NovelToon NovelToon
Putri Yang Dicuri Takdir

Putri Yang Dicuri Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / CEO
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Finda Pensiunawati

Kita akan mulai perjalanan novel panjang ini perlahan, dengan emosi yang dalam, masa lalu yang kelam, dan takdir yang kelak berubah menjadi cahaya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Finda Pensiunawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12 – Pelukan yang Tak Pernah Ia Miliki

Pagi itu udara di Manhattan terasa lebih lembut, seolah badai semalam menyisakan harapan kecil.

Di ruang ICU St. Helena Medical Center, kondisi Valeria masih kritis, tetapi stabil. Mesin ventilator tetap membantu napasnya. Monitor jantung berdetak pelan namun konsisten.

Kabar itu menyebar cepat.

Alexander berdiri di depan kaca ICU, tatapannya tak pernah lepas dari wajah pucat Valeria. Luka di tubuhnya sendiri belum sepenuhnya pulih, tetapi ia menolak untuk beristirahat.

“Aku tidak akan pergi,” katanya pelan ketika seorang perawat menyarankan ia pulang.

Di sisi lain kota, dua orang yang telah menempuh perjalanan panjang baru saja tiba di Manhattan.

Mereka bukan keluarga kaya.

Bukan pemilik yayasan.

Mereka hanya sepasang petani sederhana dari Meksiko.

Namanya Miguel dan Sofia Hernández.

Begitu mendengar kabar dari pihak kampus bahwa putri mereka tertembak dan dalam kondisi kritis, mereka menjual sebagian kecil lahan jagung yang tersisa dan memesan penerbangan pertama menuju New York.

Miguel berdiri di depan ruang ICU dengan topi tuanya yang ia genggam erat di tangan.

Sofia menangis dalam diam.

“Itu niña kita…” bisiknya dalam bahasa Spanyol.

Alexander yang berdiri tak jauh dari sana memperhatikan mereka.

Ia tahu dari laporan kampus bahwa Valeria diadopsi secara tidak resmi oleh pasangan petani di Meksiko sejak bayi. Namun melihat langsung kesedihan di wajah mereka membuat dadanya terasa sesak.

Ia mendekat perlahan.

“Señor… Señora…?” sapanya dengan sopan.

Miguel mengangkat wajahnya.

“Saya Alexander,” lanjutnya. “Teman Valeria.”

Tatapan Miguel berubah lembut.

“Terima kasih sudah menjaga putri kami di sini,” katanya dengan aksen kental.

Alexander menunduk hormat. “Justru saya yang berterima kasih. Valeria… menyelamatkan banyak orang. Dia luar biasa.”

Sofia memandang Alexander dengan mata basah. “Dia selalu begitu sejak kecil. Terlalu peduli pada orang lain.”

Alexander tersenyum tipis. “Itulah yang membuatnya istimewa.”

Percakapan itu sederhana, namun hangat.

Miguel melihat sesuatu dalam diri pemuda itu—ketulusan.

Dan Alexander melihat sesuatu dalam diri Miguel—cinta yang tidak dibuat-buat.

Cinta seorang ayah.

Sementara itu, di sudut lain rumah sakit, badai kecil lain sedang terjadi.

Camille berdiri di lorong kosong dekat ruang administrasi.

Di depannya, seorang wanita elegan dengan mantel mahal dan wajah keras menatapnya penuh kemarahan.

Ibunya.

“Prestasi kamu menurun!” bentaknya tanpa peduli pada orang-orang di sekitar. “Semua dosen membicarakan Valeria! Kamu kalah dari gadis desa itu!”

Camille menunduk, tangan mengepal.

“Aku sudah berusaha, Mama…”

“Berusaha?” suara wanita itu meninggi. “Nama keluarga kita dipertaruhkan! Kamu seharusnya jadi yang terbaik!”

Beberapa perawat menoleh tidak nyaman.

Camille menggigit bibirnya.

“Aku tidak pernah minta dilahirkan untuk membawa ambisi Mama,” bisiknya hampir tak terdengar.

Tamparan hampir melayang.

Namun sebelum tangan itu mengenai wajah Camille—

Seseorang menangkap pergelangan tangan sang ibu dengan tegas.

Miguel.

Pria sederhana dengan jaket usang dan tangan kasar karena bertahun-tahun bekerja di ladang.

Tatapannya tenang, tapi tegas.

“Cukup, señora,” katanya pelan namun berat.

Wanita itu terkejut. “Siapa Anda berani-beraninya—”

“Dia anak Anda,” lanjut Miguel. “Bukan proyek.”

