Aku punya segalanya, tapi aku tidak punya hak atas hatiku sendiri."
Juliet adalah putri mahkota dari kerajaan bisnis properti yang hidup dalam sangkar emas. Baginya, bunga adalah satu-satunya teman yang tidak pernah menghakimi. Namun, dunianya jungkir balik saat ia mempekerjakan Gaara, tukang kebun misterius dengan tatapan sedingin es namun memiliki sentuhan tangan yang ajaib pada tanaman.
Saat benih cinta mulai tumbuh di sela-sela duri mawar, Adam—tunangan sempurna dari masa lalu—datang menagih janji pernikahan. Di tengah kecemburuan Vina yang licik dan tekanan keluarga, Juliet harus memilih: Menjadi mawar indah di dalam vas kaca milik Adam, atau tumbuh liar dan bahagia di tanah bersama Gaara?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabana01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15: NYANYIAN AIR DI PERUT BUMI
Malam di Puncak tidak pernah benar-benar sunyi sejak buldoser Adam datang. Suara deru mesin diesel dari bukit sebelah terdengar seperti geraman monster yang tak pernah kenyang, kontras dengan kesunyian dingin yang menyelimuti rumah tua Wijaya. Namun, di balik dinding Ivy yang tebal, di dalam taman rahasia yang hanya diterangi oleh dua buah senter kepala, Juliet dan Gaara sedang melakukan sesuatu yang lebih dari sekadar menggali tanah. Mereka sedang memanggil kembali urat nadi kehidupan mereka.
"Hati-hati, Juliet. Tanah di sini agak gembur karena rembesan air hujan semalam," bisik Gaara, tangannya yang berlumuran lumpur meraih pinggang Juliet untuk menyeimbangkannya saat gadis itu hampir terpeleset di lubang galian.
Juliet menghapus peluh di dahinya dengan punggung tangan yang kotor. "Aku tidak apa-apa, Gaara. Lihat, batunya mulai terasa lembap. Kita sudah dekat, kan?"
Gaara berjongkok, menempelkan telinganya ke dinding batu yang tertutup lumut kerak. Ia memejamkan mata sejenak, mengabaikan kebisingan konstruksi Adam di kejauhan. Di sana, jauh di dalam kegelapan perut bumi, ia mendengar suara halus—seperti bisikan ribuan jarum yang jatuh ke atas sutra. Gemericik air.
"Kita menemukannya," ucap Gaara dengan binar mata yang mengalahkan cahaya senter.
Ia mengambil linggis beratnya, menghujamkan ujung besinya ke celah batu yang ditunjuk dalam peta jurnal ibu Juliet. Duar! Suara hantaman besi ke batu bergema di ruang sempit itu. Setelah beberapa kali hantaman yang presisi, dinding batu itu retak. Seulas aliran air jernih menyembur keluar, membasahi sepatu boots mereka dan segera mengisi parit kecil yang telah mereka siapkan.
Juliet tertawa kecil, sebuah tawa yang penuh dengan kelegaan luar biasa. Ia berlutut di depan aliran air itu, menciduknya dengan kedua telapak tangan dan membasuh wajahnya. Air itu terasa sedingin es, namun sangat menyegarkan.
"Airnya hidup, Gaara! Adam bisa menutup sumur bor di atas sana, tapi dia tidak bisa menghentikan sungai yang mengalir di bawah kakinya!"
Gaara meletakkan linggisnya, napasnya memburu karena kelelahan namun wajahnya tampak sangat puas. Ia menatap Juliet yang sedang kegirangan di bawah cahaya rembulan yang menembus celah pepohonan. Gadis itu tampak sangat liar dan cantik dengan noda lumpur di pipinya dan rambut yang sedikit acak-acakan.
"Juliet," panggil Gaara lembut.
Juliet menoleh, matanya berbinar menatap pria yang telah memberinya keberanian untuk bermimpi kembali. Gaara melangkah mendekat, menarik Juliet berdiri hingga tubuh mereka bersentuhan. Suasana di taman rahasia itu mendadak berubah. Aroma tanah basah dan wangi mawar Golden Hope yang mulai mekar di malam hari menciptakan atmosfer yang begitu intim.
