Siapa sangka hubungan persahabatan sejak kecil mengantarkan Viona dan Noah ke jenjang yang lebih serius?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soju Kimchizz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ikuti Cara Mainnya
Pagi itu, kediaman Skylar udah nggak ada bedanya sama lobi hotel di musim liburan. Ramai, berisik, dan penuh dengan orang-orang bersetelan rapi yang menenteng koper contoh kain, katalog bunga, sampai draf menu katering.
Viona turun dari tangga dengan kacamata hitam yang masih bertengger di kepalanya, berusaha memproses pemandangan di ruang tamunya yang mendadak penuh sesak. Di tengah kerumunan itu, Mama Rose dan Bunda Clara tampak seperti jenderal perang yang sedang menyusun strategi kemenangan.
"Morning, Ma. Bun," sapa Viona santai, meski hatinya agak sedikit menciut melihat tumpukan vendor di depannya.
Kedua wanita itu menoleh serempak dengan binar mata yang sama: binar kemenangan.
"Sayang, kamu ada rapat ya hari ini? Jangan lupa urusan administrasi berkas S2 kamu diurus ya," ucap Rose tanpa mengalihkan pandangan dari katalog lace Prancis di tangannya. Rose memang tipe yang efisien; urusan pernikahan jalan, urusan pendidikan
Viona pun harus tetap di jalur yang benar.
Viona mengambil satu potong roti gandum dari meja, mengunyahnya pelan. "Iya, Ma. Sebelum ke kantor aku mau ke kampus dulu kok. Udah janjian sama Noah."
Mendengar nama Noah disebut, gerakan tangan Bunda Clara yang sedang memilah foto dekorasi pelaminan langsung terhenti. Dia tersenyum lebar, jenis senyum yang bikin
Viona merasa ada sesuatu yang direncanakan di balik itu semua.
"Nah, gitu dong. Bareng Noah terus biar makin lengket," sahut Bunda Clara antusias.
"Administrasinya dibantu Noah aja ya, Vio? Kan dia dosen di sana, biar gampang."
Viona cuma mengangguk pelan. Padahal, alasan sebenarnya dia mau ketemu Noah bukan cuma soal S2, tapi soal kelanjutan "kontrak" mereka semalam yang mendadak jadi konsumsi publik.
Viona segera berpamitan, melangkah keluar mansion menuju mobilnya. Di kepalanya, dia sudah menyusun daftar pertanyaan yang harus dia tanyakan pada Noah. Terutama tentang gimana cara mereka menghadapi gempuran dua Ibu super powerfull ini yang tampaknya pengen pernikahan mereka digelar kalau bisa minggu depan.
Viona berjalan melewati lorong fakultas dengan langkah yang berisik karena suara stiletto-nya. Dia nggak perlu repot-repot bertanya di mana ruangan Noah; dia sudah hafal luar kepala tiap sudut gedung ini, sama hafalnya seperti dia tahu di mana Noah menyimpan cadangan kunci rumahnya.
Begitu pintu ruangan Noah dibuka, pemandangan di depannya hampir membuat Viona tertawa. Ruangan itu penuh sesak oleh mahasiswi yang penampilannya lebih mirip mau pergi ke pesta daripada mau perbaikan nilai. Ada yang merengek, ada yang sengaja memasang wajah melas, semuanya mengerubungi meja Noah.
"Ups! Maaf," kata Viona singkat. Dia menyandarkan bahunya di kusen pintu, melipat tangan di dada sambil menatap kerumunan itu dengan tatapan menilai.
Noah yang wajahnya sudah sangat frustrasi, langsung mendongak. Begitu matanya menangkap sosok Viona, ekspresi tegangnya sedikit mencair.
"Masuk aja," ujar Noah, suaranya terdengar sangat lega seolah Viona adalah tim penyelamat yang baru saja datang ke zona perang.
Detik itu juga, sekumpulan mahasiswi di sana serempak menoleh dan memasang wajah masam ke arah Viona. Mereka menatap Viona dari ujung rambut sampai ujung kaki, seolah-olah Viona adalah interupsi nggak sopan yang baru saja merebut perhatian "dosen kesayangan" mereka.
Viona yang sudah biasa jadi pusat perhatian, cuma membalas dengan senyuman miring yang provokatif.
