Jetro Julian Wisesa, pengusaha sukses, masih single.
"Aku yang akan menikahimu."
Febi Karindra, bekerja di kantor polisi, sudah dijidohkan dengan rekan kerjanya hanya bisa mematung. Semua tamu yang awalnya kasihan karena pengantin prianya tidak datang, sekarang menatap iri. Karena pengganti pengantinnya lebih segala galanya dari pada pengantin aslimya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahma AR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Fiola Adelin
Bagi Fiola, Cakra adalah segalanya sebelum dirinya mengenal laki laki super kaya saat dia bekerja freelance sebagai pramugari di pesawat pribadi milik para konglomerat.
Tepatnya tiga tahun yang lalu. Temannya sesama pramugari mengajaknya bekerja di hari liburnya.
"Kamu ngga akan menyesal," bujuk Gisela.
Fiola masih berpikir.
"Gajinya berlipat lipat, loh. Kalo mereka cocok dengan kita, mereka akan call kita lagi."
"Tapi kamu, kok, bisa kerja di sana?" heran Fiola dengan side job temannya.
"Aku kenal pilotnya. Mereka butuh satu lagi pramugari, aku jadi ingat kamu." Gisela tersenyum manis.
Fiola balas tersenyum.
Boleh juga. Sempat terpikir olehnya untuk mencoba pekerjaan ini dari dulu.
"Siapa tau ada yang nyantol. Selain tampan, mereka kayanya luar biasa," cerita Gisela penuh semangat.
Fiola mencibir. Susah mencari yang setara dengan Cakra. Tampan, kaya dan sebentar lagi jadi kapolres. Siapa yang tidak mau jadi istri kepala polisi. Semua orang akan menghormatinya. Termasuk mamanya Cakra yang lebih suka kalo anaknya bersanding dengan adiknya.
Fiola mengumpat kesal dalam hati.
Dia selalu dibanding bandingkan hanya karena tidak mau masuk akpol seperti adiknya. Padahal dia sukses jadi pramugari di maskapai nasional.
"Tapi aku dosa, nggak, kalo sampai posisi Cakra tergeser?" canda Gisela kemudian tergelak.
Fiola tergelak mendengarnya. Kalo memang ada yang lebih dari Cakra, kenapa enggak. Sekalian mau nunjukin di depan hidungnya mamanya Cakra yang suka meremehkannya.
Fiola akui, jaringan kerja temannya bagus juga. Dia sampai terkagum kagum melihat desain interior mewah di dalam pesawat pribadi itu.
Beberapa kali dia menjadi pramugari di pesawat jet pribadi, mengenal para konglomerat, tapi sayangnya rata rata sudah punya istri. Fiola merasa dunia kejam padanya. Kenapa tidak disisakan satu saja yang lajang.
Untungnya setelah beberapa kali dibawa Gisela, dia sering dicall. Mungkin karena pelayanannya yang sopan, beberapa dari mereka selalu menghubunginya. Bahkan para konglomerat itu juga mempromosikan dirinya pada teman temannya. Jadinya jadwal terbangnya semakin padat. Fiola mulai jarang pulang. Sebulan hanya dua sampai tiga hari saja dia berada di rumah. Yang membahagiakan, dia pun sering terbang ke luar negeri.
Pantas saja Gisela selalu membeli barang barang mewah dan nyambi jastip, rupanya dia sering belanja di luar negeri, hingga banyak teman teman mereka yang nitip minta dibelikan padanya.
Fiola juga mengikuti langkah Gisela menerima jastip. Gisela terlalu baik memberikan trik trik bisnisnya hingga dia juga bisa dapat cuan yang banyak.
Hingga dia bertemu laki laki tampan yang mengalahkan semua kelebihan Cakra. Namanya Jetro Julian WIsesa. Beberapa kali Fiola menjadi pramugari di penerbangan laki laki muda itu. Keluarganya juga baik. Kadang Fiola merasa dia sudah mendapat tempat di keluarga itu.
"Naksir?" goda Gisela yang memergoki matanya yang terus mencuri tatap pada Jetro. Lagi lagi Gisela yang membawanya bekerja jadi pramugari di pesawat jet pribadi super mewah yang membawa keluarga Airlangga Wisesa.
Fiola jadi agak tersipu.
"Waaah.... Aku bersalah, nih, dengan Cakra, karena bisa belokin hati kamu," canda Gisela pelan.
