NovelToon NovelToon
San Sekai No Koi Monogatari

San Sekai No Koi Monogatari

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Sistem / Anime / Tamat
Popularitas:380
Nilai: 5
Nama Author: RavMoon

Shin Kurogane bukanlah remaja biasa. Di balik penampilannya yang santai dengan jaket kulit dan ikat kepala merah, ia membawa beban harapan kakeknya untuk menjadi sosok yang bermanfaat. Namun, hidupnya berubah total saat ia menginjakkan kaki di Kamakura Private High School, sebuah institusi elit tempat bertemunya tiga dunia yang berbeda.
​Tiba-tiba, sebuah suara sarkastik dari entitas bernama Miu bergema di kepalanya, memperkenalkan "Template Pekerjaan". Kini, Shin bukan hanya harus menyeimbangkan hidupnya sebagai siswa, tapi juga sebagai penulis novel jenius, koki berbakat, dan ahli medis dadakan.
​Di sekolah ini, ia terjebak di antara sepupu-sepupunya yang dingin seperti Yukino dan Eriri, guru-guru yang butuh perlindungan emosional seperti Shizuka dan Mafuyu, hingga gadis-gadis misterius seperti Utaha dan Megumi. Tanpa kekuatan supranatural atau sihir, Shin harus menggunakan kecerdasan analitis, karisma alami, dan bantuan sistemnya untuk menavigasi drama remaja, persaingan kreatif, da

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RavMoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kabut Pagi di Akademi Sakura

Pagi ini, Chiba diselimuti oleh kabut tipis yang merayap di sela-sela bangunan, memberikan kesan seolah dunia sedang berbisik dalam keraguan. Udaranya terasa lembap dan dingin, menusuk hingga ke tulang bagi siapa pun yang tidak mempersiapkan diri. Aku berjalan menyusuri trotoar menuju Akademi Sakura, tangan kananku terbenam di saku celana seragam, sementara tangan kiriku memegang payung lipat—sekadar antisipasi jika kabut ini berubah menjadi gerimis yang tak diundang.

Langkahku teratur, tidak terburu-buru. Di kepalaku, aku masih bisa merasakan sisa kehangatan dari makan malam kemarin. Ada sesuatu yang memuaskan saat melihat Utaha dan Eriri, dua kepribadian yang saling bertolak belakang, bisa duduk diam meski hanya demi sepotong daging. Itu adalah bukti bahwa variabel manusia, serumit apa pun, selalu memiliki titik temu jika kita tahu cara menekannya.

[Misi Pekerjaan: Penulis Novel (Mangaka)]

[Status: Mengamati Keseimbangan Sosial]

[Keahlian Analitis: Aktif]

Catatan Sistem: Hubungan dengan variabel 'Rival Kreatif' telah mencapai ambang batas stabilitas. Disarankan untuk mencari variabel 'Penyeimbang' guna menghindari ledakan drama yang prematur.

Aku tersenyum tipis membaca instruksi bisu dari sistem itu. Penyeimbang, ya? Aku tahu persis siapa yang dimaksud.

Saat aku melewati gerbang sekolah, sosok-sosok siswa yang samar mulai terlihat menembus kabut. Suasana pagi ini terasa lebih sunyi dari biasanya, seolah-olah semua orang sepakat untuk mengecilkan volume suara mereka agar tidak merusak ketenangan kabut ini. Namun, ketenangan itu terusik saat aku melihat siluet seorang gadis yang berdiri diam di dekat air mancur halaman depan.

Dia tidak sedang menunggu seseorang dengan gelisah, juga tidak sedang sibuk dengan ponselnya. Dia hanya berdiri di sana, menatap butiran embun yang menempel di kelopak bunga hydrangea. Dia begitu menyatu dengan latar belakang hingga beberapa siswa yang lewat benar-benar tidak menyadari keberadaannya.

Kato Megumi.

Aku mengubah arah langkahku, berjalan perlahan mendekatinya. Suara sepatuku di atas aspal yang lembap adalah satu-satunya pemberitahuan kehadiranku.

"Kabut ini sepertinya sangat menyukaimu, Kato-san," ujarku saat jarak kami tersisa dua langkah. "Dia membantumu menghilang dari dunia yang terlalu bising ini."

Kato menoleh perlahan. Ekspresinya tetap datar, namun ada kilatan pengenalan di matanya yang jernih. "Ah, Ren-kun. Selamat pagi. Kau selalu punya cara untuk memulai percakapan dengan kalimat yang terdengar seperti kutipan dari novel sastra berat."

"Itu adalah kutukan bagi mereka yang melihat dunia sebagai kumpulan narasi," jawabku sembari berdiri di sampingnya. Aku ikut menatap bunga yang ia perhatikan tadi. "Jadi, apa yang membuat variabel paling tenang di sekolah ini berdiri di sini sendirian? Sedang menunggu bus yang tidak akan pernah datang ke halaman sekolah?"