Gaara merangkul pinggang Juliet, menariknya masuk ke dalam pelukan yang protektif namun lembut. Ia menunduk, menatap bibir Juliet yang masih basah oleh air sungai kuno itu.
"Kau tahu? Setiap kali aku melihatmu berjuang seperti ini, aku merasa seperti pria paling beruntung di dunia," bisik Gaara. Tangannya yang kasar mengusap pipi Juliet, menghapus sisa noda lumpur di sana dengan ibu jarinya.
"Kenapa begitu?" tanya Juliet dengan suara yang nyaris hilang tertiup angin malam.
"Karena kau bisa saja memilih hidup nyaman di Sydney bersama Adam. Kau bisa saja memiliki segala kemewahan itu kembali hanya dengan satu kata 'ya'. Tapi kau memilih untuk berkubang lumpur bersamaku di sini."
Juliet tersenyum, menyandarkan kedua tangannya di pundak tegap Gaara. "Kemewahan itu palsu, Gaara. Itu hanya sangkar emas yang membuat sayapku mati rasa. Di sini, bersamamu, meski tanganku kapalan dan kakiku penuh lumpur, aku merasa benar-benar terbang."
Gaara tidak lagi berkata-kata. Ia merunduk, memperpendek jarak di antara mereka. Saat bibir mereka bertemu, ciuman itu terasa berbeda dari sebelumnya. Ada rasa syukur yang mendalam, ada janji yang lebih kuat dari beton Adam, dan ada gairah yang membakar dinginnya malam Puncak. Ciuman mereka terasa seperti air yang baru saja mereka temukan: murni, kuat, dan menghidupkan.
Juliet memejamkan mata, membiarkan dirinya tenggelam dalam dekapan Gaara. Di tengah peperangan melawan raksasa korporat, di tengah ancaman sabotase, momen ini adalah oase yang mereka butuhkan. Gaara mencium leher Juliet dengan lembut, membuat gadis itu mendesah pelan, merapatkan tubuhnya seolah ingin menyatu dengan kekuatan pria itu.
"Apapun yang terjadi besok," bisik Gaara di sela ciumannya, "aku akan tetap di sini. Menjagamu, menjamin mawar-mawarmu tetap mekar."
Juliet menarik napas panjang, menghirup aroma maskulin Gaara yang menenangkan. "Kita akan menang, Gaara. Kita punya bumi di pihak kita."
Keesokan paginya, kejutan besar menanti para pekerja Adam.
Si pria necis, orang kepercayaan Adam, berdiri di perbatasan pagar dengan wajah merah padam. Ia melihat ke arah perkebunan Juliet yang seharusnya sudah mulai layu karena kekeringan. Namun, yang ia lihat justru pemandangan yang mustahil: mawar-mawar di sana berdiri tegak, kelopaknya segar berembun, dan sistem irigasi pancur buatan Gaara bekerja dengan sangat lancar, menyemprotkan air jernih ke seluruh area.
"Bagaimana mungkin?!" teriak pria itu pada anak buahnya. "Kita sudah menutup akses air dari hulu! Dari mana mereka dapat air sebanyak itu?"
Juliet keluar ke teras, mengenakan topi cap dan memegang segelas teh hangat. Ia melambaikan tangan dengan santai ke arah pria itu, persis seperti gaya provokasi yang dilakukan pria itu kemarin.
"Selamat pagi! Ingin segelas air segar?" teriak Juliet dengan nada mengejek yang elegan. "Mata air kami sepertinya punya pendapat berbeda soal proyek hotel kalian. Mungkin tanah di sini memang tidak suka pada beton."
Gaara muncul di samping Juliet, menyilangkan tangan di dada. Ia menatap ke arah mesin bor raksasa Adam yang tampak berhenti bekerja karena masalah teknis—yang tentu saja merupakan hasil dari "gangguan kecil" yang dilakukan Gaara pada instalasi kabel luar mereka di tengah malam tadi.
