Berikut sinopsis singkat yang cocok untuk sampul belakang novel atau deskripsi di platform seperti Webnovel/KakaoPage:
**Murim's Last Heir**
**Q Zlatan Ibrahim**
Di puncak kejayaan Klan Pedang Kang, Kang Ha-neul pernah menjadi jenius termuda yang ditakdirkan mengubah sejarah Murim. Namun, satu malam tragis merenggut segalanya: keluarganya dibantai, meridiannya disegel oleh kekuatan misterius, dan ia jatuh menjadi sampah yang diejek bahkan oleh saudara klannya sendiri.
Hingga darahnya menetes ke cincin pusaka ayahnya—dan dari kegelapan muncul Hyeol-geon, Iblis Pedang Berdarah, arwah legendaris yang dikhianati muridnya sendiri ratusan tahun lalu.
Dengan dendam yang membara dan satu-satunya keluarga yang tersisa—adik perempuannya Soo-ah—Ha-neul memulai perjalanan balas dendam yang akan mengguncang seluruh Murim. Dari reruntuhan menjadi pewaris sejati, ia harus membuka segel meridiannya, menguasai jurus-jurus terlarang, dan menghadapi musuh terbesar: Penguasa Sekte Iblis
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6: BAYANGAN DI BALIK TEMBOK
Dua minggu telah berlalu sejak Ha-neul memulai latihannya bersama Hyeol-geon.
Setiap fajar, ia berlari. Setiap malam, ia menusuk. Tubuhnya yang dulu kurus kering mulai berubah—otot-otot kecil terbentuk di lengan dan pahanya, napasnya lebih panjang, matanya lebih tajam. Bukan perubahan drastis, tapi cukup untuk membuat orang yang jeli mulai bertanya-tanya.
Dan Kang Dae-ho adalah orang yang sangat jeli, terutama jika menyangkut Ha-neul.
"Dia berubah," gumam Dae-ho sambil duduk di beranda rumahnya, menatap ke arah gudang belakang yang samar-samar terlihat dari kejauhan.
Kang Sung-min, pengawal setianya, mengernyit. "Maksud Tuan Muda?"
"Aku lihat dia lari setiap pagi. Kadang aku lihat dia berlatih dengan pedang kayu di balik gudang pada malam hari." Dae-ho memainkan gelas teh di tangannya. "Sampah itu tidak pernah melakukan itu sebelumnya. Selama tiga tahun, dia hanya duduk diam menerima nasib. Sekarang tiba-tiba rajin?"
"Mungkin dia putus asa? Mencoba sesuatu?"
"Putus asa?" Dae-ho menyeringai tipis. "Bukan. Matanya berbeda. Aku lihat matanya waktu berpapasan kemarin. Ada api di sana. Aku tidak suka api."
Sung-min terdiam. Ia tahu tuannya tidak suka hal-hal yang tidak bisa dikendalikan.
"Awasi dia," perintah Dae-ho. "Aku mau tahu apa yang dia lakukan, dengan siapa dia bicara, apa yang dia makan—semuanya. Dan kalau perlu..."
Ia tidak menyelesaikan kalimatnya, tapi senyumnya sudah cukup menjelaskan.
---
Ha-neul tidak tahu bahwa ia sedang diawasi.
Malam itu, ia duduk di tempat latihan rahasianya—tanah lapang kecil di lereng gunung yang ia temukan minggu lalu. Jauh dari kompleks klan, tersembunyi di balik rimbunan pohon pinus. Di sini ia bisa berlatih tanpa takut dilihat orang.
Bulan purnama bersinar terang, cukup untuk melihat bayangan. Ha-neul memegang pedang kayunya, berkonsentrasi penuh pada instruksi Hyeol-geon.
"Kau sudah cukup mahir dengan tusukan statis. Sekarang saatnya bergerak." Hyeol-geon melayang di sampingnya, tangan bersedekap. "Bayangan Meridian bukan jurus yang kau gunakan sambil diam. Kau harus bisa menusuk sambil menghindar, sambil berlari, sambil berguling. Dalam pertarungan nyata, musuh tidak akan diam."
Ha-neul mengangguk. Ia mengambil posisi, lalu mulai bergerak. Satu langkah maju, tusuk. Mundur, tusuk. Berputar, tusuk.
Namun, gerakannya masih kaku. Antara langkah dan tusukan selalu ada jeda, sekecil apa pun.
"Masih lambat. Kau pikir musuhmu akan menunggu?" Hyeol-geon mencibir. "Sekarang, bayangkan ada tiga musuh di sekitarmu. Satu di depan, satu di kiri, satu di kanan."
Ha-neul mencoba. Ia menyerang bayangan imajiner, berputar cepat. Tapi kakinya kusut, ia hampir jatuh.
"Heh. Jangan putus asa. Ini memang sulit. Kau melawan insting alami tubuh yang ingin stabil. Tapi dalam pertarungan, stabilitas adalah ilusi. Yang ada hanya gerakan dan momen."
Ha-neul mengatur napas. Ia coba lagi.
