NovelToon NovelToon
Gadis Milik CEO Posesif

Gadis Milik CEO Posesif

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / CEO / Anak Genius / Bullying dan Balas Dendam
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Tiara Pratiwi

Akibat fitnah kakak sepupunya, Sierra Moore dibuang keluarganya keluar kota Cragstone yang sangat jauh dan terpencil tanpa dibekali uang sepeserpun di usia 15 tahun. Tiga tahun kemudian, Tobias Moore, kakek Sierra yang baru mengetahui kalau Sierra telah didepak dari keluarga Moore sangat marah dan meminta anak dan menantunya untuk membawa Sierra kembali atau dia akan melongsorkan anaknya itu dari posisi CEO Moore Company. Sepupu Sierra, Nora Moore tentunya tidak senang dengan hal ini dan mengupayakan segala cara untuk bisa menyingkirkan Sierra dari keluarga Moore.
Apa yang membuat Nora tidak menyukai Sierra?
Hanya dengan dukungan kakeknya, akankah Sierra bisa bertahan dan mengambil kembali posisinya di keluarga Moore?
Akankah Sierra balas dendam pada orang-orang yang sudah menyakitinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiara Pratiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22 Cari Gara-gara

Malam itu sangat menakutkan sekaligus mendebarkan bagi Gwen Preston. Apartemen Dennis yang terletak di pusat kota Metropolia itu menjadi saksi bisu penyerahan dirinya yang paling berharga. Namun, saat fajar menyingsing, tidak ada tanda-tanda kehidupan dari ponselnya. Tidak ada satu pun panggilan tak terjawab atau pesan tak terbaca dari keluarganya yang menanyakan di mana dia menghabiskan malam. Keluarga Preston terlalu sibuk dengan urusan bisnis dan kehidupan sosial mereka sendiri untuk menyadari bahwa putri mereka tidak pulang ke rumah.

Pagi itu, mobil Bentley hitam milik Dennis berhenti tepat di depan gerbang Metropolia International School. Gwen turun dengan langkah yang sedikit kaku, penampilannya telah tertata rapi meski matanya tampak sedikit kelelahan. Dennis menurunkan kaca mobilnya, memberikan senyum yang selalu berhasil membuat jantung Gwen berdegup kencang.

"Belajar yang rajin, Sayang," ucap Dennis singkat.

Gwen mengangguk pelan, tersenyum bangga saat beberapa siswa yang melintas melihatnya turun dari mobil mewah itu. Namun, setelah pintu mobil tertutup dan Gwen melangkah masuk ke area sekolah, Dennis tidak langsung pergi dari sana. Dia mematikan mesin, menyandarkan punggungnya pada jok kulit, dan menyalakan sebatang rokok. Matanya tertuju lurus ke arah jalan raya, menunggu sosok yang sejak semalam mengganggu pikirannya.

Harapannya tidak sia-sia. Dari kejauhan, dia melihat seorang gadis berseragam rapi dengan rambut diikat tinggi dan tas ransel yang disampirkan di satu bahu. Langkahnya panjang dan tenang, wajahnya datar tanpa ekspresi. Gadis itu adalah Sierra.

Dennis segera keluar dari mobil. Dia berdiri bersandar pada badan mobilnya, membuka beberapa kancing bajunya untuk memamerkan otot dadanya. Dia kemudian menggulung lengan bajunya dan melipat tangan di dada untuk memamerkan otot lengannya.

Tapi Sierra melewati Dennis begitu saja.

Dennis segera melangkah untuk memotong jalur jalan gadis itu tepat di depan gerbang.

"Hei, namaku Dennis Ritchie," sapa Dennis dengan nada suara yang rendah dan penuh percaya diri.

Sierra tetap tidak menghentikan langkahnya. Dia hanya melirik sekilas, lalu bergeser sedikit untuk melewati Dennis tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Keberadaan pria itu baginya tidak lebih menarik daripada tiang listrik di pinggir jalan.

Namun, Dennis bukan orang yang mudah menyerah. Dia sudah terbiasa mendapatkan apa yang dia inginkan. Dia sangat percaya diri pada pesonanya seolah tidak ada satu wanita pun yang bisa menolaknya. Dia mengejar Sierra dengan langkah panjang dan kembali menghadangnya. Kali ini, dia mengeluarkan sebuah kertas berisi nomor ponselnya dari saku jaketnya dan menyodorkannya tepat di depan wajah Sierra.

