NovelToon NovelToon
ENIGMA

ENIGMA

Status: tamat
Genre:Romansa pedesaan / Romantis / Cintamanis / Fantasi / Romansa / Tamat
Popularitas:10.8k
Nilai: 5
Nama Author: Ceye Paradise

Esmeralda Aramoa memimpin Proyek Enigma, sebuah eksperimen ilegal untuk menyatukan gen serigala purba ke dalam tubuh subjek bernama AL. Namun, fasilitas penelitian itu hancur dan AL menghilang. Suatu ketika Di tengah hutan sunyi, predator itu kembali—lebih besar, lebih buas, dan siap merobek leher Esme.Saat kuku tajam mulai menggores nadinya, dalam keputusasaan maut, Esme meneriakkan kebohongan gila: "Berhenti! Aku adalah istrimu!"

Apakah predator haus darah itu akan percaya begitu saja? Siapa sebenarnya sosok AL sebelum ingatannya terhapus paksa? Apakah kebohongan ini akan menjadi pelindung atau justru jebakan mematikan saat insting liar AL mulai menuntut haknya sebagai seorang suami?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ceye Paradise, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15: Uang Pertama

Matahari baru saja naik sepenggalah ketika Aleksander—atau Al, sang predator yang kini menyamar menjadi buruh kebun paling tampan se-provinsi—sudah berdiri di depan cermin kecil di ruang tengah. Dia sedang mencoba merapikan kerah kaosnya yang selalu terasa mencekik leher betonnya itu. Esme, yang baru saja selesai mencuci piring sarapan, memperhatikannya dari ambang pintu dapur dengan perasaan yang campur aduk antara geli dan ngeri.

"Moa, apakah penampilanku sudah seperti... e-ko-no-mi?" tanya Al dengan wajah sangat serius. Dia memutar tubuhnya, memamerkan punggungnya yang lebar hingga jahitan kaos itu terdengar sedikit merintih karena tekanan otot.

Esme menghela napas, menyandarkan tubuhnya di bingkai pintu. "Maksudmu pekerja profesional, Aleksander. Dan berhentilah mematut diri seperti itu. Kau hanya akan mengangkut buah, bukan ikut pemilihan model majalah pria dewasa."

Al menoleh, matanya yang kuning berkilat polos. "Tapi Bibi Sarah bilang, suami yang tampan adalah kebanggaan istri. Aku ingin Moa bangga saat orang-orang di pasar melihatku nanti."

Esme ngebatin dengan pedas, "Bangga sih bangga, tapi kalau semua ibu-ibu di desa mulai memujimu, kepalaku yang pusing menghadapi gosipnya." Namun yang keluar dari mulutnya hanyalah, "Ya, ya, kau sudah sangat tampan. Sekarang bawa keranjangmu dan jangan lupa, jangan bicara soal 'hutan' atau 'obat yang salah' pada siapa pun. Kalau ada yang tanya kenapa kau sangat kuat, bilang saja kau dulu sering angkat beban di gym... eh, maksudku angkat batu di kali!"

"Siap, Moa!" Al memberikan hormat dengan gerakan yang terlalu kaku hingga tangannya hampir mengenai langit-langit pondok.

Sepanjang perjalanan menunuju perkebunan Paman Silas, Al berjalan dengan langkah ringan. Dia merasa sangat bersemangat. Di otaknya yang masih bersih dari memori jahat, kata "kerja" adalah sebuah permainan baru yang sangat seru. Dia suka melihat reaksi orang-orang yang kagum pada kekuatannya. Baginya, itu adalah bukti bahwa dia bukan lagi makhluk asing, melainkan "Aleksander sang suami" yang punya peran di dunia.

Sesampainya di perkebunan, suasana sudah ramai. Namun, ada yang berbeda hari ini. Di sudut kebun, ada sekelompok pemuda desa yang dipimpin oleh Jaka, seorang pemuda lokal yang selama ini dikenal sebagai yang terkuat di desa—sebelum Al datang dan menghancurkan rekornya dalam satu jam kerja kemarin. Mereka menatap Al dengan pandangan sinis.

"Lihat itu, si 'pasien koma' sudah datang," sindir Jaka sambil meludah ke samping. "Paling-paling cuma modal badan gede, isinya pasti lembek."

Al yang mendengar itu berhenti melangkah. Dia memiringkan kepalanya, menatap Jaka dengan tatapan yang sangat datar. Insting predatornya mendeteksi adanya permusuhan, dan sesaat, pupil matanya menyempit menjadi garis vertikal yang tajam.