"Apaan, sih." Fiola merasa lega. Akhirnya dia bisa mencari laki laki yang bisa membuat mamanya Cakra akan menyesal karena sudah meremehkannya.
Tapi sayangnya setelah beberapa kali menjadi pramugari pesawat jet laki laki itu, mereka tetap tidak pernah membangun komunikasi dengannya. Padahal Fiola sudah sangat ramah.
"Rata rata konglomerat memang begitu. Mereka ngga akan sembarangan mengakrabkan diri dengan kita. Tapi kalo sudah sering bertemu, nanti sikap mereka akan berubah, kok," jelas Gisela enteng.
Tapi mau sampai berapa lama? keluh Fiola dalam hati. Ini sudah penerbangan yang ketiga Fiola bertemu dengan Jetro.
Beda sekali dengan maskapai tempat dia bekerja sebagai pegawai tetap. Laki laki di sana malah terlalu ramah sampai membuat dia merasa eneg.
*
*
*
Di ruangan kerjanya Jetro tersenyum saat membaca pesan dari Febi Karindra.
Ternyata tebakan Abiyan benar. Dia rugi besar karena harus membelikan sepupunya yatch. Tapi ngga masalah, karena saat ini hatinya merasa senang. Ada debar debar keras menghentak jantungnya.
Semua gara gara Abiyan.
Flashback on
Saat pulang dari kantor polisi dan berada di parkiran, Abiyan tergelak mengetawakan Jetro.
"Baru kali ini aku melihat Jetro lihat perempuan seperti mau dimakan," ucapnya dalam tawa bergelaknya.
Jetro tetap tenang walaupun keempat laki laki itu setuju dengan pendapat Abiyan. Sepupunya ini paling tajam feelingnya.
"Aku yakin, pasti polwan itu akan menghubungimu, Jet," lanjut Abiyan lagi dalam gelak tawanya.
"Aku juga yakin." Levi yang menyahut.
Jetro menatap jam di tangannya.
"Aku ada meeting. Aku duluan, ya." Jetro berniat menghindar dari ledekan Abiyan dan yang lainnya. Salahnya juga yang tiba tiba saja gagal fokus setelah melihat wajah cantik gadis itu.
Dengan mengenakan seragam polwannya, gadis itu tampak sangat menarik
Jomblo, kah? tebaknya saat itu dalam hati.
Saat itulah Abiyan menangkap baaah dirinya.
"Bentar, Jet. Mau taruhan, nggak?" tantang Abiyan mencegah Jetro yang buru buru mau pergi.
"Taruhan?" Jetro pura pura tak peduli.
"Buat apa juga," lanjutnya lagi.
Abiyan menaikkan alisnya.
"Buat masa depan lo, lah. Jadi sekarang aku hanya memikirkan Baim aja. Kalo Dave pasti dia ngga suka dikepoin."
Malik, Dewa dan Levi tersenyum miring.
"Aku duluan, ya," pamit Jetro tetap acuh sambil membuka pintu mobilnya.
"Jet, jadi kamu ngga yakin, ya, kalo polwan itu bakal menghubungi kamu?" Abiyan ngga nyerah.
"Hemmm...." Jetro segera masuk ke dalam mobil.
"Oke, kalo polwan itu menghubungi kamu, aku dibeliin yatch, ya. Deal, oke?!" Abiyan tetap menahan pintu Jetro. Kesempatannya mendapatkan yatch gratis tidak akan dia sia siakan.
"Oke."
Abiyan tersenyum mendengar jawaban singkat Jetro hingga membiarkan Jetro menutup pintu mobilnya.
"Aku pulang juga," pamit Levi masih dengan sunggingan senyum miringnya.
"Kita juga," pamit Dewa yang satu mobil dengan Malik.
"Oke, nanti kalo yatchnya sudah datang, kalian akan aku hubungi. Thank's, ya, guys." Abiyan melambaikan tangannya sebelum dia masuk ke dalam mobilnya dengan tawa berderainya.
Di dalam mobil Dewa menatap Malik yang bertindak sebagai supir.
"Aku jadi kepingin kepo," tawanya pelan.
Malik sedikit melebarkan senyum miringnya.
"Ngga susah, kan, nyari tau polwan itu jomblo atau udah nikah," jawab Malik iseng.
Tawa Dewa makin panjang durasinya.
"Ya, ya. Buat healing otak," tukas Dewa. Nanti dia akan libatkan kembarannya Deva biar lebih seru.
Endflashback
lagian kan mereka dah tau gimana sifat aslinya Fiola,