Rasa putus asa telah membawa jiwa murni yang rapuh pada kegelapan. Lunaris Skyler hanya ingin membalas semua rasa sakitnya dengan menerima tawaran bantuan dari Sirius. Yang tanpa Lunaris tau, jika dia telah terlibat dalam permainan takdir yang diciptakan oleh racun mematikan bernama dendam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lucient Night, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21: Pertemuan Tiga Arah
Setelah ancaman mengerikan yang membekukan darah itu, Sirius kembali berubah. Seolah ada saklar di dalam kepalanya yang ditekan, aura membunuh dan tatapan tajam setajam silet itu lenyap tak berbekas dalam sekejap mata.
Ia kembali berjalan dengan langkah santai, kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku jaket bomber-nya, bersiul pelan seolah-olah ia hanyalah pemuda biasa yang sedang menikmati jalan-jalan pagi. Tidak ada tanda-tanda bahwa beberapa detik yang lalu ia baru saja mengancam akan menguasai jiwa seseorang.
Lunaris, di sisi lain, berjalan di belakangnya dengan perasaan campur aduk. Isi kepalanya dipenuhi kekacauan. Ia menatap punggung lebar Sirius dengan waspada.
Makhluk ini... dia benar-benar gila, batin Lunaris. Satu detik dia jadi monster psikopat, detik berikutnya dia jadi turis nyasar yang norak, lalu balik lagi jadi cowok sok asik.
Mereka terus berjalan menembus hiruk-pikuk kota hingga akhirnya tiba di sebuah halte bus tua yang sangat familiar bagi Lunaris pada sore hari, mengingat jarak hutan dan daerah tempat tinggal Lunaris cukup jauh dan mereka berjalan kaki.
Ini adalah halte tempat ia biasa menunggu bus sekolah setiap pagi, letaknya strategis di pinggir jalan raya utama dan hanya berjarak beberapa ruko dari toko bunga milik Nyonya Lyn.
Lunaris menghela napas lega melihat lingkungan yang dikenalnya. Setidaknya, ia sudah dekat dengan rumah.
Namun, kelegaan itu tidak bertahan lama.
CIIITTT!
Suara decitan ban mobil yang direm mendadak memekakkan telinga, membuat beberapa orang di halte menoleh kaget, termasuk Lunaris dan Sirius.
Sebuah mobil Jeep Rubicon hitam berhenti secara dramatis tepat di depan halte, bannya sedikit berasap karena gesekan dengan aspal.
Pintu pengemudi terbuka kasar. Dari sana, keluarlah sosok pemuda dengan kemeja hitam yang berantakan dan wajah kusut penuh kekhawatiran.
"Lunaris?!"
Itu Aaron.
Pemuda itu berlari menghampiri Lunaris tanpa memedulikan klakson kendaraan lain di belakangnya. Matanya yang biasanya tenang kini dipenuhi kepanikan yang nyata.
"Lunaris! Astaga, ini beneran lo 'kan?!" Aaron langsung mencengkeram kedua bahu Lunaris, menatap gadis itu dari ujung kepala sampai ujung kaki, memastikan tidak ada bagian tubuh yang kurang. "Lo ke mana aja hah?! Gue udah cari lo ke mana-mana! Gue telepon gak aktif, di rumah gak ada... Gue pikir lo..."
Suara Aaron tercekat di tenggorokan. Rasa lega yang membanjiri dadanya begitu besar hingga ia nyaris lemas. Ia baru saja hendak menemui Nyonya Lyn untuk membahas langkah pencarian selanjutnya, dan takdir seolah mempermainkannya dengan menaruh Lunaris tepat di pinggir jalan yang ia lewati.
"A-Aaron... sakit," Ringis Lunaris pelan karena cengkeraman Aaron terlalu kuat. Dan kakinya juga ikut terasa ngilu karena terguncang.
"Eh, sorry... sorry..." Aaron buru-buru melepaskan tangannya, namun tatapannya tetap intens. "Tapi lo gak apa-apa kan? Ada yang luka? Lo dari mana aja dua hari ini? Kenapa gak ngabarin siapa-siapa? Apa ngelakuin sesuatu lagi sama lo?"
Lunaris mundur selangkah, kewalahan dengan brondongan pertanyaan itu. "Gue... itu... gue... Gue gakpapa Aaron. Lo gak perlu khawatir."
"Gimana gue gak curiga? Pas gue tanya anak-anak yang liat lo, terakhir katanya lo dibawa sama Bracia dan anak buahnya. Terus lo ngilang gitu aja!"