"Isiku... bukan lembek," ucap Al dengan suara berat yang menggetarkan udara. "Istriku bilang, isiku adalah tanggung jawab. Kau mau merasakannya?"

Jaka sedikit mundur, merasa terintimidasi oleh aura dingin yang tiba-tiba terpancar dari Al. Namun karena malu di depan teman-temannya, dia tetap berdiri tegak. "Jangan banyak omong! Ayo kita buktikan di pengangkutan peti hari ini!"

Paman Silas segera datang menengahi sebelum terjadi baku hantam yang bisa meratakan setengah kebun apelnya. "Sudah, sudah! Al, kemari! Bantu paman di baris utara. Jaka, kau urus bagian pengemasan!"

Hari itu Al bekerja dua kali lebih keras. Dia ingin membuktikan pada Moa—melalui laporan Paman Silas nanti—bahwa dia adalah suami yang paling bisa diandalkan. Dia mengangkat tiga peti sekaligus, menumpuknya setinggi dua meter, dan membawanya menuju truk pengangkut tanpa berkeringat sedikit pun. Ibu-ibu pemetik apel kembali berkumpul, bersorak-sorai seolah sedang menonton pertandingan olimpiade.

"Aduh, Aleks! Pelan-pelan, Nak! Nanti ototmu robek!" teriak Bibi Sarah sambil memberikan handuk kecil.

"Ototku tidak akan robek, Bibi. Mereka sangat suka bekerja," jawab Al sambil tersenyum polos, yang membuat gadis-gadis di sana menjerit tertahan.

Saat jam istirahat makan siang, Paman Silas memanggil Al. Dia mengeluarkan beberapa lembar uang kertas dari dompetnya dan menyerahkannya pada Al. "Ini upahmu untuk dua hari ini, Aleks. Kau bekerja setara dengan tiga orang pekerja biasa, jadi aku memberimu bonus."

Al menerima uang itu dengan tangan gemetar. Dia membolak-balik kertas berwarna tersebut seolah-olah itu adalah benda ajaib. "Ini... uang? Ini yang bisa membuat Moa tidak sakit lagi?"

"Benar, Nak. Dengan itu kau bisa beli obat, makanan enak, atau mungkin baju baru untuk Esme," Paman Silas menepuk bahu Al. "Kau benar-benar laki-laki yang hebat sekarang."

Al merasa dadanya membusung karena bangga. Dia segera memasukkan uang itu ke dalam sakunya dengan sangat hati-hati, seolah takut uang itu akan terbang. Namun, saat dia hendak berpamitan untuk pulang, Jaka dan teman-temannya mencegatnya di dekat gerbang.

"Hei, Raksasa!" panggil Jaka. "Kau pikir kau hebat hanya karena disukai ibu-ibu? Aku tahu kau itu cuma orang luar yang numpang hidup di rumah Esme. Entah benar suaminya atau bukan, kau itu mencurigakan!"

Al berhenti. Dia menatap Jaka dengan tatapan yang mulai tidak ramah. "Aku bukan orang luar. Aku suami Moa. Moa bilang begitu, jadi itu benar."

"Halah! Esme itu cantik dan pintar, mana mungkin dia mau sama pria aneh sepertimu yang bahkan tidak tahu cara bicara dengan benar!" Jaka tertawa mengejek. "Pasti kau mengancamnya, kan?"

Sesuatu meledak di dalam diri Al. Mendengar nama Moa disebut dengan nada menghina membuat insting pelindungnya mengamuk. Secara otomatis, kuku-kukunya mulai memanjang, menusuk bagian dalam saku celananya. Geraman rendah mulai keluar dari tenggorokannya—suara yang jauh lebih mengerikan dari suara binatang apa pun yang pernah didengar Jaka.

"Jangan... sebut... nama istriku... dengan mulut kotormu," geram Al. Tubuhnya seolah membesar, auranya menjadi sangat gelap dan mematikan.

Jaka dan teman-temannya seketika pucat pasi. Mereka melihat mata Al yang kini berpendar kuning tajam di bawah bayangan topi. Mereka merasa sedang berdiri di depan maut.

"A-ampun! Kami cuma bercanda!" Jaka lari tunggang langgang diikuti teman-temannya, meninggalkan Al yang masih berdiri dengan napas memburu.

Al segera memejamkan matanya, teringat kata-kata Esme. "Tarik napas... padang rumput yang indah... bunga lavender..." Dia berbisik pada diri sendiri sampai kuku dan taringnya kembali memendek. Dia tidak ingin Moa marah karena dia menakuti penduduk desa.

