Serial ini mengisahkan perjalanan Chen Feng, seorang pemuda yang menjadi satu-satunya keturunan keluarga pemburu naga setelah desa kecilnya di Tanah Seribu Pegunungan dibakar dan orang tuanya terbunuh oleh Sekte Ular Hitam. Dengan bimbingan Ye Linglong, putri dari klan pemburu naga terkemuka, Feng belajar mengendalikan kekuatan naga yang mengalir dalam dirinya—kekuatan yang tidak hanya berasal dari kemarahan akan kehilangan, melainkan dari kedamaian dan pemahaman tentang cinta serta tanggung jawab.
Melalui serangkaian ujian yang menguji keberanian, pengendalian diri, dan pemahaman tentang cinta serta masa lalu, Feng harus menghadapi dendam yang telah berlangsung berabad-abad antara keluarganya dengan Sekte Ular Hitam. Ia menemukan bahwa kekuatan sebenarnya bukanlah dari kemarahan atau kekerasan, melainkan dari kemampuan untuk menerima rasa sakit, menyatukan apa yang terpisah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reijii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 7: Pelatihan Kedamaian dan Petunjuk Naga
Sembilan hari telah berlalu sejak serangan Sekte Ular Hitam. Matahari pagi menyinari hamparan rumput hijau di belakang kompleks Keluarga Ye, di mana Chen Feng sedang duduk bersila dengan mata tertutup. Udara segar dari pegunungan memenuhi paru-parunya, dan dia fokus pada setiap napas yang masuk dan keluar dari tubuhnya.
“Ini bukan tentang memaksakan kekuatanmu keluar,” suara Ye Tianhong terdengar dari belakangnya. “Ini tentang menyatu dengan aliran energi alam sekitar kita. Rasakan bagaimana tanah memberi kita kekuatan, udara memberi kita kebebasan, api memberi kita semangat, dan air memberi kita kelancaran.”
Feng mencoba untuk melakukan apa yang diajarkan. Awalnya, dia masih merasa kekuatan yang liar di dalam dirinya, seperti sungai yang meluap dan sulit dikendalikan. Tapi perlahan-lahan, dengan setiap napas dalam yang dia tarik, dia mulai merasakan bagaimana energi dalam dirinya menyatu dengan energi alam di sekitarnya.
Dia merasakan getaran lembut dari tanah di bawahnya, merasakan hembusan lembut angin yang menyentuh wajahnya, merasakan panas matahari yang menyinari kulitnya, dan merasakan kelembapan dari embun pagi yang menetes di daun-daun. Semua energi itu mulai mengalir ke dalam tubuhnya, menyatu dengan energi naga yang ada di dalam dirinya.
“Baik sekali,” puji Ye Tianhong saat melihat kilatan cahaya keemasan yang stabil dan lembut menyelimuti tubuh Feng. “Kamu mulai memahaminya. Kekuatan naga tidak datang dari kemarahan atau hasrat balas dendam—ia datang dari kedamaian dan penerimaan akan segala sesuatu yang ada di sekitar kita.”
Setelah selesai meditasi, Linglong datang dengan membawa makanan dan air. Dia telah mengikuti pelatihan Feng setiap hari, terkadang membantu mengajarinya gerakan yang lebih sulit atau hanya menemani dia saat berlatih.
“Kamu terlihat lebih tenang hari ini,” ujarnya dengan senyum hangat saat memberikan mangkuk sup ayam kepada Feng. “Sepertinya pelatihan dengan ayah sudah mulai memberikan hasil.”
“Ya,” jawab Feng sambil mengambil mangkuk itu dengan terima kasih. “Aku mulai mengerti apa yang salah dengan diriku saat bertempur dengan Hei Yu. Aku terlalu terpaku pada hasrat untuk membunuhnya sehingga aku kehilangan kendali.”
Linglong duduk di sisinya, menarik kedua lutut ke dada sambil menatap langit yang biru cerah. “Kemarahanmu wajar, Feng. Orang tuamu terbunuh dengan kejam, dan kamu memiliki hak untuk marah. Tapi ayah selalu bilang bahwa pembela yang benar tidak boleh dikuasai oleh emosinya. Kita harus menggunakan emosi kita sebagai kekuatan, bukan biarkan mereka menguasai kita.”
Feng mengangguk dan mengunyah makanan dengan perlahan. Rasanya enak dan menghangatkan tubuhnya yang masih kadang terasa sakit akibat penggunaan kekuatan yang berlebihan beberapa hari yang lalu. “Aku telah membaca lebih banyak hal dari buku kuno yang diberikan ayahmu padaku. Ada petunjuk tentang lokasi Pedang Naga yang sangat jelas.”
“Oh benar?” tanya Linglong dengan mata yang bersinar. “Di mana ia berada?”