"Kalian keluar saja dulu," kata Noah kembali ke mode tegasnya. Dia menutup laptop dengan suara yang cukup keras. "Sudah saya kasih keringanan, tapi kalian tetap tidak mengerjakan tugas dengan benar. Tidak ada negosiasi lagi."
"Baik, Pak..." sahut mereka dengan nada kecewa yang dibuat-buat.
Para mahasiswi itu keluar ruangan satu per satu, melewati Viona sambil berbisik-bisik cukup kencang agar terdengar.
"Itu pacarnya Pak Noah ya?"
"Gila, cakep banget sih. Tapi kok gayanya kayak mau ke mall daripada ke kampus?"
"Pantas aja Pak Noah dingin banget sama kita, saingannya level begini."
Viona cuma mengangkat bahu, lalu menutup pintu ruangan Noah begitu mahasiswi terakhir keluar. Dia berjalan mendekat ke arah meja Noah, sengaja duduk di pinggiran meja kayu itu dengan gaya yang sangat santai.
"Gila ya, Pak Dosen. Ternyata fansnya banyak juga," goda Viona sambil mengambil bolpoin di meja Noah dan memainkannya. "Tadi ada yang hampir nangis loh, gara-gara gue datang."
Noah menghela napas panjang, melepas kacamatanya dan memijat pangkal hidungnya. "Jangan mulai, Vio. Kepala gue udah mau pecah dari tadi."
Viona mencoba kembali ke mode profesional, meski posisi duduknya di pinggir meja Noah sama sekali nggak terlihat profesional.
"Oke, jadi berkas S2 gue udah beres diurus belum?" tanya Viona, mencoba mengalihkan suasana canggung setelah drama mahasiswi tadi.
"Udah... cerewet amat," jawab Noah singkat. Dia menyandarkan punggungnya ke kursi kerja, matanya memicing menatap Viona yang hari ini penampilannya terlalu stunning untuk sekadar urusan administrasi.
"Selain itu, lo mau apa ke sini? Gue paham betul lo ada maunya," pancing Noah. Dia tahu Viona nggak akan bela-belain bangun pagi dan ke kampus cuma buat nanya berkas yang bisa ditanya lewat telepon.
Viona berdehem pelan. Dia merogoh tas branded-nya dan mengeluarkan map cokelat tipis, lalu menggesernya ke hadapan Noah.
"Ini... kontrak pernikahan."
Noah menatap berkas itu, lalu beralih menatap Viona dengan tatapan yang tajam, jenis tatapan yang biasanya bikin mahasiswanya gemetar di ruang sidang skripsi. Tanpa menyentuh map itu, Noah justru memajukan tubuhnya.
"Gue nggak perlu kontrak," ucap Noah, suaranya rendah dan serak. "Lo mau apa? Gue ladenin."
Viona sedikit terkejut dengan jawaban frontal Noah. Dia mencebikkan bibir, mencoba menutupi rasa gugupnya. "Ah! Yang bener lo? Lo mah sering ingkar janji! Dulu aja janji mau beliin gue es krim pas kecil nggak ditepatin sampai sekarang."
Noah mendengus geli mendengar dendam masa kecil yang masih dibawa-bawa itu. "Tinggal beli satu toko juga bisa sekarang, Vio. Back to the topic, emang lo mau apa?"
Viona menarik napas panjang, memberanikan diri. "Gue nggak mau hidup gue berubah drastis setelah nikah. Gue tetep mau jadi diri gue sendiri. Syarat gue cuma dua: Gue boleh clubbing, tapi lo temenin. Gue boleh minum alkohol, tapi lo harus ada di samping gue."
Noah diam sejenak, mencerna permintaan Viona yang sebenarnya lebih terdengar seperti permintaan perlindungan daripada sekadar kebebasan. Dia tahu Viona hanya ingin tetap merasa "hidup" tanpa harus dikekang aturan kolot keluarganya.
"Mau lo banget itu," ucap Noah akhirnya. Dia berdiri dari kursinya, membuat jarak di antara mereka jadi sangat tipis. Noah menumpukan kedua tangannya di meja, mengunci posisi Viona. "Gue ikutin mau lo. Tapi... lo harus ikutin cara gue juga."
Viona menelan ludah, menatap mata Noah yang kali ini nggak main-main. "Cara... gimana maksudnya?"
"Nanti lo juga tahu," bisik Noah dengan senyum tipis yang misterius, membuat Viona mendadak merasa kalau dialah yang sebenarnya baru saja masuk ke dalam jebakan.