Lorong mendadak hening.

Camille membeku.

Tak pernah… tak pernah ada yang berdiri di depannya seperti itu.

Wanita itu menarik tangannya kasar. “Ini bukan urusan Anda!”

Miguel tidak mundur.

“Setiap anak pantas diperlakukan dengan hormat.”

Sofia yang menyusul suaminya berdiri di sampingnya, tatapannya lembut namun penuh keberanian.

“Anak bukan alat untuk memenuhi mimpi orang tua,” tambahnya pelan.

Ibu Camille tertawa sinis. “Kalian tidak tahu apa-apa tentang standar keluarga kami.”

Miguel menatapnya dalam.

“Saya mungkin hanya petani. Tapi saya tahu satu hal—cinta tidak pernah memukul.”

Kalimat itu menggema.

Camille merasakan sesuatu pecah dalam dadanya.

Ibunya menatap sekeliling, merasa diperhatikan, lalu mendengus kesal dan pergi dengan langkah cepat.

Lorong kembali sunyi.

Camille masih berdiri terpaku.

Tangannya gemetar.

Miguel menoleh padanya.

“Apakah kamu baik-baik saja, niña?”

Suara itu lembut.

Tidak menghakimi.

Tidak menuntut.

Camille tak mampu menjawab. Air mata yang selama ini ia tahan akhirnya jatuh.

Sofia mendekat perlahan.

Tanpa banyak kata, wanita itu memeluk Camille.

Pelukan sederhana.

Hangat.

Nyata.

Dan bagi Camille—asing.

Ia kaku pada awalnya.

Lalu perlahan, tubuhnya melemah dalam pelukan itu.

Ia terisak pelan.

Selama ini, ia tumbuh dengan standar, target, dan tekanan.

Ia tidak pernah dipeluk ketika gagal.

Tidak pernah dibela ketika salah.

Tidak pernah dipeluk hanya karena ia adalah seorang anak.

Miguel menepuk pundaknya lembut.

“Kamu tidak harus menjadi yang terbaik untuk layak dicintai,” katanya.

Kalimat itu seperti membuka pintu yang lama terkunci.

Camille menatap mereka berdua dengan mata sembab.

“Kenapa… kalian membelaku?” tanyanya lirih.

Sofia tersenyum lembut. “Karena kamu terlihat seperti anak kami Valeria.”

Camille menunduk.

Untuk pertama kalinya, ia tidak merasa sendirian.

Dari kejauhan, Alexander menyaksikan kejadian itu.

Ia tak menyangka orang tua yang membesarkan Valeria memiliki hati sebesar itu.

Ia semakin memahami dari mana kebaikan Valeria berasal.

Miguel menoleh ke arah Alexander dan berjalan mendekat.

“Terima kasih sudah ada untuk putri kami,” katanya tulus.

Alexander mengangguk hormat. “Saya akan selalu ada.”

Miguel tersenyum tipis. “Dia beruntung punya teman seperti kamu.”

Alexander menatap ke arah ICU.

“Justru saya yang beruntung mengenalnya.”

Camille berdiri sendiri setelah Miguel dan Sofia kembali ke ruang ICU.

Namun hatinya tak lagi sekeras dulu.

Ada rasa hangat yang asing namun menenangkan.

Ia menyentuh pipinya sendiri, seolah masih merasakan sisa pelukan itu.

Ia teringat wanita yang ia temui di taman semalam—ibu kandung Valeria yang kehilangan bayinya bertahun-tahun lalu.

Dan kini, orang tua yang membesarkan Valeria menunjukkan cinta yang begitu tulus.

Valeria selalu dikelilingi cinta.

Meski sederhana.

Meski jauh dari kemewahan.

Camille menghela napas panjang.

Mungkin selama ini yang ia iri bukan prestasi Valeria.

Melainkan cinta yang ia miliki.

Ia menatap ke arah ICU.

“Bangunlah,” bisiknya. “Aku belum sempat meminta maaf.”

Di dalam ruangan, jari Valeria kembali bergerak halus.

Monitor jantungnya berdetak sedikit lebih stabil.

Dan di luar sana, takdir perlahan menyatukan potongan-potongan kehidupan yang selama ini terpisah—

Seorang gadis yang dibesarkan oleh petani penuh cinta.

Seorang ibu kandung yang masih mencari.

Seorang ayah sederhana yang melindungi anak orang lain.

Dan seorang gadis bernama Camille…

Yang untuk pertama kalinya merasakan arti dibela.

1
Finda Pensiunawati
love love 😍
Septriani Margaret
kk lanjut doang seru
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!