"Apakah kamu pernah merindukan seseorang yang bahkan wajahnya saja tidak pernah kamu lihat?"
Alexian hanyalah seorang perantau yang terjebak dalam rutinitas membosankan sebagai resepsionis Love Hotel di Tokyo. Baginya, cinta sudah lama mati sejak pengkhianatan di masa lalu membuatnya menjadi pria yang tumpul rasa.
Namun, sebuah mimpi aneh mengubah segalanya. Seorang wanita, jembatan taman, dan guguran sakura yang terasa begitu nyata.
Mona menyebutnya Yume no Kakehashi.
Jembatan Impian yang Mengambang. Sebuah mitos Jepang tentang dua jiwa yang saling mencari. Alexian menemukan seutas pita berwarna jingga di pagar jembatan itu. Kini, Alexian harus memilih tetap hidup dalam realitasnya yang aman namun sepi, atau mengejar bayangan senja di mata seorang wanita yang mungkin hanya ada dalam mimpinya.
Apakah Alexian bakal bertemu dengan wanita itu atau semua hanya kebetulan dalam mimpi?
Apa arti dari pita yang ia dapat di celah pagar jembatan itu?
Simak kelanjutannya ya! :)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rexxy_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4: Mencari Jawaban dibalik Lensa
Malam itu, Langit Shinjuku tertutup awan mendung, tapi didalam kamar apartemenku yang sempit, cahaya hanya berasal dari ponsel ku yang menyala terang.
Aku merebahkan tubuhku di tempat tidur tanpa memikirkan pakaianku yang sudah menumpuk seakan memintaku mencucinya malam itu juga.
Fokusku hanya satu: wajah samar wanita didalam foto itu.
Jariku gemetar saat mencoba zoom maksimal.
Piksel demi piksel pecah, namun senyumnya terasa nyata. Senyum yang seolah berkata:
"Akhirnya kau menemukanku".
Aku merogoh saku, mengeluarkan pita jingga yang aku ambil dan aku simpan baik baik di saku Overcoatku dan meletakkannya di atas ponselku yang menyala. Warna iris matanya menyatu sempurna dengan Pita yang Aku temukan di Jembatan taman itu.
"Siapa kamu sebenarnya? " bisikku pada kesunyian malam.
Aku teringat masa-masa ketika aku merasa Tokyo adalah penjara beton yang dingin. Tempat di mana semua orang berjalan cepat tanpa pernah saling menoleh. Tapi sekarang, dengan pita ini di tanganku, Tokyo terasa nggak asing lagi buatku, kayaknya kota ini punya rahasia yang hanya aku yang tau jawabannya. Aku tidak lagi merasa seperti orang asing. Aku merasa seperti seseorang yang sedang memiliki janji penting yang harus ditepati.
Aku mematikan lampu kamar, membiarkan kegelapan memelukku. Sambil mengikat layaknya gelang pita jingga itu di pergelangan tangan kanan, aku menutup mata dengan senyum yang nggak bisa aku tahan. 'Sampai jumpa di sana,' bisikku pelan pada kesunyian.
Kali ini, aku tidak takut untuk tidur, karena aku tahu senja yang indah sedang menungguku di balik mimpi.
Ikatan pada pita di dipergelangan tanganku perlahan melonggar seiring napas yang mulai teratur, namun jiwaku justru terasa semakin terikat kuat. Seolah-olah pita itu adalah seutas tali yang menarikku menembus ruang dan waktu.
Dinginnya AC kamar perlahan berganti menjadi hembusan angin sore yang hangat. Saat aku membuka mata di balik kelopak yang terpejam, aku tahu aku tidak lagi berada di atas tempat tidur yang keras. Aku sudah berdiri di sana, di ujung jembatan kayu itu, menunggu langkah kakinya mendekat.
"Bukankah aku tadi ada di tempatku tidur? Mengapa aku ada di sini?" bisikku lirih.
Suaraku seolah tertelan oleh hembusan angin yang membawa guguran bunga sakura. Aku menoleh ke belakang, namun kamar apartemenku yang sempit telah lenyap, digantikan oleh hamparan taman yang bermandikan cahaya emas senja yang abadi.
