutup laptop atau mematikan sambungan rapat, Arya langsung menyambar kunci mobil dan jasnya.
"Saya ke sana sekarang, Ma. Tolong temani dia terus. Jangan biarkan dia sendiri!"
Arya keluar dari ruangannya dengan langkah besar dan wajah yang mengeras menahan cemas. Di lift, napasnya mulai tak teratur. "Bagaimana ini bisa terjadi? Bukankah semua orang di rumah tahu betapa pentingnya kondisi Raya sekarang?"
"Kenapa bisa sampai dia jatuh?!" desisnya pelan, giginya terkatup rapat. Rasa marah dan panik bertaut di dadanya. Ia bahkan tak sadar kalau tangannya gemetar saat menggenggam setir mobil.
Perjalanan menuju rumah sakit serasa lebih lama dari biasanya. Di sepanjang jalan, pikirannya dipenuhi kemungkinan buruk. Bagaimana kalau terjadi sesuatu dengan kandungan Raya? Bagaimana kalau anak mereka-
"Astaga... Raya... bertahanlah..." gumamnya, sambil menginjak pedal gas lebih dalam.
Setibanya di rumah sakit, Arya hampir melompat dari mobil sebelum berhenti sempurna.
Dia berlari ke dalam dengan napas memburu, melewati deretan pasien dan keluarga pasien di ruang tunggu, hingga akhirnya melihat Bu Atika dan Pak Harun berdiri cemas di depan ruang IGD.
"Ma! Pa!" serunya.
Bu Atika dan Pak Harun langsung menoleh dan menyambut Arya yang masih ngos-ngosan. "Sudah masuk ke ruang periksa. Dokter masih di dalam," jelas Bu Atika dengan suara gemetar.
"Apa yang sebenarnya terjadi, Ma? Kenapa dia bisa jatuh?" tanya Arya, suaranya bergetar antara marah dan takut.
"Dia sedang jalan-jalan di taman belakang. Papa dan Mama masuk sebentar karena ada tamu datang. Kami kira aman. Tapi dia... dia terpeleset di tangga batu taman."
Arya mengepalkan tangan. "Ini ceroboh, Ma. Kandungannya sudah besar, kenapa biarkan dia sendirian?! Harusnya ada pelayan yang menemaninya," ucap Arya dengan penyesalan.
Bu Atika terdiam, wajahnya menunduk. "Mama minta maaf..."
"Nggak Ma, Mama nggak salah. Sebelum ke kantor harusnya para pelayan aku peringati untuk terus menjaga Raya."
Arya menghembuskan napas panjang.
Kemarahan dan penyesalan bercampur aduk.
Namun di balik amarahnya, dia hanya ingin tahu satu hal apakah Raya dan bayinya baik-baik saja?
Beberapa menit kemudian, dokter Santi yang selalu mengontrol kehamilan Raya keluar dari ruang periksa. Arya langsung menghampiri.
"Dokter! Bagaimana kondisinya?"
Wajah dokter Santi itu terlihat tegang dan membisu.