NovelToon NovelToon
Doa Bersama Cahaya

Doa Bersama Cahaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Wanita Karir / Keluarga / Mantan
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Aurora Veganadia

Alea Senandika Kaluna tumbuh dalam keluarga yang utuh, namun tak pernah benar-benar ia rasakan sebagai rumah. Sejak sang ayah menikah lagi, Alea perlahan belajar menyingkir—menjadi anak yang ada, tetapi jarang diperhatikan. Di antara saudara-saudaranya yang mendapat tempat istimewa, Alea memilih bertahan dalam diam.

Sebagai siswi SMA pendiam, Alea menjalani hari-harinya dengan tanggung jawab yang tak sepadan dengan usianya. Sepulang sekolah, ia menjahit payet demi menambah uang saku, bukan untuk mengejar mimpi besar, melainkan agar tak menjadi beban bagi siapa pun. Hidup memaksanya dewasa terlalu cepat, membentuk ketahanan dari kesepian dan luka yang tak pernah ia ucapkan.

Namun di tengah rutinitas yang sunyi, Alea mulai menemukan cahaya—melalui kepercayaan, perhatian sederhana, dan orang-orang yang melihatnya bukan sebagai anak yang terlupakan, melainkan sebagai pribadi yang layak diperjuangkan. Perlahan, ia belajar bahwa bertahan tidak selalu berarti sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora Veganadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Titik Patah

🕊

Hari itu dimulai seperti hari-hari sebelumnya, tapi Alea bangun dengan dada yang terasa lebih sempit dari biasanya. Tiga bulan lewat sehari ia bekerja di pabrik itu. Tiga bulan menelan kata-kata keras, menahan napas setiap kali namanya dipanggil dengan nada yang tidak pernah netral. Tiga bulan mencoba meyakinkan diri bahwa semua ini normal—bahwa dunia kerja memang begini.

Namun pagi itu, ada sesuatu yang berbeda.

Tangannya gemetar saat mengancingkan seragam. Ia berhenti sejenak, menatap bayangannya di cermin kecil mess. Mata nya lelah. Bukan lelah karena kurang tidur—melainkan karena terlalu lama menahan diri. “Sedikit lagi,” gumamnya, entah kepada siapa. “Bertahan sedikit lagi.” Ia tidak tahu bahwa hari itu bukan tentang bertahan.

Di lantai produksi, suasana sudah tegang sejak pagi. Klien penting dari luar negeri meminta revisi mendadak. Gaun yang seharusnya dikirim sore itu harus diubah detailnya. Semua orang bergerak cepat, saling menahan napas.

Mr. Han berdiri di tengah ruangan, suaranya menggema. “Listen carefully. No mistake today. If you make a mistake—it's your responsibility.”

Alea bekerja di mejanya, fokus pada detail payet yang harus dilepas dan dipasang ulang. Tangannya cekatan. Ia tahu apa yang ia lakukan. Ia sudah mengecek ulang pekerjaannya tiga kali.

Namun kesalahan itu datang—bukan darinya.

Seorang staf lain salah membaca instruksi ukuran, dan perubahan kecil itu berdampak ke bagian yang Alea kerjakan. Ketika Mr. Han memeriksa hasil akhir, wajahnya langsung mengeras. “Who did this?”

Ruangan membeku.

Staf itu terdiam. Tak berani bicara. Mr. Han memindahkan tatapannya—dan berhenti di Alea. “You. Alea. This part is wrong.” Alea mengangkat kepala perlahan. “Sir, that part was revised after I finished my section. I followed the first instruction.”

Mr. Han mendekat. Terlalu dekat. “No. You are responsible for the final check.” Dadanya mengencang. “Sir, I did check. The change came later.”

Nada suara Mr. Han naik. “Don’t argue.” Suara mesin seakan berhenti. Semua orang mendengar. Alea menelan ludah. “I’m not arguing. I’m explaining.”

“It's an excuse.”

Sesuatu di dalam Alea retak.

Bukan karena tuduhan itu—melainkan karena familiar. Karena ini bukan pertama kalinya. Karena setiap kesalahan, sekecil apa pun, selalu jatuh ke pundak yang sama: mereka yang paling diam.

“Why always me?” tanya Alea, suara bergetar, tapi jelas.

Mr. Han menyipitkan mata. “What did you say?”

Alea menarik napas panjang. Tangannya mengepal. Jantungnya berdetak terlalu keras sampai telinganya berdenging. “Why,” ulangnya, kali ini lebih kuat, “when mistake is not mine, I still have to take it?”

Ruangan berubah tegang.

“Because you are a worker here,” Jawab Mr. Han dengan dingin. “You follow orders.” Kata-kata itu… itulah pemicunya. Alea tertawa kecil. Bukan tawa bahagia—melainkan tawa orang yang akhirnya sadar. “Follow order?” ulangnya. “We follow order. Every day. But you never listen.” Mr. Han menaikkan suara. “Enough.”

