NovelToon NovelToon
Istriku Ratu Iblis Dunia Murim

Istriku Ratu Iblis Dunia Murim

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mafia / Time Travel / Cintapertama
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: PENALIAR

Kang Yun-seo, seorang pemuda biasa dari dunia modern yang doyan main game, tiba-tiba terbangun di dunia Murim yang penuh intrik dan seni bela diri. Ia dipanggil oleh Hwang Yehwa, ratu iblis yang sekarat akibat pengkhianatan, dan kini kehilangan kekuatannya, berubah wujud menjadi manusia biasa. Untuk bertahan di wilayah manusia yang memusuhi iblis, Yun-seo harus berpura-pura sebagai suaminya. Dengan pengetahuan modernnya, Yun-seo beradaptasi di akademi pedang, menghadapi turnamen, konspirasi gelap, dan bangkitnya kekuatan iblis, sambil menumbuhkan ikatan tak terduga dengan ratu dingin itu. Sebuah kisah isekai penuh aksi, komedi, dan romansa di antara dua dunia yang bertabrakan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20: NAGA LAUT

Yun-seo terbangun dengan rasa hangat di sekujur tubuh.

Ia berada di dalam gua, terbaring di atas tumpukan kulit binatang. Di sampingnya, Yehwa duduk bersila, matanya terpejam—bermeditasi. Api unggun di dekatnya membuat suhu gua cukup hangat.

"Akhirnya sadar." Suara asing membuat Yun-seo menoleh.

Seorang wanita tua dengan rambut putih panjang duduk di sudut, memegang cangkir teh. Matanya tajam, penuh kebijaksanaan.

"Siapa..." Yun-seo berusaha bangkit, tubuhnya masih lemas.

"Hwang Eun-young. Tetua Kelima Dinasti Iblis." Wanita itu tersenyum. "Yang Mulia sudah cerita banyak tentangmu."

Yehwa membuka mata, tersenyum melihat Yun-seo sadar. "Kau tidur dua hari. Demam tinggi."

Yun-seo meraba dahinya. "Masih panas?"

"Sudah turun. Ramuan Tetua bekerja."

Yun-seo menghela napas lega. Lalu ingat sesuatu. "Kau panggil aku lewat telepati?"

Yehwa mengangguk. "Kekuatanku cukup untuk itu sekarang." Ia mendekat, duduk di sampingnya. "Maaf, harus menarikmu ke sini."

"Ngga apa-apa. Aku lebih takut kau di sini sendirian." Yun-seo meraih tangannya. "Jadi, apa rencananya?"

Yehwa menjelaskan tentang Cincin Kekaisaran di Laut Timur, dijaga Naga Laut. Yun-seo mendengarkan dengan saksama.

"Naga Laut? Naga beneran?"

"Bukan naga seperti di dongeng. Makhluk kuno, setengah naga setengah iblis. Penjaga pusaka." Yehwa menatapnya. "Berbahaya."

Yun-seo menghela napas. "Kapan kita berangkat?"

Yehwa tersenyum. "Besok. Kau istirahat dulu."

---

Malam harinya, Hwang Eun-young memanggil mereka berdua.

"Sebelum kalian pergi, aku punya sesuatu." Ia mengeluarkan dua benda—sebuah gelang perak dan sebuah kalung dengan batu biru.

"Gelang ini untukmu, Yun-seo. Ia akan melindungimu dari air dan dingin di dasar laut." Ia menyerahkan gelang itu. "Kalung ini untuk Yang Mulia. Batu di dalamnya menyimpan kekuatan Tetua Pertama—bisa digunakan sekali untuk serangan dahsyat."

Yehwa menerima kalung itu dengan hormat. "Terima kasih, Tetua."

"Jangan berterima kasih dulu. Pakai dengan bijak." Eun-young menatap mereka bergantian. "Aku sudah tua. Tidak bisa ikut bertarung. Tapi aku percaya kalian bisa."

Yun-seo membungkuk hormat. "Kami tidak akan mengecewakan."

Eun-young tersenyum. "Pergi. Dan kembali dengan selamat."

---

Pagi harinya, mereka berangkat menuju Laut Timur.

Perjalanan dari Pegunungan Es ke Laut Timur memakan waktu lima hari dengan kuda. Yehwa dan Yun-seo melewati hutan, padang rumput, dan desa-desa kecil. Di setiap desa, mereka berhenti untuk beristirahat dan membeli perbekalan.

Yun-seo heran melihat Yehwa berinteraksi dengan penduduk desa. Ratu iblis itu tersenyum ramah, berbicara sopan, membantu anak-anak yang penasaran. Tidak ada yang curiga bahwa wanita cantik ini adalah penguasa iblis yang ditakuti.

"Kau pintar akting," komentarnya suatu malam di penginapan.

