Fang Yuan kehilangan kedua orang tuanya karena ulah kultivator.Lalu Ia hidup bersama kakeknya hingga akhirnya sang kakek pun meninggalkannya seorang diri.
Di tengah kerasnya dunia, Fang Yuan menemukan sebuah buku kultivasi. Tanpa bakat, tanpa dukungan, hanya dengan tekad.
“Aku akan melakukan apa pun 1000 kali… sampai berhasil.”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15: Persiapan(fix)
Matahari baru saja mengintip di ufuk timur Kota Awan Putih, namun Fang Yuan sudah berada di jalanan.
Dua puluh koin perak di kantongnya terasa berat, bukan karena nilainya, tapi karena setiap kepingnya adalah taruhan nyawanya.
"Bakat adalah hadiah dari langit, tapi persiapan adalah usaha dari manusia." gumam Fang Yuan.
Ia tahu, di Gunung Awan nanti, ia mungkin akan berhadapan dengan binatang iblis yang lebih kuat dari Chi Yan Zhu, atau bahkan kultivator seperti Bai Lie yang jauh lebih berpengalaman.
Ia tidak menuju ke toko senjata mewah yang sering dikunjungi murid sekte.
Sebaliknya, ia melangkah ke arah Distrik Bawah, tempat di mana barang-barang tanpa nama dan tanpa sejarah diperjualbelikan.
Tujuan pertamanya adalah sebuah bengkel pandai besi kecil yang pengap dan gelap. Di sana, ia tidak mencari pedang panjang yang berkilau.
"Tuan, aku butuh tiga belati hitam yang tidak memantulkan cahaya." ucap Fang Yuan datar.
Pandai besi itu menatapnya curiga, namun setelah Fang Yuan meletakkan tiga koin perak, ia memberikan apa yang diminta.
Belati itu terbuat dari besi hitam kasar, pendek, dan sangat tajam. Fang Yuan menyembunyikan satu di balik lengan bajunya, satu di pinggang, dan satu lagi di sepatunya.
"Senjata panjang terlalu mencolok untuk seseorang sepertiku," pikirnya. "Dalam pertarungan hidup-mati, jarak satu jengkal adalah tempat di mana aku paling mematikan."
Langkah selanjutnya membawanya ke sebuah toko obat tua yang tersembunyi di gang sempit.
Aroma pahit dan menyengat menyambut hidungnya. Seorang pria tua bungkuk dengan jari-jari yang menghitam menatapnya dari balik meja kayu.
"Aku butuh racun lumpuh dan sesuatu yang bisa merusak aliran Qi." kata Fang Yuan tanpa basa-basi.
Si pemilik toko tersenyum licik. "Kau tahu harganya mahal, Nak. Itu barang terlarang."
"Lima koin perak. Berikan aku yang terbaik yang kau punya, atau aku akan mencari toko lain."
Pria tua itu memberikan dua botol kecil. Satu berisi cairan bening bernama 'Embun Pemutus Nadi'—racun yang jika terkena luka akan membekukan Qi lawan selama beberapa menit.
Botol lainnya berisi bubuk 'Kabut Penghisap Jiwa' yang bisa disebarkan di udara untuk mengacaukan pandangan dan pernapasan.
Fang Yuan juga membeli beberapa pil pemulihan stamina murah dan kain perban.
Baginya, racun bukanlah cara yang curang; racun adalah penyeimbang bagi mereka yang tidak dilahirkan dengan bakat surgawi.
Terakhir, ia pergi ke pasar umum untuk membeli barang-barang dasar:
Tali rami yang kuat: Untuk memanjat atau menjerat.
Batu api dan minyak: Karena kegelapan dan kedinginan adalah musuh selain monster.
Daging asap dan kantong air: Nutrisi adalah bahan bakar bagi Qi.
Topeng kain hitam: Untuk menyembunyikan identitasnya saat melakukan perampasan.
Setelah semua barang terbeli, tersisa hanya lima koin perak di kantongnya. Fang Yuan kembali ke penginapannya dan mulai melakukan ritualnya.
Di dalam kamar yang terkunci, Fang Yuan tidak langsung tidur. Ia mulai mencabut belati dari lengan bajunya.
Sekali,sepuluh kali, seratus kali.
Ia melatih gerakan itu berulang-ulang sampai tangannya lecet. Ia harus bisa mencabut dan menusukkan belati itu dalam waktu kurang dari satu detik.
Ia mengoleskan racun ke mata pisau dengan sangat hati-hati, memastikan tidak ada satu tetes pun yang mengenai kulitnya sendiri.
"Bai Lie ... atau siapapun yang ada di Gunung Awan," Fang Yuan menatap belati hitamnya di bawah cahaya bulan. "Kalian mungkin punya teknik lebih tinggi, tapi aku punya seribu persiapan untuk membunuh kalian. Aku tidak butuh bakat untuk menggorok leher orang yang sedang tidur."
Eksperimennya dengan energi Yin dan Yang semalam membuatnya sadar bahwa ia butuh katalis.
Mutiara Petir bukan lagi sekadar pilihan; itu adalah kewajiban jika ia ingin bertahan di dunia kultivasi yang kejam ini.
ini mengingatkanku pada wang lin.
tapi aku menyukai alur ini, sangat menarik.