Beberapa bulan setelah Leon lulus dari SMA, gurunya menawarkan Leon untuk bekerja di villa sang guru. Setahun setelah itu, Leon berhasil menembus tahap pemurnian qi level satu, dan secara resmi dijadikan murid oleh sang guru. Pada malam peresmian murid, gurunya memberikan sebuah bola hitam misterius kepada Leon. Keesokan harinya, kehidupan Leon mulai berubah secara drastis!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Candra S, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Big Mom
Dua mobil dan satu motor melaju melintasi jalan rusak menuju arah reruntuhan Bardio. Mobil pertama berisi Jerry sebagai pengemudi, dan Viona di sebelahnya. Lalu ada juga Jarun yang duduk di bak mobil.
Mobil kedua dikemudikan oleh Tom, dengan Amy dan Bella duduk bersama di kursi penumpang. Sama seperti Jarun, Gilang, yang beberapa tahun lebih muda, duduk di bagian bak mobil kedua.
Leon memimpin di depan dengan motor Raptor miliknya. Ketika bertemu satu atau dua zombie yang berkeliaran di jalan, Leon akan membiarkan mereka mengurus zombie tersebut.
"Ada belasan zombie di depan?"
Tidak ada perbatasan untuk memastikan seseorang sudah memasuki bagian luar reruntuhan Bardio. Kriteria penyebutan bagian luar adalah ketika sudah ada sekumpulan zombie dengan jumlah angka melebihi sepuluh.
"Apa kita perlu menggunakan pistol?"
Selain OP-4 yang diberikan Leon, Jerry dan yang lain juga membawa pistol milik mereka masing-masing. Tentu hal itu akan berguna jika salah satu senjata api sedang dalam kondisi panas.
"Tidak perlu, aku akan menyisakan dua zombie untuk kalian."
Ini adalah pertama kalinya Leon bergerak. Sepanjang perjalanan, kumpulan zombie terbanyak yang mereka temukan hanya berjumlah tiga. Karena itulah yang lain belum benar-benar tahu seberapa kuat Leon.
Shiiing.....
Berbeda dengan yang lain, Jerry dan Tom dapat melihat mana yang menyelimuti sekujur tubuh Leon serta pedangnya. Namun ketika keduanya baru saja terkejut melihat pemandangan Leon yang mengontrol mana dengan sangat baik, keduanya dibuat lebih terkejut ketika mata mereka tidak dapat mengikuti pergerakan Leon!
Slash!
Slash!
Slash!
Slash!
"Aku sudah mengalahkan 12, sisanya terserah kalian."
Semua orang terkejut ketika Leon tiba-tiba muncul kembali hanya beberapa meter di depan kelompok. Tak ingin ketinggalan, Jerry berteriak kepada yang lain.
"Baiklah semuanya, persiapkan tombak kalian!"
"""Baik."""
"Pergi ke rongsokan mobil itu."
Tombak bukanlah senjata yang dapat digunakan dengan mudah. Tergantung berat tombak, mengangkat dan mengayunkannya saja sudah melelahkan otot lengan.
Namun tombak memiliki kelebihan dalam jangkauan yang lebih luas dibandingkan senjata lain. Karena itu, Jerry mengarahkan kelompok untuk berdiri di balik rongsokan mobil, dan menggunakannya sebagai penahan laju zombie.
"Hmmm? Datang lagi?"
Ketika yang lain sedang menusuk dan mengayunkan tombak dari balik rongsokan, Leon memperhatikan sekumpulan zombie yang datang dari perempatan jalan. Kemudian dia berteriak kepada yang lain.
"Ada sekumpulan zombie di depan sana. Apakah kalian ingin disisakan beberapa?"
"Iya. Berikan kami dua lagi yang seperti ini!"
"Baiklah."
Kemudian Leon menghilang dari pandangan.
Teknik ini Leon namakan dengan accel. Awalnya, ketika dia berada dalam kecepatan penuh disaat teknik full body armor sedang aktif, dia tidak dapat menyelaraskan pikiran dan pergerakan tubuhnya. Namun seiring berjalannya waktu, Leon belajar bagaimana agar pikirannya memasuki kondisi meditasi secara instan.
Jadi, teknik accel adalah teknik full body armor dengan kondisi pikiran yang terkonsentrasi.
"Masih ada dua lagi di depan sana. Ayo kita cari posisi yang menguntungkan."
"""Ya!"""
Setelah mengalahkan dua zombie di awal, Jerry mengarahkan yang lain untuk pindah sambil mencari posisi terbaik untuk mengalahkan zombie.
Menjelajah bukanlah sebuah pertarungan hidup dan mati, namun demi menghasilkan uang dengan menjual hasil penjelajahan. Jadi, kelompok pejuang harus meminimalisir resiko menerima cedera dengan memanfaatkan keuntungan dari pergerakan zombie yang mudah dibaca. Dengan memanfaatkan rongsokan yang ada, para zombie itu akan kesulitan untuk menjangkau dan melukai pejuang.
Itulah sebabnya Jerry merupakan seorang pemimpin yang baik. Karena hingga saat ini, belum ada satupun diantara kelompok tersebut yang menerima luka.
"Leon, ternyata kamu sangat kuat!"
Setelah kelompok itu selesai, Jarun berlari menuju Leon dan berteriak dengan kagum.
"Hahahaha, sudah kukatakan bukan? Jika tidak, aku hanya akan membahayakan kalian dengan membawa kalian ke area ini."
"Sungguh, kami tidak menyangka kalau kamu sekuat itu Leon.
"Benar-benar menakjubkan."
"Kamu sangat hebat pak, ummm.... Leon."