Yehwa mengangkat bahu. "Ini bukan akting. Aku memang seperti ini dulu—sebelum jadi ratu."

"Ceritakan."

Yehwa diam sebentar. Lalu mulai bercerita tentang masa kecilnya—tentang ibunya yang penyayang, tentang tetua-tetua yang mengajarinya, tentang bagaimana ia bermain di taman istana sebelum semuanya berubah.

"Aku baru iblis pertama yang mendengar cerita masa kecilmu," gumam Yun-seo.

"Karena kau satu-satunya yang bertanya."

Mereka berdua diam, saling pandang. Lalu tersenyum.

---

Hari kelima, mereka tiba di desa nelayan di pesisir timur.

Desa itu kecil—hanya sekitar lima puluh rumah panggung di tepi pantai. Nelayan-nelayan sibuk memperbaiki jala, wanita-wanita menjual ikan di pasar. Udara asin dan suara ombak menyambut mereka.

Yun-seo meregangkan tubuh. "Akhirnya sampai."

Yehwa mengamati laut lepas. Ombak besar bergulung, langit biru cerah. Tapi di kejauhan, ada kabut hitam—tidak wajar, seperti menutupi area tertentu.

"Itu dia," bisik Yehwa. "Wilayah Naga Laut."

Mereka mencari informasi dari nelayan setempat. Seorang kakek tua bercerita tentang legenda Naga Laut.

"Konon, di dasar laut sana ada istana kuno. Dijaga oleh makhluk setengah naga. Siapa pun yang mendekat, kapalnya tenggelam." Ia menggeleng. "Kami tidak pernah berani ke sana."

Yun-seo bertanya, "Ada cara masuk tanpa kapal?"

Kakek itu berpikir. "Mungkin... menyelam dari tebing karang di utara. Tapi itu bunuh diri. Ombaknya keras, arusnya kuat."

Yehwa dan Yun-seo bertukar pandang. Mereka tidak punya pilihan.

---

Keesokan harinya, mereka pergi ke tebing karang di utara.

Tebing itu menjulang tinggi—sekitar lima puluh meter di atas laut. Ombak menghantam batu karang dengan dahsyat, busa putih di mana-mana.

Yun-seo menelan ludah. "Kita... loncat dari sini?"

Yehwa mengangguk. "Gelangmu akan melindungi. Aku bisa terbang setengah jalan."

"Tapi—"

"Kau takut?"

Yun-seo menarik napas. "Takut. Tapi lebih takut kehilangan kau."

Yehwa tersenyum. "Pegang tanganku. Kita lompat bersama."

Mereka berpegangan tangan. Lalu melompat.

Udara berdesing, laut mendekat cepat. BYUR! Mereka masuk ke dalam air dengan keras. Yun-seo merasakan gelangnya bersinar—tubuhnya dikelilingi gelembung udara, ia bisa bernapas.

Di bawah air, pemandangan berubah. Terumbu karang warna-warni, ikan-ikan berenang. Tapi di dasar, terlihat bayangan besar—istana kuno.

Mereka berenang turun. Semakin dalam, semakin gelap. Cahaya dari permukaan mulai hilang, digantikan cahaya biru dari batu-batu bercahaya di dasar.

Istana itu megah—gaya kuno, dengan pilar-pilar tinggi dan ukiran naga di mana-mana. Di pintu gerbang, dua patung naga besar berjaga.

Saat mereka mendekat, patung itu bergerak.

Mata batu mereka menyala merah. Tubuh batu mereka merekah, memperlihatkan sisik hitam di bawahnya. Naga Laut—hidup.

"Manusia dan iblis," suaranya menggema. "Apa urusan kalian di sini?"

Yehwa maju, menunjukkan Pedang Naga Iblis. "Aku Hwang Yehwa, ratu Dinasti Iblis. Aku datang untuk mengambil Cincin Kekaisaran."

Naga itu mengamati pedang itu. Lalu tertawa—suara berat mengguncang air.

"Ratu iblis yang lemah? Kau pikir aku akan menyerahkan pusaka begitu saja?"

Yehwa mengangkat pedangnya. "Kalau perlu, aku ambil paksa."

Naga itu mengaum. Pertarungan dimulai.

---

Naga Laut menyerang dengan kekuatan dahsyat.

Ekor besarnya menyapu, menghancurkan pilar-pilar batu. Api biru menyembur dari mulutnya—panas, bahkan di dalam air. Yehwa menghindar, pedangnya menebas, tapi sisik naga itu terlalu keras.

Yun-seo berusaha membantu. Cincinnya bersinar, perisai merah melindungi dari serangan-serangan kecil. Tapi ia tidak bisa mendekat—suhu di sekitar naga terlalu panas.

"Aku tahan dia, kau cari cincin!" teriak Yehwa.