Satu jam kemudian, keringat membasahi seluruh tubuhnya. Bajunya basah, menempel di kulit. Tapi gerakannya mulai sedikit lebih halus. Jeda antara langkah dan tusukan mulai berkurang.
"Lebih baik. Istirahat dulu."
Ha-neul menjatuhkan diri ke rerumputan. Dadanya naik turun cepat. Ia menatap langit malam yang bertabur bintang.
"Guru," panggilnya di sela napas.
"Hm?"
"Ceritakan tentang dirimu. Siapa yang membunuhmu?"
Hyeol-geon diam cukup lama. Hening malam hanya diisi suara jangkrik dan desir angin.
"Pertanyaan yang bagus untuk malam yang tenang." akhirnya ia berkata. "Baik. Tapi hanya sedikit. Kau belum perlu tahu semuanya."
Ia melayang turun, duduk di atas batu besar di dekat Ha-neul. Matanya yang merah meredup, seperti sedang mengenang masa lalu.
"Dulu, seratus dua puluh tahun lalu, aku adalah salah satu dari Tiga Iblis Besar Murim. Namaku disebut dengan berbisik, karena semua orang takut. Bukan hanya karena kekuatanku, tapi karena reputasiku: aku tidak pernah meninggalkan saksi."
Ha-neul diam, mendengarkan dengan saksama.
"Tapi semakin tinggi kau terbang, semakin besar angin yang menerpa. Aku punya seorang murid. Murid kesayangan. Kuhabiskan puluhan tahun melatihnya, menganggapnya seperti anak sendiri." Suara Hyeol-geon berubah getir. "Dia menghianatiku. Bekerja sama dengan musuh-musuhku, meracuniku saat aku lemah, lalu menusukku dari belakang. Sebelum mati, aku sempat menyegel arwahku ke dalam cincin ini. Dan di sana aku terperangkap selama seratus tahun lebih."
"Muridmu... siapa namanya?"
"Namanya... tidak penting untuk sekarang. Tapi suatu hari nanti, saat kau sudah siap, kau akan tahu. Dan kau akan menghadapinya."
Ha-neul menggenggam cincin di jarinya. "Dia pasti sudah sangat tua sekarang."
"Ahli kultivasi level tinggi bisa hidup berabad-abad. Dia pasti masih hidup. Dan semakin kuat."
"Mengerikan."
"Memang. Tapi kau tidak perlu khawatir. Kau akan punya waktu bertahun-tahun untuk bersiap." Hyeol-geon menatapnya. "Yang penting sekarang, fokus pada langkah kecil. Selesaikan masalah di depannu dulu."
Ha-neul mengangguk. Ia bangkit, mengambil pedang kayunya.
"Baik. Aku lanjut latihan."
"Sudah malam. Kau perlu istirahat."
"Besok aku libur. Malam ini aku maksimalkan."
Hyeol-geon tersenyum tipis. "Nekat. Tapi bagus."
---
Keesokan harinya, saat Ha-neul sedang membantu Soo-ah membersihkan beras di depan gudang, seorang tamu tak diundang datang.
Kang Sung-min, pengawal Dae-ho.
"Kang Ha-neul." Suaranya datar, tanpa hormat. "Tuan Muda Dae-ho memanggilmu. Sekarang."
Soo-ah menegang di samping Ha-neul. Ia tahu panggilan dari Dae-ho tidak pernah membawa kebaikan.
"Ada urusan apa?" tanya Ha-neul tenang.
"Aku hanya disuruh memanggil. Terserah kau mau datang atau tidak. Tapi..." Sung-min tersenyum tipis. "Mungkin ada hubungannya dengan adikmu."
Ha-neul merasakan darahnya mendidih. "Adikku? Apa maksudmu?"
"Dengar sendiri dari Tuan Muda." Sung-min berbalik. "Aku tunggu sepuluh menit. Kalau tidak datang, Tuan Muda mungkin akan langsung ke sini."
Ia pergi tanpa menunggu jawaban.
Soo-ah meraih lengan kakaknya. "Kang Oppa, jangan pergi. Dae-ho pasti mau macam-macam."
Ha-neul menepuk tangan adiknya lembut. "Tenang. Aku akan urus."
"Tapi—"
"Aman." Ha-neul tersenyum, tapi matanya dingin. "Oppa janji."
Ia melangkah pergi, meninggalkan Soo-ah yang cemas. Di jarinya, cincin giok hitam berkilat samar.
"Kau tahu ini jebakan." suara Hyeol-geon.
"Aku tahu."
"Tapi kau tetap pergi?"
"Jika tidak, dia akan datang ke sini. Aku tidak mau Soo-ah terlibat."
"...Kau benar. Tapi hati-hati. Jangan tunjukkan kemampuanmu. Untuk sekarang, kau masih harus jadi sampah di mata mereka."
Ha-neul mengangguk tipis.
---
Rumah Dae-ho terletak di kompleks timur, salah satu bangunan terbagus setelah paviliun utama. Ha-neul berdiri di depan pintu, menarik napas dalam-dalam, lalu melangkah masuk.
