Javi, center dari grup LUMINOUS, jatuh dari balkon kosan Aruna saat mencoba kabur dari kejaran fans. Bukannya kabur lagi, Javi malah bangun dengan ingatan yang kosong melompong kecuali satu hal yaitu dia merasa dirinya adalah orang penting yang harus dilayani.
Aruna yang panik dan tidak mau urusan dengan polisi, akhirnya berbohong. Ia mengatakan bahwa Javi adalah sepupunya dari desa yang sedang menumpang hidup untuk jadi asisten pribadinya. Amnesia bagi Javi mungkin membingungkan, tapi bagi Aruna, ini adalah kesempatan emas punya asisten gratis untuk mengerjakan tugas kuliahnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PutriBia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KRISIS SINYAL DAN SKANDAL
Pagi hari di Jakarta seharusnya diawali dengan aroma kopi atau setidaknya aroma daster Mbak Widya yang baru dicuci. Namun bagi Aruna, pagi ini diawali dengan sebuah notifikasi berita utama dari situs gosip Star-Sync yang membuat jantungnya seolah berhenti berdetak sesaat.
"SKANDAL MANIS DI BACKSTAGE: JAVIER LUMINOUS TERTANGKAP KAMERA MEMELUK MESRA YUNA CHERRY-POP! APAKAH INI AWAL DARI HUBUNGAN 'POWER COUPLE' BARU?"
Di bawah judul tersebut, terpampang foto yang diambil semalam. Javier terlihat sangat protektif mendekap bahu Yuna yang tampak bersandar pasrah di dadanya. Pencahayaan backstage yang dramatis membuat foto itu terlihat seperti poster drama romantis, bukan kecelakaan kabel.
Aruna meletakkan ponselnya di atas meja gambar dengan gerakan pelan. Tidak ada tangisan bombastis, tidak ada drama melempar bantal. Ia hanya menarik napas panjang, lalu mulai merapikan peralatan maketnya.
"Sistem saya memang benar," bisik Aruna pada dirinya sendiri dengan nada pahit yang dipaksakan.
"Bintang ya pasangannya sama bintang. Mahasiswa DKV pasangannya sama penggaris siku dan debu lem."
Di kantor agensi Luminous, atmosfer terasa lebih tegang daripada saat peluncuran album. Manajer Han mondar-mandir seperti setrikaan panas, sementara member Luminous lainnya, Rian dan Satya, sibuk membaca komentar netizen yang terbagi menjadi dua kubu yaitu kubu "Patah Hati Nasional" dan kubu "Kapal Yuna-Javi Berlayar".
Javier duduk di tengah ruangan, masih mengenakan kemeja hitam yang sama dengan semalam. Di dahinya, kacamata renang biru andalannya terpasang miring. Wajahnya terlihat sangat datar, namun aura di sekitarnya terasa seperti badai salju yang siap membekukan siapa saja.
"Javier! Kenapa kamu diam saja?!" seru Manajer Han frustrasi.
"Kenapa kamu membiarkan Yuna bersandar begitu lama?! Kamu tahu kan itu jebakan?!"
"Sistem saya mendeteksi adanya malfungsi pada keseimbangan Unit Yuna," sahut Javier dingin.
"Prosedur keselamatan mengharuskan saya menopang unit yang akan jatuh. Saya tidak memprediksi adanya infiltrasi fotografer ilegal di koordinat tersebut."
Javier kemudian menoleh ke pintu, berharap melihat sosok mungil dengan rompi banyak saku masuk membawakannya air atau memarahinya karena kecerobohan visual ini. Tapi pintu itu tetap tertutup. Aruna tidak datang.
"Dimana Unit Asisten saya?" tanya Javier, suaranya sedikit bergetar, sesuatu yang jarang terjadi pada sistem suaranya yang stabil.
"Aruna? Dia mengirim pesan pagi tadi," Manajer Han menghela napas.
"Dia bilang dia harus fokus pada proyek akhir semester dan minta izin untuk tidak mendampingimu selama beberapa hari. Dia bilang kamu sudah cukup aman di bawah penjagaan... Unit Pilihanmu."
Javier terdiam. Kata-kata Unit Pilihanmu menusuk sistem operasinya lebih tajam daripada kritikan pedas juri musik mana pun.
Satu jam kemudian, Aruna sedang duduk di sudut kantin kampus, mencoba fokus mewarnai perspektif gedung tanpa menyadari bahwa sebuah kegemparan sedang terjadi di gerbang kampus.
Sebuah motor matic tua yang disewa secara paksa dari staf agensi berhenti di parkiran. Pengendaranya memakai hoodie kebesaran, masker hitam, dan sebuah kacamata renang biru yang bertengger di atas helm.
Javier tidak tahan lagi. Baginya, didiamkan oleh Aruna adalah error sistem yang paling fatal. Ia harus melakukan prosedur Rekonstruksi Hubungan secara langsung.
Aruna sedang asyik menempelkan rumput sintetis pada maketnya saat sebuah bayangan tinggi menutupi cahayanya.
"Permisi, Unit Mahasiswa DKV. Apakah meja ini sudah dipesan untuk prosedur diskusi?" suara bariton yang sangat familiar itu terdengar di telinga Aruna.
Aruna mendongak dan hampir saja menjatuhkan botol lemnya.
"Javi?! Kamu ngapain di sini?! Kamu gila ya? Di luar sana orang lagi heboh soal skandal kamu, dan kamu malah ke sini pake baju kayak... kayak maling kacamata renang!"
