NovelToon NovelToon
SISTEM DIMENSI RIMBA

SISTEM DIMENSI RIMBA

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Sistem / Fantasi
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Khatix Pattierre

“Satu juta tahun sekali, alam semesta memilih wadahnya. Dan kali ini, pilihan itu jatuh pada pemuda yang hampir mati."

Rimba Dipa Johanson hanyalah pemuda yatim piatu yang bertahan hidup di kerasnya pinggiran kota. Hidupnya nyaris berakhir tragis saat dikeroyok preman hingga sekarat di sebuah parit gelap. Namun, di ambang kematian, sebuah cahaya misterius menarik jiwanya masuk ke dalam warisan kuno.

Didampingi oleh Lara, pelayan dimensi yang cantik namun misterius, serta Cesar, serigala legendaris dari Hutan Asura, Rimba memulai perjalanan kultivasinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khatix Pattierre, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24: REVOLUSI DI AUDITORIUM

Tiga hari di dunia nyata adalah waktu yang sangat singkat bagi manusia biasa, namun bagi Rimba Dipa Johanson, itu adalah rentang waktu yang sangat panjang untuk menempa diri. Di dalam Dimensi Independen, berkat rasio waktu yang telah dimanipulasi oleh teknologi Aether, tiga hari tersebut setara dengan enam tahun latihan tanpa henti.

Sebelum memasuki dimensi, Rimba berada di Tingkat 4: Gejolak Elemen (Tinggi) dengan kekuatan fisik murni sebesar 6,1E9G. Angka itu sudah cukup untuk meratakan sebuah gunung kecil, namun Rimba tidak pernah merasa puas. Ia memompa semangatnya, bermeditasi di bawah tekanan gravitasi ekstrim, dan melatih teknik-teknik tempur yang lebih tajam. Segala ilmu yang menurutnya menarik, mulai dari manipulasi energi hingga pemahaman botani surgawi, ia perdalam hingga ke akar-akarnya.

Pada akhir tahun keenam di dimensi, Rimba merasakan getaran hebat di dalam meridiannya. Aliran Qi-nya tidak lagi mengalir seperti sungai, melainkan menderu seperti air terjun raksasa yang siap menjebol bendungan. Ia tahu, saatnya telah tiba untuk menembus ambang batas berikutnya.

Rimba segera keluar dari dimensi dan muncul di puncak gunung terpencil yang pernah menjadi saksi bisu kenaikan tingkatnya yang lalu. Seketika, alam bereaksi. Langit yang tadinya cerah berubah menjadi gelap gulita dalam hitungan detik. Awan hitam bergulung-gulung rendah, memancarkan aura kemarahan yang luar biasa. Kilat merah dan ungu menari-nari di angkasa, menciptakan simfoni kehancuran yang mengerikan.

Fenomena cuaca yang tak masuk akal ini kembali menarik perhatian para kultivator dan pengamat energi di seluruh negeri. Namun, kali ini hantaman petirnya terjadi sebanyak lima kali dengan intensitas yang jauh lebih brutal. Suara guntur yang dihasilkan terdengar hingga ratusan kilometer, menggetarkan kaca-kaca gedung di kota terdekat.

Setelah petir kelima menghantam tubuh Rimba dan gelombang energi besar meledak ke segala arah, cuaca perlahan kembali normal. Seperti biasa, para kultivator bergerak cepat menuju pusat ledakan. Meskipun mereka sudah berkali-kali kecewa karena tidak menemukan apa pun, rasa penasaran membawa mereka kembali ke sana. Dan seperti sebelumnya, mereka hanya menemukan tanah yang hangus menghitam dan sisa-sisa energi yang masih berasap. Pelakunya sudah menghilang tanpa jejak.

---

Rimba kini berada di dalam Telaga Penyelarasan di dimensinya. Proses kenaikan tingkat kali ini terasa lebih menyakitkan sekaligus menyegarkan. Seluruh tulang di tubuhnya terkelupas dan beregenerasi menjadi struktur baru yang lebih kuat: Tulang Kristal Obsidian. Kekuatannya melonjak secara eksponensial menjadi 1,5E11G.

Sebagai perbandingan, seorang kultivator normal di Tingkat 5 (Rendah) biasanya hanya memiliki kekuatan sekitar 65.536G. Kekuatan Rimba saat ini secara teknis sudah setara dengan kultivator legendaris di Tingkat 10 (Menengah). Ia telah menjadi monster dalam wujud manusia.

