NovelToon NovelToon
BERHENTI MENCINTAIKU YANG RAPUH

BERHENTI MENCINTAIKU YANG RAPUH

Status: tamat
Genre:Romansa / Tamat
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Mbak Ainun

"Bagiku, mencintaimu adalah anugerah terindah. Namun, membiarkanmu terus berjuang untukku yang hampir mati adalah sebuah dosa."
Arini tahu hidupnya tidak lama lagi. Di saat Rangga datang membawa cincin dan janji masa depan, Arini justru memilih untuk menghancurkan hati laki-laki itu. Ia ingin Rangga pergi, mencari wanita yang lebih sehat, dan hidup bahagia tanpa beban dirinya.
Namun, Rangga bukanlah pria yang mudah menyerah. Semakin Arini mengusir, semakin erat Rangga menggenggam.
"Aku tidak butuh masa depan tanpa kamu, Rin. Kalau kamu bilang kamu rapuh, maka biarkan aku hancur bersamamu."
Bisakah cinta yang sekarat menang melawan takdir yang kejam? Ataukah perjuangan Rangga hanya akan berakhir pada nisan yang dingin?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 27: Saat Dunia Menjadi Kelam

BAB 27: Saat Dunia Menjadi Kelam

Pagi itu datang dengan sunyi yang mencekam. Biasanya, Arini akan terbangun karena silau sinar matahari yang menembus sela-sela gorden villa dan ia akan tersenyum melihat bayangan pepohonan teh di kejauhan. Namun, pagi ini berbeda.

Arini membuka matanya perlahan. Ia berkedip sekali, dua kali, hingga berkali-kali. Namun, tidak ada warna jingga mentari. Tidak ada hijau dedaunan. Tidak ada wajah Rangga yang biasanya tidur di kursi samping ranjangnya.

Semuanya hitam. Gelap gulita, seolah-olah ia masih berada di tengah mimpi buruk yang tak berujung.

"Ga...?" bisiknya, suaranya bergetar karena ketakutan yang mulai merambat ke dadanya. "Rangga, kamu di mana? Kenapa lampunya belum dinyalakan?"

Rangga, yang sebenarnya sudah bangun sejak tadi dan sedang menatap wajah istrinya dengan hati yang hancur, segera meraih tangan Arini. Ia melihat mata Arini terbuka lebar, namun pupilnya tidak bereaksi terhadap cahaya terang dari jendela yang sudah terbuka lebar.

"Aku di sini, Rin. Aku tepat di depanmu," ujar Rangga, berusaha menjaga agar suaranya tidak pecah.

Arini meraba-raba udara dengan panik. Tangannya gemetar hebat hingga menyentuh pipi Rangga. "Ga... kenapa gelap sekali? Ini masih malam ya? Kenapa kamu bilang sudah pagi?"

Rangga terdiam. Ia memejamkan mata, membiarkan setetes air mata jatuh tanpa suara. Ia menarik Arini ke dalam pelukannya, mendekap kepala istrinya di dadanya yang bidang.

"Rin... dengarkan aku. Tarik napas pelan-pelan," bisik Rangga. "Matahari sudah terbit, Sayang. Burung-burung sudah bernyanyi di luar sana."

Arini tertegun. Tubuhnya menjadi kaku dalam pelukan Rangga. "Apa maksudmu? Kalau matahari sudah terbit... kenapa aku tidak bisa melihat apa-apa? Kenapa semuanya hitam, Ga? Kenapa!"

Tangisan Arini pecah. Itu bukan sekadar tangisan sedih, melainkan jeritan keputusasaan yang merobek kesunyian villa. Ia memukul-mukul dadanya sendiri, lalu mencoba meraba matanya yang kini seolah tidak berguna lagi.

"Aku buta, Ga! Aku benar-benar buta! Tuhan... kenapa Engkau ambil mataku juga? Belum cukupkah kanker ini menyiksaku?!"

Ibu Sarahwati berlari masuk ke kamar mendengar teriakan putrinya. Ia jatuh terduduk di lantai melihat Arini yang histeris dalam dekapan Rangga. Kamar itu seketika dipenuhi oleh awan duka yang begitu pekat.

"Arini, anakku..." rintih Ibu Sarahwati, memeluk kaki putrinya.