Javier duduk di kursi plastik di depan Aruna tanpa memedulikan tatapan beberapa mahasiswa di meja sebelah.
"Sistem saya melaporkan adanya kegagalan komunikasi yang parah. Saya perlu melakukan kalibrasi ulang terhadap pernyataan Anda semalam."
"Javi, pulang. Berita kamu sama Yuna itu lagi viral. Kamu nggak boleh kelihatan sama aku," bisik Aruna panik sambil mencoba menutupi wajah Javier dengan buku sketsa.
"Berita itu adalah data palsu," tegas Javier.
Ia melepas maskernya sedikit, memperlihatkan rahangnya yang tegas.
"Unit Yuna sengaja memanipulasi gravitasi untuk menciptakan ilusi kedekatan. Foto itu hanyalah distorsi optik. Kenapa Anda lebih percaya pada lensa kamera daripada sensor kejujuran saya?"
Aruna menunduk, tangannya gemetar memegang penggaris.
"Bukan soal fotonya, Javi. Tapi soal kenyataan kalau dunia kamu memang butuh hal-hal kayak gitu. Gosip, idol cantik, panggung mewah... Sedangkan aku? Aku cuma asisten yang bikin kamu jadi Ujang. Aku cuma bikin kamu kelihatan konyol, Javi."
Javier terdiam. Ia melihat maket di depan Aruna, sebuah bangunan mungil yang dibuat dengan sangat detail dan penuh cinta. Ia kemudian meraih tangan Aruna yang penuh bekas lem, tidak peduli dengan debu atau kotoran.
"Aruna, dengarkan frekuensi saya baik-baik," bisik Javier, matanya menatap Aruna dengan intensitas yang sanggup meluluhkan semua penggaris besi di ruangan itu.
"Menjadi Ujang adalah satu-satunya saat di mana saya merasa hidup saya memiliki fungsi yang nyata. Menjadi Idola adalah pekerjaan, tapi menjadi asisten Anda... adalah tujuan sistem saya diciptakan."
Javier mengambil sedikit rumput sintetis dan menempelkannya di hidungnya sendiri, membuat wajah tampannya terlihat konyol seketika.
"Lihat. Apakah Idola Dunia akan melakukan ini demi seorang gadis yang katanya tidak pantas? Hanya Ujang yang mau terlihat bodoh asalkan Majikannya kembali memberikan perintah."
Aruna menahan tawa di tengah matanya yang mulai berkaca-kaca.
"Kamu tuh beneran rusak ya sistemnya..."
"Memang. Dan hanya Anda yang memiliki satu-satunya kode akses untuk memperbaiki kerusakan ini," bisik Javier. Ia perlahan mendekatkan wajahnya, tidak memedulikan heningnya koridor belakang kampus yang biasanya hanya dilewati kucing liar.
Di tempat yang sepi ini, cahaya matahari sore menembus celah ventilasi, menciptakan garis-garis emas di antara mereka.
"Berita tentang Yuna akan segera dihapus oleh Manajer Han melalui prosedur enkripsi media. Tapi jarak yang Anda bangun di antara kita... hanya Anda yang bisa menghapusnya, Aruna."
Javier meraih kacamata renang birunya yang sedari tadi ia genggam, lalu memasangkannya ke kepala Aruna dengan gerakan yang sangat lembut, seolah sedang memakaikan mahkota paling berharga.
"Sekarang, berikan saya tugas. Apa pun. Lakukan perintah apa saja pada unit ini, asal jangan suruh saya menjauh."
Aruna mengusap air matanya yang nyaris jatuh, lalu menatap maket rumah minimalisnya yang masih setengah jadi. Ia kembali menatap Javier yang entah sejak kapan masih memiliki secuil rumput sintetis yang menempel di ujung hidung mancungnya. Pemandangan itu begitu kontras dengan citra cool yang ia tampilkan di televisi.
"Oke," suara Aruna serak namun mulai kembali ceria.
"Tugas kamu sekarang... bantu aku nempel genteng maket ini sampai selesai. Dan awas ya, jangan sampai ada gelembung sabun atau bekas lem yang blepotan di atapnya!"
"Laksanakan, Majikan! Memulai prosedur pemasangan atap estetik dalam 3... 2... 1... eksekusi!" sahut Javier dengan semangat robotik yang kembali membara.
Di sudut koridor yang sunyi itu, seorang idola paling populer se-Asia duduk beralaskan lantai semen, dengan tekun menempelkan potongan kertas krep merah ke atas kardus bekas menggunakan lem kertas. Aruna tersenyum lebar di sampingnya, sesekali mengoreksi posisi genteng yang dipasang Javier dengan tawa kecil. Skandal Yuna mungkin masih membakar jagat internet, tapi di sudut kampus yang penuh debu lem ini, sinyal cinta mereka telah kembali tersinkronisasi dengan sempurna, lebih kuat dan stabil dari jaringan 5G mana pun.
Namun, di balik pilar beton besar yang gelap, hanya beberapa meter dari posisi mereka duduk, sebuah bayangan diam mematung. Dante berdiri di sana dengan rahang mengeras, tangannya meremas gulungan kertas revisi maket miliknya hingga lecek. Ia telah menyaksikan semuanya, bagaimana seorang Ujang yang konyol itu bisa membuat Aruna tertawa dengan cara yang tak pernah bisa ia lakukan. Matanya menatap tajam ke arah kacamata renang biru di kepala Aruna, menyadari bahwa saingannya kali ini bukan sekadar mahasiswa sembarangan, melainkan sistem yang sangat sulit untuk ia retak.