“No,” Alea menggeleng. Suaranya kini bergetar, tapi tidak lagi lemah. “Not enough.” Beberapa rekan kerja menoleh. Ada yang panik, ada yang terkejut, ada yang—diam-diam—lega karena seseorang akhirnya berbicara.

“You talk about perfection,” sambung Alea, suaranya sedikit meninggi, “but you never talk about humanity.”  Mr. Han menepuk meja keras. “Stop talking.” Alea melangkah maju satu langkah. “You shout. You are to blame. You pressure people until they break.”

“Respect your superior,” Bentaknya.

Alea menggeleng, air mata menggenang tapi tak jatuh. “Respect is not fear.” Ruangan terlihat sunyi. Bahkan mesin pun seakan berhenti bernapas. “You are not professional,” ucap Alea, setiap kata keluar jelas. “Professional leader does not destroy mental worker.”

Beberapa orang terisak pelan. Yang lain menunduk, tangan gemetar. “You never appreciate,” sambung Alea. “Only shout. Only blame. People resign not because they are weak—” Alea menunjuk ke arah sekeliling. “—but because this place kills them slowly.”

Mr. Han merah padam. “You cross the line.” Alea tersenyum pahit. “The line was crossed long ago. By you.”

Tangannya bergerak ke dada. Ia mencabut name tag dari seragamnya. Bunyi kecil itu terdengar sangat keras di ruangan sunyi.

Ia melepas kartu identitas pabrik, menaruhnya di tangan—lalu melemparkannya ke meja di depan Mr. Han. Terakhir, ia membuka kancing atas seragamnya, melepas jaket kerja, dan membantingnya menyusul.

Tangannya gemetar hebat sekarang. “Alea—” suara Jina lirih dari belakang. Alea menoleh sekilas. Matanya merah, tapi penuh tekad. Lalu ia kembali menatap Mr. Han. “Saya keluar,” katanya tegas, suaranya pecah tapi tidak goyah.  “Muak dengan semuanya.”

Tidak ada teriakan lagi. Tidak ada kata tambahan.

Alea berbalik badan.

Langkah pertamanya berat. Langkah kedua lebih ringan. Langkah ketiga—bebas.

Di belakangnya, ruangan masih sunyi. Tak ada yang menahannya. Tak ada yang bertepuk tangan. Karena ini bukan kemenangan—ini kehilangan yang dipilih.

Ketika pintu pabrik tertutup di belakangnya, kaki Alea gemetar hebat. Ia bersandar ke dinding luar, napasnya terengah. Air mata akhirnya jatuh, deras, tak tertahan.

“Aku keluar…” bisiknya pada diri sendiri. “Aku beneran keluar.” Tangannya menutupi wajah. Dadanya sakit. Takut, lega, hancur—semua bercampur. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Tidak tahu bagaimana menjelaskan ke rumah. Tidak tahu apakah keputusannya benar.

Ia tidak diam lagi. Dan itu tak bisa ditarik kembali.

Langit siang itu terang, menyilaukan. Alea mengangkat wajahnya, membiarkan cahaya menyentuh matanya yang basah. “Mama,” bisiknya lirih. “Kalau Alea salah… maafin ya ma. Tapi Alea sudah terlalu capek untuk dipatahkan.”

Dan untuk pertama kalinya sejak lama, meski hatinya berantakan— Alea berdiri tanpa seragam. Tanpa name tag. Tapi utuh sebagai manusia.

Begitu pintu pabrik tertutup di belakangnya, dunia seolah kehilangan suara. Tidak ada mesin. Tidak ada bentakan. Tidak ada langkah kaki tergesa. Hanya Alea, berdiri dengan tangan gemetar dan napas yang belum menemukan ritmenya kembali.

Beberapa menit berlalu sebelum ia benar-benar sadar. Ia tidak punya tempat untuk kembali hari ini.

Mess. Kata itu muncul di kepalanya seperti palu.

Mess pabrik bukan rumah. Bukan hak. Bukan tempat aman jika namanya sudah tidak tercatat sebagai karyawan aktif. Alea mengeluarkan ponsel dari saku, menatap layarnya tanpa membuka apa pun. Tangannya dingin. “Kalau hari ini aku disuruh keluar mess…” gumamnya lirih. Ia tidak melanjutkan.

Langkahnya pelan saat berjalan menjauh dari gerbang pabrik. Matahari masih tinggi, tapi rasanya seperti sore yang terlalu cepat. Setiap langkah terasa seperti meninggalkan sesuatu—bukan hanya pekerjaan, tapi rutinitas, penghasilan, dan kepastian.

Di halte kecil, Alea duduk sendirian. Tangannya menghitung isi dompet. Tidak banyak. Cukup untuk makan beberapa hari. Cukup untuk ongkos pulang. Tapi tidak cukup untuk merasa aman.

“Kenapa aku nggak tahan sedikit lagi?” pikirannya, lalu buru-buru menggeleng. “Tidak. Bukan itu.” Rasa takut datang terlambat, menyusup pelan-pelan. Takut akan besok. Takut akan kosong. Takut bahwa kemarahannya barusan adalah kesalahan fatal.

