Tak semua tempat suci adalah rumah, sebagian hanya penjara bagi hati yang pernah salah.
Hanin dibesarkan dengan keyakinan bahwa cinta hanya halal setelah akad. Di desanya tabu seorang berpacaran. Namun, ia memilih mencintai diam-diam, hingga satu foto tanpa hijab, dalam pelukan Fahmi, menjadikannya aib keluarga.
Hanin dikirim ke pesantren. Sebuah penjara yang dibungkus kesucian. Pesantren berada di suatu desa yang jauh dari kota dan keramaian.
Di sana, ia bertemu Ghania, sahabat yang terasa seperti rumah. Sampai hari pertunangan itu tiba, hari ketika Hanin diperkenalkan pada calon suami Ghania. Pria itu ternyata Fahmi, mantan kekasihnya.
Di balik tembok Penjara Suci, Hanin terjebak antara iman, persahabatan, dan cinta lama yang belum benar-benar mati.
Diam demi menjaga kehormatan,
atau jujur dengan risiko menghancurkan segalanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Sebelas
Rumah itu semakin ramai ketika satu mobil berhenti di depan pagar.
Hanin yang sejak tadi duduk di samping jenazah Umi menoleh perlahan. Matanya sembap, wajahnya pucat seperti kehilangan darah.
Pintu mobil terbuka. Ustaz Hamid turun lebih dulu. Wajahnya teduh seperti biasa, tapi hari itu jelas terlihat sembab. Di belakangnya, seorang gadis berhijab abu-abu muda turun dengan langkah cepat. Putrinya Ghania.
Begitu melihat Hanin berdiri di ambang pintu, Ghania tak lagi bisa menahan diri. Ia berlari kecil, langsung memeluk sahabatnya itu erat.
“Hanin .…” Suaranya pecah.
Tubuh Hanin yang sejak tadi kaku mendadak luruh. Ia membalas pelukan itu dengan gemetar.
“Mereka pergi, Nia …,” bisiknya parau. “Abi sama Umi benar-benar pergi .…”
Ghania menangis di bahunya. “Aku tahu … aku dengar dari abah tadi di mobil. Ya Allah, Nin .…”
Ustaz Hamid mendekat perlahan. Ia mengusap kepala Hanin seperti seorang ayah.
“Bersabarlah, Nak,” ucapnya pelan. “Sekarang kita urus yang menjadi kewajiban kita.” Hanin mengangguk lemah.
---
Tak lama kemudian, persiapan memandikan jenazah dilakukan. Para bapak membantu mengangkat jenazah Abi ke ruangan khusus di samping rumah.
Hanin berdiri terpaku ketika tubuh Abi dibawa pergi. “Ustaz …,” panggilnya lirih.
Ustaz Hamid menoleh.
“Boleh … Hanin lihat?”
Ustaz Hamid mendekat, menatapnya penuh iba. “Untuk jenazah laki-laki, yang memandikan adalah laki-laki, Nak. Ustaz yang akan bantu memandikan Abi. Walau kamu mahramnya, tapi lebih enak dipandang kalau ustaz saja yang memandikan. Lagi pula kalau anak perempuan yang memandikan ada batasnya.”
Hanin menggigit bibirnya menahan tangis. “Baik, Ustaz. Abi … pasti dingin, ya, Ustaz?”
“Tidak, Nak. Kita akan perlakukan beliau dengan penuh hormat.”
Sebelum pintu ditutup, Hanin sempat mendekat. Ia menyentuh kaki ayahnya yang sudah terbujur.
“Abi … maafin Hanin ya …,” bisiknya. “Hanin nggak bisa bantu apa-apa.”
Tangisnya kembali pecah. Ghania memeluk bahunya.
Sementara itu, di dalam kamar, beberapa ibu-ibu sudah bersiap memandikan jenazah Umi.
“Hanin, sini …,” panggil salah satu tetangga lembut. “Kamu ikut ya, Nak.”
Langkah Hanin terasa berat. Jantungnya berdegup keras ketika kain penutup wajah Umi dibuka perlahan.