Kato menghela napas pendek, sebuah gerakan yang hampir tidak terlihat jika aku tidak memperhatikannya dengan seksama. "Tidak juga. Aku hanya sedang berpikir bahwa hari ini akan menjadi hari yang panjang. Hiratsuka-sensei memintaku untuk membantu di ruang klub relawan siang nanti. Katanya, ada permintaan yang membutuhkan 'seseorang dengan kehadiran netral'."

Aku menyipitkan mata. Ruang klub relawan. Itu adalah wilayah kekuasaan Yukinoshita Yukino. Menempatkan Kato di sana adalah langkah yang menarik dari Shizuka. Ini adalah pertemuan antara es yang keras dan air yang tenang.

"Kehadiran netral adalah aset yang paling dicari dalam sebuah konflik, Kato-san," ujarku puitis. "Tanpa nol, angka lain tidak akan punya tempat untuk berdiri. Jika kau butuh bantuan untuk menghadapi 'es' yang terlalu dingin di sana, kau tahu di mana harus mencariku."

Kato menatapku sejenak, lalu ia memberikan senyum tipis—jenis senyum yang terasa seperti hembusan angin sepoi-sepoi di tengah hari yang terik. "Terima kasih, Ren-kun. Tapi aku rasa aku akan baik-baik saja. Aku cukup ahli dalam menjadi 'tidak terlihat' saat suasana mulai memanas."

Kami berjalan bersama menuju gedung sekolah. Kehadiran Kato di sampingku memberikan rasa keseimbangan yang aneh. Jika Utaha adalah api yang membakar dan Eriri adalah badai yang meledak, maka Kato adalah tanah yang membumi.

Saat kami memasuki loker sepatu, suasana yang tadinya tenang tiba-tiba berubah. Di ujung koridor, aku melihat Yui Yuigahama sedang berlari ke arah kami dengan wajah yang tampak sangat cemas. Matanya berkaca-kaca, dan dia memegang sebuah amplop berwarna merah jambu yang sudah sedikit lusuh.

"Ren-kun! Syukurlah kau sudah sampai!" serunya dengan nada yang gemetar.

Aku menghentikan gerakanku mengganti sepatu, menatapnya dengan pandangan protektif yang tajam. "Tenanglah, Yuigahama-san. Bernapaslah. Variabel apa yang membuatmu begitu gelisah di pagi yang berkabut ini?"

Yui menarik napas dalam-dalam, lalu menyodorkan amplop itu padaku. "Ini... ini ada di lokerku pagi ini. Isinya... isinya ancaman untuk tidak mendekatimu lagi. Dan bukan cuma aku, Yukinon juga mendapatkannya!"

Aku mengambil amplop itu, merasakannya di jemariku. Tidak ada aroma parfum, hanya bau kertas murah dan tinta yang tajam. Sifat analitisku langsung bekerja. Ini bukan sekadar surat kaleng biasa; ini adalah upaya untuk mengisolasi variabel-variabel di sekitarku.

Di belakang Yui, aku melihat Haruno Yukinoshita sedang berjalan perlahan di kejauhan koridor, memperhatikan kami dengan senyum yang sulit diartikan.

Aku meremas amplop itu dalam genggamanku, wajahku tetap tenang namun mataku memancarkan kedinginan yang mematikan. "Sepertinya ada seseorang yang bosan dengan hidupnya yang biasa-biasa saja dan mencoba bermain api denganku."

Kato yang berdiri di sampingku hanya menatap amplop itu, lalu menatapku. "Ren-kun... matamu barusan terlihat sangat menyeramkan, tahu."

Aku segera melunakkan ekspresiku, menepuk bahu Yui dengan lembut. "Jangan khawatir, Yuigahama-san. Pergilah ke kelas. Biarkan variabel pengganggu ini menjadi urusanku. Aku tidak suka jika ada orang yang mencoba menulis ulang naskah yang sedang kususun."

Hari ini memang akan menjadi hari yang sangat panjang. Dan sepertinya, kabut pagi ini baru saja memberikan tirai bagi panggung drama yang lebih gelap dari yang kubayangkan.

Aku menatap punggung Yui yang menjauh dengan langkah ragu-ragu. Amplop merah jambu di tanganku kini telah berubah bentuk, sedikit remuk akibat tekanan jemariku. Di sampingku, Kato Megumi masih berdiri dengan ketenangan yang hampir tidak manusiawi, seolah-olah surat ancaman dan kepanikan Yui hanyalah debu yang lewat di depan matanya.

"Ren-kun, kau tidak akan benar-benar mencari siapa pengirimnya dengan wajah seperti itu, kan?" tanya Kato datar. "Biasanya di dalam novel, karakter yang memasang wajah seperti itu akan berakhir melakukan sesuatu yang dramatis di gudang olahraga."

Aku menghela napas, merilekskan rahangku yang sempat menegang. "Dramatis adalah bumbu yang diperlukan untuk memberikan pelajaran pada mereka yang tidak tahu tata krama, Kato-san. Tapi jangan khawatir, aku lebih suka metode yang lebih bersih daripada sekadar konfrontasi fisik di gudang."

