Di dunia yang penuh dengan kilatan kamera, Alice Vane adalah satu-satunya hal yang nyata bagi Julian Reed. Namun, bagi Julian, mencintai Alice berarti harus mengawasinya dari kejauhan—sambil membenci setiap pria yang berani bernapas di dekatnya.
Alice adalah magnet. Dari penyanyi manis Sean Miller hingga rapper tangguh D-Rock, semua menginginkannya. Alice tidak pernah sadar bahwa setiap tawa yang ia bagikan dengan pria lain akan dibalas oleh Julian dengan lirik lagu yang menghujatnya di radio keesokan harinya.
Saat Julian mulai menggunakan diva pop Ellena Breeze untuk memancing cemburu Alice, permainan pun berubah. Di antara lagu sindiran, rumor palsu, dan kepemilikan yang menyesakkan, Alice harus bertanya pada dirinya sendiri: Apakah ia benar-benar pelabuhan bagi Julian, atau hanya sekadar inspirasi yang ingin dipenjara dalam sangkar emas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14. The Prodigal Son
Studio yang dulunya pengap dengan aroma alkohol kini beraroma lilin aromaterapi dan udara segar. Julian Reed telah membuang semua botolnya. Di bawah bimbingan Ayah Alice, Julian mulai mencari celah hukum untuk melepaskan diri dari jeratan "pihak elit" yang mengancamnya. Namun, perubahan terbesar bukan pada pengacaranya, melainkan pada jiwanya.
Malam itu, Julian duduk di depan piano. Tanpa sorot lampu panggung, hanya cahaya bulan yang masuk lewat jendela. Ia merekam sebuah video singkat untuk Alice. Ia menyanyikan sebuah lagu dengan lirik yang sangat dalam, tentang bagaimana ia menemukan cahaya di tengah kegelapan melalui doa-doa yang Alice ajarkan.
"I was a king without a throne, a man with a hollow soul,
Until you pointed to the sky and made me feel whole.
I’ve laid my burdens down, no longer running from the light,
I found my way to Him, through your prayers in the night."
Julian mengakhiri lagu itu dengan senyum tipis yang tulus—senyum yang sudah lama hilang dari wajahnya. "Terima kasih, Al. Aku mulai mengerti sekarang. Hidup ini bukan tentang siapa yang memujaku di panggung, tapi tentang siapa yang menungguku di akhir doa."
Di Amerika, Julian mulai rutin mengunjungi rumah keluarga Vane. Setiap Minggu pagi, ia akan berdiri di depan pintu dengan pakaian rapi dan sederhana. Tidak ada lagi jaket kulit atau kacamata hitam yang angkuh.
"Kau siap, Julian?" tanya Ayah Alice sambil menepuk bahu Julian dengan hangat.
"Siap, Om," jawab Julian mantap.
Mereka pergi ke gereja kecil di pinggiran kota. Di sana, Julian tidak duduk di barisan depan sebagai megabintang, melainkan di barisan tengah bersama Ayah dan Ibu Vane. Saat lagu-lagu pujian berkumandang, Julian memejamkan matanya. Ia merasakan ketenangan yang tidak pernah ia dapatkan dari ribuan teriakan penggemar.
Bagi Julian yang tumbuh tanpa sosok ayah (fatherless), bimbingan Ayah Alice adalah segalanya. Ia merasa memiliki "rumah" yang sesungguhnya. Setelah ibadah, mereka sering makan siang bersama. Ibu Vane akan menyajikan masakan rumah yang hangat, dan mereka akan mengobrol tentang banyak hal—kecuali tentang industri musik yang beracun itu.
"Kau tahu, Julian," ujar Ayah Alice suatu sore di taman belakang. "Tuhan tidak pernah melihat seberapa kotor masa lalumu. Dia hanya melihat ke arah mana kau berjalan sekarang."
Julian menunduk, matanya berkaca-kaca. "Terima kasih, Om. Selama ini aku merasa sendirian melawan dunia. Tapi di sini... aku merasa seperti punya ayah yang benar-benar peduli padaku, bukan pada uangku."
Di Paris, Alice menerima video lagu dari Julian. Ia menontonnya berulang kali di sela-sela kesibukannya sebagai model. Melihat Julian yang sekarang sering berfoto bersama orang tuanya, pergi ke gereja, dan terlihat jauh lebih bersih, membuat Alice merasa lega luar biasa.
Namun, kedekatan batin antara Alice dan Julian yang terjalin lewat pesan singkat dan telepon mulai terendus oleh Sean Miller. Sean melihat perubahan pada raut wajah Alice—ada kedamaian yang tidak berasal darinya.
Suatu malam, Sean masuk ke kamar Alice saat Alice baru saja selesai berdoa. "Kau mulai sering menghubunginya lagi, Al?" tanya Sean, suaranya dingin dan tajam.
"Dia sedang berusaha sembuh, Sean. Dia butuh dukungan," jawab Alice tenang.
"Dia butuh dukungan atau kau yang tidak bisa lepas darinya?" Sean melangkah mendekat, matanya berkilat penuh kecemburuan. "Jangan lupa siapa yang ada di sini saat kau dihujat seluruh dunia. Julian tetaplah Julian yang terikat Ellena. Dia hanya memanfaatkan kebaikan hatimu untuk menebus rasa bersalahnya."
"Ini bukan soal Ellena atau karier lagi, Sean. Ini soal nyawa seseorang yang hampir hilang," Alice membela.
Sean tidak menjawab, tapi tangannya mengepal kuat. Di dalam hatinya, sebuah rencana busuk mulai terbentuk. Ia tahu ia tidak bisa memenangkan hati Alice jika Julian terus menjadi "anak emas" di mata orang tua Alice. Sean harus melakukan sesuatu agar Alice tidak punya alasan untuk kembali ke Amerika—atau bahkan tidak bisa kembali sama sekali.
Sean mulai menghubungi agen rahasia untuk memalsukan dokumen atau menyabotase kontrak kerja Alice yang mengharuskannya menetap di Paris untuk dua tahun ke depan. Ia akan memastikan bahwa "benang merah" itu putus, apa pun caranya.
cemburu bilang /CoolGuy/
markicob baca...
se inter apa ya thor... /Tongue/