Puluhan tahun silam dunia persilatan mengalami kedamaian, Sembilan Master Naga berhasil membuat dunia menjadi lebih aman, para pendekar golongan hitam tidak ada yang membuat onar baik di dunia persilatan maupun di kerajaan yang di tinggali rakyat biasa. Namun semua itu kini tidak ada lagi, kini dunia persilatan mengalami kekacauan setelah sebuah partai golongan hitam muncul dan merajalela.
Wang Long yang hidup di sebuah desa bersama keluarganya juga mendapat perlakuan buruk dari anggota partai golongan hitam tersebut.
Semua keluarga dan orang-orang di desa Wang Long di bantai secara sadis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Idwan Virca84, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bidadari Maut dan Tinju Naga yang Mengguncang Langit
Langit sore berwarna merah saga ketika Wang Long menapakkan kaki di kaki Gunung Sunyi.
Sudah lima tahun ia hidup dalam sunyi. Kini dunia terbentang luas di hadapannya.
Angin lembah membawa bau yang tidak asing.
Asap.
Dan… darah.
Wang Long berhenti.
Di kejauhan tampak kepulan asap membumbung dari sebuah desa kecil di tepi sungai.
Tanpa berpikir panjang, tubuhnya melesat seperti bayangan tertiup angin.
Langkahnya ringan, hampir tak menyentuh tanah.
Desa Bambu Merah
Jeritan terdengar bahkan sebelum ia tiba.
Rumah-rumah kayu terbakar. Beberapa penduduk tergeletak di tanah. Sekelompok pria berpakaian hitam dengan lambang tengkorak merah di dada mereka berdiri di tengah desa.
“Partai Tengkorak Hitam…” gumam Wang Long pelan.
Namun sebelum ia turun tangan, suara dentingan pedang terdengar dari tengah pertempuran.
Sebuah bayangan putih berkelebat cepat.
Gerakannya indah, seperti tarian di atas angin.
Seorang pria berjubah hitam roboh dengan leher tergores halus.
Darah memancar.
Wang Long mempersempit pandangannya.
Itu seorang gadis.
Pakaian putihnya berkibar, rambut panjangnya terurai seperti sutra malam. Wajahnya cantik namun dingin, seolah tidak mengenal belas kasihan.
Pedangnya tipis dan melengkung, bergerak lincah mematikan.
Dalam beberapa jurus, tiga anggota Partai Tengkorak Hitam telah roboh.
Salah satu penyerang berteriak, “Itu dia! Bidadari Maut!”
Gadis itu tidak menjawab.
Tatapannya beku.
Gerakannya cepat dan bersih.
Namun dari atap rumah yang terbakar, seorang pria bertopeng perak turun perlahan.
Topengnya mengilap di bawah cahaya api. Aura gelap menguar dari tubuhnya.
Para murid Tengkorak Hitam mundur memberi jalan.
“Sin Yin,” suara pria itu berat dan serak.
“Sudah lama aku ingin menguji pedangmu.”
Gadis itu—Sin Yin—mengerutkan kening.
“Liu Sha… murid inti tingkat ketiga Partai Tengkorak Hitam.”
“Ha! Setidaknya kau mengenalku.”
Wang Long mengamati dari kejauhan.
Tenaga dalam pria bertopeng itu jelas berada di atas murid biasa.
Sin Yin menyerang lebih dulu.
Pedangnya berkilat seperti cahaya bulan.
“Teknik Pedang Seribu Kelopak!”
Bayangan pedang memenuhi udara.
Namun Liu Sha hanya tertawa kecil.
Tubuhnya berputar, telapak tangannya menyapu.
Ledakan tenaga hitam menghantam bayangan pedang itu.
Sin Yin terpental tiga langkah.
Wang Long menyipitkan mata.
“Tenaga iblis…”
Liu Sha maju perlahan.
“Bidadari Maut, kau memang berbakat. Tapi kau belum cukup untuk menantangku.”
Sin Yin menggertakkan gigi.
Ia menyerang lagi, kali ini lebih cepat.
Namun setiap tebasannya dipatahkan oleh telapak tangan pria bertopeng itu.
Tiba-tiba Liu Sha mengayunkan pukulan.
Sin Yin menangkis—
Namun tenaga dalamnya kalah berat.
Tubuhnya terlempar, menghantam dinding rumah kayu hingga retak.
Darah tipis mengalir dari sudut bibirnya.
Wang Long mengepalkan tangan.
Ia melangkah maju.
Pertemuan yang Tidak Bersahabat
Ketika Liu Sha hendak melancarkan serangan terakhir, sebuah bayangan muncul di depan Sin Yin.
Sebuah tangan menahan pukulan itu.
Dentuman keras menggema.
Tanah retak.
Namun sosok itu tidak bergerak sedikit pun.
Liu Sha terkejut.
“Siapa kau?!”
Wang Long berdiri tegak.
Tatapannya tenang.
Sin Yin yang masih setengah berlutut menatap punggung pemuda itu.
“Siapa yang menyuruhmu ikut campur?!” bentaknya marah.
“Aku tidak butuh bantuan!”
Wang Long tidak menoleh.
“Kalau begitu berdirilah dan selesaikan sendiri.”
Sin Yin terdiam sesaat, lalu menggertakkan gigi.
“Kurang ajar!”
Liu Sha tertawa.
“Bagus. Datang satu lagi untuk mati.”
Ia menarik tangannya, lalu menyerang Wang Long dengan pukulan bertubi-tubi.