"Ibu? Ibu di mana? Aku tidak bisa melihat Ibu!" Arini meronta, dunianya yang baru saja membaik kini hancur berkeping-keping. "Lebih baik aku mati saja waktu operasi itu, Ga! Aku tidak mau hidup seperti ini! Aku tidak mau jadi beban yang tidak bisa melihat wajah suamiku sendiri!"

Rangga memegang kedua bahu Arini dengan kuat, memaksanya untuk fokus. "Arini! Lihat aku! Maksudku... dengarkan aku!"

Arini berhenti meronta, napasnya tersengal-sengal oleh isak tangis.

"Kamu tidak akan pernah menjadi beban. Ingat apa yang kukatakan semalam? Aku akan menjadi matamu. Jika dunia ini gelap bagimu, maka aku akan menjadi cahayanya. Aku tidak mencintaimu karena matamu bisa melihatku, tapi karena hatimu bisa merasakanku," ujar Rangga dengan nada yang sangat dalam dan penuh komitmen.

"Tapi aku ingin melihat wajahmu, Ga... Aku takut aku akan lupa bagaimana rupa pria yang menyelamatkanku," tangis Arini mereda menjadi isakan kecil yang memilukan.

Rangga mengambil tangan Arini, lalu menempelkannya ke wajahnya sendiri. Ia menuntun jari-jari Arini untuk meraba dahinya, alisnya, matanya, hidungnya, hingga ke bibirnya.

"Hafalkan ini dengan jemarimu, Rin. Rasakan setiap lekuk wajahku. Aku tidak akan berubah. Aku akan tetap di sini, tepat di sebelahmu, sampai kamu bosan mendengar suaraku."

Hari-hari pertama Arini dalam kegelapan adalah neraka bagi mereka semua. Arini sering kali menolak makan karena ia merasa tidak berdaya saat harus disuapi. Ia sering menabrak pinggiran meja atau kursi jika mencoba melangkah sendirian. Depresi mulai menggelayuti jiwanya, membuatnya lebih banyak diam dan melamun menatap kegelapan.

Namun, Rangga tidak menyerah. Pria yang dulu hanya tahu cara memerintah itu kini berubah menjadi pria paling telaten. Ia menyingkirkan semua perabotan yang memiliki sudut tajam. Ia memasang karpet tebal di seluruh lantai kamar agar Arini tidak kedinginan dan tidak terluka jika terjatuh.

Yang paling luar biasa, Rangga mulai belajar teknik Audio Description. Setiap pagi, ia akan membawa Arini ke balkon.

"Rin, hari ini langitnya berwarna biru pucat, seperti warna kemeja yang kamu sukai dulu," ujar Rangga sambil memeluk Arini dari belakang. "Ada awan besar di sebelah kiri yang bentuknya mirip seperti gula kapas. Di bawah sana, daun teh masih berkilau karena sisa embun, warnanya hijau zamrud yang sangat segar."

Arini mendengarkan dengan seksama, mencoba membayangkan pemandangan itu di dalam kepalanya. "Lalu, bagaimana dengan burungnya, Ga?"

"Ada dua burung pipit kecil yang sedang hinggap di dahan kamboja. Mereka sedang berebut ranting kecil, sepertinya mereka ingin membangun sarang baru. Sama seperti kita, Rin. Kita sedang membangun hidup yang baru di sini."

Perlahan, senyum Arini mulai kembali. Ia menyadari bahwa meskipun matanya mati, Rangga menghidupkan imajinasinya. Suara Rangga menjadi kanvas, dan kata-katanya menjadi cat warna-warni yang melukis dunia di dalam pikiran Arini.

Namun, tantangan sesungguhnya datang dari luar. Maya datang ke villa dengan berita yang cukup mengkhawatirkan.

"Pak Rangga, beberapa pemegang saham mulai mempertanyakan keberadaan Anda. Ibu Sarah, meskipun di penjara, melalui pengacaranya mulai menyebarkan rumor bahwa Anda menelantarkan perusahaan demi seorang wanita buta yang tidak memiliki harapan hidup," lapor Maya.

Rangga mendengus sinis. "Biarkan saja mereka bicara. Selama aku memegang saham mayoritas yang diwariskan Ayah, mereka tidak bisa berbuat apa-apa."

"Tapi Pak, ada masalah dengan pasokan obat impor Arini. Perusahaan farmasi yang biasa memasok obat kanker target itu tiba-tiba membatalkan kontrak sepihak. Saya curiga ini adalah ulah salah satu relasi bisnis Ibu Sarah yang ingin menekan Anda agar kembali ke Jakarta."