Pemandangan di depanku membuat jantungku seolah berhenti berdetak. Di sana, tepat di tengah lengkungan jembatan merah, berdiri sosok yang selama ini menghuni tidurku.
Kali ini aku melihat wajahnya dengan jelas.
Wanita itu. Dia tidak menyadari kehadiranku. Ia tampak sibuk dengan jemarinya yang lentik, menyelipkan selembar pita jingga di celah pagar kayu jembatan persis di titik tempatku menemukan pita itu di dunia nyata tadi sore. Gerakannya begitu tenang, hampir seperti sebuah ritual suci.
Lalu, ia mulai berbicara. Suaranya lembut, namun bergetar oleh sesuatu yang terdengar seperti harapan sekaligus kesepian. Kalimat yang keluar dari bibirnya sama persis dengan bisikan yang kudengar saat aku menyentuh pita itu:
"Aku tinggalkan pita jinggaku di sini. Kelak, aku akan menemukan siapa pria yang melihatku di sana..."
Mendengar itu secara langsung, lututku terasa lemas. Ini bukan sekadar rekaman mimpi. Aku bisa mencium aroma sakuranya, aku bisa melihat bagaimana helai rambutnya tertiup angin.
Rasanya begitu nyata hingga aku ingin berlari ke sana dan meraih tangannya. Aku ingin berteriak bahwa pria itu adalah aku. Bahwa aku sudah menemukan pitanya. Bahwa aku sudah melihatnya melalui lensa kamera ponselku.
Namun, lidahku kelu. Aku hanya bisa mematung, menyaksikan wanita itu berbalik perlahan. Di bawah naungan langit jingga yang kian meredup, ia menatap ke arah tempatku berdiri. Matanya yang berwarna senja seolah menembus jiwaku, mencari jawaban atas pertanyaan yang belum sempat kuucapkan.
"Tunggu!" teriakku akhirnya, mencoba memecah keheningan. "Aku di sini!"
Tapi, tepat saat ia hendak membuka bibirnya untuk memanggil namaku, dunia di sekitarku mulai berguncang. Cahaya senja yang hangat perlahan memudar, tertutup oleh kabut putih yang dingin.
Aku terbangun dengan napas yang masih tidak beraturan. Tubuhku terasa sangat letih dan lesu, seolah-olah semalam aku benar-benar berlari mengelilingi taman itu berkali-kali.
Mimpi itu... rasanya lebih menguras tenaga daripada jam kerja lemburku di hotel. Seakan setiap detik yang kuhabiskan di jembatan itu,
rasanya badanku remuk, kayak lagi marathon tapi berhenti.
Aku bangkit perlahan dari tempat tidurku, mencoba mengumpulkan kesadaranku yang masih tertinggal di langit Pagi.
Hal pertama yang kulakukan adalah melihat ke arah tangan kananku. Di sana, melingkar dengan cantiknya, pita jingga yang semalam kujadikan gelang. Warnanya tampak mencolok di bawah sinar matahari pagi yang menerobos masuk melalui celah gorden kamar apartemenku.
Aku mengusap kain halus itu dengan ibu jari, meresapi sisa kehangatan yang seolah masih tertinggal.
"Aku melihatmu begitu dekat," bisikku pada kesunyian kamar.
Suaraku serak, layaknya orang yang baru bangun tidur.
"Siapa kau sebenarnya? Mengapa kau tidak melihatku?"
Pertanyaan itu menggantung di udara, tak terjawab. Ada rasa sesak yang aneh di dadaku. Rasanya menyakitkan ketika kita berada sangat dekat dengan seseorang, melihat gerak-geriknya, mendengar suaranya, namun orang itu seolah menatap menembus tubuh kita seakan kita tidak pernah ada.
Aku menghela napas panjang, bangkit menuju jendela dan membukanya lebar-lebar. Udara dingin Tokyo di pagi hari menerpa wajahku, mencoba membangunkanku dari sisa-sisa sihir semalam. Di bawah sana, orang-orang sudah mulai berangkat bekerja, berjalan terburu-buru dengan setelan jas gelap mereka. Mereka tampak begitu nyata, namun bagiku, wanita di balik kabut senja itu terasa jauh lebih hidup daripada ribuan orang di jalanan ini.