Ponselnya bergetar. Pesan dari Jina.

*Jina**: Alea… are you okay?*

*Jina**: HR is asking questions. They look shocked.*

*Jina**: Some people are crying here.*

Alea menelan napas. Dadanya sesak.

Alea: I’m outside.

Alea: I’m sorry if this causes trouble.

Balasan datang cepat.

*Jina**: Don’t say sorry.*

*Jina**: Many of us wanted to say the same thing.*

Alea memejamkan mata. Air matanya jatuh tanpa suara. Beberapa menit kemudian, pesan lain masuk. Dari staf senior.

*Senior**: Mr. Han is furious.*

*Senior**: Management called an emergency meeting.*

*Senior**: This never happened before.*

“Keluar dari jalur,” bisik Alea pelan. Ia tidak bermaksud memicu kekacauan. Ia hanya… tidak sanggup lagi diam. Tapi kenyataan selalu lebih besar dari niat seseorang.

Bus datang. Alea naik tanpa benar-benar tahu tujuannya. Tubuhnya bergerak otomatis. Kepala nya kosong. Ketika ia akhirnya turun—di depan mess—langkahnya ragu. Bangunan itu berdiri sama seperti pagi tadi. Tapi rasanya asing. Seolah-olah ia tamu di tempat yang semula ia tempati.

Di pos kecil, penjaga mess menatapnya. “Mbak Alea?”

“Iya, Pak,” jawabnya pelan. Penjaga itu mengangguk canggung. “Tadi HR nelpon. Katanya… Mbak masih boleh tinggal sampai akhir minggu. Sambil urus administrasi.” Alea terdiam beberapa detik. “Oh…”

“Masuk aja dulu,” lanjutnya. “Nanti ada kabar lagi.” Ia mengangguk pelan. Kakinya lemas saat menaiki tangga.

Di kamar, Alea duduk di lantai. Seragamnya terlipat di sudut—tak lagi berguna. Ia memeluk lutut, menatap dinding kosong. “Sekarang apa?” bisiknya.

Keuangan.

Ia membuka catatan tabungannya. Angka itu masih ada, tapi kini terlihat jauh lebih kecil dari sebelumnya. Tanpa gaji bulanan, angka itu berubah dari harapan menjadi pengingat waktu yang terbatas.  “Ponsel baru,” gumamnya lirih. “Ironis.” Ponselnya kembali bergetar.

Grup internal kerja—yang seharusnya tidak lagi ia akses.

*Staff A:**Serious? Alea really quit?*

*Staff B:**She said everything we’re afraid to say.*

*Staff C:**HR asking us to stay calm.*

*Staff D:**Mr. Han blamed ‘lack of discipline’.*

Alea menutup grup itu perlahan. Ia tidak ingin tahu lebih jauh. Ia tidak ingin menjadi simbol. Ia hanya ingin bernafas. Namun kabar itu menyebar cepat.

Malamnya, Jina mengetuk pintu kamar. “Alea,” suaranya pelan. “Can I come in?” Alea membuka pintu. Jina memeluknya tanpa kata. Lama. “People are shaken,” kata Jina akhirnya. “Some are angry. Some are relieved.”

“Aku nggak mau bikin kacau,” ucap Alea lirih. “I know,” Jina menggelengkan kepala. “But you did something real.” Alea tersenyum pahit. “Real doesn’t pay bills.” Jina tertawa kecil, getir. “True.” Mereka duduk di lantai.

“HR said there might be policy review,” lanjut Jina. “They never admit fault, but… your words hit.” Alea menunduk. “Kalau aku nggak dapat kerja cepat…” Jina menggenggam tangannya. “You will. Maybe not immediately. But you will.”

Setelah Jina pergi, Alea sendirian lagi.

Rasa takut akhirnya datang sepenuhnya—tanpa sisa. Takut gagal. Takut pulang tanpa apa-apa. Takut mengecewakan Ayu, Dika, dan Ara. Tangannya meraih ponsel.

Ia ingin menelepon rumah. Namun jari-jarinya berhenti di udara. “Belum,” bisiknya. “Belum sekarang.” Ia berbaring, menatap langit-langit.

Untuk pertama kalinya sejak lama, Alea benar-benar berada di titik nol. Tanpa seragam. Tanpa jadwal. Tanpa kepastian. Tapi juga—tanpa teriakan. Tanpa bentakan. Tanpa tekanan harian yang merusak pelan-pelan.

“Aku takut,” akunya pada diri sendiri. “Tapi… aku masih hidup.”

Di luar, malam turun pelan. Lampu mess menyala satu per satu. Dan Alea tahu, besok tidak akan mudah.

Namun satu hal juga jelas, ia tidak lagi hidup dalam ketakutan yang dibuat orang lain.

Yang tersisa sekarang— hanya pertarungan paling sunyi antara harapan kecil dan kenyataan besar. Dan Alea… belum menyerah.

☀️☀️

1
mama Al
seperti lingkungan alea baik semua
Skngwr20: Terima kasih sudah berkunjung kakak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!