Tinju-tinjunya mengandung tenaga dalam hitam yang mampu menghancurkan batu.
Namun—
Setiap pukulan yang menghantam tubuh Wang Long hanya menimbulkan bunyi tumpul seperti memukul batu karang.
Tidak ada darah.
Tidak ada luka.
Liu Sha terbelalak.
“Tidak mungkin…”
Wang Long berdiri tanpa bergerak.
Tubuhnya memang seperti batu karang di tengah ombak.
Latihan Naga Tanah selama lima tahun telah mengubah tubuhnya menjadi kokoh seperti baja.
Sin Yin menatap dengan tak percaya.
“Tenaga dalam macam apa itu…?”
Liu Sha meraung marah.
Ia mencabut pedang hitam dari pinggangnya.
Bilahnya memancarkan aura gelap.
“Kalau tinju tak mempan, bagaimana dengan ini?!”
Pedang itu menebas ke arah leher Wang Long.
Sin Yin berseru, “Hati-hati!”
Namun—
Clang!
Pedang itu menghantam leher Wang Long… dan terpental.
Bilahnya retak.
Liu Sha mundur setengah langkah.
Wajah di balik topengnya memucat.
“Ilmu pelindung tubuh?!”
Wang Long akhirnya berbicara.
“Kau sudah selesai?”
Suaranya datar.
Tenang.
Namun mengandung tekanan yang membuat udara terasa berat.
Liu Sha meraung, mengerahkan seluruh tenaga dalamnya.
Aura hitam menyelimuti tubuhnya.
Ia melesat maju dengan teknik pamungkas.
“Telapak Iblis Pemecah Gunung!”
Telapak tangannya menghantam dada Wang Long.
Ledakan energi mengguncang desa.
Asap mengepul.
Namun ketika debu menghilang—
Wang Long masih berdiri.
Tidak mundur.
Tidak terluka.
Matanya kini menyala samar.
“Selesai?” ulangnya pelan.
Sebelum Liu Sha sempat bereaksi—
Tinju Wang Long bergerak.
Tidak cepat.
Tidak lambat.
Namun mengandung sembilan aliran tenaga naga yang menyatu.
“Tinju Naga Mengguncang Langit.”
Tinju itu menghantam dada Liu Sha.
Sunyi sepersekian detik.
Lalu—
BOOOM!
Ledakan tenaga keemasan memancar.
Tubuh Liu Sha terlempar puluhan langkah, menghantam tanah dan berguling tak terkendali.
Topeng peraknya pecah.
Ia memuntahkan darah segar.
Organ dalamnya hancur oleh getaran tenaga naga.
Ia mencoba bangkit… namun tubuhnya tak mampu bergerak.
“Kau… siapa… sebenarnya…”
Wang Long melangkah mendekat.
Tatapannya dingin.
“Aku hanya orang yang tidak suka melihat desa dibantai.”
Liu Sha kembali memuntahkan darah.
Sebelum ia sempat berkata lagi, tubuhnya lunglai dan tak bergerak.
Murid-murid Tengkorak Hitam yang tersisa lari tunggang-langgang.
Sunyi kembali turun di Desa Bambu Merah.
Bidadari Maut yang Terluka Harga Diri
Sin Yin berdiri perlahan.
Meski wajahnya pucat, sorot matanya tetap tajam.
“Kau tidak perlu ikut campur,” katanya dingin.
Wang Long menoleh.
“Kalau aku tidak ikut campur, kau sudah mati.”
Sin Yin mengepalkan pedangnya.
“Jangan meremehkanku!”
Wang Long memandangnya tenang.
“Aku tidak meremehkanmu. Tapi dia lebih kuat darimu.”
Ucapan itu seperti pisau menusuk harga diri.
Sin Yin maju selangkah.
“Siapa namamu?”
“Wang Long.”
Nama itu belum dikenal di dunia persilatan.
Sin Yin menyipitkan mata.
“Aku Sin Yin.”
“Aku tahu. Mereka memanggilmu Bidadari Maut.”
Sin Yin terdiam sesaat.
“Kenapa kau menolong desa ini?”
Wang Long memandang rumah-rumah yang terbakar.
“Karena aku pernah kehilangan desa sepertimu.”
Nada suaranya berubah.
Sin Yin menangkap kesedihan yang dalam di balik ketenangan itu.
Angin sore berhembus pelan.
Untuk sesaat, tidak ada lagi permusuhan di antara mereka.
Namun Sin Yin tetap berkata dengan nada keras,
“Jangan kira aku berhutang budi padamu.”
Wang Long tersenyum tipis.
“Aku tidak pernah menagih.”
Ia berbalik hendak pergi.
Sin Yin memanggilnya,
“Wang Long!”
Ia berhenti.
“Lain kali… jika kita bertemu lagi, aku tidak akan kalah darimu.”
Wang Long menoleh sedikit.
“Kalau begitu, latihlah dirimu lebih keras.”
Sin Yin menggertakkan gigi, namun dalam hatinya ada sesuatu yang bergetar.
Ia belum pernah melihat seseorang yang mampu menahan pedang dengan leher telanjang.
Dan belum pernah pula melihat tinju yang mampu menghancurkan murid inti Partai Tengkorak Hitam dalam satu pukulan.
Di langit senja itu, dua takdir telah bersinggungan.
Dan tanpa mereka sadari—
Pertemuan ini bukan yang terakhir.
Bersambung...