"Namamu Sierra, kan? Dengar, aku bukan stalker. Aku tidak sengaja mendengar Gwen menyebut namamu kemarin," ujar Dennis, mencoba membangun alasan yang masuk akal. "Aku anggota tim basket nasional. Aku perhatikan tubuhmu lebih tinggi dari rata-rata gadis seusiamu. Posturmu bagus. Jika kau tertarik belajar basket secara profesional, aku bisa mengajarimu. Ini nomorku."

Sierra berhenti. Dia menatap kertas di tangan Dennis selama beberapa detik, lalu beralih menatap mata pria itu. Dennis tersenyum lebar, merasa tekniknya berhasil. Tanpa diduga, Sierra mengulurkan tangannya dan mengambil kertas itu.

Tetapi, senyum Dennis langsung luntur dalam sekejap. Tanpa memutuskan kontak mata, Sierra merobek kartu nama itu hingga menjadi serpihan kecil. Dia berjalan menuju tempat sampah di dekat pos sekuriti, dan menjatuhkan serpihan kertas itu ke dalamnya.

"Hei!" seru Dennis, suaranya naik satu nada karena terkejut sekaligus tersinggung.

Sierra tidak menoleh. Dia terus berjalan memasuki gerbang sekolah, membiarkan Dennis berdiri mematung di pinggir jalan. Dennis menatap punggung Sierra yang semakin menjauh.

"Ha!" Alih-alih marah besar, sebuah tawa kecil lolos dari bibirnya. Egonya sebagai lelaki justru merasa tertantang. Baginya, semakin sulit seekor mangsa ditaklukkan, semakin manis rasa kemenangannya nanti.

Di dalam kelas, suasana sudah riuh meski bel masuk belum berbunyi. Nora dan teman-temannya tengah berkumpul mengelilingi meja Gwen. Berita tentang Gwen yang tidak pulang semalam sudah menyebar di antara mereka. Gwen menceritakan pengalamannya dengan nada bangga dengan sedikit malu-malu.

"Jadi... kau benar-benar melakukannya?" tanya salah satu teman Nora dengan mata membelalak.

Gwen mengangguk kecil, wajahnya merona. Bukannya memberikan nasehat atau peringatan, teman-temannya justru berseru heboh.

"Wah, selamat ya, Gwen! Kau benar-benar sudah menjadi wanita dewasa sekarang," ucap yang lain. "Mendapatkan pria seperti Dennis itu pencapaian besar. Dia keren sekali."

Gwen tampak sangat menikmati perhatian itu. Dia merasa selangkah lebih maju daripada teman-temannya dalam hal pengalaman hidup. Namun, tiba-tiba sebuah ganjalan muncul di pikirannya.

"Tapi... apa menurut kalian aku akan hamil?" tanya Gwen pelan, suaranya mengandung sedikit kecemasan.

"Hah? Memangnya kalian tidak memakai pengaman?" timpal salah seorang siswi.

"Tidak... kami tidak sempat memikirkan itu," jawab Gwen jujur. "Tapi pagi tadi Dennis memberiku morning pill. Dia bilang itu akan mencegah kehamilan."

"Kalau begitu seharusnya aman, kan?" ucap teman lainnya menenangkan. "Dennis kan sudah berpengalaman, dia pasti tahu apa yang dia lakukan."

Gwen sedikit tidak nyaman mendengarkan perkataan temannya itu.

Di tengah percakapan itu, Tamara masuk ke kelas dengan wajah terburu-buru. Dia segera bergabung dengan kerumunan tersebut. "Kalian tidak akan percaya apa yang baru saja aku lihat di depan gerbang!"

"Apa?" tanya Gwen cepat.

"Gwen, apa kau dan Dennis benar-benar sudah... maksudku, kalian sudah sejauh itu, kan? Tapi tadi aku lihat Dennis mencoba merayu Sierra di depan sekolah!" seru Tamara.

Wajah Gwen seketika memucat. "Apa?! Mana mungkin!"

