Hafiz mengira dunia ada dalam genggamannya. Harta, tahta, dan wanita pemuja dusta menjadi santapan hariannya. Ia terperosok dalam kubangan kesombongan, lupa bahwa ia adalah seorang lelaki yang seharusnya menjadi pelindung.
Namun, badai datang meruntuhkan segalanya. Di titik nadir saat semua orang meninggalkannya, ia menemukan sebuah oase bernama Zahra. Wanita yang kesuciannya terjaga, yang doanya menembus langit, dan yang hatinya menjadi tempat persembunyian terakhir bagi Hafiz dari kejahatan dirinya sendiri.
"Maafkan kebodohanku yang tak bisa membimbingmu, Zahra. Izinkan aku belajar menjadi imam, meski langkahku penuh noda."
Mampukah Hafiz menjaga amanah saat jarak memisahkan dan masa lalu kembali menagih janji? Akankah doa Qurrata A'yun menyatukan mereka dalam cinta yang direstui penduduk langit?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gibrant Store, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PENGHIANATAN
Hafiz mencoba menelepon kembali, namun nomor itu kembali tidak aktif.
Hafiz melempar ponselnya ke dinding hingga hancur berkeping-keping, sama seperti perasaannya saat ini.
Dunia Hafiz seolah melambat. Suara bising di lobi kantornya terdengar seperti dengung lebah yang menyiksa telinga.
Ia merangkak menuju mejanya, mencoba mencari dokumen lain yang mungkin bisa menyelamatkannya, namun pikirannya sudah buntu.
Ia menatap kosong ke arah pintu, di mana Siska—sekretaris yang biasanya penurut—berdiri dengan napas tersengal-sengal.
Tangannya yang memegang flashdisk bergetar hebat, sementara matanya memerah menahan tangis.
Tiba-tiba, pintu ruangannya terbuka kembali. Kali ini bukan Pak Suno, bukan juga Robi.
Tiga orang pria dengan seragam batik resmi dan beberapa orang berseragam polisi masuk dengan langkah tegas.
Hafiz menatap mereka dengan tatapan kosong, tubuhnya lemas tak bertenaga untuk sekadar berdiri.
"Saudara Hafiz?" tanya salah satu pria yang membawa map berlogo lembaga hukum negara.
Hafiz hanya bisa mengangguk pelan, lidahnya terasa kelu untuk mengeluarkan satu kata pun.
Pria itu membuka mapnya dan membacakan sebuah dokumen yang membuat telinga Hafiz berdenging hebat.
"Kami dari tim penyidik. Berdasarkan bukti permulaan yang sah, kami harus melakukan pemeriksaan terkait dugaan penggelapan dana publik dan tindak pidana pencucian uang..."
Polisi di belakang pria itu mulai melangkah maju ke arah Hafiz yang masih terduduk di lantai.
"Ikut kami sekarang ke kantor pusat untuk dimintai keterangan lebih lanjut."
Hafiz menatap borgol yang dikeluarkan oleh salah satu petugas polisi, benda perak yang berkilau itu tampak sangat menakutkan di bawah lampu ruangan.
Ia menoleh ke arah jendela, melihat langit Jakarta yang cerah namun terasa sangat gelap baginya.
Tepat saat tangan polisi itu hendak menyentuh lengannya, sebuah suara di lobi luar terdengar berteriak histeris, membuat semua orang di ruangan itu menoleh.
"Tunggu! Bapak nggak bersalah! Robi yang menjebak semuanya!" teriak Siska lagi, suaranya parau menembus kerumunan polisi.
Penyidik senior berseragam batik itu mengerutkan kening, memberi kode pada anak buahnya untuk berhenti sejenak.
"Siapa Anda? Dan apa maksud dari pernyataan Anda ini?" tanya penyidik itu dengan nada mengintimidasi.
"S-saya Siska, sekretaris Pak Hafiz. Saya punya rekaman percakapan Robi di telepon beberapa menit yang lalu sebelum dia menghilang memutuskan kontak telepon!"
Hafiz merasa setitik harapan muncul di dadanya yang sesak, namun itu hanya sesaat.
Polisi itu mengambil flashdisk dari tangan Siska, lalu menatap Hafiz dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Kita akan periksa ini di kantor pusat. Untuk sekarang, Saudara Hafiz tetap harus ikut kami," tegas sang petugas.
"Tapi saya nggak melakukan apa-apa! Robi yang mengurus semua akses keuangan!" teriak Hafiz, suaranya pecah di antara kepanikan.
Dua orang petugas berpakaian preman maju, mencengkeram lengan Hafiz dengan kuat hingga ia meringis kesakitan.
"Jangan kasar! Saya bisa jalan sendiri!" bentak Hafiz, mencoba mempertahankan sisa-sisa harga dirinya yang sudah hancur lebur.
Lantai marmer yang biasanya ia lalui dengan langkah angkuh, kini terasa begitu dingin saat ia digiring menuju lift.