Sementara itu di belakang Lunaris, Sirius bersandar santai pada tiang halte. Ia melipat kedua tangannya di dada, menyaksikan adegan reuni penuh air mata itu dengan ekspresi bosan yang sangat ketara.
"Manusia dan drama receh mereka," Gumam Sirius pelan, cukup pelan hingga hanya dia yang bisa mendengarnya. "Sangat membosankan."
Sirius hendak memalingkan wajah, tidak tertarik dengan opera sabun di depannya, namun gerakannya terhenti saat matanya menangkap sosok Aaron lebih jelas.
Mata parak Sirius menyipit.
Ia melihat sesuatu. Bukan pada fisik Aaron, melainkan pada aura yang memancar samar dari tubuh pemuda itu. Sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh mata manusia biasa. Ada aliran energi yang unik, terpendam jauh di dalam, namun berdenyut halus.
Sepersekian detik, iris mata Sirius berkilat perak misterius. Kilatan itu bukan pantulan cahaya matahari, melainkan respon alami dari entitas sepertinya saat merasakan keberadaan sesuatu yang... familiar. Atau mungkin, berpotensi.
"Ho..." Sudut bibir Sirius terangkat membentuk seringai tipis yang penuh arti. "Menarik. Sangat menarik. Gadis bodoh itu pasti akan sangat kecewa kalau aku bertiau."
Tapi Sirius memilih untuk tidak membuka suara. Ia akan menyimpan pengamatan itu untuk dirinya sendiri.
Lunaris jelas tidak menyadari apa yang tersembunyi dibalik raut wajah khawatir pemuda itu, dan Sirius tidak berniat memberitahunya.
Setidaknya, belum saat ini. Ini akan menjadi hiburan tersendiri bagi Sirius di tengah kebosanannya.
Sementara itu, Aaron yang sudah sedikit tenang akhirnya menyadari bahwa Lunaris tidak sendirian. Matanya beralih pada sosok pemuda jangkung yang berdiri santai di belakang Lunaris. Pemuda dengan penampilan stylish namun memiliki aura yang membuat bulu kuduk Aaron meremang tanpa alasan.
Dahi Aaron berkerut dalam. Naluri protektifnya langsung menyala.
"Siapa cowok itu?" Tanya Aaron tajam, menunjuk Sirius dengan dagunya. Ia menarik Lunaris agar berdiri sedikit di belakang punggungnya, menciptakan jarak antara gadis itu dan si orang asing. "Lun, lo ilang dua hari dan balik-balik sama cowok ini? Cowok itu siapa? Dia gak ngapa-ngapain lo kan?"
Lunaris panik. Mati kutu.
Apa yang harus ia katakan? 'Oh, kenalin Ron, ini Sirius si iblis kuno yang gue temuin di kuil terkutuk dan sekarang jadi budak gue demi balas dendam'? Aaron pasti akan langsung menyeretnya ke rumah sakit jiwa.
"Ehh... i-itu..." Lunaris tergagap, matanya melirik Sirius, memohon bantuan. Tapi Sirius malah hanya mengangkat bahu acuh tak acuh, menikmati penderitaan Lunaris. "Dia... anu... dia yang nolongin gue waktu gue... tersesat di hutan! Iya, dia nemuin gue!"
"Tersesat di hutan?" Aaron menatap curiga. "Lo ngapain ke hutan?"
"Lunaris!"
Belum sempat Lunaris menjawab pertanyaan mematikan dari Aaron, sebuah suara wanita tua terdengar dari arah trotoar.
Mereka bertiga menoleh serempak.
Di sana, berdiri Nyonya Lyn. Wanita tua itu baru saja turun dari angkutan umum dengan membawa keranjang bunga kosong, sepertinya nyonya Lyn baru selesai mengantar pesanan.
Wajah keriputnya tampak lelah dan cemas, namun saat melihat Lunaris, matanya langsung berbinar.
"Lunaris! Ya Tuhan, Nak!"
Nyonya Lyn bergegas menghampiri, langkahnya terseok-seok karena lututnya yang lemah. Namun, langkah itu terhenti mendadak sekitar tiga meter dari mereka.
Senyum lega di wajah Nyonya Lyn membeku. Matanya tidak lagi tertuju pada Lunaris, melainkan terlempar melewati bahu gadis itu, tepat ke arah Sirius yang masih berdiri bersandar di tiang.