Dae-ho duduk di kursi utama, ditemani dua pengawalnya—Sung-min dan Jae-won. Di atas meja di depannya, ada sebuah benda yang membuat jantung Ha-neul hampir berhenti.
Sebuah jepit rambut perak kecil.
Jepit rambut milik Soo-ah. Satu-satunya perhiasan yang ia punya, peninggalan ibu mereka.
"Haaah..." Dae-ho menguap pura-pura. "Akhirnya datang juga. Duduk."
Ha-neul tidak duduk. Matanya tertuju pada jepit rambut itu. "Itu milik adikku."
"Ah, ini?" Dae-ho memainkannya dengan jari. "Iya, anak buahku nemu di dekat gudang. Aku pikir ini sampah, mau kubuang. Tapi ternyata punya adikmu? Maaf, ya."
Sennyumnya tidak menunjukkan penyesalan sedikit pun.
"Apa maumu?" Suara Ha-neul datar, tapi di dalam dadanya api mulai membakar.
"Wah, langsung to the point?" Dae-ho tertawa. "Baik, aku mau tanya sesuatu. Dan aku mau jawaban jujur."
Ia mencondongkan tubuh, tatapannya tajam.
"Apa yang kau lakukan setiap pagi dan malam? Aku tahu kau berlari. Aku tahu kau berlatih. Mau jadi apa? Mau balas dendam? Mau bunuh aku?"
Ha-neul diam. Ia bisa merasakan Hyeol-geon mengawasi dari dalam cincin, siap memberi peringatan.
"Tidak jawab?" Dae-ho menghela napas. "Sung-min."
Sung-min melangkah maju. Di tangannya ada selembar kain—baju latihan Ha-neul yang ia jemur di belakang gudang, yang basah oleh keringat.
"Aku ambil ini kemarin," kata Dae-ho. "Aku suruh tabib periksa. Katanya, keringat orang normal. Tapi ada satu yang aneh." Ia menyeringai. "Keringat ini mengandung sisa-sisa ramuan penguat tulang. Ramuan yang harganya mahal. Ramuan yang tidak mungkin dibeli sampah sepertimu."
Ha-neul menegang. Ia memang menggunakan ramuan sederhana yang dibuatkan Hyeol-geon dari tumbuhan liar di gunung. Tapi tidak menyangka jejaknya bisa terdeteksi.
"Jadi," Dae-ho bersandar. "Kau dapat ramuan dari mana? Atau... mungkin ada yang membantumu?"
Sunyi.
Ha-neul tahu ini persimpangan bahaya. Satu jawaban salah, dan Dae-ho akan menyelidik lebih dalam. Bisa-bisa keberadaan Hyeol-geon terbongkar.
Tiba-tiba, ide liar muncul di kepalanya.
Ia menatap Dae-ho tepat di mata. "Kau mau tahu kebenarannya?"
Dae-ho mengerutkan kening. "Tentu."
Ha-neul berjalan mendekat, hingga hanya berjarak satu langkah dari Dae-ho. Para pengawal tegang, siap bergerak.
"Aku berlatih," kata Ha-neul pelan. "Karena aku muak. Muak jadi sampah. Muak dihina. Muak melihat adikku kelaparan."
Dae-ho tertawa. "Oh? Jadi kau mau—"
"Tapi bukan untuk bunuh kau."
Dae-ho berhenti tertawa.
"Aku mau jadi kuat," lanjut Ha-neul. "Cukup kuat untuk meninggalkan klan ini. Membawa adikku pergi. Hidup tenang di tempat lain. Jauh dari sini. Jauh darimu."
Mata Ha-neul kosong, tapi suaranya bergetar—akting yang sempurna antara putus asa dan harapan palsu.
Dae-ho menatapnya lama. Mencari kebohongan di wajah itu.
Tapi Ha-neul sudah tiga tahun berlatih menyembunyikan perasaannya. Ia ahli dalam topeng.
Akhirnya, Dae-ho tertawa lagi. Kali ini lebih ringan.
"Hahaha! Jadi itu? Mau kabur? Dasar pengecut. Tapi sudahlah, itu lebih masuk akal daripada kau mau balas dendam." Ia melempar jepit rambut itu ke lantai. "Ambil sampah itu. Dan ingat, kalau aku dengar kau macam-macam, aku tidak akan selembut ini."
Ha-neul membungkuk, mengambil jepit rambut Soo-ah. Ia menggenggamnya erat, lalu berbalik pergi tanpa berkata apa-apa.
Di luar, ia berjalan cepat. Jantungnya berdebar kencang.
"Kau berbakat jadi aktor." suara Hyeol-geon di kepalanya. "Tapi kau tahu, ini hanya menunda. Cepat atau lambat, dia akan tahu."
Ha-neul mengangguk pelan. "Aku tahu. Tapi untuk sekarang, cukup."
Ia menatap jepit rambut di tangannya.
Yang penting, Soo-ah aman.
Untuk hari ini.
[