Di sepanjang lorong, puluhan karyawan berdiri mematung, menatap bos mereka dengan tatapan yang beragam.
Ada yang kasihan, namun lebih banyak yang mencibir, seolah-olah mereka memang sudah menunggu hari kejatuhan sang raja sombong.
"Lihat itu, si paling hebat akhirnya kena batunya juga," bisik seorang staf yang dulu sering Hafiz bentak karena hal sepele.
Hafiz hanya bisa menunduk, menyembunyikan wajahnya yang pucat pasi di balik pundak petugas polisi.
Begitu sampai di lobi bawah, puluhan wartawan sudah menunggu seperti kawanan hiu yang mencium bau darah segar.
Cekrek! Cekrek!
Kilatan lampu kamera membutakan mata Hafiz, sementara pertanyaan-pertanyaan tajam menghujam telinganya tanpa henti.
"Pak Hafiz! Benarkah Anda menggelapkan dana reklamasi untuk membiayai gaya hidup mewah Anda?"
"Benarkah Anda menggunakan asisten Anda sebagai kambing hitam dalam kasus ini?"
Hafiz tidak menjawab, ia terus ditarik paksa masuk ke dalam mobil hitam yang sudah menunggu di depan gedung.
Di dalam mobil yang pengap, Hafiz menyandarkan kepalanya ke kaca jendela, menatap gedung kantornya yang semakin menjauh.
Gedung yang ia bangun dengan keringat dan ambisi, kini terasa seperti penjara yang baru saja memuntahkannya.
"Kenapa diam saja? Tadi di kantor sangat berisik," sindir salah satu petugas yang duduk di sampingnya.
Hafiz hanya diam, pikirannya terbang ke wajah Robi yang tersenyum dingin saat meneleponnya tadi.
Bajingan kamu, Rob! Aku anggap kamu adik sendiri, tapi kamu malah tusuk aku dari belakang! umpatnya dalam hati.
Sesampainya di kantor kepolisian pusat, Hafiz langsung digiring ke sebuah ruangan interogasi yang sempit dan remang-remang.
Hanya ada satu meja, dua kursi besi, dan sebuah lampu gantung yang cahayanya berayun-ayun menciptakan bayangan menyeramkan.
Ia dibiarkan duduk sendirian di sana selama hampir dua jam, sebuah teknik psikologis untuk meruntuhkan mentalnya.
Hafiz menatap tangannya yang diletakkan di atas meja besi, ia baru menyadari bahwa ia masih memakai jam tangan seharga tiga miliar.
Jam itu kini terasa seperti beban yang sangat berat, seolah ingin menarik pergelangan tangannya jatuh ke lantai.
Pintu terbuka dengan suara derit yang memilukan, masuklah pria penyidik tadi bersama seorang pengacara yang Hafiz kenal.
"Pengacara Heru? Bagus kamu datang! Cepat urus jaminan saya, saya ingin pulang sekarang!" perintah Hafiz dengan nada memerintah yang masih kental.
Heru, pengacara yang sudah dibayar miliaran rupiah oleh Hafiz setiap tahunnya, justru duduk dengan wajah datar.
"Maaf, Pak Hafiz. Situasinya tidak sesederhana itu sekarang," ucap Heru sambil membuka tas kerjanya.
"Apa maksudmu? Kamu pengacara terbaik, kan? Cepat lakukan sesuatu!"
"Bukti-bukti yang ada di meja penyidik sangat memberatkan Anda. Tanda tangan digital, jejak IP dari komputer ruangan Anda..."
"Itu palsu! Siska punya buktinya, dia bawa flashdisk tadi!" potong Hafiz dengan nada tinggi.
Penyidik itu tertawa hambar, lalu meletakkan sebuah laporan di depan Hafiz dengan gerakan pelan.
"Kami sudah memeriksa flashdisk tersebut. Isinya kosong, Saudara Hafiz. Hanya ada virus yang merusak data di dalamnya."
Mata Hafiz melotot. Ia seolah tersambar petir di siang bolong. Kosong? Bagaimana mungkin?
"Siska... dia nggak mungkin bohong. Dia sekretaris saya!" gumam Hafiz, suaranya mulai bergetar karena ketakutan yang nyata.
"Atau mungkin, sekretaris Anda juga bagian dari rencana ini? Untuk memberikan harapan palsu agar Anda terlihat semakin bersalah?" tanya si penyidik tajam.
Hafiz menggelengkan kepalanya dengan cepat, pikirannya benar-benar kacau dan buntu.
"Tidak mungkin... ini semua pasti mimpi. Saya mau bangun sekarang!" teriaknya sambil memukul meja besi itu.
"Heru tolong saya jangan diem aja! Kamu sudah saya bayar miliaran? Cepat lakukan sesuatu!"
Hendra, sang pengacara, berdiri dan merapikan jasnya dengan gerakan yang sangat tidak sopan di mata Hafiz.
"Maaf, Pak Hafiz....!