NovelToon NovelToon
Tunangan Selingkuh, Dekati Abangnya

Tunangan Selingkuh, Dekati Abangnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Diam-Diam Cinta / Mengubah Takdir
Popularitas:7.7k
Nilai: 5
Nama Author: Rinnaya

Selama ini Nana selalu mengalah pada tunangannya, dia bagaikan gadis bodoh yang tidak ingin kehilangan cinta Tris. Sampai Tris mempermalukan Nana di depan orang banyak, karena kejadian itu Nana dihujat di internet. Lalu Nana mulai berubah usai mendapatkan uluran tangan acuh tak acuh dari abangnya Tris, yaitu Aska.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rinnaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

21. Keberanian Nana.

Di lobi gedung pencakar langit tempat firma hukum Aska & Co. bermarkas, kemegahan marmer hitam dan kaca-kaca tinggi seolah sengaja dirancang untuk mengintimidasi siapa pun yang tidak memiliki kepentingan besar di sana.

​Nana berdiri di sudut lobi, merapikan blazer emerald-nya yang sedikit kusut karena ia hanya sempat memejamkan mata selama tiga jam semalam. Di tangannya, sebuah map kulit hitam didekap erat, seolah itu adalah perisai pelindung nyawanya. Matanya tertuju pada sebuah layar digital raksasa yang mendominasi dinding lobi. Di sana, cuplikan berita bisnis sedang menayangkan profil singkat Aska. Pria itu tampak sangat berwibawa dalam balutan jas formal, berdiri di depan podium pengadilan setelah memenangkan kasus merger korporasi terbesar tahun ini.

​"Lihat itu, Aska. Benar-benar definisi pria tanpa celah," suara genit seorang wanita memecah lamunan Nana.

​Nana melirik ke samping. Dua orang wanita muda, mungkin staf dari perusahaan konsultan di lantai atas, sedang berdiri sambil membetulkan riasan mereka di depan pantulan layar digital. Keduanya tampak sangat modis dengan tas branded yang menggantung di lengan dan aroma parfum mahal yang menyeruak kuat.

​"Dia duda, kaya raya, tampan, dan baru dua puluh delapan tahun. Aku dengar dia sangat selektif soal wanita," sahut temannya sambil memoleskan lipstik merah menyala. "Kalau aku bisa masuk ke divisinya, aku akan melakukan apa saja untuk menarik perhatiannya. Secantik kita, mana mungkin pria normal tidak melirik? Dia hanya perlu melihat bahwa ada wanita yang bisa mempercantik sisinya saat pesta gala."

​Nana yang mendengar itu hanya bisa menarik napas panjang. Ada rasa sesak yang menghimpit dadanya, bukan karena cemburu, melainkan karena rasa lesu yang mendalam. Ia menunduk, menatap map hitamnya yang berisi tumpukan riset data pasar, grafik pertumbuhan penonton internasional, dan analisis perbandingan hukum yang ia susun hingga jemarinya kaku.

​"Kalian salah," gumam Nana sangat pelan, hampir tertelan bising lobi. "Dia tidak melihat orang dari penampilan. Dia mencari kesetaraan. Dan jika hanya butuh wajah cantik untuk mendapatkan hatinya, aku tidak perlu terengah-engah seperti ini, menghancurkan waktu tidurku, dan memeras otakku hanya untuk sekadar dianggap layak bicara di depannya."

​Nana memutar tubuhnya, melangkah menuju lift dengan langkah yang meskipun berat, namun pasti. Ia tahu betul, di dunia Aska, kecantikan tanpa otak hanyalah kebisingan yang tidak akan pernah pria itu dengarkan. Untuk bisa berdiri di samping Aska, Nana harus menjadi "predator" yang sama tangguhnya, bukan sekadar pajangan yang manis.

​Di ruang rapat lantai 45, suasana terasa seperti di dalam lemari es. Dingin dan menekan. Richard, perwakilan investor dari platform streaming internasional, sudah duduk dengan wajah tidak sabar. Di sampingnya, beberapa asisten sibuk menyiapkan draf kontrak yang sudah "disesuaikan", sebuah kata halus untuk menghapus identitas asli karya Nana demi pasar global.

​Hadi, sang Art Director, tampak gelisah di kursinya. Ia berkali-kali melirik Nana, memberinya kode agar "mengikuti arus" saja. Sementara itu, di ujung meja yang paling sentral, Aska duduk dengan keanggunan yang mematikan. Ia tidak memakai jas luarnya, hanya kemeja putih yang lengannya digulung hingga siku, namun wibawanya justru semakin pekat. Tangannya memainkan pena kayu ek pemberian Nana, memutarnya dengan ritme yang konstan, namun matanya tetap fokus pada draf di depannya.