Yun-seo mengangguk, berenang cepat ke dalam istana. Di dalam, gelap. Hanya cahaya dari cincinnya yang menerangi jalan. Ia melewati ruangan demi ruangan, mencari altar atau tempat penyimpanan.

Di ruang terdalam, ia menemukannya. Altar batu, di atasnya sebuah bantal sutra merah—dan di atas bantal itu, Cincin Kekaisaran. Lingkaran emas dengan batu hitam besar.

Yun-seo meraihnya. Tapi saat tangannya menyentuh, suara naga menggema di seluruh istana.

"Pencuri!"

Naga itu meninggalkan Yehwa, berenang cepat ke dalam. Matanya merah menyala menatap Yun-seo.

"Manusia berani sentuh pusaka? MATI!"

Api biru menyembur. Yun-seo mengangkat perisai—BRAK!—perisai itu pecah. Api menerjangnya, tapi gelang pemberian Eun-young bersinar, melindunginya.

Yehwa datang dari belakang. Dengan seluruh kekuatan 50%, ia menusukkan pedangnya ke leher naga—titik lemah.

Naga itu menjerit, terhuyung. Tapi tidak mati. Ia berbalik, menyerang Yehwa dengan ganas.

Yun-seo melihat Yehwa terdesak. Tanpa pikir panjang, ia memakai cincin itu—Cincin Kekaisaran—di jarinya.

Seketika, kekuatan mengalir deras ke tubuhnya. Bukan ki, tapi sesuatu yang lebih. Kekuatan kuno, kekuatan pusaka.

Cincinnya bersinar—bukan merah, tapi emas. Dan Yun-seo merasakan tubuhnya bergerak sendiri. Ia melesat, menabrak naga itu dengan kekuatan luar biasa.

Naga itu terpental, jatuh ke dinding istana. Sisiknya retak.

"Apa... kau manusia atau iblis?" erangnya.

Yun-seo tidak tahu jawabannya. Tapi cincin itu terus bersinar, memberinya kekuatan.

Yehwa mendekat, terkejut. "Kau... bisa menggunakan pusaka?"

"Aku... tidak tahu caranya. Tapi terasa... alami."

Naga itu bangkit, siap menyerang lagi. Tapi sebelum bergerak, ia berhenti. Matanya menatap Yun-seo—bukan dengan amarah, tapi takjub.

"Cincin Kekaisaran... memilihmu." Suaranya berubah, lebih lembut. "Manusia, kau bukan manusia biasa. Ada sesuatu dalam dirimu... sesuatu yang kuno."

Yun-seo bingung. "Apa maksudmu?"

Naga itu tidak menjawab. Ia hanya menundukkan kepala.

"Aku tidak akan lawan kau lagi. Cincin itu telah memilih. Ambil pusaka itu, dan pergilah." Ia menatap Yehwa. "Ratu iblis, kau beruntung punya pendamping seperti dia."

Naga itu berbalik, berenang menjauh, meninggalkan mereka berdua di istana yang hancur.

Yun-seo dan Yehwa bertukar pandang. Tidak ada yang mengerti apa yang baru saja terjadi.

---

Mereka naik ke permukaan dengan Cincin Kekaisaran di jari Yun-seo.

Di pantai, mereka duduk kelelahan. Matahari mulai terbenam, mewarnai langit jingga.

"Apa yang dikatakan naga itu?" tanya Yehwa. "Sesuatu yang kuno dalam dirimu?"

Yun-seo menggeleng. "Aku tidak tahu. Mungkin cincin ini salah pilih?"

"Cincin Kekaisaran tidak pernah salah pilih." Yehwa menatapnya tajam. "Ada rahasia dalam dirimu, Yun-seo. Rahasia yang bahkan kau sendiri tidak tahu."

Yun-seo merenung. Ia ingat masa kecilnya yang biasa—orang tua bekerja, sekolah biasa, game biasa. Tidak ada yang istimewa.

Tapi mungkin... ada sesuatu yang tidak ia ketahui?

"Kita cari tahu nanti," katanya akhirnya. "Sekarang, kita punya pusaka keempat."

Yehwa mengangguk, tersenyum. "Empat pusaka. Tinggal tiga lagi."

Mereka berdua menatap laut, tempat naga itu kembali ke dasar. Misteri baru terbuka—tentang Yun-seo, tentang asal-usulnya, tentang kenapa cincin memanggilnya.

Tapi untuk saat ini, mereka hanya bersyukur masih hidup—dan bersama.

---

1
Amiera Syaqilla
hello author😄
Q. Zlatan Ibrahim: halo juga terimalasih sudah mampir
total 1 replies
Manusia Biasa
emang manusia kadang lebih dari iblis
Q. Zlatan Ibrahim: seringkali
total 1 replies
Manusia Biasa
wkwkw ngakak gua baca sandiwaranya, lucu🗿😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!