"Mungkin Sierra yang merayu Dennis duluan," timpal teman lainnya, mencoba menenangkan Gwen. "Dia kan sedang merasa di atas angin sekarang karena dipuji-puji guru."

"Benar! Tidak mungkin Dennis memperlakukan aku seperti itu! Hubungan kami baik-baik saja," ucap Gwen, mencoba meyakinkan dirinya sendiri meski hatinya mulai terasa perih.

Nora, yang sejak tadi hanya menyimak, kini mulai angkat bicara. Dia melihat peluang untuk menciptakan kekacauan baru. "Yah, Dennis kan anggota tim basket nasional. Dia tampan, keren, dan punya mobil bagus. Wajar saja kalau Sierra mengaguminya."

"Tapi aku lihat Dennis yang mencegat Sierra duluan," Tamara bersikeras. "Sepertinya Dennis yang berusaha menggoda Sierra. Dia bahkan sampai memberikan sesuatu, tapi Sierra membuangnya."

Nora tersenyum tipis, sebuah senyuman manipulatif yang sering dia gunakan. "Hmm, yah.... Sierra kan memang cantik, wajar saja jika laki-laki jadi ingin mendekat. Tapi aku yakin Dennis tipe yang setia kok, dia tidak mungkin akan mengkhianatimu Gwen. Dennis mungkin hanya penasaran dengan Sierra. Hanya saja.... mengingat masa lalu Sierra, kau harus tetap hati-hati."

"Kalau benar Nora! Jika Sierra berusaha merayu Dennis, awas saja! Aku pasti akan memberinya pelajaran!" ancam Gwen dengan suara bergetar karena amarah.

Nora merasa puas. Dia sangat senang melihat Gwen mulai "panas". Baginya, menggunakan orang lain sebagai alat untuk menyiksa Sierra adalah strategi yang jauh lebih aman. Dia ingat betul bagaimana nasib Wanda dan Yara yang berakhir tragis setelah berkonfrontasi fisik secara langsung dengan Sierra. Dia berpikir, jika Gwen yang bergerak, maka dia tetap memiliki tangan yang bersih.

Tepat saat itu, pintu kelas terbuka. Sierra masuk dengan langkah santai. Gwen langsung melemparkan tatapan tajam dan penuh kebencian, seolah-olah ingin melubangi kepala Sierra dengan matanya.

Sierra menyadarinya, tapi dia hanya melirik sekilas lalu menuju ke bangkunya. Dia sudah bisa menebak apa yang terjadi. Informasi dari Anastasia semalam cukup membantunya memetakan situasi.

Sierra sama sekali tidak menanyakan atau membahas soal Dennis dengan Anastasia tapi Anastasia, yang merupakan "pusat intelijen" gosip di sekolah, ia tiba-tiba saja bercerita panjang lebar tentang hot news di kalangan siswa Metropolia Internasional School akhir-akhir ini, yaitu soal Dennis Ritchie.

Menurut Anastasia, Dennis dikenal sebagai playboy yang sering bergonta-ganti pasangan. Bahkan belum lama ada gosip Dennis keluar masuk night club dan hotel dengan siswi sekolah lain.

Saat Anastasia mendapatkan informasi bahwa Gwen sekarang berpacaran dengan Dennis, jiwa tukang gosipnya langsung meronta ingin dikeluarkan, dan dia mengeluarkannya pada Sierra.

Meskipun Sierra bukan tipe yang suka bergosip tapi dia selalu mendengarkan informasi apapun yang masuk ke telinganya.

Sierra meletakkan kepalanya di atas meja, dan bersiap tidur. Baginya, urusan asmara Gwen dan Dennis sama sekali tidak ada hubungannya dengan dirinya. Dia tidak merasa perlu repot-repot memperingatkan Gwen soal kelakuan Dennis.

1
Tiara Pratiwi
Diusahakan update tiap hari tapi mungkin cuma 3 episode per hari. pengalaman ynag udah-udah sekalinya ngebut lebih dari 10 episode, tangan jadi agak tremor trs jd butuh istirahat lama /Sweat/ sudah tidak muda lagi akika
Narti Narti
aku hadir kak selamat untuk karya baru ya👍👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!