Senin pagi tiba di dunia nyata. Rimba keluar dari dimensinya di dekat kawasan kampus Universitas Buana Cakrawala. Penampilannya masih konsisten dengan gaya "pemberontaknya": sepatu desert army boot, celana jeans yang dipotong kasar di atas lutut, kaos oblong, dan kemeja flanel kotak-kotak yang tidak dikancingkan. Satu hal yang berbeda adalah tas ranselnya yang kini diganti oleh Lara dengan tas selempang satu tali yang lebih modis. Rimba menerimanya karena ia tahu itu adalah bentuk perhatian tulus dari asisten dimensinya tersebut.

Dengan Harley Davidson yang menggeram rendah, ia memasuki parkiran kampus. Setelah mencantolkan helm di spion, ia berjalan santai menuju Auditorium mengikuti papan petunjuk Masa Orientasi Mahasiswa Baru (OSMB).

Di sepanjang jalan, Rimba melihat lautan mahasiswa baru yang tampak seragam. Mereka mengenakan kemeja putih bersih, celana hitam, dan atribut-atribut aneh. Yang perempuan rambutnya diikat dengan banyak pita merah putih, sementara yang laki-laki hampir semuanya botak plontos dengan sisa rambut hanya 1mm. Mereka semua mengenakan papan karton di dada yang bertuliskan nama-nama konyol.

Rimba yang tidak membaca lembar instruksi tugas hanya berjalan santai. Banyak mahasiswa baru yang melewatinya dengan sedikit membungkuk dan menyapa, "Pagi, Bang!" Mereka jelas mengira Rimba adalah senior karena penampilannya yang sangat maskulin dan berwibawa, jauh dari kesan mahasiswa baru yang tampak tertekan.

Di selasar, para senior berpakaian jas almamater berteriak-teriak menggunakan pengeras suara, memerintah para junior untuk berlari lebih cepat dan mencaci maki kesalahan kecil. Rimba melewati mereka dengan wajah datar. Anehnya, para panitia itu tidak berteriak padanya, mungkin karena mereka sendiri ragu apakah Rimba adalah mahasiswa baru atau mungkin dosen muda atau tamu istimewa.

Begitu memasuki auditorium, Rimba tersadar. Oh, jadi mereka semua adalah mahasiswa baru, batinnya saat melihat hampir seluruh kursi di depan diisi oleh "pasukan putih-hitam" yang botak. Ia teringat kembali pada kertas tugas yang pernah diberikan panitia cantik beberapa hari lalu. Ia memasukkannya ke tas dan tak pernah menyentuhnya lagi.

Rimba berjalan ke deretan kursi paling belakang yang masih kosong. Acara belum dimulai, namun suasana terasa tegang. Seorang panitia berbadan besar di belakang memberikan kode kepada MC di atas panggung. Fokus mereka tertuju pada satu orang: si bule gondrong yang melanggar aturan seragam.

Seorang senior panitia yang juga berbadan besar mengambil mikrofon dari tangan MC dan berteriak menggelegar, suaranya menggema di seluruh ruangan. "Hey! Kamu yang di belakang! Yang pakai kemeja kotak-kotak! Apa kamu mahasiswa baru?!"

Seketika, lebih dari seribu pasang mata menoleh ke belakang, menatap Rimba.

"Ya, saya mahasiswa baru," jawab Rimba dengan suara lantang yang stabil.

"Maju kamu ke sini!" perintah si panitia dengan nada menekankan suara memerintah.

Rimba berjalan dengan santai, langkahnya tidak menunjukkan rasa takut sedikit pun. Saat ia menaiki panggung, bisikan-bisikan terdengar dari barisan mahasiswa baru. "Dia mahasiswa baru? Aku tadi menyapanya 'Bang' karena kupikir dia angkatan atas."

Rimba berdiri di depan panitia besar itu. Tatapannya lurus dan tajam.

"Kamu tahu hari ini adalah hari orientasi?" tanya si besar dengan wajah merah padam.

"Tahu," jawab Rimba singkat.

"Lalu kenapa kamu tidak pakai atribut?! Kenapa rambutmu tidak dipotong?! Kamu merasa hebat?!" teriaknya tepat di depan wajah Rimba.

Rimba tersenyum tenang. "Menurutku, orientasi adalah untuk mendengarkan informasi akademis dan seluk-beluk kampus. Yang aku butuhkan untuk itu hanyalah telinga untuk mendengar dan otak untuk mencerna. Aku tidak butuh seragam konyol atau kepala botak untuk memahami penjelasan dosen."

Jawaban itu memancing seruan tertahan dari seluruh auditorium.