Wajah itu begitu tenang. Seolah hanya tertidur. Hanin langsung terduduk di sampingnya.
“Umi …,” panggil Hanin dengan suara bergetar. “Kenapa Umi cantik banget sih walaupun lagi tidur?”
Beberapa ibu-ibu ikut menahan tangis. Air hangat mulai disiapkan. Ghania berdiri di sisi Hanin.
“Aku di sini, Nin,” bisiknya.
Hanin mengangguk pelan. Ketika air pertama kali disiramkan ke tubuh Umi, tangan Hanin gemetar hebat.
“Pelan-pelan, Nak,” ujar seorang ibu.
Hanin mengusap tangan ibunya perlahan dengan kain basah. Air matanya jatuh tanpa henti.
“Umi …,” bisiknya lirih. “Dulu Umi yang mandiin Hanin waktu kecil.”
Tangisnya pecah lagi. “Sekarang gantian, Mi, tapi kenapa cuma sekali?” suaranya semakin parau. “Kenapa Umi cuma kasih Hanin satu kali kesempatan buat mandiin Umi?”
Ghania ikut menangis di sampingnya. Hanin mengusap lengan ibunya dengan hati-hati.
“Hanin kan pengin nanti kalau Umi sudah tua, Hanin yang jagain Umi. Hanin yang suapin, Hanin yang sisirin rambut Umi.”
Ia terisak keras. “Kenapa malah sekarang, Mi? Kenapa cepat banget?”
Salah satu ibu mencoba menenangkan. “Sudah, Nak … ikhlaskan .…”
“Tapi apakah dosa Hanin sebesar itu?” tangisnya makin dalam. “Sampai Allah ambil Umi sebelum Hanin sempat balas semua kebaikan Umi?”
Ruangan itu dipenuhi isak tangis.
Ghania memegang tangan Hanin. “Nin … jangan salahkan diri kamu terus .…”
Hanin menunduk, dahinya hampir menyentuh tangan ibunya.
“Umi … maafin Hanin ya kalau selama ini banyak bikin Umi kecewa.”
Tangannya gemetar saat membersihkan rambut ibunya.
“Umi selalu bilang, anak perempuan itu harus kuat. Tapi Hanin nggak kuat, Mi.”
Ia menangis tanpa suara, hanya bahunya yang naik turun hebat.
Proses itu terasa sangat lama bagi Hanin. Setiap siraman air seperti menyayat hatinya sendiri.
Setelah selesai dimandikan, jenazah Umi dikafani dengan kain putih bersih.
Hanin membantu memegang ujung kain itu.
“Cantik banget, Mi …” bisiknya. “Putih … kayak mukena kesayangan Umi.”
---
Tak lama kemudian, kabar datang bahwa jenazah Abi juga telah selesai dimandikan dan dikafani. Dua keranda kembali berdampingan di ruang tengah.
Hanin berdiri di antara keduanya.
“Abi … Umi … kalian masih bareng,” ucapnya lirih. “Dari dulu nggak pernah pisah ya .…”
Tangannya menyentuh masing-masing keranda. “Sekarang Hanin yang terpisah. Tinggal sendiri .…” Tangisnya kembali pecah.
---
Menjelang Dzuhur, kedua jenazah dibawa ke masjid untuk disolatkan. Masjid kampung itu dipenuhi warga.
Hanin berdiri di saf perempuan paling depan, tepat di belakang jenazah Umi. Ghania berdiri di sampingnya, menggenggam tangannya erat.
Di depan, Ustaz Hamid berdiri sebagai imam.
“Allahu Akbar .…”
Takbir pertama menggema. Hanin mengangkat tangan dengan gemetar.
Air matanya terus mengalir sepanjang shalat. Setiap doa terasa seperti pisau yang memutar luka di dadanya.
“Ya Allah … ampuni Abi … ampuni Umi …,” bisiknya dalam hati.
Takbir demi takbir berlalu. Saat salam diucapkan, Hanin hampir roboh kalau bukan karena Ghania yang menahannya.
