Seorang gadis bernama bifolla queen zealia atau biasa dipanggil dengan zea, ia jatuh cinta pada pandangan pertama dengan cowok tampan dan populer di sekolahnya, saka zyzenio leonardo atau kerap dipanggil dengan leo. Meskipun leo adalah kakak kelasnya, zea tidak bisa menolak perasaannya. Namun, leo cuek dan tidak peduli dengan keberadaan zea. Zea pun memutuskan untuk mengejar leo dan mencoba mendapatkan perhatiannya. Tapi, apakah leo akan tetap cuek atau mulai menyadari perasaan zea?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marsanda Marsanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Permainan yang sempurna
10 menit kemudian, akhirnya anggota ke 4 kelompok tersebut terkumpul juga dan mereka memilih untuk langsung memulai latihan.
Mulai dari melakukan pemanasan dengan baik dan tidak lupa untuk melakukan stretching dan berlari kecil di sekitar lapangan.
Termasuk zea yang berlari kecil di sekitar lapangan dan melakukan beberapa gerakan basket dasar. Dia melihat beberapa murid baru yang belum ia kenal ikut melakukan hal yang sama.
Baru beberapa menit melakukan pemanasan, zea menggenggam tangannya erat, mencoba menyembunyikan rasa sesak yang mulai menyerang. Dia menghirup udara dalam-dalam, berusaha mengatur napasnya, meskipun dadanya terasa berat.
"Lo harus kuat ze! please, gue mohon jangan kambuh!" katanya dengan suara yang berusaha terdengar kuat, sambil memaksakan senyum.
Setelah pemanasan selesai, leo mulai membagi instruksi.
"Oke, sekarang kita latihan dasar basket! mulai dari dribbling, passing, dan shooting!"
"Baik kak." jawab mereka dengan kompak.
"Lo!" leo menunjuk zea dengan tatapan yang membuat zea dag dig dug kembali, ditambah dengan napasnya yang sejak tadi terasa sesak.
"Latihan dribbling sama gua." sambung leo.
Zea merasa jantungnya berdetak lebih cepat, tapi dia mencoba untuk tetap tenang.
Ini serius leo ingin melatih dia dribbling? zea tidak habis pikir, jika saja tidak terhalang dengan misi nya, mungkin dia akan menempel terus kepada leo seperti cacing kremi, seperti sediakala.
"Baik kak..." katanya lirih, sambil mengambil bola basket.
"Dandi, lo latih passing!" perintah leo, sambil menoleh ke arah dandi.
"Siap kapten." ucap dandi. mengangguk dan mulai melatih passing anggota yang lain.
Entahlah apa tujuan leo yang hanya melatih zea seorang, padahal dikelompok mereka terdapat 6 orang anggota baru.
Leo berdiri di samping kon-cone yang telah disusun nya, dan ia memperhatikan zea sejenak.
"Gua kasih arahan dulu." ujar leo menatap zea yang masih diam sambil menunduk
"Iya....iya kak." jawab zea.
"Mulai dari sini! dribbling dengan kaki kanan, terus kaki kiri, zig-zag di antara kon-cone. Fokus sama bola, jangan lihat ke bawah!" kata leo dengan tegas.
"Iya kak." jawab zea, lalu ia memulai dribbling.
"Cepat! kaki lebih cepat! jangan biarin bola lepas!" sarkas leo.
Zea melaju dengan lincah, kaki kanannya menyentuh bola, lalu kaki kirinya mengambil alih. Dia zig-zag di antara kon-cone dengan mudah, kontrol bola yang sempurna.
Leo memperhatikan dengan tidak percaya.
"Ternyata lo jago juga." gumam leo, suaranya penuh dengan keterkejutan.
Leo mengangguk sedikit, ekspresinya tetap dingin, tapi dalam hatinya, dia impressed.
Setelah selesai dengan semua latihan yang dilakukan oleh anggota baru. Coach andi memanggil semua anggota untuk berkumpul di tengah lapangan, termasuk anggota inti dan juga anggota cadangan.
"Oke, latihan hari ini sudah selesai, saya sudah melihat kemampuan kalian. Kalian semua sudah melakukan yang terbaik dan menunjukkan potensi yang besar."
"Baiklah, ini waktu yang ditunggu-tunggu sejak tadi, saya akan menyeleksi kalian satu persatu. Saya ingin melihat kalian semua menunjukkan kemampuan terbaik kalian dan membuktikan bahwa kalian layak menjadi bagian dari tim basket sekolah ini. Jangan ragu, jangan takut, dan tunjukkan bahwa kalian adalah pemain basket yang hebat!"
Coach andi mengambil napas dalam-dalam, "Saya akan mulai sekarang."
"Kamu!" tiba-tiba coach andi dengan spontan menunjuk ke arah zea.
Zea celingak-celinguk, tidak yakin apakah coach andi benar-benar memanggilnya. Ia menatap ke sekeliling, melihat semua orang disana juga menatap ke arahnya dengan ekspresi yang berbeda-beda.