“Di gua tersembunyi di puncak Gunung Tianwu,” jawab Feng dengan suara yang rendah. “Tepat di atas tempat desa kita dulunya berdiri. Buku itu mengatakan bahwa hanya orang yang benar-benar menguasai kekuatan naga dan memiliki hati yang murni yang bisa memasuki gua itu dan mengeluarkan pedang itu.”
Sebelum mereka bisa berbicara lebih jauh, suara kaki berlari cepat datang dari arah kompleks. Ye Chen muncul dengan wajah yang sedikit terpana, membawa sebuah burung merpati pesan yang sedang berkibar-kibar di tangannya.
“Paman memanggil kita segera!” katanya dengan suara terengah-engah. “Ada kabar penting dari penjaga perbatasan utara!”
Mereka segera bergegas ke ruang rapat, di mana Ye Tianhong sudah bersama beberapa pemimpin keluarga lain dengan wajah yang serius. Di atas meja, sebuah peta besar ditempelkan dengan beberapa lokasi baru yang ditandai dengan jarum berwarna merah.
“Sekte Ular Hitam telah menguasai tiga benteng kerajaan di wilayah utara,” jelas Ye Tianhong saat semua orang duduk. “Mereka menyatakan bahwa mereka akan menyerang Kota Yunlong dalam waktu sepuluh hari jika kita tidak menyerahkan Chen Feng dan kalung peraknya.”
Suara terkejut dan kemarahan terdengar di seluruh ruangan. Beberapa pemimpin keluarga mulai berbicara bersamaan, menyatakan bahwa mereka tidak akan menyerahkan Feng kepada musuh mereka.
“Mereka berpikir bahwa dengan mengancam kita, kita akan menyerah dengan mudah,” kata Zhang Wei dengan suara yang penuh kemarahan. “Kita harus mengumpulkan pasukan kita dan menghadapi mereka sebelum mereka bisa menyerang Kota Yunlong!”
Namun Ye Tianhong mengangkat tangannya untuk membungkam semua orang. “Kita tidak bisa bertempur dengan mereka saat ini. Mereka telah mengumpulkan kekuatan yang besar dan memiliki senjata rahasia yang kita tidak kenal. Serangan sekarang hanya akan menyebabkan kehancuran bagi kita semua.”
“Maka apa yang harus kita lakukan?” tanya salah satu pemimpin keluarga dengan suara cemas.
Feng berdiri dengan perlahan, menarik perhatian semua orang di ruangan. “Aku akan pergi ke Gunung Tianwu dan mengambil Pedang Naga. Jika aku bisa menguasainya, kita akan memiliki kekuatan untuk menghadapi Sekte Ular Hitam dan mengakhiri ancaman mereka sekali dan untuk selamanya.”
“Tidak bisa!” teriak Linglong dengan cepat. “Perjalanan ke Gunung Tianwu sangat berbahaya, terutama dengan kondisi saat ini. Sekte Ular Hitam pasti akan mengantisipasinya dan menunggu kamu di sana.”
“Aku tahu itu berbahaya,” jawab Feng dengan suara yang tegas dan tenang. “Tapi ini adalah satu-satunya cara. Aku tidak bisa membiarkan orang-orang di Kota Yunlong terbunuh karena aku. Aku harus mengambil tanggung jawab atas warisan yang kudapatkan.”
Ye Tianhong mengangguk dengan ekspresi yang penuh dengan rasa hormat. “Kamu telah tumbuh menjadi orang yang tangguh, Chen Feng. Aku akan mengizinkanmu pergi, tapi dengan syarat kamu tidak pergi sendirian. Linglong, Chen, dan beberapa prajurit terbaik kita akan mengiringimu.”
Pada malam hari, Feng sedang duduk di balkon kamarnya sambil memegang kalung peraknya. Tiba-tiba, kalung itu mulai bersinar dengan sangat terang, dan suara lembut seperti bisikan terdengar di telinganya. Dia melihat ke arah langit malam yang penuh dengan bintang, dan melihat sebuah bentuk besar yang melayang di antara awan—Naga Putih Tianwu yang telah muncul dua kali sebelumnya.
“Kamu telah membuat pilihan yang benar, keturunan Chen,” suara lembut terdengar di benaknya, seolah berasal dari naga itu sendiri. “Perjalanan yang akan kamu tempuh tidak akan mudah, tapi kamu tidak sendirian. Aku akan selalu mengawasimu dan membantumu ketika kamu benar-benar membutuhkannya.”
Naga itu mengeluarkan seruan yang lembut dan indah sebelum menghilang ke balik awan. Feng merasa kekuatan baru mengalir dalam dirinya—kekuatan yang tidak hanya berasal dari dalam dirinya, tapi juga dari warisan yang telah diwariskan kepadanya selama berabad-abad.
Dia berjanji pada dirinya sendiri, pada roh orang tuanya, dan pada naga yang telah membimbingnya bahwa dia akan berhasil. Ia akan mengambil Pedang Naga, mengalahkan Sekte Ular Hitam, dan membawa perdamaian kembali ke Tanah Seribu Pegunungan.