Yang terakhir adalah Viona. Leon sudah memberitahunya untuk hanya bersikap formal ketika sedang bekerja saja. Jadi Viona mulai membiasakan diri dengan meniru cara yang lain bersikap terhadap Leon.
"Sudah siang. Ayo cari lokasi untuk memasak."
"Oke."
"Akhirnya makan!"
Kelompok tersebut memarkirkan kendaraan di depan sebuah gedung dua lantai. Kemudian mengeluarkan satu dus mie kari, kotak penyimpanan beku berisi sayuran, satu galon air, dan peralatan masak dari bak mobil, membawanya ke atap gedung.
Tidak ada kompor gas di kota Erulean. Namun terdapat kompor listrik portabel yang dapat aktif selama beberapa jam. Kompor tersebut juga dapat diisi ulang dengan arus yang disediakan kendaraan. Itu sangat berguna bagi para pejuang yang sedang menjelajahi area luar kota.
"Ahhhh, itu sangat enak. Sering-seringlah menjelajah bersama guild, Leon."
Setelah kelompok itu menghabiskan makanannya, Amy setengah berbaring dan berbicara kepada Leon. Berkat keikutsertaan Leon dalam penjelajahan kali ini, kelompok tersebut dapat menikmati makanan enak. Secara khusus makanan selain batangan suplemen gado.
"Hmmm... Ketika kita berhasil mendirikan pangkalan di reruntuhan Bardio ini, aku berjanji akan menyediakan stok makanan setiap kali anggota guild menjadwalkan penjelajahan."
"Sungguh?"
"Sungguh."
Leon berpikir mungkin hal tersebut akan meningkatkan keinginan yang lain untuk segera membangun sebuah pangkalan.
"Bagaimana jika kita memeriksa gedung ini dan gedung-gedung disekitarnya? Siapa tahu masih ada barang berharga yang belum ditemukan."
Jarun menyuarakan pendapatnya di tengah kelompok. Karena dia dan yang lainnya belum pernah memasuki bagian luar reruntuhan Bardio, Jarun berpikir mungkin mereka dapat menemukan barang berharga seperti emas atau hal lain yang belum dijarah.
"Bukankah sudah lima puluh tahun berlalu?"
Leon bertanya-tanya apakah ada kemungkinan barang yang masih belum dijarah setelah kota ditinggalkan selama lima puluh tahun.
"Tentu saja itu tidak ada hubungannya. Bahkan, aku yakin masih banyak barang berharga di bagian pusat reruntuhan Bardio. Meskipun bagian luar sudah sering dijelajahi berbagai guild, masih ada kemungkinan bukan?"
"Kalau begitu aku akan menyerahkannya kepada kalian. Aku akan mengawasi zombie di jalan raya melalui atap gedung. Jika kalian menemukan zombie di dalam gedung, gunakan saja OP-4 atau pistol."
"""Tentu."""
Suara tembakan pistol sesekali memasuki telinga Leon. Ketika hal itu terjadi, Leon selalu memastikan semuanya aman dengan menelepon Jerry melalui gelang EP.
Ketika kelompok itu berpindah ke gedung lain, Leon melompat langsung dari atap gedung sambil mengaktifkan full body armor. Kemudian menuju atap gedung yang dimasuki kelompok tersebut.
"Kali ini hanya satu ya..."
Leon mengasihani satu zombie yang muncul dari balik perempatan jalan. Dia melompat turun ke jalan dan menunggu zombie itu menyadari keberadaannya.
Ketika zombie itu mendekat, Leon melihat bahwa zombie tersebut terlihat sedikit berbeda. Namun karena tidak ingin membuang waktu, Leon mengaktifkan accel dan dengan mudah membunuh zombie tersebut.
"Kristal jingga? Apakah ini zombie level dua? Sepertinya mereka tidak begitu kuat."
Disaat dia membuka area jantung zombie itu, dia terkejut menemukan kristal berwarna jingga dari mayat zombie. Kemudian dia menceritakan hal tersebut kepada yang lain.
"Hahahaha itu sungguh lucu. Hanya saja, kamu terlalu kuat untuk membunuh zombie level dua secara instan. Jika itu kami, kami harus menggunakan OP-4 ini untuk mengalahkan zombie itu."
Tom tertawa terbahak-bahak, diikuti oleh seringai dan gelengan kepala yang lain. Mereka bahkan tidak berani bertemu dengan zombie level dua jika hanya menggunakan pistol. Berbeda dengan level satu, level dua memiliki naluri yang baik. Beberapa bahkan memiliki kemampuan yang unik seperti zombie pelompat, zombie perayap, dan yang lainnya.
"Lalu bagaimana dengan zombie level tiga?"
"Zombie level tiga cukup sulit untuk dikalahkan dengan senjata api. Sniper yang kuat mungkin bisa membunuhnya jika itu tepat mengenai dan menghancurkan kristal zombie. Cara yang paling efektif adalah dengan menggunakan rudal dan sejenisnya."
Jerry menjelaskan kepada Leon. Kemudian dia melanjutkan.
"Beberapa tahun yang lalu, anggota guild besar yang selamat dari kehancuran guild mereka di reruntuhan ini menceritakan bahwa hanya ada satu zombie level tiga di area pusat."
"Lalu bukankah itu cukup mudah? Guild besar tidak mungkin tidak sanggup menyediakan sejumlah rudal bukan?"
Jerry menggelengkan kepalanya.
"Dikatakan, kekuatan zombie ini hanya setara dengan zombie level dua. Namun, dia memiliki kemampuan yang unik untuk mereproduksi zombie lain. Semua zombie yang dia lahirkan akan mengikuti segala perintahnya. Situs serikat bebas menamai zombie jenis ini dengan nama big mom."