​"Baik, mari kita mulai," Richard membuka suara tanpa basa-basi. "Kami sudah memutuskan untuk mengubah latar belakang hukum dalam serial The Silent Verdict. Kami akan menggunakan setting 'International Legal District' yang lebih generik. Ini penting agar penonton di Amerika dan Eropa tidak bingung dengan kerumitan hukum lokal Indonesia. Nona Nana, saya harap Anda sudah bisa merelakan idealisme Anda demi kelancaran produksi ini."

​Nana merasakan seluruh matanya tertuju padanya. Ia melirik ke arah Aska. Pria itu sama sekali tidak membantunya. Aska justru menatapnya dengan pandangan menantang, seolah berkata: Tunjukkan taringmu, atau diam selamanya.

​Nana berdeham. Ia meletakkan map hitamnya di tengah meja dengan dentuman kecil yang cukup untuk mencuri perhatian. "Sebelum kita membahas draf itu, saya ingin mempresentasikan analisis data yang saya susun semalam."

​"Data apa lagi? Kami sudah punya tim analis sendiri," potong Richard meremehkan.

​"Tim analis Anda mungkin melihat angka secara umum, tapi saya melihat angka dari perspektif penikmat genre psychological thriller," balas Nana dengan suara yang jernih dan tegas. Ia membuka laptopnya dan menyambungkannya ke proyektor.

​"Lihat grafik ini," Nana menunjuk layar. "Dalam dua tahun terakhir, lima serial paling sukses di platform Anda bukan berasal dari Amerika, melainkan Spanyol, Korea Selatan, dan Jerman. Persamaan mereka? Mereka tidak mencoba menjadi generik. Mereka justru menonjolkan keunikan hukum dan budaya lokal mereka yang eksotis bagi penonton Barat."

​Nana membolak-balik halaman risetnya dengan cepat namun teratur. "Penonton global saat ini sedang jenuh dengan cerita yang terasa 'hasil pabrikan'. Mereka mencari jendela ke dunia yang belum mereka tahu, bukan cermin diri mereka sendiri. Jika Anda menghilangkan hukum Indonesia yang unik dari cerita ini, hukum yang menjadi fondasi konflik moral dalam naskah saya, Anda baru saja menghilangkan 70% alasan mengapa pembaca mencintai komik ini. Itu bukan efisiensi bisnis, Richard. Itu adalah bunuh diri komersial."

​Hadi menahan napas. Ia tidak percaya Nana berani menyebut strategi investor sebagai "bunuh diri".

​Richard terdiam. Ia membolak-balik dokumen ringkas yang dibagikan Nana. Wajahnya yang tadi meremehkan kini berubah menjadi serius. "Argumen Anda cukup berani, Nona Nana. Tapi risiko ketidaktahuan penonton tetap ada."

​Nana menatap Richard tepat di matanya, sebuah keberanian yang ia pelajari dari mengamati Aska setiap hari. "Ketidaktahuan penonton adalah peluang untuk mendidik dan memberikan pengalaman baru. Itulah mengapa naskah ini kuat. Jika Anda ingin thriller medioker, cari kreator lain. Tapi jika Anda ingin mahakarya yang dibicarakan secara global, pertahankan orisinalitasnya."

​Richard tampak bimbang. Ia menoleh ke arah Aska, mencari suara dari sisi legal dan bisnis. "Bagaimana menurut Anda, Pak Aska? Dari sisi risiko kontrak, apakah ini bisa dipertanggungjawabkan?"

​Aska perlahan meletakkan pena kayu ek-nya. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi kulit yang mewah, menatap Richard, lalu beralih menatap Nana selama beberapa detik. Ada kilat pengakuan yang sangat tipis di balik matanya yang tajam.

​"Secara legal, orisinalitas adalah aset intelektual paling berharga yang melindungi IP ini dari plagiarisme generik," suara Aska menggema di ruangan itu. "Jika kreator bisa membuktikan bahwa visinya memiliki nilai komersial yang lebih tinggi karena keunikannya, maka mengubahnya adalah kerugian bagi investor. Saya sudah meninjau riset Nona Nana pagi ini. Analisisnya tentang tren pasar global jauh lebih akurat daripada draf yang Anda tawarkan. Saya setuju dengan Nona Nana; keunikan adalah nilai jual utama, bukan hambatan."

​Richard akhirnya mengembuskan napas panjang. Ia menutup pulpennya. "Baiklah. Saya terkesan dengan ketajaman Anda, Nona Nana. Sepertinya Anda benar-benar tahu apa yang Anda jual. Kita akan mempertahankan setting asli Indonesia dengan beberapa penyesuaian narasi agar tetap bisa dimengerti secara internasional. Mari kita bahas detail produksinya."

​Nana merasakan kakinya lemas di bawah meja. Keringat dingin membasahi punggungnya, namun ia tetap duduk dengan punggung tegak. Ia berhasil. Untuk pertama kalinya, ia menang bukan karena dibela oleh Aska di depan publik, tapi karena ia memiliki senjata yang tidak bisa dibantah oleh siapa pun: kecerdasan dan persiapan.

