NovelToon NovelToon
Lopeyou My Teacher

Lopeyou My Teacher

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Gadis nakal / Romantis / Cintamanis / Cinta Terlarang / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: kikyoooo

⚠️Area yang khusus orang besar. ^_^ nak kecil hus hus...

Kisah cinta slow-burn antara siswi petakilan dengan guru muda PJOK yang terlalu cool untuk jadi nyata. Isinya 30% latihan fisik, 70% adu mekanik perasaan.

Mulai dari drama salah kirim stiker WhatsApp ke grup kelas, sampai momen panas di gudang sekolah yang hampir bikin profesionalitas Pak Radit runtuh.

Ini cerita tentang masa transisi jadi dewasa, di mana batas antara guru dan murid cuma sebatas "status" yang siap dihapus setelah hari kelulusan.

"Pak, lari keliling lapangan saya sanggup. Asal finish-nya di pelaminan kita." — Gia, 18 tahun, pejuang remedial.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikyoooo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 1 Estetika Visual di Lapangan Basket

Hari Senin di SMA Garuda Bangsa itu ibarat simulasi neraka, tapi versi lebih lembap dan bau matahari.

Gia menyeka peluh di dahinya dengan tisu basah aroma cherry blossom yang sebenarnya sudah tidak menolong sama sekali. Dia berdiri di barisan paling belakang barisan kelas 12-IPS 3, mencoba bersembunyi di balik bayangan temannya yang lebih bongsor, Caca.

"Ca, geser dikit dong. Skin barrier gue nangis nih kena UV index segini tinggi," bisik Gia sambil menarik ujung seragam olahraganya yang mulai lepek.

"Sst! Diem deh, Gi. Lo nggak liat tuh di depan?" Caca menyikut lengan Gia kencang banget sampai Gia hampir tersungkur.

"Apaan sih—"

Gia menghentikan kalimatnya. Dunianya mendadak slow motion. Di tengah lapangan yang silau itu, berdiri sesosok pria dengan kaos polo hitam yang nempel pas di badan, celana training yang clean, dan peluit yang menggantung malas di lehernya. Dia nggak pakai kacamata hitam, cuma menaungi matanya dari sinar matahari pakai telapak tangan.

"Itu... siapa? Guru magang baru lagi?" tanya Gia pelan. Jantungnya mendadak melakukan dribble tanpa bola.

"Bukan magang, Sayang. Itu Pak Radit. Guru olahraga pengganti Pak Bambang yang pensiun. Fresh graduate, katanya sih lulusan terbaik, tapi yang jelas dia visual terbaik yang pernah dipunya sekolah ini," cerocos Caca tanpa kedip.

Gia terpaku. Pak Radit. Namanya terdengar sangat... standard, tapi orangnya? High-end. Dia tipe cowok yang kalau masuk TikTok bakal masuk FYP dengan caption "Pov: Guru Olahraga lo spek aktor drakor."

"Oke, semuanya kumpul!" Suara Pak Radit berat, bariton, dan entah kenapa terdengar sangat... crispy di telinga Gia.

Gia maju dengan ogah-ogahan. Dia benci olahraga. Dia benci keringat. Dia benci lari. Tapi saat Pak Radit mulai melakukan pemanasan dan otot lengannya tercetak jelas saat dia meregangkan tangan ke atas... Gia mendadak merasa olahraga adalah jalan hidupnya.

"Gue kayaknya mau mual, Ca," bisik Gia.

"Kenapa? Kepanasan?"

"Enggak. Gue kayaknya baru aja kena love bomb secara visual."

Pelajaran dimulai dengan materi basket. Gia, seperti biasa, memilih posisi paling aman: di pojok lapangan, pura-pura membetulkan tali sepatu yang sebenarnya sudah kencang. Dia sibuk mengeluarkan ponselnya secara sembunyi-sembunyi, membuka second account Instagram-nya (@GiaNotToday) untuk membuat sebuah story.

Dia memotret punggung Pak Radit dari kejauhan.

Caption: "POV: Lo benci olahraga tapi gurunya spek Pinterest. Is it a red flag if I want to fail this class on purpose?"

Gia terkikik sendiri. Dia baru saja mau menekan tombol Close Friends saat sebuah bayangan besar menutupi layar ponselnya.

"Fokus ke bola, bukan ke layar, Gia."

Gia tersentak sampai ponselnya hampir melompat ke got. Dia mendongak. Pak Radit sudah berdiri di depannya. Dekat sekali. Wanginya bukan bau matahari kayak anak-anak kelas 12 lainnya, tapi wangi sabun bayi campur parfum woodsy yang mahal.

"Eh... iya, Pak. Ini... ini tadi ada notif penting dari Mama," bohong Gia sambil memasukkan ponsel ke kantong celana dengan gerakan kilat.

Pak Radit menatapnya datar. Matanya tajam, tapi ada kilat jenaka di sana. "Mama kamu nanya skor basket kamu? Atau Mama kamu nanya kenapa anaknya cuma jongkok di pojokan dari sepuluh menit yang lalu?"

Beberapa teman sekelas yang lewat tertawa kecil. Gia merasa wajahnya lebih panas dari suhu Jakarta siang itu.

"Saya lagi observasi taktik, Pak," jawab Gia asal.

"Analisis pergerakan lawan itu penting."

Pak Radit sedikit menunduk, membuat jarak wajah mereka hanya tersisa sekitar tiga puluh senti. Gia bisa melihat pori-pori Pak Radit yang nyaris tidak ada. Skincare-nya apa ya? pikir Gia ngawur.