Waktu seolah berhenti bagi Nyonya Lyn.
Mata tua itu membelalak lebar, pupilnya mengecil. Wajahnya yang tadi lelah kini berubah pucat pasi, seolah darah di seluruh tubuhnya tersedot habis.
Ia melihatnya.
Meskipun pemuda itu berpenampilan modern, meskipun rambutnya pendek dan gayanya seperti anak muda masa kini, tapi Nyonya Lyn tidak akan salah mengenali saat melihat mata itu.
Mata perak yang dingin, angkuh, dan menyimpan kegelapan abadi. Mata yang sama dengan yang pernah diceritakan dalam dongeng-dongeng mengerikan leluhurnya.
Jantung Nyonya Lyn berdegup kencang, menghantam rusuknya dengan menyakitkan.
Secara refleks, tangan kanannya yang gemetar terangkat ke dadanya, mencengkeram erat sebuah kalung berbandul batu ruby merah darah yang selalu ia pakai dan disembunyikan di balik bajunya. Batu ruby itu terasa hangat, nyaris panas, di telapak tangannya.
"Bagaimana mungkin dia bisa terbebas?" Batin nyonya Lyn.
Lalu mata tuanya menatap ke arah Lunaris dengan nafas tercekat. "Apa Lunaris sudah.....?"
Sirius, yang menyadari reaksi wanita tua itu, perlahan menegakkan tubuhnya. Ia tidak terkejut. Justru, senyum miring di bibirnya semakin lebar. Ia menatap Nyonya Lyn tepat di manik mata, seolah menantang: 'Kau terkejut? Jalan takdir memang tidak pernah keliru walaupun harus menunggu ratusan tahun.'
Nyonya Lyn menelan ludah susah payah. Ia memejamkan matanya sejenak, menarik napas dalam-dalam, berusaha mengendalikan keterkejutan dan rasa takut yang meluap. Ia harus tenang. Ia tidak boleh membuat keributan di sini. Lunaris ada di sana.
Dengan susah payah, Nyonya Lyn memasang kembali topeng ketenangannya. Ia melepaskan cengkeramannya pada kalung ruby itu, meski tangannya masih sedikit gemetar.
"Nyonya Lyn?" panggil Lunaris khawatir melihat wanita itu mematung.
Nyonya Lyn tersentak pelan. Ia memaksakan senyum tipis, meski matanya masih menyiratkan kewaspadaan tingkat tinggi. Ia memutuskan untuk mengabaikan Sirius—atau setidaknya, berpura-pura mengabaikannya.
"Ah... Lunaris," suara Nyonya Lyn terdengar sedikit parau. Ia berjalan cepat melewati Aaron, langsung memeluk Lunaris dengan erat. "Syukurlah... syukurlah kamu selamat, Nak. Aku sangat khawatir padamu saat Aaron bilang kamu hilang... aku pikir..."
"Maaf, Nyonya. Maaf bikin khawatir," gumam Lunaris, merasa bersalah.
Nyonya Lyn melepaskan pelukannya, menangkup wajah Lunaris. "Ayo kita pulang. Kamu pasti lelah, sebaiknya kita ke tokoku agar kamu bisa istirahat terlebih dahulu. Kita bicara di sana saja, jangan di pinggir jalan."
"Tapi Nyonya..." Aaron menyela, masih menatap curiga ke arah Sirius. "Siapa cowok ini? Lunaris bilang dia yang nolongin, tapi..."
Nyonya Lyn melirik sekilas ke arah Sirius. Tatapan mereka bertemu. Sirius hanya mengedipkan sebelah matanya dengan main-main, membuat perut Nyonya Lyn mual karena rasa takut yang menjalar. Aura pemuda itu... terlalu pekat. Terlalu gelap.
"Nanti kita bahas, Aaron," potong Nyonya Lyn cepat, suaranya tegas namun menyiratkan ketidakinnginan untuk berlama-lama di dekat Sirius. "Yang penting Lunaris sudah ketemu, dan dia butuh istirahat. Ayo, Nak."
Nyonya Lyn menarik tangan Lunaris, membawanya menjauh secepat mungkin dari halte itu, seolah sedang menyelamatkan anak ayam dari cengkeraman elang.
Lunaris yang ditarik hanya bisa pasrah, sambil sesekali menoleh ke belakang, menatap Sirius yang masih berdiri di sana dengan senyum misterius yang tak pudar.
"Makhluk aneh itu lagi mikirin apa sih? Sus banget,"