Pria necis itu menggeram, segera meraih ponselnya untuk melapor ke Australia. "Tuan Adam... kita punya masalah besar di sini. Mereka... mereka menemukan sumber air lain. Dan mesin bor kita mengalami sabotase."
Di seberang telepon, Adam terdiam cukup lama. Suara deru napasnya terdengar berat. "Hancurkan pipa-pipa mereka. Jika mereka punya air, buat air itu tidak berguna. Dan pastikan Juliet tahu, ini baru permulaan dari 'neraka' yang aku janjikan."
Malam berikutnya, teror Adam meningkat. Bukan lagi sabotase halus, tapi serangan fisik. Beberapa orang tidak dikenal mencoba menerobos masuk ke area pembibitan dengan membawa cairan kimia berbahaya untuk merusak akar mawar Golden Hope.
Namun, Adam lupa satu hal. Gaara adalah pria yang tumbuh di jalanan sebelum ia mengenal tanaman. Ia telah memasang jebakan-jebakan kecil di sepanjang pagar—bukan yang mematikan, tapi cukup untuk membuat penyusup itu berteriak kesakitan dan lari terbirit-birit.
Juliet terjaga sepanjang malam, duduk di ruang tamu dengan lampu dimatikan, memegang jurnal ibunya. Ia menyadari sesuatu yang tertulis di halaman terakhir jurnal itu, sebuah catatan kaki yang selama ini ia lewatkan.
"Mawar Golden Hope hanya akan mengeluarkan potensi penuhnya jika ditanam di tanah yang pernah mengalami kebakaran. Karbon dari sisa api adalah nutrisi rahasianya."
Juliet menatap ke luar jendela. Ia melihat titik-titik api kecil di kejauhan, di lahan proyek Adam. Tampaknya mereka sedang membakar sisa-sisa tebangan pohon untuk mempercepat pembersihan lahan.
"Gaara," panggil Juliet saat pria itu masuk ke rumah untuk memeriksa keadaan. "Adam ingin membakar semangat kita, tapi dia tidak sadar... dia justru sedang memberikan apa yang mawar kita butuhkan."
Juliet menunjukkan catatan itu. Gaara membacanya dan tersenyum sinis. "Jadi, dia ingin bermain api? Mari kita biarkan dia membakar lahannya sendiri, sementara kita mengambil abunya untuk kemenangan kita."
Namun, di tengah rencana itu, sebuah ancaman baru muncul. Sebuah surat resmi dari pengadilan negeri sampai di tangan mereka pagi itu. Adam tidak hanya menggunakan kekerasan, ia menggunakan hukum. Gugatan atas sengketa lahan rumah Puncak itu telah diajukan, mengklaim bahwa tanda tangan penyerahan aset dari Pak Wijaya kepada Juliet adalah palsu karena dilakukan saat Pak Wijaya dalam kondisi kesehatan mental yang tidak stabil.
"Dia ingin mengambil rumah ini secara legal," ucap Juliet dengan tangan gemetar memegang surat itu.
Gaara memeluk Juliet dari belakang, memberikan kekuatan melalui sentuhannya. "Dia bisa menggugat rumahnya, Juliet. Tapi dia tidak bisa menggugat apa yang ada di bawah tanahnya. Kita punya waktu dua minggu sebelum sidang pertama. Dalam dua minggu ini, kita harus membuat mawar 'Golden Hope' ini mekar secara massal dan memperkenalkannya ke dunia."
Juliet berbalik, menatap mata suaminya (secara batin). "Bagaimana caranya?"
"Pameran Bunga Internasional di Jakarta minggu depan," jawab Gaara. "Kita akan bawa mawar ibumu ke sana. Jika publik sudah jatuh cinta pada bunga ini, Adam tidak akan berani menyentuh rumah ini tanpa memicu kemarahan publik. Kita akan jadikan mawar ini sebagai perlindungan kita."
Di tengah kepungan beton dan ancaman hukum, Juliet dan Gaara mempersiapkan langkah terbesar mereka. Mereka akan keluar dari kegelapan lembah menuju cahaya panggung, membawa harapan emas yang telah lama tersembunyi di balik dinding Ivy.
...****************...