Aku segera bersiap. Hari ini aku harus bekerja shift pagi. Namun, pikiranku sudah tidak lagi berada di departemen resepsionis. Pikiranku ada di dalam pita ini, dan di dalam foto yang tersimpan di ponselku.
Lobi hotel pagi ini terasa lebih sibuk dari biasanya. Suara deru koper yang bergesekan dengan lantai marmer dan percakapan dalam berbagai bahasa memenuhi ruangan, namun semua itu terdengar seperti suara dengung lebah yang jauh di telingaku. Aku berdiri di balik meja resepsionis dengan seragam yang rapi, namun pikiranku masih tertinggal di atas jembatan merah itu.
"Selamat pagi, selamat datang di Hotel..."
Kalimat itu keluar dari mulutku secara otomatis, sebuah sapaan robotik yang sudah kupraktikkan ribuan kali.
Tanganku bergerak lincah di atas papan ketik, memproses check-out tamu, namun mataku sesekali melirik ke arah pergelangan tangan kananku.
Pita jingga itu sekarang tersembunyi dengan aman di balik manset kemeja putihku. Keberadaannya di sana terasa seperti sebuah rahasia besar yang membakar kulitku. Setiap kali aku bergerak, aku bisa merasakan gesekan kain halusnya, seolah wanita itu sedang membisikkan sesuatu yang tidak bisa kudengar di tengah keramaian ini.
"Pak? Permisi?"
Suara teguran itu mengejutkanku. Aku mendongak dan mendapati seorang pria paruh baya menatapku dengan heran.
"Kunci kamar saya, Pak. Saya sudah memberikan kartu identitas saya sejak tadi."
"Ah, maafkan saya. Mohon maaf atas ketidaknyamanannya," aku membungkuk dalam, wajahku memanas karena malu. Aku segera memberikan kunci kamarnya dengan tangan yang sedikit gemetar.
Aku menghela napas panjang setelah tamu itu pergi. Fokusku benar-benar berantakan. Aku terus membayangkan momen semalam saat dia mengikatkan pita itu. Mengapa dia terlihat begitu sedih? Dan jika dia memang sedang mencariku, mengapa di dalam mimpi itu dia seolah-olah tidak bisa melihat kehadiranku?
"Lex, kamu baik-baik saja? Wajahmu pucat sekali,"
Mona menghampiriku sambil membawa beberapa tumpukan dokumen. Ia menatapku dengan tatapan menyelidik yang biasa ia berikan jika ia tahu ada sesuatu yang besar sedang terjadi.
Aku menoleh padanya, merendahkan suaraku agar tidak terdengar oleh rekan kerja yang lain.
"Mona... aku melihatnya lagi semalam. Tapi kali ini berbeda. Aku melihatnya mengikat pita ini, di tempat yang sama saat kita di taman kemarin."
Mona menghentikan kegiatannya. Matanya membulat.
"Kamu melihatnya mengikat pita itu? Secara langsung?"
Aku mengangguk pelan.
"Dia mengatakan kalimat yang sama, Mona. Tapi dia tidak melihatku. Seolah-olah aku hanyalah hantu yang mengintip dunianya."
"Bisa jadi dia sudah dekat, Feelingku nggak enak? ". Ucapnya memastikan
"Gak mungkin, jika memang iya dia pasti akan datang hari ini juga". jawabku tidak percaya.
"Gak secepet itu kali. Mitos kayak gitu mana bisa asal tebak" ucap Mona mencoba meyakinkanku kembali.
Mendengar omongan Mona, membuat aku berpikir kembali
"Apa iya? " .
Pukul tujuh malam, lobi hotel mulai meremang. Saat aku sedang merapikan beberapa berkas di meja resepsionis, pintu kaca otomatis terbuka, membawa embusan angin dingin dari luar. Tiba-tiba, aroma yang sangat kukenal menyeruak wangi bunga sakura yang segar, persis seperti pita di sakuku.
"Wangi ini, Aku mengenalnya" ucapku dalam hati.