"Oh, analis ya? Kalau gitu, coba analisis gimana caranya kamu dapet nilai KKM kalau satu pun lemparan ke ring nggak ada yang masuk." Pak Radit melempar bola basket ke arah perut Gia. Gia menangkapnya dengan kikuk.

"Coba. Free throw. Sekarang."

Gia menelan ludah. Ini adalah mimpi buruk setiap anak indie yang lebih suka baca buku di kafe daripada lari di lapangan. Dia berdiri di garis, memegang bola yang terasa berat itu, sementara Pak Radit berdiri tepat di sampingnya, melipat tangan di dada.

Gia melempar bola itu dengan gaya seadanya.

Bukk! Bolanya bahkan tidak menyentuh ring. Bolanya malah memantul ke tiang dan hampir mengenai kepala Pak Radit kalau pria itu tidak menghindar dengan refleks yang luar biasa cepat.

"Gia..." Pak Radit menghela napas panjang, memijat pangkal hidungnya. "Kamu beneran mau remedial dari bulan pertama?"

"Tangan saya licin, Pak! Tadi habis pakai hand cream," bela Gia defensif.

"Oke, kalau gitu. Habis jam sekolah, ke lapangan lagi. Kita latihan dasar. Saya nggak mau ada murid saya yang bahkan nggak bisa bedain lempar bola sama lempar martabak."

"Hah? Privat, Pak?" Mata Gia berbinar, tapi dia berusaha menahannya agar tidak terlihat terlalu kegirangan.

"Remedial, Gia. Jangan diperhalus bahasanya," balas Pak Radit dingin sebelum berbalik meninggalkan Gia yang masih mematung.

Di kantin, Gia tidak berhenti senyum-senyum sendiri sambil menusuk-nusuk baksonya.

"Lo gila ya? Dihukum malah seneng," kata Caca sambil menyeruput es teh plastikan.

"Lo nggak ngerti, Ca. Ini namanya manifesting. Gue emang pengen deket sama dia, eh semesta malah ngasih lewat jalur remedial. High risk, high reward," sahut Gia sambil membuka WhatsApp.

Dia masuk ke grup kelas "XII IPS 3 - NO GURU NO DRAMA". Tadinya dia mau pamer ke teman-temannya soal "kencan" sorenya dengan Pak Radit. Dia sudah menyiapkan stiker WhatsApp yang biasa dia pakai bareng Caca—stiker kucing lucu dengan tulisan "Aww, Daddy" yang biasanya mereka pakai kalau lagi bahas artis drakor.

Tapi karena jempolnya masih gemetar sisa grogi tadi, dan otaknya lagi lagging...

Zlap!

Gia membeku. Matanya melotot melihat layar ponsel.

Dia baru saja mengirim stiker kucing "Aww, Daddy" itu ke grup "MATA PELAJARAN PJOK - KELAS XII".

Grup yang di dalamnya ada... Pak Radit.

Gia panik. Jarinya gemetar mencoba menekan opsi Delete for Everyone. Tapi sinyal sekolah yang kayak siput membuat tulisan "Deleting..." berputar-putar selamanya.

Dan tepat saat itu, muncul notifikasi:

Read by Radit PJOK.

Dunia Gia runtuh. Dia ingin log out dari kehidupan saat itu juga.

....

1
Qaisaa Nazarudin
Astaga Gia ini OON benar ya,Heran deh aku..🤦
Qaisaa Nazarudin
Ngapain juga nyari Gia kesini nya?
Qaisaa Nazarudin
Gitu dong,Aku suka CEWEK YG TEGAS,JUTEK,CUEK,DINGIN DAN BAR-BAR,Bukan cewek yg MELEMPEM..
Qaisaa Nazarudin
Nah itu dia,Jangan kayak murahan banget,Di umpan dikit udah meleleh 🙄🙄
Qaisaa Nazarudin
Cuekin aja ah..kesel aku..
Qaisaa Nazarudin
Nah benar kan dia nganggap kamu anak kecil dong Gia..
Qaisaa Nazarudin
Nah kan halau sendiri...sok soan gengsi..
Thor bikin Gia jangan ngejar2 nih guru lagi,Bikin gia cuekin nih guru biar tau rasa dia..
Qaisaa Nazarudin
Waah ngasih kode tuh minta di chat..
Qaisaa Nazarudin
Bagus tuh Gia.. SKAKMATT buat si MANTAN...🤣🤣🤣
Qaisaa Nazarudin
Nah kan.. Ini pasti si MANTAN yg Gamon..
Qaisaa Nazarudin
maknyos kenak di jantung,Pasti pernah ditinggal Nikah ama pacarnya tuh,Makanya sekarang dia jomblo..
Qaisaa Nazarudin
Apakah perasaan itu adalah CINTA?? Waahh pak Radit diem.diem.bae udah kencatol duluan tapi sok gengsi..awas pak ketikung pak ntar nyesel lho..😅😅
Qaisaa Nazarudin
Bukan udah bisa ikut Pemilu dong Gia,Tapi udah bisa dibawa ke KUA 😂😂😂
Qaisaa Nazarudin
Duh kata kata mu menusuk jantungku pak..🥹🥹🥹😄😄
Qaisaa Nazarudin
Waahh Gia orang pertama yang bisa digendong oleh gurunya..🤣🤣
Qaisaa Nazarudin
Kenapa Alasannya langsung oon kayak gitu,siapa juga gak bakalan percaya Gia..😂😂
Qaisaa Nazarudin
🤣🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!