Coach andi tersenyum. "Ya, kamu! silahkan maju ke depan!"
Zea terlihat sangat canggung, tapi akhirnya ia memutuskan untuk maju ke depan. Ia berjalan dengan langkah yang tidak terlalu pasti, sambil menatap ke arah coach andi dengan ekspresi yang tidak yakin.
"Perkenalkan nama kamu!" perintah coach andi.
Zea menarik napas dalam-dalam lalu berucap.
"Hai semuanya! gue bifolla queen zealia, kalian bisa manggil gue zea! saya dari kelas X-1." kata zea dengan sedikit gugup.
"Oh....baiklah zea, langsung saja ya, saya ingin melihat kemampuan kamu! jadi tunjukkanlah kemampuan kamu dengan sebaik mungkin." ucap coach andi.
Zea mengangguk sambil tersenyum.
Zea berdiri di depan semua orang disana, lalu ia memejamkan matanyanya dan mengingat kata-kata sang kakak, raka. Yang selalu senantiasa mengajarinya cara bermain basket dengan benar.
"Jangan lupa dek, lo harus fokus dan percaya diri. Dribble dengan baik, dan jangan ragu untuk melakukan shooting."
"Ingat! lo harus selalu bergerak dan mencari celah buat melakukan serangan, fokus sama bola, jangan liat ke bawah." sekarang lanjut dengan ucapan leo 1 jam yang lalu.
"Ayo zeaa! lo pasti bisa." ucap zea dalam hati.
Zea mulai melakukan beberapa gerakan dribble dan shooting. Ia masih terlihat sedikit canggung, tapi semakin lama semakin baik. Coach andi dan yang lainnya memperhatikan dengan seksama, mengangguk dan membuat catatan.
Zea terus bermain, dan tiba-tiba ia melakukan sebuah shooting tiga angka yang sangat indah. Bola masuk ke dalam ring dengan sempurna.
Zea tidak bisa tidak berteriak gembira walau hanya di dalam hati.
Coach andi tersenyum, ia menatap penuh kagum kepada zea, yang masih berdiri di depan dengan napas yang masih sedikit terengah-engah.
"Wah, bagus sekali! Kamu sudah menunjukkan kemampuan yang sangat baik." kata coach andi dengan nada yang penuh kekaguman.
"Terima kasih coach." ucap zea tersenyum sambil menundukkan kepala.
Di tengah kerumunan anggota yang sedang bertepuk tangan, leo menatap zea dengan ekspresi yang tidak terbaca, dan mengulas senyum sangat tipis, hampir tidak terlihat oleh mata elang.
"Menarik...." gumam leo pelan.
Lalu coach andi memanggil anggota yang lain.
"Baik, selanjutnya." ucap coach andi.
Suasana kembali tegang setelah mendengar suara pria dewasa tersebut.
"Yang disana." tunjuk coach andi.
"Silahkan maju ke depan dan tunjukkan kemampuan kamu." lanjutnya memanggil anggota yang lain.
Siswa cowok yang ditunjuk langsung maju ke depan, ia memperkenalkan diri terlebih dahulu, setelahnya ia mulai melakukan beberapa gerakan dribble dan shooting, tapi tidak seimpresif zea.
Coach andi mengangguk. "Baik, kamu sudah menunjukkan kemampuan yang baik."
Lalu coach andi memanggil nama-nama lainnya.
Mereka maju satu persatu dan mulai melakukan beberapa gerakan, dan menunjukkan kemampuan yang berbeda-beda. Coach andi memperhatikan dengan seksama, membuat catatan dan mengangguk.
Dan yang terakhir, rafael. Ia maju ke depan dengan percaya diri, melakukan beberapa gerakan dribble yang sangat lincah dan shooting yang sangat akurat. Ia melakukan beberapa trik yang membuat coach andi penuh kagum.
Rafael melakukan sebuah shooting tiga angka dari jarak yang sangat jauh, dan bola masuk ke dalam ring dengan sempurna.
PROK PROK PROK
"Wah, bagus sekali, rafael! Kamu benar-benar jago!" ucap coach andi sambil bertepuk tangan dengan penuh semangat.
"Terima kasih coach." rafael tersenyum semeringah.
Zea yang berdiri di samping, tidak bisa tidak merasa terkejut. Ia tidak menyangka bahwa rafael bisa bermain basket lebih baik dirinya. Coach andi menatap penuh kagum kepada rafael.
"Kamu benar-benar memiliki bakat yang luar biasa, rafael." puji coach andi.
"Sekali lagi terima kasih coach." kata rafael.
"Iya sama-sama."
"Baiklah! kalian semua sudah menunjukkan kemampuan yang baik. Sekarang, saya akan memberikan kalian istirahat sejenak sambil menunggu saya menilai kemampuan kalian. Silahkan duduk dan minum air, kita akan lanjutkan setelah saya selesai menilai."
"SIAP COACH." ujar mereka dengan teriakkan tegas.
Bersambung