Aku mendongak, dan jantungku seolah berhenti berdetak. Di depanku berdiri seorang wanita dengan mantel cokelat, rambutnya sedikit berantakan dan iris mata yang berwarna jingga agak gelap. Ia menunduk sambil merogoh tasnya, lalu meletakkan sebuah kartu identitas di atas meja.
'Permisi, aku sudah memesan kamar atas nama Miyuki,' ucapnya lembut.
Suara itu. Suara yang sama yang kudengar di jembatan. Aku terpaku, tanganku membeku di atas keyboard. Saat ia perlahan mengangkat wajahnya dan matanya bertemu dengan mataku, aku tahu... pencarianku bukan lagi sebuah mimpi,
tapi mimpi lah yang mencariku.
Tapi aku malah berpikir Apakah benar wanita yang ada di mimpi itu benar dia, Apakah mungkin wanita polos yang ada di mimpi itu memesan kamar hotel ini.
Aku masih terpaku menatap kartu identitas yang tergeletak di meja marmer itu. Nama yang tertera di sana adalah Miyuki. Nama yang indah, seindah aroma sakura yang kini memenuhi lobi.
Aku memberanikan diri mengangkat wajah, menatap mata yang selama ini hanya bisa kulihat di balik kabut senja.
Miyuki tersenyum tipis, sebuah senyum yang sopan namun terasa... hampa.
"Ah...iya, Ini kuncinya, Nona Miyuki"
ucapku dengan suara yang masih sedikit bergetar. Aku menyerahkan kunci kamar padanya, dan saat itu juga, mataku menangkap pita jingga yang melingkar di pergelangan tangannya. Warnanya sangat cerah, terlalu baru untuk sebuah benda yang seharusnya sudah ada sejak lama di dalam mimpi.
Miyuki menerima kunci itu, memberikan anggukan kecil, lalu berbalik menuju lift tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi. Aku menatap punggungnya yang menjauh dengan perasaan yang campur aduk.
Seharusnya ini adalah momen paling bahagia dalam hidupku, namun ada sebuah duri yang menusuk logikaku.
"Lex... kau lihat itu?" Mona menghampiriku.
Wajahnya tampak tidak percaya.
"Dia benar-benar di sini. Tapi... Lex, kenapa dia ke sini?"
Aku menoleh ke arah Mona, lalu kembali menatap papan nama hotel tempat kami bekerja. Hotel ini bukan sekadar penginapan biasa. Cahaya neon remang-remang di depan, desain interior yang terlalu privat, dan sistem sewa kamar per jam... semua orang di Shinjuku tahu bahwa tempat ini adalah Love Hotel.
Tempat yang jauh dari kata polos atau puitis.
"Wanita di mimpiku..." bisikku suaranya hampir tak terdengar.
"Dia berdiri di jembatan itu dengan tatapan paling suci yang pernah kulihat. Dia meninggalkan pita jingga itu seolah-olah itu adalah janji takdir yang sakral."
Aku mengepalkan tangan di bawah meja.
"Tapi kenapa wanita yang wajahnya persis dengannya ini justru datang ke Love Hotel sendirian di jam seperti ini? Dan kenapa dia tidak menoleh sedikit pun saat melihat namaku di kartu identitas, padahal di mimpi dia seolah sangat merindukanku?"
Kecurigaan mulai merayap, membakar rasa bahagiaku menjadi abu. Aku teringat detail pita di tangannya yang tampak seperti baru dibeli dari toko aksesori murahan.
"Dia bukan Miyuki-ku," ucapku dengan nada dingin yang membuat Mona tersentak.
"Wanita itu... dia hanya menggunakan wajah yang kukenal untuk masuk ke sini. Ada sesuatu yang dia sembunyikan di balik senyum sakura itu, dan aku bersumpah akan mencari tahu apa yang sebenarnya dia cari di kamar hotel ini."
Malam itu, lobi hotel yang hangat mendadak terasa mencekam.
"Siapa dia? Apa tujuannya? Benarkah wanita yang aku lihat di mimpiku dirinya? " tanyaku kebingungan.
Pantengin terus ya kak... heheh🙏😍
2. Check-out : Meninggalkan (hotel/ bandara) setelah membayar dan mengembalikan kunci.