​Sore harinya, suasana kantor mulai melambat. Sinar matahari senja masuk melalui jendela kaca besar, memberikan warna oranye keemasan pada meja kerja Nana. Ia sedang mengemasi barang-barangnya dengan perasaan lega yang luar biasa ketika sebuah langkah kaki yang mantap berhenti tepat di depan mejanya.

​Aska berdiri di sana. Pria itu sudah mengenakan jas lengkapnya kembali, tampak siap untuk pergi.

​"Penyampaian yang lumayan," ujar Aska tanpa ekspresi berlebih.

​Nana mendongak, tersenyum sedikit geli. "Hanya lumayan, Bang? Aku baru saja menyelamatkan jiwa karyaku di depan investor raksasa itu."

​Aska berhenti, lalu berbalik sedikit untuk menatap Nana. "Kau mulai mengerti sekarang, Nana. Bahwa kecantikan di ruangan ini tidak diukur dari warna lipstik atau tas yang kau jinjing, tapi dari seberapa tajam argumenmu dan seberapa dalam risetmu. Hari ini, kau akhirnya memenuhi kualifikasi untuk bicara di depanku tanpa terlihat seperti pengemis perhatian."

​Aska melirik jam tangannya yang mewah. "Ikut aku. Kita perlu merayakan kemenangan kecilmu. Aku sudah membuat reservasi di sebuah restoran yang hanya menerima tamu jika mereka memiliki 'nilai' yang sepadan dengan menunya. Hari ini, kau sudah mulai memiliki nilai itu."

​Nana tertegun. Ia teringat gadis-gadis di lobi tadi pagi. Mereka mungkin masih bermimpi bisa menarik perhatian Aska dengan penampilan, sementara Nana, dengan mata perih dan tubuh lelah, baru saja mendapatkan tiket masuk ke dunia Aska melalui jalur yang paling sulit: pengakuan intelektual.

***

​Di sisi lain kota, di sebuah apartemen kecil yang sempit dan berbau lembap, Tris duduk di tepi ranjangnya yang keras. Ia baru saja pulang dari kantor setelah seharian penuh menerima sindiran dari rekan kerjanya. Mobil mewahnya sudah ditarik, kartu kreditnya diblokir, dan ia kini harus terbiasa naik transportasi umum yang menyesakkan.

​Ia membuka ponselnya dan melihat unggahan resmi dari Stellar Komik yang mengumumkan bahwa proyek film Nana akan segera diproduksi dengan mempertahankan orisinalitas cerita berkat "presentasi brilian dari sang kreator". Di sana ada foto Nana, tampak sangat profesional, berdiri di depan layar proyektor di ruang rapat yang megah.

​Tris meremas ponselnya. Ia teringat masa-masa di mana ia merasa paling berkuasa atas Nana hanya karena ia bisa membelikan gadis itu baju-baju mahal dan membawanya makan di tempat bagus. Ia dulu menganggap Nana hanyalah "aksesori" cantik yang bisa ia pamerkan.

​Kini ia menyadari kebodohannya. Sementara ia sibuk menikmati prestise palsu dari nama besar keluarganya, Nana sedang berdarah-darah mengubah dirinya menjadi wanita yang tidak butuh dibelikan apa pun oleh siapa pun.

Dan yang lebih menyakitkan bagi Tris adalah kenyataan bahwa pria yang kini membukakan pintu bagi Nana untuk mencapai puncak itu adalah kakaknya sendiri, pria yang selalu ia takuti namun ia khianati harga dirinya.

​Tris menatap pantulan dirinya di cermin kecil yang retak di dinding apartemennya. Ia tampak kuyu, kalah, dan kecil. Dunia Nana dan Aska kini terasa jutaan mil jauhnya, sebuah dunia di mana penampilan hanyalah bonus, dan ia... sama sekali tidak memiliki modal untuk masuk ke sana lagi.

​Bersambung....

1
jekey
lama" emosi sm aska 😡
Desi Santiani
lanjut thor seruu bgttt
jekey
akhirnyaa 😌😌
jekey
sinting tusi
jekey
thank you thor
Ayu
/Coffee/
Ayu
hahaa sukurin semoga kapok 🤭
Ayu
aku ga bisa kasih banyak ulasan tapi yang pasti bagus bangetttt
Ayu
kayak ginilah nyeseknya kalo baca novel yg baru up ,, mana bagus lagi ceritanya 😍
Ayu
/Coffee/ yuk
Ayu
kalo aku jadi kamu Na ... pasti aku bakalan cepet move on dari Tris🤭
Nilasartika Yusuf
😍
Ayu
hai Thor aku mampir ya
Rinnaya: Silahkan
total 1 replies
jekey
nunggu up thor
Rinnaya: Aman, up tiap hari.
total 1 replies
jekey
mampus eli
Nilasartika Yusuf
suka ceritanya😍
jekey
smngt update thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!