"Jadi kamu menolak mengikuti aturan?!" si besar semakin naik pitam.

"Aku setuju mengikuti orientasi, tapi aku menolak diperintah-perintah dengan cara dibentak. Kita di sini untuk belajar menjadi intelektual, bukan untuk menjadi budak zaman kolonial yang harus patuh karena takut," jawab Rimba santai namun berwibawa.

"Bacot kamu, anjing!" teriak si panitia besar sambil melayangkan pukulan keras ke wajah Rimba.

Bagi Rimba, gerakan itu tampak seperti gerak lambat seekor siput. Dengan presisi yang mematikan, ia memajukan kaki kanannya ke sisi luar kaki si besar, menangkap lengan yang menyerangnya, lalu memutar tubuhnya. Menggunakan pinggul sebagai tumpuan, ia mengangkat tubuh pria besar itu ke udara dan membantingnya ke lantai panggung.

BRAKK!

Suara benturan itu membuat seluruh auditorium terdiam. Si panitia besar meringkuk di lantai, mengeluarkan suara mendengik karena paru-parunya seolah terjepit oleh bantingan yang sempurna. Ia tak mampu segera berdiri.

Rimba berpaling ke arah barisan panitia lain yang berdiri terpaku. "Masih adakah dari kalian yang ingin melanjutkan diskusi dengan kekerasan?" tanyanya dengan suara tenang yang justru terdengar lebih menakutkan daripada teriakan mana pun.

Tak ada yang menjawab. Suasana begitu sunyi hingga suara jarum jatuh pun akan terdengar. Rimba mengambil mikrofon yang tergeletak di lantai, lalu menghadap ke arah mahasiswa baru.

"Teman-teman semua, maaf jika aku mengganggu acara kalian. Aku datang ke sini dengan tujuan menimba ilmu, sama seperti kalian. Orang tua kita berkorban agar kita bisa duduk di sini. Aku tidak meminta uang dari panitia ini, lantas apa hak mereka membentakku seolah-olah mereka adalah pemilik nyawaku?"

Rimba memandang tajam ke arah para senior. "Jika cara orientasi kalian masih seperti zaman penjajahan, bagiku acara ini sudah berakhir. Aku bisa mencari informasi akademik sendiri tanpa harus dihina. Untuk kalian, silakan lanjutkan jika kalian bersedia. Aku permisi."

Rimba melemparkan mikrofon ke arah MC yang langsung menangkapnya dengan tangan gemetar. Ia turun dari panggung dan berjalan menuju pintu keluar. Tiba-tiba, seorang mahasiswa baru berdiri dan memberikan tepuk tangan. Seperti api yang menyambar bensin, seluruh auditorium seketika meledak oleh suara tepuk tangan dan sorak-sorai. Ribuan mahasiswa baru berdiri, memberikan penghormatan pada sosok yang baru saja mematahkan rantai perpeloncoan yang mereka benci.

Rimba keluar dari auditorium tanpa menoleh lagi. Ia merasa lapar dan berjalan menuju kantin. Namun, yang tidak ia sangka adalah efek domino dari tindakannya. Setelah ia keluar, satu per satu mahasiswa baru mulai mengikuti langkahnya. Mereka meninggalkan auditorium secara massal, membiarkan para panitia berdiri mematung di atas panggung yang kini kosong melompong.

Di kantin, Rimba duduk di pojok sambil menyesap jus jeruk. Tak lama kemudian, kantin itu dipenuhi oleh lautan baju putih-hitam. Setiap mahasiswa baru yang lewat menyalami Rimba, menepuk bahunya, atau sekadar memberikan jempol dengan mata berbinar.

Tiba-tiba, seorang mahasiswa berdiri di atas kursi di tengah keramaian kantin. Ia memukul gelasnya dengan sendok hingga semua orang terdiam.

"Untuk kawan kita yang di pojok sana!" teriaknya sambil menunjuk Rimba. "Terima kasih telah membuka mata kami bahwa kita adalah manusia merdeka! SALUT!"

"HUUUHHH!!!" jawab seluruh mahasiswa baru secara serempak, sebuah sorakan persaudaraan yang mengguncang kantin tersebut. Rimba hanya tersenyum tipis, menyadari bahwa di hari pertamanya kuliah, ia bukan hanya menjadi mahasiswa, tapi telah menjadi simbol revolusi di kampus Buana Cakrawala.

1
G.Lo
Semoga nggak putus saja update nya...cerita ok sekali...👍👍
D'ken Nicko
up dobel thor
D'ken Nicko
mantap poll ,up yg banyak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!