“Kuat, Nin …,” ucap Ghania.
Hanin hanya mengangguk lemah.
Dari masjid, iring-iringan bergerak menuju pemakaman umum.
Langit terasa mendung, meski matahari masih terlihat. Hanin berjalan di belakang keranda, langkahnya gontai.
“Pelan-pelan …,” ucap seseorang.
Setibanya di pemakaman, liang lahat sudah disiapkan berdampingan. Hanin menatap dua lubang tanah itu dengan tatapan kosong.
“Jadi ini rumah baru Abi dan Umi …,” gumamnya lirih.
Jenazah Abi dimasukkan lebih dulu. Hanin menggigit bibirnya keras-keras saat tubuh ayahnya perlahan diturunkan ke liang lahat.
“Abi …,” bisiknya. Kemudian giliran Umi.
Saat tubuh ibunya hendak diturunkan, Hanin tiba-tiba tak bisa menahan diri lagi.
“Jangan!” teriaknya. Ia berlari ke depan, hampir terjun ke dalam liang lahat.
“Aku mau ikut Abi! Aku mau ikut Umi!”
Beberapa orang terkejut. Untung Ghania sigap memeluknya dari belakang.
“Nin! Astaghfirullah!”
Hanin meronta dalam pelukan sahabatnya.
“Lepasin aku, Ghani! Aku nggak mau sendirian! Aku mau ikut!”
Tangisnya histeris. Ghania ikut menangis, tapi ia mempererat pelukannya.
“Istighfar, Hanin!” ucapnya tegas di sela tangis. “Ini takdir Allah! Kamu nggak boleh begini!”
“Aku capek!” jerit Hanin. “Aku nggak punya siapa-siapa lagi!”
“Kamu punya Allah!” balas Ghania dengan suara bergetar. “Kamu punya aku! Kamu punya Ustaz! Jangan bilang kamu sendirian!”
Hanin melemas dalam pelukannya.
“Aku nggak kuat .…”
“Kamu harus kuat,” bisik Ghania. “Demi Abi dan Umi.”
Tanah mulai ditimbunkan perlahan. Suara sekop menghantam tanah terdengar begitu menyakitkan di telinga Hanin.
Setiap bunyi seperti memaku kenyataan bahwa semuanya benar-benar selesai. Ia menangis dalam diam kini. Tak lagi meronta.
Saat tanah sudah rata, doa dipanjatkan bersama. Hanin mengangkat kedua tangannya.
“Ya Allah … kalau memang ini takdir-Mu tolong jaga Abi dan Umi di sana.”
Suaranya pecah. “Lapangkan kuburnya… terangin tempat tinggalnya .…”
Air matanya tak berhenti mengalir. Setelah doa selesai, satu per satu pelayat mulai pulang.
Hanin masih berdiri di depan dua gundukan tanah merah yang masih basah. Seseorang memberinya bunga untuk ditabur.
Tangannya gemetar saat menaburkannya perlahan. “Abi … Umi …," ucapnya pelan.
Bunga-bunga itu jatuh di atas tanah.
“Hanin nggak bisa kasih apa-apa lagi selain doa .…”
Ia terduduk pelan di depan makam. “Maafin Hanin ya … kalau selama ini belum jadi anak yang baik.”
Ia mengusap tanah itu dengan jemarinya. “Sekarang rumah kalian di sini, Abi, Umi,” suaranya lirih. “Jangan lupa mimpiin Hanin.”
Tangisnya kembali mengalir panjang. Akhirnya, dengan langkah berat, Hanin berdiri. Ia menatap makam itu untuk terakhir kali hari itu.
“Tunggu Hanin jadi anak yang kuat dulu,” bisiknya. “Nanti Hanin sering-sering datang.”
Langkahnya meninggalkan pemakaman terasa seperti meninggalkan sebagian jiwanya terkubur di sana.
💪💪 Hanin
jadi pnsaran kan tu gnia 🤦
cerita othor kelewat aku baca 🙏
Akan dia cerita kan kedekatan mereka dulu ??