Sesampainya di rumah, Al menemukan Esme sedang menjemur baju—kemeja yang kemarin sempat robek namun sudah dijahit kembali dengan kasar. Esme menoleh dan kaget melihat Al berlari ke arahnya dengan wajah yang sangat berseri-seri.

"Moa! Lihat!" Al merogoh sakunya dan mengeluarkan uang kertas yang sudah agak lecek. "Aku punya kertas ajaib! Paman Silas bilang ini untukmu agar kau tidak sakit lagi!"

Esme tertegun melihat tumpukan uang di tangan Al. Jumlahnya lumayan banyak untuk ukuran buruh harian. Ia melihat binar kebahagiaan yang begitu murni di mata Al, binar yang membuatnya merasa seperti penjahat karena telah membohongi makhluk sepolos ini.

"Aleksander... kau benar-benar bekerja keras?" tanya Esme dengan suara pelan.

"Iya! Aku angkat peti banyak sekali! Dan aku tidak merobek baju hari ini!" Al memamerkan kaosnya yang masih utuh. "Paman Silas bilang aku kepala rumah tangga yang hebat. Moa senang? Moa tidak akan membuangku ke hutan, kan?"

Esme merasakan matanya memanas. Dia menerima uang itu, lalu tiba-tiba ia memeluk pinggang Al—yang setinggi dadanya itu—dan menyandarkan kepalanya di dada pria itu. "Terima kasih, Aleksander. Aku sangat bangga padamu. Kau adalah... suami yang sangat baik."

Al membeku sesaat, lalu dia membalas pelukan Esme dengan sangat hati-hati, seolah takut akan mematahkan tulang rusuk istrinya. "Aku akan cari uang lebih banyak lagi, Moa. Agar kita bisa beli piring yang tidak mudah pecah dan meja yang lebih kuat."

Esme tertawa di dalam pelukan Al. "Iya, suamiku. Tapi sekarang, mandi dulu! Baumu seperti apel busuk bercampur keringat!"

"Siap, Istriku!" Al berteriak semangat, lalu berlari menuju kamar mandi dengan riang, hampir menabrak bingkai pintu karena terlalu bersemangat.

Esme berdiri di sana, memegang uang pemberian Al, dan menatap punggung pria itu dengan senyum yang kali ini tidak dipaksakan. Di balik segala absurditas dan kebohongan, dia mulai merasa bahwa mungkin, hanya mungkin, hidup seperti ini jauh lebih baik daripada masa lalunya yang penuh dengan tabung reaksi dan ambisi dingin. Namun, ia tidak tahu bahwa di desa, Jaka mulai bercerita pada orang-orang tentang "suara geraman monster" yang keluar dari mulut suami Esme.

Bagaimana kelanjutan kisah mereka? Apakah gosip Jaka akan membuat penduduk desa mulai mencurigai siapa sebenarnya Aleksander, atau Al justru akan melakukan hal konyol lainnya untuk membuktikan dia manusia normal?

1
Dea Abdullah
lain dr yg lain suka😍
Yoskar
Cerita yang sangat bagus kaya katanya terstruktur sangat bagus...ada keharuan, sedih, lucu, ketegasan, jekerasan taktis, cinta dan kebagiaan...
Dea Abdullah
lanjut aku suka aku suka
Dea Abdullah
br ini bc crita yg berda bkn ttang ceo .. keren 😍
Ceye Paradise: hehe, makasih kakak😍. seneng bacanya. jangan lupa follow author juga ya👋
total 1 replies
Tubuni Boru Manalu
ceritanya bagus apalagi pas bagian alex yang masih polos polosnya 😍
tapi bagian moa yg trauma itu seharusnya bukan salah alex sepenuhnya karna dia udah lupa jati dirinya dan dia juga lagi di mode monster.
jdi agak gimna gitu mau sedih moa juga salah malah menanbh dosisnya.

tapi rekomen untuk dibaca alurnya bagus👍❤❤
Aisyah Ashik
bagus banget 💪
Fauziah Azzahrah
Jujur ceritanya seru dan menarik
Ridwani
👍👍👍👍👍
Ridaabee
aaaa sedih banget, kapan al nya ingat moa lagi thor 😭😭😭😭
Ceye Paradise
cerita ENIGMA seseru itu ayo buruan baca😍. dan nikmati tingkah dan interaksi mengemaskan pasutri palsu ini yang bikin panas dingin 🤭
Ceye Paradise
cerita ENIGMA semakin menjadi-jadi serunya! kegemesan dan tingkah konyol AL makin kocak di setiap bab nya 🫶😆
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!