Aku memasukkan amplop itu ke dalam saku celana. Sifat analitisku mulai membedah variabel yang ada. Surat itu murah, namun waktu pengirimannya sangat spesifik—saat kabut sedang tebal dan penglihatan CCTV sekolah mungkin terganggu oleh bias cahaya. Ini bukan dilakukan oleh seseorang yang impulsif.

"Aku akan ke ruang klub relawan nanti," ucap Kato sembari mulai melangkah. "Jika kau ingin mampir untuk mendinginkan kepalamu, pintunya selalu terbuka. Yukinoshita-san mungkin akan mengomel, tapi teh di sana cukup lumayan untuk menenangkan saraf."

"Terima kasih, Kato-san. Simpan saja secangkir untukku," jawabku sembari berbalik menuju arah yang berlawanan.

Tujuanku bukan kelas. Aku berjalan menuju koridor lantai dua, tempat di mana Haruno Yukinoshita tadi terlihat. Instingku mengatakan bahwa rubah betina itu tidak akan berada jauh dari pusat kekacauan yang dia nikmati. Benar saja, aku menemukannya sedang berdiri di depan mesin penjual otomatis, menatap kaleng kopi hitam dengan ekspresi yang tampak sangat melankolis—sebuah akting yang sempurna.

"Menikmati pertunjukannya, Haruno-san?" suaraku menggema di koridor yang sepi.

Haruno tidak menoleh, namun sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman manipulatif yang familiar. "Oh, Ren-kun. Kau bicara seolah-olah aku adalah sutradara dari drama pagi ini. Aku hanya penonton yang kebetulan lewat dan melihat seorang pahlawan sedang menggenggam surat cinta... atau itu surat ancaman?"

Aku berdiri di sampingnya, memasukkan koin ke mesin dan memilih teh hijau dingin. Suara kaleng yang jatuh ke lubang pengambilan terdengar seperti titik penutup dari kalimat pembukaku. "Surat ancaman yang dikirim ke Yui dan Yukino. Gaya yang sangat klasik untuk seseorang yang ingin menguji reaksiku. Tapi kau tahu, Haruno-san, aku paling benci jika ada orang yang menyentuh 'aset' yang ada di bawah pengawasanku."

Haruno akhirnya menoleh, matanya berkilat penuh minat. "Aset? Kau benar-benar memandang mereka sebagai variabel dalam skemamu, ya? Sangat dingin. Tapi katakan padaku, jika kau bukan pelakunya, dan aku hanya penonton... siapa menurutmu yang cukup berani untuk menantang eksistensi Ren Saiba yang misterius ini?"

Aku membuka kaleng tehku, menyesapnya perlahan. Rasa pahit yang dingin mengalir di tenggorokanku, menjernihkan pikiranku. "Ada seseorang di sekolah ini yang merasa posisinya terancam. Seseorang yang merasa bahwa kehadiranku merusak tatanan hierarki yang dia bangun. Dan surat ini... ini adalah cara mereka memanggilku."

[Keahlian Analitis: Master - Evaluasi Lingkungan]

[Variabel Terdeteksi: Sidik jari samar pada amplop, bau tembakau murah yang tertinggal.]

"Bau tembakau?" gumamku pelan. "Bukan Haruno. Dia menggunakan parfum mahal."

Haruno mendekat, aromanya yang elegan kembali menyerbu indra penciumanku. Dia meletakkan tangannya di bahuku, berbisik tepat di telingaku. "Hati-hati, Ren-kun. Kadang-kadang, saat kau menatap ke dalam jurang, jurang itu akan mengirimkan surat ancaman kepadamu. Jika kau butuh 'kunci' untuk membuka identitasnya, kau tahu apa yang harus kau berikan sebagai imbalan."

"Aku tidak butuh kunci dari orang yang suka mengganti gemboknya setiap hari, Haruno-san," aku melepaskan tangannya dengan gerakan yang sopan namun tidak bisa dibantah. "Aku akan menemukan mereka sendiri. Dan saat aku menemukannya, aku harap kau masih berada di kursi penonton, bukan di panggung sebagai targetku selanjutnya."

Aku berjalan pergi, meninggalkan Haruno yang tertawa renyah di belakangku. Langkahku kini menuju ke arah belakang sekolah, area yang sering digunakan oleh para siswa 'bermasalah' untuk merokok secara sembunyi-sembunyi. Jika bau tembakau itu adalah petunjuk, maka pelakunya sedang menunggu di sana, merasa bangga dengan intimidasi kecil yang mereka lakukan.

Sifat protektifku kini bercampur dengan sisi nakal yang berbahaya. Aku tidak akan hanya membalas; aku akan merobek naskah mereka dan menggantinya dengan sesuatu yang akan membuat mereka bermimpi buruk setiap kali melihat amplop merah jambu.

[Misi Pekerjaan: Penulis Novel (Mangaka)]

[Target: Mengidentifikasi Pengganggu dalam Narasi]

[Status: Berburu]

Kabut di luar jendela mulai menipis, namun suasana di dalam hatiku justru semakin pekat. Akademi Sakura mungkin adalah sekolah yang damai bagi orang lain, tapi bagiku, ini adalah papan catur di mana aku baru saja memutuskan untuk mengambil langkah 'skakmat' pertama.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!