Mata Rangga berkilat marah. Menekan dia melalui perusahaan adalah satu hal, tapi menyabotase nyawa istrinya adalah hal lain. "Cari tahu siapa pemilik perusahaan farmasi itu. Jika mereka ingin bermain kotor, aku akan membeli perusahaan mereka dan memecat semua direksinya besok pagi."

"Tapi itu akan menghabiskan banyak dana cair Anda, Pak."

"Lakukan saja, Maya! Tidak ada jumlah uang yang lebih berharga daripada dosis obat Arini!" bentak Rangga.

Arini, yang berada di dalam kamar, mendengar suara keras Rangga. Ia meraba-raba dinding dan berjalan perlahan menuju ruang tamu. Rangga segera berlari menghampiri saat melihat Arini hampir menyenggol vas bunga besar.

"Rin, kenapa bangun? Kamu butuh sesuatu?" tanya Rangga, suaranya langsung melunak drastis.

"Ga... aku dengar tadi. Apakah ada masalah karena aku? Apakah obatku sangat mahal?" Arini tampak cemas. "Jangan hancurkan usahamu hanya untukku, Ga. Aku sudah cukup bahagia bisa bersamamu dan Ibu sekarang. Kalau obat itu sulit... mungkin memang sudah waktunya aku berhenti."

Rangga memegang wajah Arini, menatap matanya yang kosong namun tetap cantik itu. "Jangan pernah bicara seperti itu lagi. Kamu adalah aset terbesarku. Perusahaan itu hanya alat untuk menjagamu tetap hidup. Jangan pikirkan soal uang, itu urusanku. Tugasmu hanya satu: bernapas dan tetap mencintaiku."

Arini memeluk Rangga, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher suaminya. "Aku mencintaimu, Ga. Sangat mencintaimu hingga aku takut kegelapan ini akan membuatku kehilangan dirimu."

"Kamu tidak akan pernah kehilangan aku. Aku adalah bayanganmu, Rin. Di mana ada kamu, di situ ada aku."

Malam itu, Rangga memutuskan untuk melakukan sesuatu yang berani. Ia tahu ia tidak bisa terus bersembunyi di villa ini jika ingin melindungi Arini sepenuhnya. Ia harus menghancurkan musuh-musuhnya di Jakarta sekali dan untuk selamanya.

Ia memanggil pengacara pribadinya dan memberikan instruksi untuk menggugat balik semua pihak yang mencoba menyabotase kontrak medis Arini dengan dakwaan percobaan pembunuhan terencana. Ia juga memerintahkan untuk melakukan hostile takeover (pengambilalihan paksa) terhadap perusahaan farmasi tersebut.

Rangga Adiguna yang dingin kini telah kembali, namun kali ini ia tidak berjuang untuk egonya, melainkan untuk nyawa wanita yang menjadi dunianya.

Di sisi lain, di dalam kamar, Ibu Sarahwati sedang membisikkan doa di telinga Arini yang mulai terlelap. "Tuhan memberikanmu Rangga karena Dia tahu kamu tidak akan kuat menjalani ini sendirian, Nak. Rangga adalah penebusan dosa keluarga mereka padamu."

Arini hanya tersenyum dalam tidurnya. Dalam mimpinya, ia bisa melihat kembali. Ia melihat Rangga sedang tersenyum padanya di bawah pohon kamboja, dan di tangan Rangga ada sebuah cincin yang bersinar terang—cahaya yang tidak akan pernah bisa dipadamkan oleh kegelapan apa pun.

Besok adalah hari di mana Arini akan memulai terapi braille dan orientasi mobilitas. Dan Rangga sudah menyiapkan kejutan: ia telah memesan ribuan lampu taman yang sangat terang untuk dipasang di sekitar villa, agar meskipun Arini hanya bisa melihat bayangan cahaya samar, ia tahu bahwa ia sedang menuju ke arah "rumahnya".

1
falea sezi
ya uda end aja
falea sezi
lanjut
falea sezi
berasa baca trailer
falea sezi
astaga/Sob//Sob//Scowl//Scowl/ Thor g da apa keajaiban misal arini pindah jiwa ke tubuh lain
falea sezi
nyesek baca kisah ini beri keajaiban donk thor/Sob//Sob//Sob//Sob/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!